
Satu bulan dua bulan hingga menginjak ketiga bulan di sinilah Inka berada. Air matanya tak hentinya berjatuhan mendapati sang ayah yang sudah terbaring lemas di rumah sakit. Ferow nampak tinggal tulang lantaran terlalu kurus. Pria itu masih belum sadar dari kritis. Ruangan ICU begitu membuat Inka ketakutan.
Sudah cukup baginya sang ibu yang pergi. Inka tak mau jika kedua orangtuanya harus ikut pergi juga. Gadis itu terus menangis memeluk tubuh sang ayah. Tak perduli bagaimana sang ayah yang sama sekali tak memberikan respon padanya.
“Inka, keluar. Sudah lewat masa besuknya. Ayah kamu bisa makin parah.” Kasih datang menegur anak tirinya.
Sama sekali tak ada wajah kasihan di wajah wanita itu. Ia melenggang pergi meninggalkan Inka yang menoleh padanya dengan derai air mata yang sangat deras.
“Anak itu sudah ayahnya sakit baru datang.” ketus Kasih berucap pada Anggun yang menemani di luar ruangan ICU.
“Biarkan saja, Bu. Ayah juga tidak butuh di rawat dengannya. Toh kita jauh lebih baik merawat ayah selama sakit.” ujar Anggun yang menyindir Inka.
__ADS_1
Tanpa tahu apa-apa Inka yang keluar dari ICU tertunduk merasa bersalah. Ia pikir sang ayah hanya sakit biasa bukan sakit separah ini.
Inka pun memilih duduk di ruang tunggu. Ia terduduk memikirkan semuanya. Pekerjaan yang ia jalankan saat ini begitu sangat baik dan rasanya sulit untuk ia tinggalkan begitu saja. Namun, melihat keadaan sang ayah Inka merasa menjadi anak yang durhaka jika tidak memilih merawat sang ayah.
“Baiklah. Aku akan pulang merawat ayah setelah ayah keluar dari rumah sakit.” tuturnya membuat keputusan.
Sejak berada di rumah sakit tak sekali pun Inka meninggalkan rumah sakit dalam waktu lama. Ia hanya pergi sekedar mandi dan makan. Sementara itu Kasih dan Anggun justru berada di rumah dengan alasan lelah selama ini menjaga dan merawat sang ayah.
Inka tak keberatan sebab ia sadar jika dirinya lalai membiarkan sang ayah di rawat oleh orang lain.
Hingga tak terasa tiba di hari kelima, Inka menyadari pergerakan sang ayah. Ferow mulai membuka matanya pelan. Air matanya jatuh melihat sang anak gadis kesayangannya duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Ayah?” Inka berbinar melihat sosok ayah telah membuka mata.
Pelan ia langsung berhambur memeluk tubuh sang ayah. Inka begitu sangat senang saat ini.
“Ayah, maafkan Inka. Inka tidak akan tinggalin ayah lagi. Maafkan Inka, Ayah.” terus kata maaf wanita itu lontarkan sebab merasa bersalah dan takut jika di tinggal pergi sang ayah.
Ferow menggeleng sedih melihat sang anak menangis di pelukannya. Keduanya saling memeluk hingga Inka membatu sang ayah untuk pindah ruang rawat usai mendapat pemeriksaan dari dokter.
Sabar Inka menyuapi makan sang ayah.
“Kamu tidak kerja?” tanya Ferow pada Inka yang terakhir jelas mendengar bagaimana karir sang anak yang banyak di bicarakan oleh rekan kerjanya.
__ADS_1
Inka tersenyum ia tak ingin membebani sang ayah dengan pikiran lain. “Inka izin, ayah. Lagian selama kerja Inka sudah full di kantor terus sekarang waktunya buat ayah.” tuturnya.
Ferow pun senang mendengarnya. Ia mulai menikmati makan yang Inka suapkan.