
Malam harinya Inka pun sudah memasuki halaman rumah Gia kembali. Suasana rumah yang sepi memudahkan aksi Gia dan Inka di rumah itu. Rifyal yang sudah terlelap tak tahu jika sang istri diam-diam memasukkan orang di rumah mereka. Inka menuju kamar tamu untuk menuruti perintah Gia.
"Ingat, kapan pun saya panggil segera masuk ke kamar saya." ujarnya dengan tegas.
Inka pun tidur di kamar tamu yang rasanya sangat tidak nyaman sebab ada kegelisahan di hatinya kali inik. Inka sangat ingin kehidupannya yang sebelumnya bisa ia rasakan. Bekerja dengan baik serta bergaul dengan banyak orang. Sayangnya semua itu seolah terjadi hanyalah angan saja.
Bahkan rasa khawatirnya pada sang ayah membuat Inka nyatanya tak bisa tidur dengan tenang. Ia terus saja memikirkan sang ayah hingga akhirnya Inka mengirim pesan pada sang ibu tiri yang menjaga ayahnya di rumah sakit.
Tak lama kemudian ia pun menerima sebuah pesan foto yang ternyata sang ayah tengah tidur dengan tenang. Keadaan ayahnya saat ini sedikit membaik dan akan segera pulang ke rumah dalam waktu dekat.
Samar di ruangan rawat salah satu rumah sakit terdengar suara yang tak asing bagi Kasih. Ia mendengar sang suami terus memanggil nama anaknya.
"Inka...Inka..."
Segera Kasih pun mendekati sang suami.
__ADS_1
"Ayah, ada apa?" tanyanya dengan membangunkan Ferow yang ternyata hanya mengigau dalam tidurnya.
Pria itu mencari sekeliling dan tidak menemukan keberadaan sang anak. "Dimana Inka, Bu?" tanya Ferow lemas.
Entah mengapa ia merasa gelisah saat ini. "Ayah bermimpi Inka sedang dalam bahaya." ujarnya dengan cemas berlebihan. Tentu saja hal itu membuat Kasih malas sebenarnya.
"Inka sudah tidur, Yah. Barusan dia mengirim pesan pada Ibu menanyakan Ayah sebelum tidur. Jadi ibu kirim foto saja." ujar Kasih penuh dengan sandiwara.
Selama harta belum ia miliki, Kasih bertekad tidak akan menampakkan keaslian dirinya pada sang suami. Melihat apa yang di tunjukkan pada istrinya, pria itu pun kembali memejamkan mata senang. Ia bersyukur meski Inka tak ada di sisinya, sang anak begitu perhatian padanya tanpa ia tahu sekali pun.
Sementara di tempat lain, nampak Gia yang meminta Kasih untuk menggantikan posisi tidurnya bersama sang suami.
Segera Inka pun melangkah dengan wajah ngantuk ia paksa untuk menuju kamar Gia. Saat pintu terbuka dari dalam, Inka mengerjapkan mata tak menyangka. Jika di bayangannya Gia akan memakai piyama nyatanya berbeda. Wanita cantik itu kini memakai pakaian luar dengan wajah yang bermake up tipis.
"Masuk." begitulah perintah Gia padanya dengan gerakan tangan. Inka tanpa mengatakan apa pun hanya patuh masuk ke kamar dan Gia sudah keluar dari kamar itu menuju luar.
__ADS_1
Berdua di dalam kamar dengan pria yang tidak melihat membuat Inka merasa serba salah. Malu tentu saja ia sangat malu mendekati Rifyal yang tengah terlelap. Pelan ia pun merebahkan tubuhnya di sisi tempat tidur berusaha menjauh dari pria buta itu. Inka memejamkan mata dengan memeluk selimut di tubuhnya.
"Sayang, jangan jauh-jauh." ujar Rifyal yang tiba-tiba membuat Inka kaget bukan main.
Tubuhnya menegang kembali saat kedua tangan pria itu sudah melingkar di tubuhnya. Pelan namun pasti Inka bisa merasakan pergerakan tangan Rifyal yang mulai liar. Jelas Inka sebagai wanita normal pun tentu saja merespon pergerakan sentuhan lembut itu.
"Bagaimana jika Nyonya Gia kembali?" gumam Inka takut jika Gia kembali dan melihat aksinya dan Rifyal saat ini. Meski pun itulah kerjaan Inka, tetap saja saat ini berada di luar perintah Gia. Ia hanya di tugaskan untuk tidur menggantikan posisinya selama ia di luar.
Namun, perlahan Inka mulai bisa merasakan kenikmatan yang kembali Rifyal tawarkan bahkan di malam ini pria itu jauh lebih menikmati hubungan panas mereka. Inka benar-benar suka dengan aksi Rifyal. Ia menahan erangan yang ingin keluar dari mulutnya. Namun, bisa pria buta itu rasakan bagaimana tangan Inka yang justru bergerak liar di tubuh atletis pria itu. Ia tak lagi perduli dengan Gia, yang Inka inginkan saat ini hanya ingin merasakan apa yang selama ini ia tahan di depan Gia.
Inka jauh lebih agresif dan Rifyal sangat suka itu. Inka bergerak mengambil kendali. Tanpa keduanya tahu jika di waktu yang hampir bersamaan justru Gia juga tengah berpacu dengan pria lain di salah satu hotel ternama. Di kamar mewah itu banyak botol wine yang sudah di siapkan oleh lawan main Gia. Sayangnya wanita itu tak ingin larut dalam kenikmatan. Ia lebih memilih untuk menahan semuanya demi kedudukannya sebagai menantu keluarga Mahen.
Inka tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Bibirnya tampak lihai menyentuh bibir Rifyal malam itu hingga akhirnya permainan pun usai dengan kedua tubuh polos yang berkeringat di atas kasur empuk nan mewah itu. Mereka tidur sembari berpelukan hingga Gia pulang dengan keadaan lelah. Ia kaget melihat keadaan keduanya yang sudah tak memakai apa pun.
Bukan sedih atau mara, Gia hanya terkekeh kecil. Inilah hasil dari perbuatannya sendiri. Dan Gia tak bisa melakukan apa pun. Sebab Inka tentu saja tak bisa menolak kapan pun Rifyal meminta kala dirinya tak ada.
__ADS_1
"Kita sudah impas, Rif. Aku harap setelah ini tidak akan ada lagi hal menyakitkan di antara kita." ujar Gia berjalan pelan membangunkan Inka yang masih terlelap untuk segera pindah ke kamarnya.
Sungguh rasanya Inka sangat lelah jika harus bangun lagi dan pindah kamar lagi. Namun, keadaan membuatnya tak bisa protes apa pun.