
Dengan mudahnya Kasih dan Anggun menyetujui permintaan dari Giasya, wanita yang saat ini menduduki kursi pemilik perusahaan besar dari sang suami butanya. Yah, Giasya memiliki seorang suami buta dan kaya. Di tengah kebahagiaan mereka yang sangat bergelimang harta dan cinta, Tuhan justru menguji mereka dengan keturunan yang tak bisa mereka dapatkan. Giasya hilang harapan kala tahu ternyata dirinya lah yang bermasalah dalam program hamil. Diam-diam ia memeriksakan diri pada dokter dan ternyata ia mandul.
Tak ingin pernikahannya terancam bubar karena keturunan yang tidak bisa dia berikan pada keluarga Mahen, Gia memilih jalan lain. Ia akan membayar berapa pun pada wanita yang mau menggantikan dirinya sebagai istri dia atas ranjang tanpa status pernikahan. Dan beberapa syarat telah ia berikan pada Kasih dan Anggun untuk memenuhi permintaannya. Satu di antaranya adalah sang suami tidak boleh tahu jika wanita yang tidur dengannya bukan Gia.
"Baik, kalau begitu kami setuju dan akan segera membawa orangnya ke hadapan anda, Nyonya Mahen." tutur Kasih penuh semangat.
"Silahkan, pintu keluar di sana." tunjuk Giasya masi dengan gaya angkuhnya.
Meski di depan Kasih dan Anggun begitu hormat, di belakang keduanya nampak mencibir sikap angkuh dari Giasya.
"Udah butuh masih berlagak yah, Bu? Nggak takut apa nanti ketahuan suaminya?" cibir Anggun tak suka dengan sikap Gia.
"Hus, jangan bicara sembarang. Masih untung ada yang mau menolong kita, Anggun." tutur Kasih berbisik menegur sang anak.
Keduanya pulang dengan wajah puas tanpa memikirkan tentang perjanjian yang di ajukan oleh Gia. Bagi mereka itu adalah hal kecil sebab bukanlah salah satu dari mereka yang menjadi korbannya. Gia tak mempermasalahkan siapa pun yang menjadi wanita penggantinya. Yang terpenting memenuhi kriteria yang ia sebutkan.
Satu-satunya yang sesuai dengan pilihan tentu saja Inka. Dan Anggun begitu senang dengan begitu ia tetap bisa menjadi pemimpin perusahaan tanpa susah payah memikirkan kebangkrutan perusahaan.
Kedatangan mereka pun di sambut oleh Ferow dengan harap-harap cemas. Berharap perusahaan masih bisa di selamatkan kali ini. "Bagaimana Anggun? apakah semuanya bisa di pertahankan? ayah benar-benar berharap." tutur Ferow dengan raut sedihnya.
__ADS_1
Sebab ia sendiri sebenarnya sangat tak rela jika perusahaan miliknya tutup begitu saja tanpa di perjuangkan kembali. Membangun semua itu butuh waktu yang panjang dan tidak mudah. Inka yang berada di samping sang ayah pun tahu bagaimana wajah sang ayah yang sangat berharap pada saudara tirinya itu untuk bisa mengelola perusahaan. Selama ini Anggun hanya membantunya mengelola perusahaan. Kepemilikan masih tetap atas namanya selama sakit.
"Beres kok, Ayah tenang saja. Semuanya bisa kami atasi. Sekarang Ayah istirahat saja." Kini Kasih yang justru menjawab pertanyaan sang suami. Ia pun segera mengantar sang suami menuju kamar untuk istirahat. Ia tidak ingin ucapan ketus Anggun kembali membuat sang suami hilang semangat.
Di luar tinggallah Anggun dan Inka yang saling tatap penuh peraduan. Inka merasa ini semua tidak sesimpel yang sang ibu tiri katakan pada sang ayah.
"Ini baca. Dan besok ikut kami untuk mempertahankan perusahaan ayah. Aku tidak mungkin mengorbankan diriku demi perusahaan yang bahkan bukan milikku ke depannya." Kening Inka mengerut dalam mendengar ucapan Anggun.
Segera ia pun mengambil sebuah map yang berisi poin-poin dari Giasya. Dan satu demi satu Inka terus membaca sembari memahami. Wajahnya mulai nampak tak enak saat melihat semua itu hingga akhir.
"Maksdumu? Siapa yang akan menjalankan peran ini?" tanyanya dengan wajah tak setuju.
Tentu saja tidak akan semudah itu memberikan perusahaan pada Inka, sementara dirinya yang susah payah mencari jabatan seperti saat ini.
Inka masih terduduk seorang diri membayangkan setiap aturan dari Giasya. Tubuhnya yang bahkan tak pernah di jamah pria mana pun bagaimana mungkin harus ia serahkan secara cuma-cuma dengan pria yang berstatus adalah suami orang lain.
"Ikuti kata Anggun. Ingat, Inka. Kamu itu sudah membuat semuanya hancur. Ayahmu jatuh sakit karena terlalu memikir kan kamu. Perusahaan harus Anggun yang menghandle. Dan sekarang kamu saya gadaikan untuk jaminan investasi Nyonya Mahen di perusahaan ayahmu. Jangan membantah dan membuat ayahmu semakin sakit. Meski pun kamu pintar. Itu tidak akan bisa membawa para investor kembali datang ke perusahaan yang sudah di ambang kehancuran. Satu-satunya orang yang menjadi relawan hanya Nyonya Gia Mahen." Inka terduduk lemas. Ia terus menggeleng tak percaya mendengar ucapan sang ibu tiri. Air matanya jatuh sedih tak tahu harus melakukan apa saat ini.
Ketakutan akan kepergian sang ayah yang menyusul sang ibu membuat Inka tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya berpengalaman dalam dunia kerja. Tak ada pengalaman tentang mengelola perusahaan. Inka tampak putus asa kali ini. Rasanya menghubungi seorang Beril juga tak mungkin.
__ADS_1
Hubungan yang entah berstatus apa ia sendiri tidak yakin dengan Beril yang sudah jarang sekali berkabar dengannya. Inka begitu tak tahu arah saat ini. Ia hanya bisa berjalan menuju kamar tamu yang saat ini menjadi kamarnya. Gadis itu berbaring memeluk foto sang ibu. Sungguh tak pernah sekali pun ia berpikir akan semalang ini hidupnya.
Rasa sayang dan takut kehilangan ayah membuatnya begitu berhati-hati dalam bertindak. Inka sangat takut sang ayah pergi dalam waktu dekat. Jika sang ayah pergi entah apa yang harus Inka lakukan lagi.
Berbeda dengan keadaan di rumah megah yang sangat luas. Seorang pria buta duduk di kursi dengan tongkat di tangannya. Wajah tampan dan tubuh yang tinggi begitu sangat menawan. Suasana santai di rumah itu ramai kembali saat sang istri pulang dengan sapaan hangatnya.
"Sayang, maaf yah aku lama pulangnya?" Gia berhambur memeluk sang suami. Ia duduk di pangkuan sang suami mengalungkan tangan pada leher sang suami.
Sikap manja Gia sedari awal mereka pacaran hingga menikah bertahun-tahun tak pernah pudar. Dan ini yang membuat hubungan mereka selalu saja hangat.
Rifyal Mahen seorang putra tunggal dan cucu tertua dari keluarga Agung Mahen yang sudah turun temurun menguasai bisnis hampir di seluruh kota. Tentang keturunan tentu saja akan sangat berpengaruh dengan pernikahan mereka. Gia tidak akan membiarkan ada namanya pernikahan kedua atau pun perceraian. Ia tidak akan rela sampai kapan pun berubah status.
"Tidak apa, Sayang. Bagaimana perusahaan? apakah stabil?" tanyanya dengan penuh harapan dengan sang istri. Sebab Gia memanglah gadis yang juga cerdas dalam dunia bisnis.
"Aman dan baik sekali. Meski pun aku sangat bosan di sana. Semoga segera ada pendonor mata untukmu yah?" Gia memang memiliki dua point yang ia butuhkan. Pendonor mata dan juga pendonor rahim yang akan di gunakan sang suami untuk mendapatkan keturunan.
Melihat keadaan sang suami yang sangat mendukung, tentu saja ia justru memilih untuk mencari rahim wanita penggantinya. Setidaknya keadaan buta sang suami sedikit menguntungkan dirinya untuk memudahkan jalan mencari keturunan ini.
"Aku pun berharap demikian, Gia. Aku lelah jika hanya seperti ini saja setiap harinya. Badanku terasa lelah sekali karena tidak melakukan apa pun." Mendengar itu Gia sontak mengecup bibir sang suami. Ia membisikkan godaan pada Rifal.
__ADS_1
"Boleh kalau begitu melakukan sesuatu denganku agar lebih segar?" godanya yang langsung mendapat senyuman setuju dari Rifyal.