Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Mengusir Benalu


__ADS_3

Sore itu kepulangan Anggun dari kantor sang ayah di sambut dengan keheranan kala melihat banyak barang terletak tak beraturan di depan pintu. Keningnya mengernyit dalam saat melihat sekitar ada mobil mewah di halaman rumahnya dan sebuah tanda di mobil itu tak lagi asing bagi orang yang mengetahuinya. Langkahnya semakin ia ayunkan cepat memasuki rumah kala mendengar suara seseorang yang menangis dan itu tak asing baginya.


"Ibu," Anggun terdiam sesaat melihat sang ibu sudah berlutut di kedua kaki sang ayah tiri kala itu menangis entah apa yang ia tangisi. Anggun masih tak mengerti dengan semua yang terjadi.


"Ayah, ada apa ini? Dan kau..." tunjuknya pada Inka yang duduk di sofa dengan perutnya yang besar.


"Anggun bawa ibumu pergi dari rumah ini sekarang juga. Kalian jangan pernah berani menampakkah wajah kalian pada ku!" Ferow berteriak murka pada sang anak tiri.


Mereka diam-diam menggadaikan tubuh sang anak demi sebuah keberlangsungan perusahaan. Sungguh Ferow tak bisa menerima hal itu sekali pun Inka saat ini berada di pihak yang baik. Namun, tetap saja harga diri sang anak sudah di rendahkan oleh tiga wanita yang tak bertanggung jawab sama sekali.


Anggun menggelengkan kepala mendengar ucapan sang ayah tiri. Tidak, bagaimana mungkin setelah semua lelahnya ia dengan mudah di tendang dari rumah oleh Ferow tanpa membawa sedikit pun bagian dari perusahaan. Ia tertawa remeh mendengar dirinya dan sang ibu di usir.

__ADS_1


"Oh jadi begini balasan anda setelah saya kerja susah payah di perusahaan menggantikan posisi selama anda sakit?" tanya Anggun dengan marahnya.


"Pergi kalian dari sini! Security seret mereka semua keluar!" Ferow sangat murka tanpa mau mendengar apa pun ucapan Anggun.


"Tidak. Ini tidak adil. Aku sudah bekerja dengan baik mana bagianku, Ayah?" Teriak Anggun dengan tidak tahu malunya.


"Ayah, tolong maafkan ibu. Kita bisa memulai semua dari awal.  Bukankah kami justru memberikan jodoh yang baik untuk Inka? Bahkan semua keluarga Mahen menerima dengan baik kehadiran Inka, bukan?" Anggun di buat semakin syok mendengar ucapan sang ibu yang memang ia tidak tahu apa-apa saat ini.


"Sialan, jika tahu seperti ini seharusnya aku saja yang menyerahkan diri saat itu. Menjadi menantu keluarga Mahen tentu sangat menjamin hidupku. Ah sial! Kenapa harus Inka sih? tapi, aku sudah tidak virgin lagi. Huh apa yang hars ku lakukan saat ini?" dalam hati Anggun terus menggerutu merutuki nasib baik yang berpihak pada saudara tirinya saat ini.


Keduanya pun di seret keluar dengan security serta penjaga kebun di rumah itu. Anggun dan Kasih terus berteriak tanpa henti namun tak ada yang perduli. Kini keheningan pun terjadi di ruang keluarga. Inka hanya bisa diam menunggu keputusan sang ayah. Ia tidak tahu apa yang akan menjadi keputusan Ferow untuknya.

__ADS_1


Riyal pun mengucapkan permintaan maaf atas apa yang di perbuat oleh sang mantan istri. Ia tak ingin jika Ferow menilai keluarganya juga sama buruknya dengan Gia. Inka turut menceritakan jika sang pria tak tahu apa pun dalam hal ini hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bersama memperjuangkan anak mereka.


"Tuan Rifyal orang baik, Ayah. Bahkan Nyonya Gia sudah di ceraikan karena telah mengkhianatinya. Dan kami sepakat untuk bersama dan membesarkan anak kami ini." Inka menunduk menatap perutnya yang buncit.


Ferow nampak berkaca-kaca melihat sang anak yang sudah hamil saat ini. Ada perasaan senang dan sedih yang bersamaan ia rasakan saat ini. Sedih sebab sang anak yang begitu malang mendapatkan perlakuan buruk dari sang istri dan juga anak tirinya. Senang sebab tak ia duga sudah ada calon cucu yang sebentar lagi akan launcing ke dunia ini. Harapannya untuk Inka segera berumah tangga sebentar lagi akan terkabul.


"Ayah sangat senang sebentar lagi memiliki cucu, Inka. Ayah tak takut lagi jika pergi meninggalkanmu. Anak ayah tidak sendirian lagi nantinya." Inka menangis mendengar ucapan sang ayah dan memeluk pria tua itu. Sungguh demi apa pun Inka belum mampu untuk di tinggal sang ayah. Sudah cukup dukanya yang mendalam ketika sang ibu pergi dari hidupnya untuk selama-lamanya. Inka tak ingin kehilangan kedua orangtuanya.


"Jadi, apakah Tuan Ferow merestui Rifyal yang akan menikahi Inka setelah masa iddah dan lahiran nantinya?" Kini Agung Mahen yang bersuara.


Dan jawaban yang di berikan oleh Ferow sebuah anggukan mantap. "Saya setuju. Dan saya harap anak saya berada di tangan orang yang tepat untuk saya percayakan." Rifyal pun mengusap wajah mengucap syukur mendengar ucapan Ferow.

__ADS_1


Tak ada bersitegang sama sekali yang terjadi di antara mereka seperti yang Inka takutkan.


__ADS_2