Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Kedatangan Keluarga


__ADS_3

Suasana di dalam kamar kali ini nampak sangat panas. Suhu ruangan yang semula sangat dingin begitu terasa gerah. Cucuran keringat dari dua tubuh polos yang saling beradu sangat terlihat menikmati permainan mereka. Suara-suara manja yang terus Gia lontarkan seolah memacu semangat Rifyal untuk terus menghujam lebih dalam lagi. Tak perduli tentang mata yang tak bisa melihat apa pun, namun semua pergerakan yang ia lakukan sungguh membuat Gia terbang melayang. Kedua mata wanita itu sangat jelas jika ia begitu menikmati semua perlakuan sang suami.


Hingga beberapa menit berlangsung akhirnya tubuh keduanya rebah di atas kasur dengan lemas. Berpelukan saling mengeratkan hingga akhirnya mereka memutuskan mandi berdua. Sungguh cinta di antara keduanya benar-benar tak pernah luntur sedikit pun. Meski pun Rifyal tak bisa melihat, Gia masih tetap setia mencintai suaminya. Ia dengan suka rela melayani Rifyal hingga membantu mengelola perusahaan sang suami.


Di atas kasur usai mandi keduanya masih memilih untuk tidak memakai sehelai benang pun. Mereka seperti itu biasanya untuk sekedar bersantai usai pertempuran yang melelahkan. Lembut tangan Gia mengusap wajah tampan sang suami. Wajah yang benar-benar membuatnya sangat takut kehilangan. Bukan tidak mungkin jika Rifyal di tuntut untuk harus mendapatkan keturunan demi meneruskan warisan dari keluarga yang sudah lama terus turun temurun.


Rifyal tersenyum tanpa bisa melihat. Ia hanya bisa memeluk erat tubuh langsing yang polos milik sang istri. Pelan Rifyal mengecup keningnya.


"I  love you..." ujarnya penuh cinta.


"I love you too..." balas Gia dengan tersenyum.


Jika bermanja-manja seperti ini rasanya semua beban dalam dirinya seolah hilang begitu saja. Sosok suami yang selalu menumbuhkan rasa cinta itu setiap waktu. Gia benar-benar tergila-gila pada sang suami. Itulah sebabnya ia takut jika satu pun orang mengetahui dirinya mandul tentu saja akan sangat mudah masuk ke dalam rumah tangga mereka. Ia tidak akan bisa membayangkan bagaimana pernikahannya dengan sang suami jika ada wanita mencoba mengusik mereka dengan kekurangan Gia yang bisa ia berikan untuk Rifyal.


Lama mereka melepas lelah hingga akhirnya Gia mendengar suara panggilan di depan pintu.


"Nyonya, Tuan, makan malam sudah siap." Seorang pelayan nampak memberi tahu tanpa menunggu jawaban dari sang pemilik kamar.


Dengan cepat Gia pun memakaikan baju untuk sang suami lalu kemudian dirinya juga. Mereka pun makan di meja makan hanya berdua saja. Belum saja usai makan malam, tiba-tiba dari arah pintu utama Gia dan Rifyal kedatangan tamu dari keluarga besar pria itu.


Kakek, nenek, ayah, dan ibu. Keempat orang itu datang dengan wajah datar mereka.

__ADS_1


"Selamat malam, Kek, Nek. Ayah, Ibu..." Gia bergegas meninggalkan kursi meja makan dengan menyalim mereka semua penuh hormat.


Seperti itulah kesopanan di keluarga Mahen yang sangat di junjung tinggi. Gia tak merasa keberatan ia mencium semua punggung tangan itu dengan senyum lebar ia perlihatkan. Namun, siapa sangka justru sapaan penuh hormat itu justru di sambut dengan satu pertanyaan yang membuat Gia terbeku di tempatnya.


"Bagaimana dengan hasil program hamil kalian, Gia? Apa hasilnya?" tanya Risna sang nenek mertua yang lebih antusias mendengar hasilnya.


Gia terdiam sesaat sembari meneguk kasar salivahnya. Sudah bisa ia bayangkan bagaimana respon keluarga sang suami jika mengetahui kebenarannya. Dan keterdiaman Gia tentu saja menjadi tanda tanya besar untuk mereka semua yang menunggu jawaban. Hingga dari arah meja makan sosok Rifyal Mahen angkat suara.


"Nenek, kami sedang program hamil. Kata dokter semuanya baik-baik hanya sedang menunggu waktu yang tepat saja. Jangan terlalu menuntut seperti itu. Sebab aku sendiri berharap bisa nanti saja. Akan jauh lebih bagus jika aku sempat mendapatkan donor mata agar bisa menikmati masa kehamilan istriku sampai melihat anak kami lahir." tutur Rifyal yang merasa tak enak pada sang istri.


Mendengar ucapan sang cucu Risna pun hanya bisa menghela napasnya kasar. Ia tak lagi mau bertanya dan memilih mendekati sang cucu. Rifyal mencium punggung tangan sang nenek. Ia tersenyum dengan tampannya.


"Cucu nenek segeralah melihat. Jangan sampai nenek pergi lebih dulu dan kau tidak bisa melihat nenek di makamkan kelak." ucapan dari Risna sontak saja membuat Agung Mahen sebagai suami menyikut lengan sang istri.


Mereka pun semua makan dengan tenang berbeda dengan sosok Gia yang berusaha tenang meski pun hatinya begitu gelisah. Sekali pun sudah menemukan jalan keluar tetap saja baginya berbohong adalah suatu pilihan yang sangat menakutkan. Ia sendiri bahkan merasa tak rela jika sang suami harus bersentuhan dengan wanita lain yang ia sendiri tidak tahu siapa orangnya.


"Apa aku sanggup menyaksikan semua itu, Rif? aku cemburu jika ada satu wanita pun yang menyentuh kulitmu apalagi dia menyentuh tubuhmu dan membuatmu puas. Tidak, aku harus kuat demi pernikahan kami. Iya, kamu pasti akan kuat, Gia." tuturnya kembali menahan diri.


Suasana yang sama pun terjadi di kediaman Ferow. Mereka makan malam bersama dengan Inka yang menyuapi sang ayah makan. Begitu sangat perhatian ia memperlakukan sang ayah.


"Ayah harus makan banyak, biar tubuh ayah sehat lagi dan berisi. Setelah itu baru Inka janji akan kerja lagi seperti mau ayah." tuturnya menghibur sang ayah.

__ADS_1


Ferow merasa sang anak memiliki bakat yang bagus dalam dunia kerja. Itu sebabnya ia meminta Inka untuk kembali bekerja atau bahkan masuk ke perusahaan bergabung dengan Anggun. Namun, Inka masih menolak dengan alasan menunggu sang ayah benar-benar pulih. Ia berjanji akan kembali bekerja mengembangkan kemampuannya dalam dunia desain.


Makan malam selesai, Inka membawa sang ayah kembali ke kamar di ikuti oleh sang ibu tiri. Dua wanita itu tampak memijat tubuh Ferow yang begitu kurus. Yah, di depan Ika, Kasih harus berusaha tampil baik demi sebuah kepercayaan.


Jangan sampai setelah berhasil membuat sang ayah sembuh, Inka justru mempengaruhi sang suami untuk bercerai darinya. Pikiran Kasih selama ini Ferow akan segera pergi dari dunia melihat bagaimana sang suami yang sudah sangat lemah. Ternyata berkat rawatan dari seorang anak yang tulus, pria itu sehat kembali.


Lama merasakan tubuhnya yang begitu nyaman di pijat tak terasa Ferow pun akhirnya memejamkan mata. Pengaruh obat juga membuat pria itu tak tahan lama untuk membuka mata. Sebanyak mungkin tubuhnya harus istirahat demi kesembuhan yang di katakan oleh dokter.


"Ayo keluar." ajak Kasih pada anak tirinya saat melihat sang suami telah terlelap panjang.


Inka menurut, ia keluar dengan sang ibu tiri duduk di ruang keluarga bersama Anggun yang tengah asik memoles kuku cantiknya itu. Ia begitu terlihat seperti seorang nyonya di rumah itu. Hanya merasa paling kerja keras seolah membuat Anggun begitu berkuasa mengatur segalanya.


"Besok kau harus ikut aku. Biarkan Ibu yang merawat ayah khusus besok." titah Anggun dengan mudahnya. Saat bicara ia pun enggan menatap wajah Inka.


"Jangan khawatir, ayah akan aku rawat dengan baik. Cukup jalankan peranmu sebagai Nyonya Gia maka semua akan baik-baik saja demi perusahaan ayahmu." Kasih berbicara begitu baik untuk kali pertama pada Kasih.


Meski pun Inka tahu jika keduanya hanya berwajah ular namun ia sendiri sadar jika hal itu sangat ia butuhkan demi mempertahankan perusahaan sang ayah. Apa pun resikonya nanti Inka akan tanggung. Yang terpenting saat ini perusahaan ayah membaik dan ayah akan segera sembuh.


"Baiklah." jawabnya singkat dan meninggalkan mereka semua ke kamar tamu.


Sama sekali Inka tak merasakan sakit, namun hatinya begitu gelisah. Anggapannya saat ini ia tak memiliki hubungan apa pun lagi dengan Beril. Yah, Inka menganggap pria itu telah pergi darinya. Satu-satunya pria yang ada di hati Inka hanya sang ayah saja.

__ADS_1


"Heh aku merasa saat ini sedang berada di dunia film. Mengapa cerita ini bahkan lebih miris dari film. Berhubungan layaknya suami istri tanpa melihat wajahku? Tuhan...apa sekejam ini kau berikan aku cobaan? Apa salah jika aku menyayangi ayah sedalam ini? Mengapa kau uji aku hingga harus melakukan hal yang sangat gila itu? Bahkan aku masih gadis, kini harus mengandung benih suami orang? ini benar-benar menggelikkan." ujarnya menertawakan nasib yang seolah tengah mengajak dirinya bermain game yang menggilakan.


__ADS_2