
Genggaman tangan erat begitu di rasakan sosok Rifyal kala mereka tiba di halaman rumah ayah Inka. Sesuai dengan janjinya pada Inka sebelum mereka membongkar semua kedok sang istri, Rifyal mengabulkan apa yang Inka inginkan. Yaitu menemui sang ayah di rumah yang tengah jatuh sakit sejak lama. Sungguh kerinduan begitu ia rasakan. Meski di hati yang paling dalam Inka sangat takut membuat sang ayah marah. Ia sudah begitu mengecewakan kepercayaan sang ayah.
Rifyal menatap sang kekasih yang berdiri di sampingnya dengan hangat lalu berkata, "Kita selesaikan dengan cepat dan baik. Tebuslah kekecewaan ayah dengan hal yang membuatnya bahagia." ujar Rifyal.
"Maksudnya?" tanyanya tak mengerti.
"Kita sudah akan memberikannya cucu." ujar Rifyal mengusap lembut perut Inka yang menonjol sedikit.
Rumah saat itu tampak hening tak ada pergerakan apa pun terdengar dari luar. Kedatangan Rifyal dan Inka pun saat itu di susul oleh keluarga Rifyal yang ingin mengutarakan niat baik mereka serta permintaan maaf yang sangat besar. Bagaimana pun juga mereka turut andil dalam masalah ini sebab Rifyal masih tanggung jawab mereka.
"Ayo," Mereka semua melangkah menuju pintu utama.
Inka beberapa kali tampak menarik napasnya dalam dan menghembuskan secara kasar. Sumpah demi apa pun ia tak menyangka waktu yang sangat takut ia bayangkan kini sudah tiba di depan matanya.
Kedatangan mereka pun di sambut dengan pelayan kala itu. "Nona Inka," pelayan itu yang semula tersenyum ramah nampak heran saat melihat ke arah perut Inka. Dimana ia sudah bisa menduga apa yang ada di balik perut buncit itu.
"Siapa, Bi?" suara dari dalam sana terdengar jelas jika itu adalah sang ibu tiri.
"Nona Inka, Nyonya." mereka semua masuk dengan pelayan yang sudah mempersilahkan.
__ADS_1
"Mau apa dia pulang? Jangan bilang anak itu sudah mengacaukan semuanya." geram Kasih menduga jika Inka membuat ulah dan membatalkan perjanjian dengan Giasya.
"Ayah,"
"Inka," Ferow dan Inka sama-sama tersenyum haru saat bertemu pertama kali setelah sekian lama mereka tak pernah bertemu.
Keduanya saling berpelukan sedangkan Rifyal dan keluarganya menatap Kasih dengan tak suka. Mereka kini akhirnya bertemu juga dengan dalang dari semua permasalahan yang terjadi. Namun meski begitu tak apa. Sebab Rifyal juga seharusnya berterimakasih dengan Kasih. Berkat wanita jahat itulah ia mendapatkan Inka dan juga seorang anak sekali gus. Dan bisa tahu sifat asli dari Gia sang istri yang begitu ia cintai dulu.
Lama Ferow baru mau melepaskan pelukannya pada sang anak. "Inka, jangan tinggalkan ayah lagi. Ayah sangat mencemaskan mu." ujarnya dengan suara lemas.
"Inka tidak akan meninggalkan ayah lagi. Tapi sekarang ada yang harus Inka jelaskan pada ayah..." ia pun duduk di samping sang ayah. Ferow nampak di arahkan kursi rodanya di samping dan Inka mempersilahkan semua keluarga Rifyal duduk.
Awalnya Ferow tak menyadari perbedaan sang anak sebab rindu yang begitu besar ia rasakan dan memeluk Inka sajalah yang ingin ia lakukan saat ini. Semua pun duduk dengan tatapan Kasih yang sangat terlihat tidak suka pada mereka semua.
"Tuan Agung, selamat datang di kediaman sederhana saya..." tutur Ferow yang masih mengenali pria tua di hadapannya.
Keduanya saling tersenyum menyapa dan kini Inka berniat bicara semua pada sang ayah. Tarikan napas pun ia ambil sedalam mungkin lalu kembali ia hembuskan pelan.
"Ayah..." lama ia terdiam mengumpulkan niatnya.
__ADS_1
Rifyal tahu ini bukan ranahnya untuk bicara di awal. Ia membiarkan Inka bicara lembut pada sang ayah terlebih pria itu tengah sakit. Sangat bahaya jika mereka sampai salah bicara.
"Ayah ingat ketika meminta bantuan pada Nyonya Giasya, menantu dari keluarga Mahen?" Inka melihat sang ayah sudah mengangguk lemas.
"Ibu Kasih membuat perjanjian dengannya, Ayah." sahut Inka melanjutkan.
Mendengar namanya di sebut tentu saja kedua mata Kasih mendelik tak suka. Namun, saat ini ia tak bisa berkata apa pun. Sebab keluarga terhormat sedang duduk di ruangan itu bersamanya dan juga sang suami yang mungkin akan sangat marah setelah ini.
"Perjanjian?" tanya Ferow gemetar.
Inka pun mengangguk. "Inilah hasil perjanjian ibu Kasih dengan menantu Mahen, Ayah." Inka meneteskan air mata mengusap perutnya yang buncit. Dan Ferow tercengang syok melihat sang anak yang ternyata sudah buncit perutnya.
Ferow tampak menatap tajam sang istri yang saat ini menggeleng ingin membela diri. "Ayah jangan emosi yah. Semuanya biar Inka jelaskan dulu...semuanya tidak seburuk yang ayah bayangkan." Inka mengusap lembut lengan sang ayah.
Beruntung Ferow mau mendengarkan sang anak. Sebab ia memang sudah begitu percaya dengan Inka yang rela merawatnya di saat dirinya sangat rapuh kala itu. Bahkan istri keduanya dan anak tiri tak ada yang bisa merawatnya seperti yang Inka lakukan.
Inka pun menceritakan semuanya pada sang ayah di mulai ia harus menjadi wanita pengganti yang ia sendiri tidak menyetujui itu. Sang ibu tirilah yang langsung menyetujui dan meminta Inka untuk patuh demi sang ayah dan juga perusahaan. Kemudian ia menceritakan bagaimana Rifyal mengetahui hal itu hingga berakhir hubungan mereka saat ini yang akan berlanjut ke jenjang pernikahan usia ia bercerai dengan Gia dan juga melewati masa nifas.
Kemarahan ferow yang begitu terlihat perlahan mulai tenang berganti dengan sedih. Namun, kemarahan pada sang istri dan juga anak tirinya tentu tak akan bisa ia hilangkan.
__ADS_1
"Kasih, kamu benar-benar membuatku menyesal menikahimu!" Suara teriakan menggema di ruangan itu tanpa Inka duga.
Kasih bahkan sampai terlonjak kaget mendengar teriakan sang suami yang sangat lantang. Tentu Ferow membutuhkan tenaga sangat banyak untuk bisa mengeluarkan amarahnya saat itu.