
Sore harinya ketika Inka usai menyeka tubuh sang ayah, gadis itu nampak memakaikan pakaian bersih pada tubuh Ferow. Keadaan tubuh pria itu bahkan pelan-pelan mulai kembali segar lagi.
"Sudah rapi. Ayah mau jalan-jalan sore di depan rumah?" tanyanya dan Ferow pun mengangguk.
Ia menyetuji ajakan sang anak. Keduanya keluar kamar dan meninggalkan rumah mengitari halaman rumah. Suasana sore yang nampak sangat sejuk begitu nyaman keduanya rasakan. Berbeda halnya dengan keadaan di dalam rumah. Anggun nampak kesal melihat kesembuhan ayah tirinya. Meski pun Ferow sudah berbaik hati membesarkan dan membiayai segala kebutuhannya, tapi hal itu tak mampu menggeser posisi sang ayah kandung yang lebih berharga di hatinya.
"Anggun, kenapa di sini? Katanya mau jalan?" Kasih menghampiri sang anak yang berdiri mematung di jendela ruang tamu. Gadis itu sudah tampak sangat cantik dengan penampilan segarnya serta make up tipis di wajahnya. Suasana sore di hari sabtu begitu sangat indah memang untuk di gunakan berkencan. Sayangnya, Inka tak mengenal waktu indah itu di masa dewasanya.
Hal yang paling ia anggap penting adalah terus berada di sisi orang tersayangnya yang tersisa hanya satu yaitu sang ayah. Inka terus berjalan mendorong kursi roda ayahnya yang lemah itu. Ferow merasa di perlakukan seperti bayi yang tidak boleh terkena tanah oleh sang anak.
"Ayah, boleh Inka bertanya?"
Keduanya berhenti keliling saat sudah tiba di taman yang nampak sejuk di bawah pohon besar mereka menikmati pemandangan santai.
"Jangan tanya hal itu, Inka. Ayah akui telah melakukan kesalahan. Entah mengapa Ayah begitu larut dalam dosa hingga tak sadar akan semua resikonya. Saat ini mungkin ayah tengah mendapatkan hukuman atas perbuatan ayah di masa lalu." Pria paruh baya itu menunduk menyesali semuanya.
"Dan kenapa harus mereka, Ayah? Inka tidak akan egois mengenai kebutuhan ayah yang sendiri. Tapi bukan dengan mereka." kali ini akhirnya Inka memiliki kesempatan untuk meluapkan isi hatinya.
Lama Ferow terdiam, ia tak tahu apa yang harus di jawab pada sang anak. Sebab semuanya terjadi begitu saja hubungan yang bahkan ia sendiri tak menyadari sejak kapan hadir perasaan tertarik pada wanita lain. Bahkan dengan nekat menikah siri dengan Kasih di belakang Aseh.
Keduanya lama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing hingga akhirnya Inka terkejut mendengar suara dering di ponselnya. Gadis itu buru-buru meraih ponsel dan mengangkat panggilan yang entah dari siapa Ferow tak tahu.
__ADS_1
"Oh iya, baik. Iya, Pak saya segera kembali ke rumah." Inka menjawab setelah lama ia mendengarkan suara di seberang telepon.
Panggilan pun berakhir dan Inka segera membawa sang ayah kembali ke rumah setelah mengatakan alasannya. Ferow begitu antusias mendengar ucapan sang anak jika ada yang menjenguknya. Selama sakit tak satu pun orang datang menemuinya. Sedih tentu saja namun semua menjadi pelajaran bagi Ferow. Jika satu-satunya orang yang paling perduli padanya hanyalah Inka.
"Itu dia," Anggun yang ternyata belum pergi menunjuk ke arah Inka dan sang ayah yang mendekati dari arah jalan ke rumah.
Wanita cantik dengan rambut jatuh mendorong kursi roda di depannya. Terlihat begitu memiliki rasa perduli yang tinggi. Tak sabar bertemu, ia pun mendekati Inka. Sosok pria tampan dengan usia yang cukup mapan jika di lihat dari segi penampilan dan nada bicaranya.
"Siapa sih dia, bu?" Anggun mendekati sang ibu yang menyaksikan Inka dari jauh berjabat tangan dengan pria tampan barusan. Ferow juga nampak menerima jabatan tangan pria itu dengan ramahnya.
"Mana Ibu tahu, Anggun. Kamu kok masih di sini sih? Katanya mau jalan tadi?" tanya Kasih balik pada sang anak.
Inilah yang tidak ia suka dari semua teman atau kekasih sang anak. Tak ada satu pun yang bermodal untuk sekedar berjalan pun.
"Cari teman itu yang seperti itu loh. Inka itu pintar sekali di datangi cowok lihat kelas atas." Kasih begitu pandai menilai tamu sang anak tiri yang kini sudah duduk di ruang tamu.
"Pak, ini kue untuk bapak. Jangan khawatir ini kue sehat kok. Semuanya sudah memenuhi standar untuk tubuh yang sedang drop. Kebetulan saya baru pulang dari Prancis jadi maaf Pak saya baru bisa kemari. Bahkan saya juga kaget mendengar Inka sudah mengundurkan diri dari perusahaan saya." Pria itu mengulurkan buah tangan pada Ferow yang sejak tadi memperhatikan wajahnya.
Pria paruh baya itu bisa menangkap ada hubungan antara mereka lebih dari sekedar atasan dan bawahan.
"Terimakasih sebelumnya, Pak. Saya sangat bersyukur anak saya di kelilingi orang baik. Dan apa benar jika Inka mengundurkan diri dari perusahaan? Bukankah kemarin kamu katakan hanya cuti, Inka?" Ferow menatap dalam wajah sang anak yang kini hanya menunduk tak sanggup berkata apa pun lagi.
__ADS_1
"Maaf, Ayah." hanya kata itu yang sanggup Inka katakan. Ia tidak tahu jika sang boss akan mengatakan semuanya pada sang ayah. Bahkan kedatangannya pun kemari tak ia duga sama sekali.
"Pak Beril, saya memilih mengundurkan diri karena saya ingin menjaga ayah saya. Maafkan saya, Pak." tutur Inka begitu polos sontak membuat kedua pria itu terkekeh.
Beril sangat geli mendengar ucapan sang kekasih yang masih juga memanggilnya pak. Ferow geli melihat sikap kaku sang anak. Jelas ia tahu alasan sang anak memanggil kekasihnya seperti itu pasti karena ada dirinya.
"Kita bukankah sudah di luar perusahaan dan di luar jam kerja, Inka? Saya Beril bukan bapak kamu."
Inka nampak tertunduk malu.
"Inka, ayah ingin istirahat di kamar. Bu, bawa Ayah ke kamar. Nak Beril berbicaralah dengan Inka atau kalau mau jalan malam minggu juga boleh." Ferow nampak sangat senang melihat anaknya di kunjungi pria yang sangat sopan dan perhatian seperti Beril.
Tanpa mengintrogasi sekali pun ia sudah bisa tahu dari sikap Beril yang sangat baik. "Ayah," Inka mendelik malu mendengarnya.
"Nggak usah sok jual mahal," Anggun tiba-tiba saja bersuara dan membuat Kasih membulatkan mata menegur sang anak.
Beril yang merasa lebih nyaman di rumah tak berniat mengajak Inka keluar malam itu. Ia pun memilih membicarakan banyak hal penting untuk ia tawarkan pada Inka mengenai pekerjaan.
"Inka, lihat. Ini proyek besar yang sangat bagus peluangnya. Saya tidak akan meminta kamu kerja di perusahaan. Tapi dengan bakat kamu yang bagus, apa kamu tidak mau mengambil proyek besar ini? Waktumu dengan ayah juga tidak akan tersita banyak kok." Beril adalah sosok pria yang pekerja keras. Ia sama sekali tak ingin membuang waktu dengan hal yang tidak penting.
Inka diam memperhatikan beberapa lembar berkas yang pria itu tunjukkan serta tablet yang terbuka layarnya.
__ADS_1