
Tak terasa waktu kini sudah berlalu begitu cepat. Di sini Rifyal sudah berbaring menggenggam tangan Inka yang berdiri di sampingnya. Keduanya benar-benar tampil layaknya sepasang suami istri sesungguhnya. Sebuah pakaian operasi sudah melekat pula di tubuh Inka. Matanya tampak berair antara senang dan takut secara bersamaan ia rasakan. Sebentar lagi pria buta di hadapannya akan bisa kembali melihat berkat donor mata dari seseorang.
"Jangan pernah pergi," itulah yang Rifyal katakan sebelum dirinya di bawa masuk oleh beberapa perawat.
Inka menunggu dengan setia di depan ruang operasi itu bersama beberapa orang anak buah Rifyal. Debaran jantung Inka tak hentinya mengganggu pikiran. Pelan ia menunduk mengusap perutnya.
"Sebentar lagi kita akan tahu seperti apa masa depanmu, Nak." ujarnya berbicara pada sang anak yang masih di dalam perut.
Sedangkan di sisi lain, Gia benar-benar merasa ingin menangis marah. Ia sangat lelah dengan semua sandiwara ini. "Gia, mau kemana ini sudah malam? kamu sedang hamil tidak boleh keluar."
"Gia, jangan makan itu. Ini kamu makan ini saja yang cocok untuk ibu hamil."
"Gia, apa yang kamu pakai itu? Berhenti memakai pakaian ketat. Ini baju sudah ibu belikan. Pakai yang longgar seperti ini biar masa perkembangan cucu ibu tidak terganggu."
"Gia, jangan memakai cream dulu. Itu bahaya. Biarkan wajah kamu jelek sebentar. Nanti juga bisa perawatan lagi kan?"
"Ya ampun Gia, berhenti olahraga esktream seperti itu. Ini panduan olahraga khusus ibu hamil."
Semua kata-kata larangan dari sang mertua membuat Gia hampir gila saat ini. Ia berdiri di dalam kamar mandi sembari mengguyur tubuhnya dengan shower.
"Aaaaaa!!!" teriaknya frustasi.
__ADS_1
Semua yang ia lakukan tidak ada yang boleh. Dan ia menghadapi semua ini seorang diri. Rifyal yang ia pikir sedang berdiam diri di rumah menjadi pria bodoh justru saat ini sudah berjalan-jalan santai dengan Inka di salah satu pulau. Sejak operasi matanya berhasil, Rifyal bukannya menjauh seperti yang Inka bayangkan sebelumnya. Justru pria itu benar-benar semakin jatuh cinta dengan pandangan matanya yang nyata.
"Pelan-pelan membuka matanya, Tuan." itulah kata dokter saat membuka perban di mata Rifyal setelah masa pemulihan dari operasi.
Rifyal menuruti dan samar kedua matanya melihat wajah cantik yang sangat cantik baginya berdiri di hadapannya saat ini.
"Tuhan, apa ini Inka? wanita secantik dan selembut ini kau hadirkan di hidupku?" gumam Rifyal nampak syok melihat wujud asli wanita yang membuatnya hampir gila jika tak bertemu sehari saja.
Keduanya pun memutuskan untuk berlibur di pulau menikmati suasana yang hening dengan saling mengenal satu sama lain. Inka pun juga bahkan lupa dengan status pria yang saat ini bersamanya.
"Tuan, saya rindu dengan ayah..." Inka ragu-ragu berkata demikian pada Rifyal.
Mendengar curahan dari Inka, seketika Rifyal menatap manik mata wanita itu dengan dalam. "Kita akan segera menemuinya. Kau tidak boleh pergi sendiri. Tapi, bersabarlah akan segera tiba waktu itu." ujar Rifyal mengusap kepala Inka.
Satu minggu sudah berlalu dari kesembuhan Rifyal.
"Ya ampun...harus berapa lama lagi sih di sini? Bahkan urusan perusahaan tidak ada yang penting-penting sekali. Untuk apa berlama-lama di sini?" Gia menggerutu sembari mengeringkan rambutnya bersiap untuk ke kantor sang suami yang berada di luar negeri saat itu.
Ia berpikir jika perginya kali ini hanya sebentar. Di luar dugaan jika Gia akan tersiksa begitu lama bersama keluarga sang suami. Rencana yang ia susun dengar rapi agar bisa pesta dengan teman-temannya usai urusan perusahaan selesai terpaksa gagal total. Bahkan menuju ke perusahaan saja ia harus pergi bersama mertua.
"Gia, siang nanti kita akan pulang cepat dari kantor." ujar Baron dan Gia menoleh dengan wajah senangnya. Berpikir jika pulang ini ia akan bersiap-siap kembali ke perusahaan.
__ADS_1
"Baik, Ayah." sahutnya.
Satu hari itu Gia di sibukkan dengan beberapa pekerjaan dan kesana kemari sampai harus ikut bersama beberapa pekerja untuk mengecek keadaan di gudang mau pun di pabrik. Wajahnya yang mulai nampak berjerawat terasa begitu gatal sebab tak memakai cream sama sekali.
"Aduh kenapa begini sih kerjaannya? Bukankah aku sedang hamil kata mereka? Kenapa di suruh ke tempat seperti ini?" Gia terus menggerutu kesal hingga sore harinya ia buru-buru kembali ke kantor sebab sang mertua sudah menghubungi untuk segera kembali.
"Gia, dari mana saja kamu? Kenapa lama sekali?" tanya sang ayah mertua.
"Sudah di kasih tahu loh tadi kita akan pulang cepat." ketus sang nenek ikut bersuara menatap sinis pada Gia.
"Maaf, Oma." begitulah Gia hanya bisa tunduk tanpa melawan.
Mereka pun menaiki mobil menuju arah pulang. Namun, di perjalanan kening Gia tampak mengerut dalam ketika mobil berhenti di sebuah toko peralatan ibu hamil.
"Astaga mau beli apa lagi sih ini?" tanyanya dalam hati yang sudah merasa lelah sekali. Gia ingin segera membersihkan diri dan memakai masker di wajah yang sudah sangat gatal itu.
Sepuluh menit kemudian Risna sang ibu mertua sudah keluar dari toko dengan Gia yang duduk di dalam mobil saja. Banyak sekali peralatan ibu hamil ia beli.
"Kenapa banyak sekali ibu membelinya?" tanya Gia.
"Itu untuk cucu kesayangan ibu. Tentu saja tidak banyak jika hanya segitu." ujar Risna.
__ADS_1
Mobil pun kembali melaju ke arah rumah. Mereka semua nampak begitu antusias tiba di rumah berbeda dengan Gia yang jengah dengan nasibnya selama di sini.
"Aku harus segera menelpon Rifyal untuk memintaku di pulangkan saja. Aku benar-benar tidak betah hidup di sini bersama aturan mereka. Lama-lama wajahku hancur di buat mereka semua." tutur Gia dengan dongkolnya.