
Sebuah mobil nampak melaju kala melihat seorang keamanan memperhatikan mobilnya sedari tadi. Mobil berisi empat pria yang merupakan seorang ahli it tengah menyesuaikan alat mereka dengan lokasi yang di tunjuk. Mencari seseorang dengan perintah sang boss. Setelah yakin dengan temuannya, mereka pun tampak melaju kembali. Kini ada dua titik yang mereka yakini menjadi tempat tinggal sosok Inka. Apartemen dan rumah megah di salah satu perumahan seorang keluarga konglomerat.
"Apa kalian yakin dia sering di rumah itu? Untuk apa Inka di sana? Bukankah Tuan Rifyal memiliki seorang istri? Apa ini pekerjaan yang berhubungan dengan Inka?" Pria itu nampak bertanya-tanya bingung.
Segera ia pun meminta anak buahnya bubar dan ia sendiri yang akan bergerak kali ini. Beril memilih menuju ke apartemen di mana Inka saat ini berada.
Ketukan pertama tak mendapatkan jawaban. Ketukan kedua sama sekali tak ada jawaban. Bahkan Beril sembari mengetuk ia juga menelepon Inka. Berharap wanita itu mau mengangkat sekedar berbicara dengannya. Sumpah demi apa pun Beril tak akan bisa tenang selama ia tidak mendapatkan jawaban yang jelas dari Inka mengenai hubungan mereka.
__ADS_1
"Inka buka pintunya!" Beril berteriak di depan pintu apartemen Inka.
Sesuai dengan dugaannya jika saat ini Inka tengah mengetahui kedatangannya. Inka gemetar ketakutan. Ia tak ingin bertemu pandang dengan Beril. Inka tidak sanggup jika harus menjelaskan semuanya. Ia memilih menuju kamar dan menutup pintu kamarnya rapat.
Di dalam kamar Inka menunduk menatap perutnya yang tak lagi bisa di tutupi. Perutnya sudah buncit saat ini dan bertemu dengan Beril sama saja Inka membuat dirinya malu. Ia saat ini tak lebih dari seorang wanita pelakor. Memiliki pria yang sudah beristri dengan mengandung benih pria itu. Sungguh Inka begitu hina.
"Inka, aku tahu kamu di dalam. Mengapa tidak mau bertemu aku? ada yang harus kita bicarakan. Tolong biarkan aku pergi dengan tenang jika memang itu mau mu. Tapi, dengan kita bertemu dulu. Biarkan aku mendengar semua penjelasanmu langsung dan melihat keadaanmu baik-baik saja." Itulah pesan yang Beril kirim pada Inka.
__ADS_1
Namun, pesan itu tak kunjung di baca oleh Inka. Dan Beril tak mau menyerah begitu saja. Ia memerintah anak buahnya untuk segera bergerak mengawasi apartemen ini dan juga kediaman Rifyal Mahen. Entah mengapa feeling Beril ada yang tak beres dengan semua ini. Bahkan ia tak menyangka jika Inka tinggal di tempat yang jaraknya tak begitu jauh dari rumahnya sendiri.
Mengingat kondisi Ferow yang saat ini sedang turun, rasanya tak percaya jika Inka bisa menahan diri untuk tidak menjenguk sang ayah. Semua pasti ada yang tidak beres.
Inka duduk merenungi nasibnya saat ini. Jauh dari keluarga, hidup menyendiri membuatnya sangat tersiksa. Bahkan tak jarang ia memeluk Rifyal saat tidur menelusupkan wajah di dada bidang pria itu sekedar mencari ketenangan. Hanya pada tubuh pria itulah ia bisa bersandar dari segala rasa lelah yang ia rasakan.
Tak terasa hari kembali berlalu. Dimana malam telah datang menyambut bumi yang padat dengan para manusia itu. Inka pun sudah bersiap melajukan mobil sesuai pesan yang Gia kirim barusan jika ia tengah di tunggu setengah jam lagi harus sudah tiba di rumah.
__ADS_1
Inka tak tahu jika dari arah yang sama ada beberapa orang yang tengah mengamati pergerakannya saat memasuki mobil dan melajukan ke arah kediaman Rifyal. Semua terjadi tanpa di duga. Beberapa kali kamera bahkan membidik tubuhnya yang tengah berbadan dua.