Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Kedatangan Tamu Spesial


__ADS_3

Malam itu Beril sangat syok mendapati hasil kerja sang anak buah. Beberapa lembar foto kini berjajar rapi di meja kerja pria itu. Kedua mata Beril menatap sulit percaya dengan apa yang ia lihat. Sosok Inka yang cantik justru berjalan dengan perut yang menonjol. Rasanya seperti mimpi melihat sang kekasih berbadan dua seperti ini. Bergetar tubuhnya mengetahui kenyataan yang masih belum jelas ceritanya.


“Dia menuju kediaman Mahen malam ini, Tuan. Dan mobil yang Nona Inka bawa di parkir di dalam garasi rumah itu juga.” ujar anak buah Beril.


Sejenak Beril terdiam tanpa suara. Ia berusaha mengatur emosinya agar bisa tenang dalam memikirkan semuanya.


“Apa ini sebabnya kau tidak mau bertemu dengan ku, Inka? Siapa yang melakukan ini semua? Apa keluarga Mahen dalang di balik ini semua?” Seketika pikiran Beril semakin kacau.


“Kalian terus awasi pergerakan di rumah itu.” pintahnya.


Di rumah megah milik Rifyal, malam itu Gia mendapat kerjaan yang mengharuskan dirinya untuk keluar negeri bersama sang ayah mertua dan beberapa anggota keluarga Mahen lainnya. Menghindar rasanya tidak mungkin sebab ini menyangkut sebuah repurtasinya sebagai Nyonya pengganti sementara kursi Rifyal Mahen.


“Gia, bagaimana dengan keadaan janin kita? Sebaiknya biar aku katakan pada ayah untuk tidak membawamu pergi.” ujar Rifyal seolah menunjukkan wajah khawatirnya.


“Tidak bisa, Rif. Ini menyangkut kepercayaan keluarga denganku.” tutur Gia lagi kekeuh.


Rifyal pun tak lagi bisa menahan sang istri. Sebab di balik kepergian Gia? Ia sendiri memiliki sebuah rencana yang harus ia jalankan selama sang istri pergi.


Namun, yang membuatnya sedih sebab akan sulit bertemu dengan Inka. Jelas Gia meminta Inka untuk tinggal di apartemen selama dirinya tak ada di rumah. Dan itu membuat Rifyal sangat kesepian. Setiap hari bahkan pria itu terus menunggu malam untuk bertemu dengan Inka.

__ADS_1


Singkat cerita, pagi ini Rifyal ditemani sang pelayan mengantar kepergian Gia di depan rumah. Bisa saja sebenarnya ia mengantar ke bandara sang istri. Namun, Rifyal tak mengajukan tawaran itu. Ia sendiri pun malas mengantar Gia ke bandara. Lebih baik dirinya istirahat di rumah mengumpulkan tenaga untuk berperang kembali dengan Inka.


Keberangkatan Gia hari itu membuat Inka menetap di apartemen. Ia nampak menghela napas lega setidaknya beberapa hari ke depan Inka memiliki waktu untuk beristirahat.


Hingga di siang harinya kening wanita hamil itu mengerut dalam kala indera pendengarnya menangkap suara ketukan pintu di iringi bel berbunyi.


“Beril, itu pasti dia. Kenapa dia kemari lagi?” Inka kembali di buat gelisah dengan kehadiran pria itu.


Lama ia mondar mandir hingga Inka memutuskan untuk mengintip dari pintu. Di luar dugaan jika yang berdiri di depannya saat ini bukanlah sang mantan.


“Tuan Rifyal! Buat apa dia kemari?” Mendadak tubuh Inka dingin. Gugup tentu saja.


Meski pun sering kali bersama pria itu di malam hari. Namun, kedatangan Rifyal ke apartemen sungguh membuat Inka merasa seperti di kunjungi sang kekasih. Dadanya berdebar tak karuan.


“Mari Tuan,” sopan Inka menuntun tangan Rifyal masuk ke dalam. Lalu ia menutup kembali pintu itu.


Keduanya duduk saling diam. Rifyal masih duduk tenang sebelum Inka bersuara menawarkan minuman.


“Lusa saya akan operasi mata. Saya harap kamu mau menemani saya, Inka.” tutur pria itu dengan tenang.

__ADS_1


Sedangkan Inka kaget bukan main. Itu artinya wajahnya yang polos kusam ini akan di lihat oleh Rifyal.


“A-apa Tuan? O-operasi?” Tergugup Inka berucap.


Mendengar itu Rifyal tersenyum. Ia sudah menduga bagaimana respon Inka.


“Aku tidak sabar melihat wajah cantikmu, Inka. Seperti yang bibi Santi katakan padaku.” ucap Rifyal dalam hatinya.


Sebab ia yakin wanita tua yang menjadi orang kepercayaannya itu tidak mungkin salah menilai wanita yang membuatnya nyaman.


“Yah aku operasi secepatnya. Sebab aku ingin melihat anak kita lahir dengan mata kepalaku sendiri.” jawabnya dengan mantap.


Inka susah payah meneguk kasar salivah yang terasa sangkut di tenggorokannya.


Sampai saat ini bahkan ia belum memikirkan hal sejauh itu. Entah bagaimana dirinya nanti melahirkan. Inka takut, takut sakit yang ia rasakan ketika bersalin harus di tambah sakit dari kejadian sekitarnya.


“Tuan…apa saya egois jika saya tidak bisa memberikan anak saya pada kalian?” Dengan memberanikan diri Inka bertanya.


“Kau pikir akan semudah itu, Inka?” Pertanyaan Rifyal membuat Inka menegang.

__ADS_1


“Anak kita akan hidup semestinya dengan kita berdua pula. Tidak ada pilihan denganmu atau denganku.” Lanjut Rifyal berkata.


Inka tak tahu apa yang ada di pikiran pria ini. Yang jelas ia hanya menunggu takdir menggariskan hidupnya akan seperti apa.


__ADS_2