
Untuk malam ini Gia tak lagi menangis. Hanya ada tubuh yang dingin dan tegang mendengar suara erangan sang suami yang begitu menikmati suasana baru itu. Bukan baru lebih tepatnya suasana yang sama pernah ia rasakan sebulan lalu. Gia memalingkan wajah tak mau lagi menatap keduanya. Hingga tanpa ia sadari Inka mulai merasakan sesuatu yang begitu sulit ia jelaskan. Rasa dari dalam tubuh yang ingin ia lepaskan hingga pada akhirnya wanita itu menegang dan memeluk erat tubuh Rifyal.
Senyum mengembang di wajah Rifyal merasakan lawan mainnya telah mencapai puncak. Ia pun mendaratkan ciuman di kening Inka hingga bibir itu beralih pada bibir kenyal milik Inka. Keduanya benar-benar menikmati hal itu saat ini. Inka tak lagi bisa menahan diri untuk membiarkan Rifyal bermain seorang diri. Hingga mereka bermain dengan sangat asik. Inka bahkan lupa dengan perannya sebagai wanita pengganti di atas ranjang. Jiwa rakusnya seolah bergejolak untuk menikmati juga permainan ini.
Gia yang semula memalingkan wajah nampaknya merasa penasaran sebab permainan begitu lama durasinya.
"Sialan." Ia mengepalkan tangan melihat Inka yang sedang beradu bibir dengan suaminy. Sungguh Gia begitu kesal melihat ini.
Dua puluh lima menit lamanya keduanya akhirnya sampai pada kepuasan masing-masing dan Inka segera pulang berganti dengan Gia yang merebahkan tubuh di samping suaminya. Malam ini Gia merasa enggan untuk meminta jatah pada sang suami meski dalam dirinya ada gairah yang terasa ingin di lepaskan. Gia memilih membelakangi sang suami. Rifyal yang kelelahan hanya bisa acuh dan memilih tidur.
Rasanya Gia begitu sulit untuk tidur, perasaan di tubuhnya sangat membuatnya gelisah.
"Tidak. Aku tidak boleh berpikir gila seperti ini. Aku menantu seorang keluarga terhormat." Gia berusaha menghilangkan pikiran buruk yang ingin membuatnya melepaskan hasrat pada pria lain.
Mengingat bayangan sang suami yang sudah bermain panas dengan wanita lain membuat kesetiaan Gia terasa menghilang perlahan. Jiwa liarnya tiba-tiba muncul ingin merasakan hal yang sama dengan sosok yang berbeda. Di tengah malam itu ia terus saja gelisah. Beberapa kalii menutup mata namun tak bisa juga untuk terpejam. Rifyal yang di sampingnya tampak sudah mendengkur halus dengan nyenyak sekali.
Di sini Inka yang melajukan mobil menuju pulang ke rumah nampak bingung dengan perasaannya. Entah mengapa bertemu dua kali dengan sosok Rifyal justru menaruh rasa yang tak bisa ia mengerti. Jika di hubungan pertama ia akan sangat jijik dan susah payah membersihkan tubuhnya dengan air, berbeda untuk malam ini. Ia merasa pikirannya lebih ringan. Sebab tanpa ia sadari dirinya juga sangat menikmati permainan tadi.
__ADS_1
"Astaga, apa yang ku pikirkan? Tidak, Inka. Itu bukan hal yang baik. Jangan pernah berpikir hal yang buruk seperti itu. Sekarang yang utama adalah Ayah." ia menggelengkan kepala untuk menghilangkan pikirannya tentang Rifyal.
Namun tetap saja bayangan akan suara dan wajah yang menunjukkan betapa Rifyal sangat puas terus saja terlintas di benak Inka. Ia berulang kali memukul kepalanya sayang hal itu tak serta merta bisa ia lupakan.
Beberapa menit berlalu Inka pun tiba di apartemen. Malam ini ia memilih untuk menginap di apartemen dan keesokan hari akan pergi ke rumah sakit. Ia memilih langsung tidur sebab merasakan lelah yang luar biasa. Inka tidur dengan perasaan nyaman dan puas malam ini.
Hingga kejadian tersebut berlangsung satu minggu lamanya. Dimana setiap malam Inka akan berhubungan dengan Rifyal di depan Gia. Entah apa yang sudah Gia rasakan saat ini. Perasaan cintanya pada sang suami sudah luntur berganti dengan rasa yang hanya ingin menjadi istri seorang keluarga Mahen. Ia tak perduli lagi bagaimana Rifyal dengan Inka. Yang ada di pikirannya hanya seorang bayi dan suaminya bisa sembuh dari buta. Yang terpenting harta pun tetap ia miliki.
Tanpa ia sadari hal yang sama pun juga terjadi pada Inka. Lambat laun perasaan yang tak biasa itu pun muncul. Dimana Gia dengan suka rela menyerahkan tubuhnya pada Rifyal hingga di saat-saat tertentu ia begitu merindukan sentuhan dari suami orang. Gia pun di nyatakan positif hamil usai satu minggu itu usahanya bersama Gia berjalan mulus.
Dan tentu saja hal itu membuat Inka merasa senang bukan main. Akhirnya ia tak perlu lagi menahan rindu pada Rifyal setiap mengingat wajah pria tampan itu. Inka bisa sepuasnya menikmati kebersamaannya dengan Rifyal.
"Nyonya, bolehkah saya siang hari tinggal di rumah ayah selama perut saya belum membesar?" tanya Inka yang masih mengingat sosok sang ayah.
Dan permintaan itu tentu saja di sanggupi oleh Gia. Ia membolehkan Inka keluar selama perutnya masih rata. Sebab sebagai istri dari Rifyal tentu saja Gia butuh tubuh Inka untuk membuktikan jika sang istri benar-benar hamil saat menyentuh tubuhnya.
Sore harinya Gia yang baru pulang dari sebuah hotel mewah melajukan mobil ke arah rumah. Ia dengan bahagia ingin menyampaikan kabar baik ini pada sang suami tentu saja dengan namanya bukan nama Inka.
__ADS_1
"Rif, sayang. Aku ada kabar bahagia loh." ujarnya berjalan cepat memanggil sang suami.
Nama yang ia panggil ternyata tengah berjalan ke arahnya dengan tongkat yang ia pegang saat ini. Melihat kedatangan sang suami, buru-buru Gia menyambutnya. Gia berhambur memeluk tubuh sang suami.
"Aku hamil." ujar Gia dengan rasa senangnya tanpa rasa bersalah sedikit pun telah membohongi sang suami.
Mendengar kabar bahagia itu sontak saja Rifyal pun meminta sang istri untuk duduk di sofa dan ikut duduk kemudian kembali memeluk tubuh Gia lagi. Tak terasa Rifyal menjatuhkan air mata bahagia. Ia tak menyangka jika ia akan memiliki anak.
"Sayang, cepat carikan aku donor darah berapa pun akan aku bayar. Aku tidak sabar menyaksikan perut mu yang membesar." ujarnya berseru penuh dengan semangat.
Kata-kata itu membuat Gia tersenyum miris. Inilah yang ia lihat kenyataannya betapa sang suami begitu bahagia memiliki istri yang tengah hamil, sedangkan Gia tak akan pernah merasakan hal itu. Dokter sudah memvonis dirinya mandul. Gia hanya diam tak merespon ucapan Rifyal.
"Sayang, Gia." panggil Rifyal lagi.
"Baik, tanpa kau minta pun akan aku lakukan." jawab Gia tak bersemangat.
"Aku tidak akan melakukan itu sampai anak itu benar-benar lahir, Rif." ujarnya lagi dalam hati.
__ADS_1