
Sepanjang dari sore hingga makan malam Inka terus saja mengomeli sang anak tanpa hentinya. Ia benar-benar kesal dengan Mibras yang bisa di serbu dengan begitu banyak gadis muda sampai nekat ke rumahnya. Melihat sang anak yang hanya diam, Rifyal terkekeh sembunyi-sembunyi di meja makan. Kedua pria berbeda usia itu kini duduk menunggu Inka menyiapkan makan khusus untuk mereka.
Pelayan yang berdiri di dekat Inka sudah selesai dengan tugasnya membantu masak.
“Mamah nggak mau tahu Mibras. Kamu harus nikah dengan wanita baik-baik. Mamah nggak mau ke depannya wanita yang nikah sama kamu hanya mau cari harta atau nama saja.” Inka masih saja mengomel tanpa ada yang menjawab. Ia pun menoleh dan melihat sang suami justru membungkam bibirnya dan kedua bahunya bergetar tertawa tanpa suara.
“Mas, kenapa ketawa? Ngetawain aku yah? Mas lupa dengan apa yang terjadi di masa lalu?” Rifyal berdehem mendengar sang istri yang justru mengungkit masa lalunya yang tentunya pasti dengan Gia.
“Sayang, kalau nggak gitu kan kita nggak mungkin sama-sama dan ada Mibras. Iya kan, Bras?” Hanya mengangguk tanpa berani berkomentar. Mibras takut jika melihat sang mamah semakin meradang.
“Mas, jadi Mas dukung kalau anak kita ngikutin jejak Mas juga? Nikah sampai dua kali. Nggak baik, Mas.” Inka menghentakkan kaki sebelum ia meletakkan makan di meja makan.
Meski sudah berumur, Rifyal masih sangat suka menggoda sang istri yang menurutnya masih sangat menarik.
“Mamah cantik loh kalau marah gitu.” Bukannya senang, Inka justru mendelik melihat sang suami.
Mibras hanya geleng kepala melihat kedua orangtuanya yang lucu.
Usai makan malam, pria itu sudah masuk ke kamar beristirahat. Hal yang selalu ia lakukan rutin tanpa berniat bermain ponsel.
__ADS_1
“Huh masih tiga tahun lagi dia kembali. Sampai kapan aku menunggu terus tanpa bisa berkomunikasi seperti ini? Mengirim pesan sekarang, di balasnya besok pagi, membalasnya ketika siang hari, dapat balasan lagi besoknya lagi.” Pria tampan anak dari pasangan Inka dan Rifyal tengah mengeluhkan seorang gadis yang membuatnya gundah sepanjang hari.
Bukan tanpa alasan, wanita yang sangat Mibras gilai nyatanya wanita yang sangat terkenal dan sangat sempurna di pandang mata. Seorang gadis multi talent yang sedang menaikkan namanya dengan mengambil jurusan S2 di jerman. Artis, penyanyi sekali gus model internasional.
Namanya Aline theresa, Mibras tak mampu untuk mengalihkan hatinya pada wanita mana pun. Itulah sebabnya ia acuh pada banyak gadis yang datang mengejar-ngejar dirinya.
Setiap malam pria itu tak menyentuh ponsel sebab sudah sangat hapal dengan jam balasan pesan dari sang pujaan.
Seharusnya wanita cantik itu akan kembali dalam waktu dekat, hanya saja kontrak kerja sama yang sudah terlanjur ia ambil membuatnya harus menetap di sana beberapa tahun.
“Apa sebaiknya aku mengunjunginya saja? Benar. Ini tidak bisa di biarkan. Mau sampai kapan aku menahan rindu seperti ini terus? gumamnya kesal sendiri.
Kembali pria itu keluar dari kamar. Dilihatnya kedua orangtuanya yang selalu menebar keromantisan duduk berdua di sofa menikmati film di televisi, membuat Mibras memutar bola matanya malas.
“Mah, Pah. Besok aku ke Jerman yah?” ia meminta izin sudah seperti anak kecil. Bukan Rifyal tentunya yang mempersulit. Melainkan Inka yang sangat over protektif padanya.
“Untuk apa, Bras? Mamah ikut yah?” Inka pun langsung berdiri antusias mendengar sang anak akan keluar negeri.
“Mah, kok ikut sih. Aku gimana?” Rifyal tak terima.
__ADS_1
“Yah nggak gimana-gimana, Mas.” sahut Inka melangkah mendekati sang anak dengan wajah bahagianya.
Bukan tidak tahu, Inka sangat tahu. Siapa wanita yang di kejar-kejar sang anak. Tetapi, ia tak akan membiarkan Mibras salah jalan.
Melihat wajah bahagia sang mamah, sungguh Mibras pun tak tega menyurutkan senyum bahagia sang mamah. Meski ia sedikit terganggu sebab ingin menghabiskan waktu dengang sang pujaan, akhirnya anak tampan itu mengangguk.
“Iya, Mamah boleh ikut kok.” ujarnya sedikit pasrah.
Inka memeluk anaknya tentu dengan rasa senang yang sangat sebab telah membuat sang anak begitu takut mematahkan semangatnya,
“Maafkan Mamah, Mibras. Mamah hanya ingin menjaga kamu sampai waktunya tiba. Kamu harus jadi anak yang baik, Nak.” Melihat sang istri yang sudah mendapat persetujuan sang anak. Rifyal hanya bisa menghela napas kasar.
Mibras pun masuk ke kamarnya kembali dan mengemasi barang. Hal yang sama di lakukan olen Inka. Wanita paruh baya itu mengemasi barang-barang terbaru miliknya yang belum terpakai tentu dengan style yang ia padu padankan malam ini.
“Mas bener mau di tinggalin sendiri?” tanya Rifyal menatap lemas sang istri.
“Sudah, Mas. Jangan manja. Ini semua demi anak kita kok.” ujar Inka ketus.
“Anak kita dan juga kamu, Sayang.” Tentu ia tahu jika sang istri paling hoby berjalan-jalan keluar negeri apalagi di temani sang anak. Beda dengan jaman sebelum Mibras tumbuh dewasa. Inka akan sangat senang berjalan dengan sang suami.
__ADS_1