
Kegelisahan yang Inka rasakan membuatnya ingin segera menghubungi sang ayah. Rindu rasanya sekian lama berpisah tanpa bertatap muka dengan sang ayah. Beberapa kali ia mencoba menghubungi namun tak ada jawaban juga.
“Apa aku hubungi Ibu saja? Iya aku telpon ibu saja. Pasti di sedang bersama ayah.”
Selang beberapa waktu menunggu ternyata benar, Kasih mengangkat panggil saat duduk di samping suaminya.
“Ayah?” Inka tersenyum melihat pria di layar ponselnya nampak baik-baik saja. Ingin rasanya ia menangis sebab tak bisa mengurus sang ayah lagi. Namun, Inka berusaha sekuat mungkin.
“Inka, kamu bagaimana? Sehatkah? Kapan pulang?” tanya Ferow yang mencemaskan dan merindukan anak satu-satunya itu.
Keduanya berbincang cukup lama bahkan Ferow mengatakan jika Beril datang mencarinya. Mendengar nama itu wajah Inka seketika muram. Ia sudah lama melupakan nama yang tak ingin ia anggap lagi. Beril begitu acuh padanya dan lebih mementingkan pekerjaan. Inka tak suka dengan itu.
Bagaimana menderitanya Inka bahkan pria itu tak berusaha mencari tahu. Sekedar ingin berbagi keluh kesah pun Inka tak mendapatkan waktu pria itu. Kini semua sudah terjadi dan tak ada lagi yang bisa Inka lanjutkan dengan Beril.
__ADS_1
“Ayah, Inka sudah harus bersiap kerja lagi. Doakan Inka selesai dengan cepat dan segera pulang merawat ayah. Ayah harus sehat yah? Inka akan ajak ayah keliling dunia dengan hasil kerja Inka.” Seketika panggilan pun terputus.
Ferow nampak terus mengembangkan senyum di wajahnya. Tanpa ia sadari jika raut wajah sang istri nampak tak suka.
***
“Kenapa setelah seperti ini kau baru mencariku? Apa seacuh itu kau padaku?” Inka merutuki sikap Beril yang terlalu masa bodoh.
Di sini Inka menatap perutnya yang mulai berisi. Di elusnya lembut penuh cinta.
Jika di awal ia hanya memikirkan masa depannya yang hancur, kini berbeda. Ada perasaan seorang ibu yang tak ingin kehilangan sang anak. Ada perasaan yang tak rela jika sang anak memanggil mamah pada wanita yang bukan mengandungnya.
Sekilas Inka mengingat sosok Rifyal. Pria tampan buta yang sudah mengaduk-aduk isi hatinya.
__ADS_1
“Mengapa aku jadi wanita serakah seperti ini? Tidak, Inka. Ini tidak benar.” gumamnya berusaha menyadarkan diri.
Inka mulai merasakan senang dekat dengan Rifyal. Bahkan ia sangat menanti hubungan Rifyal dan Gia hancur berantakan. Meski rasanya itu mustahil sebab mereka adalah orang besar yang tidak akan semudah itu untuk bercerai.
Hingga tak terasa ia pun melihat jam sudah beranjak malam. Inka waktunya bergegas pindah ke rumah besar milik Gia dan Rifyal. Dimana ia harus mempersiapkan segala kebutuhan yang sudah Gia berikan. Dari pakaian tidur dan wewangian yang sama dengannya.
Meski pun Rifyal sudah tahu, tapi Inka harus mengikuti perintah pria buta itu untuk tetap menjalankan semuanya. Ia tetap harus menjadi wanita pengganti sampai Rifyal memberikan perintah untuk menyudahi drama gila itu.
“Dari mana saja kamu?” Ketus Gia menyambut kedatangan Inka.
“Saya dari apartemen saya, Nyonya.” ujar Inka.
“Cepat masuk. Saya buru-buru.” pintah Gia dengan galak.
__ADS_1
“Loh Nyonya, bukankah ini masih terlalu sore?” Inka kaget sebab biasanya Gia akan pergi di atas jam sebelas malam. Sedangkan saat ini jam baru menunjuk angka delapan malam.
“Aku sudah memberikan obat tidur padanya.” Inka sampai menatap tak percaya mendengar ucapan Gia barusan.