
Setiba di rumah Gia memilih langsung menuju kamar. Tidak untuk bergabung dengan mereka. Kesal dan lelah rasanya sudah menggunung di tubuhnya. Terlebih ketika memasuki kamar, ia justru harus di hadapkan dengan penampakan kamar yang sangat berantakan. Di sana aunty Rifyal baru tiba menyusul dari negara mereka dengan membawa dua anaknya yang berusia lima dan dua tahun. Dimana di usia itu sangatlah merepotkan bagi Gia.
“Gia, kamu mau mandi kan?” tanya wanita paruh baya itu.
“Belum, aunty. Saya mau menelpon Rifyal dulu.” ujar Gia tersenyum dengan paksa.
Mendengar ucapan Gia sontak wanita paruh baya itu mencegahnya dengan mengatakan, “Untuk apa menelponnya? Sebentar lagi juga akan tiba kan?” Gia syok mendengarnya.
Apa? Tiba? Apa maksudnya Rifyal ada di negara yang sama dengan mereka? Lalu bagaimana dengan Inka? Gia menggeleng tak tahu harus melakukan apa saat ini. Ia sama sekali tak bisa bergerak lantaran di kelilingi seluruh keluarga sang suami.
“Rifyal ada di sini juga? Dimana dia?” tanya Gia gugup.
Belum sempat ia mendapatkan jawaban yang ia inginka, suara dari arah pintu membuat semua yang ada di dalam kamar menoleh.
“Ayo semua keluar. Rifyal menunggu di ruang tengah.” Dia adalah suami dari aunty yang bersama Gia saat ini.
Tanpa berkata apa pun lagi, Gia segera bergegas keluar. Ia akan meminta pada Rifyal untuk pulang bersamanya saat ini juga. Apa pun yang terjadi Gia harus pulang bersama suaminya. Jika tidak, maka semua pasti akan terbongkar.
__ADS_1
“Rif,” panggilnya dengan wajah berbinar bahagia.
Dewa penyelamatnya telah datang. Gia sangat senang. Namun, saat langkahnya berada di ambang sekat ruang tengah dan kamar senyum itu langsung menghilang berganti mata yang mengerjap beberapa kali. Gia berdiri mematung, ia mengerutkan kening dalam seolah berkata ini tidak nyata.
Ia berjalan perlahan dan terus mendekat hingga benar-benar jelas ia melihat sang suami yang duduk tersenyum di dampingi wanita cantik yang terdiam tanpa senyuman.
“Inka?” Ucapan yang Gia lontarkan tak ada suara namun jelas terlihat dari gerakan di bibirnya.
Perut buncit yang di bawa oleh tubuh Inka tengah di usap lembut oleh Risna, nenek dari Rifyal.
Kembali Gia menatap sang suami dengan manik mata yang berair. Sekuat tenaga Gia menahannya agar tidak jatuh.
Namun, Rifyal yang enggan menjawab memilih bungkam dan lebih tertarik untuk mencium pipi Inka. Tangannya masih terus bergerak mengusap perut Inka. Semua keluarga tampak senang melihat Inka dan Rifyal. Gia yang berdiri hanya seperti pajangan yang tidak mereka lihat.
“Apa kau sudah tidak memiliki rasa malu, Gia?” Suara tinggi milik Agung Mahen sontak menyadarkan Gia dari rasa syoknya
Ia beralih melihat tatapan tajam dari sang kakek. Tuan Agung Mahen sangat murka dengan Gia saat ini.
__ADS_1
“Beraninya kau mencoreng nama baik keluarga Mahen dengan semua tingkah rendahanmu itu, Giasya! Apa kau tidak berpikir tentang ini semua?”
Mendengar ucapan yang begitu sarkas tertuju padanya seketika membuat tubuh Gia gemetar. Bibirnya sulit sekali untuk ia gerakkan saat ini. Kebingungan tentu saja ia bingung harus berkata apa saat ini. Semua yang ada di ruangan itu menatapnya dengan tatapan sangat tajam. Tak ada satu pun yang membelanya di sini.
"Penghianat kau, Inka! Aku tidak akan mengampuni mu!" umpat Gia dalam hatinya.
Ia menatap Inka sangat tajam namun Inka hanya menunduk tak berani menatap Gia. "Jangan menatap wanitaku seperti itu, Gia. Saat ini juga, Aku Rifyal Mahen mentalakmu Giaya." Lontaran yang Rifyal ucapkan benar-benar lolos begitu saja tanpa bisa Gia cegah.
Ia beringsut di depan kaki Rifyal saat itu juga. Gia melewati semua orang tanpa mau perduli dengan mereka. Saat ini yang terpenting hanyalah Rifyal.
"Tidak, Rif. Tidak. Pernikahan kita tidak boleh hancur karena mereka dan wanita ular ini. Rif, aku mohon ini semua pasti akal-akalan keluargamu untuk memisahkan kita." Gia masih saja belum mengakui dirinya justru memfitnah semua keluarga sang suami.
Plak!!
"Rasakan ini, Gia!" Dia adalah Risna, nenek dari Rifyal yang sudah beberapa lama di sini menahan tangannya untuk ia layangkan pada wajah Gia. Risna sekuat tenaga menjalankan drama ini demi sang cucu yang berjanji akan memberikan cicit sebentar lagi.
"Nenek menamparku?" Gia meneteskan air mata tak menduga jika wanita tua itu sampai melayangkan tangannya.
__ADS_1
Hari itu Gia merasa dunianya seperti kiamat. Ia benar-benar asing di mata mereka semua. Satu-satunya pria yang mencintainya selama ini bahkan tak lagi menatapnya dengan cinta.