
Tamu dari Gia siang ini tampak memasuki ruangan setelah mendapatkan perintah untuk masuk. Gia yang sibuk dengan kerjaan sejenak menghentikan kegiatannya kala melihat salah satu orang kepercayaannya datang dengan satu orang asing di belakangnya saat ini. Kening Gia mengerut dalam memperhatikan orang asing itu. Ia mempersilahkan mereka duduk dan mendengar maksud kedatangannya.
"Oh jadi kamu yang berniat mendonorkan mata?" tanya Gia menatap orang asing di depannya.
"Iya, Nyonya. Saya akan mendonorkan mata saya sebelum saya pergi. Dokter memvonis usia saya tidak akan lama lagi." tuturnya menjelaskan.
Di luar dugaan mereka jika Gia ternyata justru nampak tak suka mendengarnya. Mereka mulanya berpikir Gia akan bersyukur sekali mendengarnya. Wanita itu menatapnya dengan tajam. "Bertahanlah sekitar sepuluh bulan. Aku akan memberikan apa pun yang kau mau setelah sepuluh bulan itu proses operasi mata untuk suamiku." Dua pria di depannya saling melongo tak percaya.
Gia yang enggan membahas semuanya lagi segera meminta mereka untuk keluar dari ruangan.
Malam harinya kini Gia kembali pergi dengan meminta Inka menggantikan posisinya. Ia dengan berbagai gaya selalu dengan senang hati keluar rumah di malam hari bahkan semakin hari Gia semakin lama untuk kembali. Dan Inka merasa ketakutan jika sampai ini semua ketahuan.
Tanpa curiga apa pun pada Inka, Gia larut dalam dunia bebasnya yang tak pernah ia dapatkan. Menikmati club di malam hari bersama sang kekasih membuatnya tergiur akan dunia yang lebih bebas lagi. Setiap malam ia harus panda membatasi minuman agar pulang dengan keadaan tidak mabuk. Jangan sampai semua rencana yang sudah ia susun begitu apik justru berantakan begitu saja.
"Dimana dia?" Suara berat yang baru saja nampak mendengkur halus tiba-tiba membuat tubuh Inka terlonjak kaget. Ia memblatkan matanya menatap dalam kedua bola mata pria yang bersamanya saat ini.
Jantung Inka berdebar begitu kencangnya. Ia mengunci rapat bibirnya tak berani berkata apa pun hingga ketakutan itu semakin menjadi kala tangan kekar milik Rifyal mencekal kuat tangannya. Sekali lagi Rifyal bertanya.
"Dimana Gia? dan siapa kau?" tanyanya yang masih tak menunjukkan jika kedua matanya bisa melihat.
Pelan dan takut Inka melambaikan tangan di depan wajah pria itu. Benar Rifyal belum bisa melihat. Inka hanya diam tak mau memberikan jawaban apa pun.
"Katakan sebelum aku melaporkan tindakanmu ini. Jangan kau pikir jika aku tidak tahu apa yang kalian lakukan. Gia adalah istriku, dan aku lambat laun mengetahui perbedaan kalian."
Inka yang tak berani bersandiwara lagi segera meraih tangan pria di depannya itu. Ia meminta maaf dengan sungguh-sungguh, itu adalah cara yang paling aman pikirnya. Inka tidak ingin di salahkan di sini. Ia bahkan juga termasuk korban bagi ibu dan saudara tirinya.
__ADS_1
"Tuan, maafkan saya. Sungguh saya tidak mau melakukan ini semua, Tuan. Saya di paksa dan saya mohon jangan laporkan saya. Saya sedang hamil anak anda, Tuan." Inka sudah menangis ketakutan. Untuk pertama kalinya ia menghadapi masalah seperti ini. Inka tak lagi bisa melindungi dirinya dengan terus berbohong. Seketika bayangan tentang perusahaan menghilang di kepala wanita itu. Yang ada hanya ketakutan dari amarah pria buta ini.
Di tengah malam mereka nampak berbicara serius dengan Inka yang menjelaskan semua tentang persetujuannya dengan Giasya. Di mula dari permintaan sang ayah yang meminta tolong pada Gia. Mendengar itu Rifyal sampai mengeratkan kepalan tangannya. Mengetahui tindakan sang istri yang seenaknya menggunakan perusahaan untuk mencari keuntungan pribadi.
Sedangkan Inka hanya bisa duduk menunduk menangis. Malam ini pun ia tidak tahu harus apa lagi selain pasrah. Gia beberapa jam lagi pasti akan pulang dan mengetahui keadaan ini.
"Apa benar kau hamil anakku?" Pertanyaan Rifyal layangkan pada Inka.
"Itu jelas anakku sebab aku merasakan hal yang berbeda ketika pertama kali berhubungan dengannya. Gia, aku benar-benar tak menyangka dengan mudahnya kau memberikan aku pada wanita lain. Jangan salahkan aku, Gia. Kau yang meminta ini semua terjadi maka akan aku tunjukkan padamu." gumam Rifyal dalam hati.
Ia merasakan sakit yang teramat dengan tingkah sang istri, meski baru tebakannya jika anak yang di katakan Gia adalah anak yang bersumber di rahim Inka.
"Sumpah demi Tuhan ini benar anak anda, Tuan." ujar Inka jujur.
"Siapa nama mu?" tanya Riifyal lagi.
Lama Rifyal terdiam setelahnya. Pria itu mencoba menahan gemuruh di dadanya yang ingin meledak selama beberapa hari ini. Bukan tak menikmati apa yang Inka berikan. Namun, ada hati yang jelas terluka dengan tingkah sang istri. Bahkan saat ini Rifyal tahu jika Gia tak ada di kamar itu sesuai dengan pendengarannya samar pintu terbuka beberapa jam lalu.
"Lanjutkan semuanya, Inka. Aku akan bertanggung jawab atas semuanya. Tetaplah seperti biasa. Tapi aku mau kita menghalalkan hubungan ini." ujarnya yang lagi-lagi membuat Inka terperangah tak percaya.
Menghalalkan? Benarkah ini jalan takdir dari hidupnya? Inka merasa ini semua hanya halusinasi. Jauh dari rencana dan kesepakatan awal. Ia hanya sekedar memberikan janin di rahimnya dan akan terbebas.
"Tapi, Tuan..."
"Demi anak kita. Aku tidak bisa jika terus terjebak dalam dosa." sahut Rifyal memotong ucapan Inka yang tak lagi berkata apa pun.
__ADS_1
"Besok kita akan lakukan di rumah ini setelah Gia pergi. Ingat, tetaplah seperti biasa sampai aku memerintahmu untuk bertindak." Inka tak menjawab apa pun lagi.
Dalam hatinya apa yang pria buta ini katakan memang benar. Jika hubungan mereka sangat tidak benar. Setidaknya jika mereka bersama itu tak akan menjadi dosa.
Tepat pada pukul lima pagi, Gia baru saja pulang. Ia sangat terlambat namun bukan masalah baginya. Selama Inka bisa menggantikan posisinya berada di samping pria buta itu tentu saja ia akan sangat senang. Pelan Gia meminta Inka kembali keluar. Dengan rasa kantuk yang luar biasa Inka keluar dari kamar.
"Kenapa aku tidak rela Nyonya tidur di situ yah?" gumam hati Gia yang mulai ada rasa cemburu.
Ia menatap tak suka saat Gia merebahkan tubuh dan masuk ke dalam selimut Rifya.
Jika biasanya mereka akan tidur berpelukan, kini tak lagi. Rifyal sudah membelakangi tubuh Gia meski wanita itu memeluknya dari belakang.
Di sini Inka tak lagi bisa tidur. Ia memilih untuk membersihkan dirinya dan segera keluar dari rumah menuju apartemennya.
***
Pagi yang cerah namun hanya bisa di pandang dari jendela kamar, sungguh membuat Ferow sedih. Ia merindukan sang anak gadisnya yang sudah lama tak datang ke rumah sekedar mengunjunginya. Hanya Kasih yang membawakan makan dan obat untuknya. Sesuai dengan perjanjiannya dengan Inka jika akan merawat sang ayah selama ini menjalani misi wanita pengganti.
"Ayah, ada tamu..." mendengar kata tamu seketika wajah sedih pria itu berubah cerah.
Berharap yang datang adalah orang yang paling ia tunggu. Ternyata bukan, meredup lagi sinar bahagia di wajah pria itu.
"Beril,"
"Halo Tuan Ferow," sapa pria itu dengan wajah hangatnya.
__ADS_1
"Anda datang sendiri? tidak bersama Inka?" pertanyaan Ferow sontak membuat kening Beril mengerut dalam ketika mendengar nama gadis yang sangat ia rindukan juga. Dan hal itulah yang membawa langkahnya bergerak kemari.