
Pemakaman kini telah usai, Rifyal nampak mendorong kursi roda sang istri meninggalkan pemakaman sang ayah mertua. Sedih tentu saja sebagai pria yang di pilih oleh Ferow untuk menjaga anaknya, kini pergi meninggalkan kesedihan yang sangat dalam bagi sang istri. Inka tak berdaya tubuhnya lemas dan pasrah ketika sang suami mendorong kursi rodanya. Sepanjang jalan ia menangis terisak. Kini hidupnya benar-benar tak memiliki kedua orang tua lagi. Tak ada siapa pun lagi yang ia punya selain keluarga dari sang suami dan anak yang baru saja ia lahirkan.
“Inka, Ayah sudah tenang. Ayah tidak lagi kesakitan. Sekarang kita pulang dan berdoa untuk ayah. Semoga dengan doa yang kita berikan membantu ayah melewati semuanya hingga tenang di sana bertemu dengan ibu.” Rifyal memeluk sang istri ketika di dalam mobil.
Tak ada ucapan apa pun yang Inka suarakan selain tangis yang terbenam di dada bidang suaminya.
“Jangan tinggalin aku, Mas. Aku takut sendirian.” tutur Inka menatap sendu sang suami.
Air matanya berlinangan begitu deras. Entah apa jadinya Inka jika sang suami juga ikut meninggalkan dirinya. Sepanjang jalan Rifyal fokus menenangkan sang istri yang terkadang diam kadang lagi berteriak histeris. Rasa tak percaya jika sang ayah pergi secepat ini. Kini Inka pun tak lagi bersuara ketika tiba di rumah sakit. Pandangan matanya semakin redup hingga Rifyal panik melihat sang istri tidak sadarkan diri.
__ADS_1
“Inka! Inka! Bangun, Inka!” Rifya menepuk-nepuk pipi sang itri.
Pria itu bergegas menggendong sang istri memasuki ruangan dimana Inka seharusnya di rawat. Di rumah sang istri sudah ada beberapa keluarga Rifyal yang membantu menyiapkan pengajian.
Dokter pun segera menangani Inka, Rifyal begitu sedih melihat keadaan sang istri. Semua begitu mendadak.
Rifyal hanya bisa mengusap wajahnya kasar dan mengangguk. “Kasihan Inka dan anak kami, Bu. Si baby bahkan belum mengenal kakeknya.” Penyesalan dimana ketika ia lambat mengetahui semua kehidupan Inka.
Andai saja ia tahu semuanya, tentu Rifyal tak akan membiarkan Ferow di rawat oleh istri keduanya itu. Bisa saja mereka membawa Ferow ke rumah sakit yang terbaik mungkin.
__ADS_1
“Semua sudah takdir. Sekarang tugasmu melindungi istri dan anakmu. Jangan sampai pernikahan kalian nantinya berantakan seperti kamu dan Gia. Jaga nama ibu dan ayah, Rif.” Mendengar nasihat sang ibu, Rifyal hanya menganggukkan kepala patuh.
Tak lama kemudian dokter pun selesai menangani Inka. Ia mengatakan jika tubuh Inka begitu lemah. Tubuh yang belum pulih seharusnya istirahat namun di tambah keadaan stress. Semua begitu membuat Inka drop. Dan harus menjalani perawatan hingga beberapa hari ke depan.
“Kamu di sini. Biar di rumah di tangani kakek dan ayahmu. Ibu menyusul mereka dulu yah? Kabari kalau ada apa-apa.” Rifyal patuh pada sang ibu. Tangan Ajeng nampak mengusap rambut anak tampannya itu sebelum pergi dari rumah sakit.
Kini di ruangan tersisa Inka dan juga Rifyal. Ia tampak menggendong sang anak dengan tangan yang sedikit kaku akibat belum pengalaman. Namun, ketulusan yang Rifyal berikan pada sang anak membuat bayi itu merasa damai meski tubuhnya kurang nyaman. Tangisan pun tak ada terdengar di ruangan itu.
Menggendong sang anak sembari menunggu Inka sadar, Rifyal sesekali menoleh memastikan sang istri belum juga bergerak.
__ADS_1