
"Ini benar tempatnya, Mibras? Ternyata mewah banget yah tempat tinggalnya Aline." sahut Inka dengan antusiasnya mengikuti sang anak kemana pun pergi.
"Mah, mamah beneran mau ikut masuk?" sahut Mibras merasa tak yakin membawa sang mamah masuk sebab rasanya akan canggung bertemu sang pujaan hati sekian lama justru di temani sang mamah.
Lama tak berkomunikasi tentu saja membuat Mibras ada banyak hal yang ingin di sampaikan pada Aline, sudah bisa di bayangkan bagaimana kecanggungan yang terjadi.
"Memangnya kamu mau berduaan gitu di kamar sama Aline? Enak saja, Mamah nggak akan biarin. Jangan mikir macam-macam yah, Mibras. Mamah libas kamu nanti." sahut wanita itu menatap tajam Mibras yang tak bisa membuat Mibras berkata apa-apa lagi.
Hingga pria tampan itu pun menghela napas kasar lalu berjalan menggandeng tangan sang mamah. Senyuman tanpa dosa di wajah Inka mengembang sempurna. Ia mengikuti langkah sang anak tanpa perduli dengan keberadaan sang suami yang nampak gusar di Indonesia setelah kepergiannya.
"Ah nasib-nasib. Masa iya cari istri serep? Untung sayang." gerutu Rifyal mengusap kasar wajahnya saat pulang ke rumah hanya ada pelayan yang menyambut kedatangannya.
Sementara orang yang ia pikirkan saat ini sudah berdiri di depan pintu apartemen milik Aline, dimana Mibras terakhir mengunjungi beberapa waktu lalu lamanya dan kini akhirnya ia kembali datang. Tentu kedatangannya tak di ketahui oleh Aline saat ini.
Ketukan pun mulai terdengar di daun pintu kala itu. Mibras menunggu hingga akhirnya pintu terbuka namun bukan seorang wanita yang keluar dari pintu melaikan seorang pria berwajah blasteran.
__ADS_1
"Siapa honey?" dari dalam terdengar suara seorang wanita mendekati pintu. Dimana Mibras berdiri menatap penuh tanya pada pria blateran di depannya.
Inka tercengang melihat penampilan pria dari atas sampai bawah yang hanya bertelanjang dada dengan handuk di pinggang melingkar. Bahkan napasnya terlihat sangat memburu.
Tanpa kata, kemunculan seorang wanita dari dalam seketika di sambut dengan tangan Mibras yang melayang kencang pada wajah pria asing di depannya.
"Mibras!" jeritan Aline dan Inka bersamaan menggema kala tangan kekar itu melayang begitu cepatnya.
"Jadi ini yang kamu lakukan, Inka?" teriak Mibras menerobos masuk untuk menyaksikan apa dugaannya benar atau salah. Dan sepanjang mata mengedar ia melihat jelas ada pakaian berantakan di sofa serta minuman dan cemilan di meja ruangan itu.
"Mibras, jaga emosi kamu." Inka mengingatkan sang anak namun pemuda tampan itu menggenggam tangan Inka dan membawanya segera keluar dari apartemen itu. Tak perduli dengan Aline yang memakai lingerie mengejarnya hingga di depan pintu lift. Ia tetap pergi dari sana dengan wajah penuh kekecewaan.
Kini Mibras membawa sang mamah menuju ke hotel untuk beristirahat. Ingin sekali rasanya ia marah namun tak ingin menunjukkan di depan sang mamah. Inka begitu jelas merasakan kemarahan sang anak hingga akhirnya wanita paruh baya itu menggenggam tangan sang anak. Ia mengusap wajah tampan Mibras untuk ia usap keringatnya.
"Jangan kecewa, jika Tuhan menunjukkan di luar dugaan itu berarti bukan yang terbaik untukmu sebelum waktunya terlambat. Jalani semua dengan ikhlas, Mibras. Mamah yakin kelak ada wanita yang sangat beruntung bisa mendapatkan cinta tulus anak mamah. Jangan jatuh cinta pada rupa yang begitu seperti malaikat sangat sempurna. Cintailah wanita dari hatinya, Nak." ucapan penuh makna dari sang mamah membuat kemarahan di dada Mibras pudar perlahan. Ia tersenyum mengangguk dan memeluk sang mamah.
__ADS_1
Inka benar-benar menjadi sosok mamah yang begitu sempurna untuknya. Selalu berusaha melindungi dan menenangkan dirinya.
"Terimakasih, Mah. Sekarang aku mau mamah istirahat dan kita akan jalan-jalan sepuas mamah malam ini." jika sebelumnya Inka pasti akan sangat senang, namun tidak kali ini. Ia mengerti dengan perasaan sang anak yang sedang patah hati.
Keduanya pun menikmati hari liburan mereka tanpa terlihat sedikit pun kekecewaan di wajah tampn pria itu. Hingga di hari ketiga tiba-tiba mereka semua di kejutkan ketika baru bangun dari tidurnya. Yah, Inka memang tidur di satu kamar dengan Mibras namun beda ranjang.
"Papah!" pekikan kuat dari Mibras sontak membuat mata Inka membulat sempurna terbangun dari tidurnya.
"Emang kalian saja yang mau liburan. Papah juga dong." sahut Rifyal terkekeh membuat Inka bangkit dari pembaringan.
Mibras terkekeh melihat Inka yang kaget bukan main dan Rifyal justru memeluk sang istri di atas kasur dengan mengurungnya di dalam selimut. Mereka bertiga kini hidup dengan sangat bahagia.
"Semoga kelak aku bisa mendapatkan istri yang baik seperti mamah. Kelak anakku juga akan bahagia memiliki ibu yang sangat sayang seperti mamah." gumam Mibras penuh takjub menatap sang mamah.
Pertemuan yang di awali dengan berbagai permasalahan terkadang ternilai begitu kejam untuk seseorang. Namun, saat ia terus maju melangkah dengan ketulusan tentu tak akan mendapatkan hal yang paling baik kemudian hari.
__ADS_1
End