Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Rencana Gia


__ADS_3

Jika wajah Ferow bingung mendengar ucapan dari Beril, Kasih justru gugup. Ia tidak ingin jika semua terbongkar sebelum waktunya. Perusahaan memang di kendalikan oleh Anggun namun kepemilikan tentu saja masih atas nama Ferow. Dan pemilik berikutnya tentu saja akan jatuh pada Inka. Tidak. Ini semua tidak boleh berakhir begitu saja tanpa ia mendapatkan apa pun dari sang suami.


"Inka tidak bekerja dengan mu, Kah? Lalu kerja di mana dia?" tanya Ferow yang kembali bersuara


Dan Beril menggeleng tak tahu harus menjawab apa sebab memang itulah kenyataannya. "Saya tidak tahu, Tuan. Sebab saya memang tak ada komunikasi dengan Inka lantaran sibuk. Hari ini saya baru memiliki waktu untuk menjenguk anda dan juga Inka." jelas Beril lagi.


Sejenak Ferow terdiam memikirkan kemana anaknya selama ini. Hingga suara Kasih pun terdengar memecah lamunan pria tua itu.


"Ayah...Inka selalu memberi kabar pada kita. Itu artinya dia baik-baik saja. Ayah harus segera sembuh biar bisa menjenguk Inka." tutur Kasih dengan lembut.

__ADS_1


Lama akhirnya Beril bercerita tentang pekerjaan dengan Ferow hingga akhirnya ia pun pamit pulang. Kecewa tentu saja tak bisa bertemu Inka terlebih wanita itu justru memilih bekerja di tempat lain dari pada kembali dengan perusahaannya.


“Apa segitu kau tidak ingin kerja di perusahaanku, Inka? Sampai kau rela meninggalkan ayahmu yang sakit? Aku tidak akan sekejam itu memberikan mu pekerjaan hingga harus keluar dari rumah.” ujarnya bergumam lirih di dalam mobil.


Beril masih berusaha berpikir apa yang membuat Inka tak memberinya kabar sama sekali. Pertemuan terakhirnya dengan sang kekasih ada tawaran kerja yang tidak akan menguras waktu banyak. Namun, kedatangannya menemui Inka untuk menanyakan keputusan itu justru sama sekali tak sesuai dengan harapan.


Rifyal tampak memikirkan hal yang sulit ia pecahkan. Menikahi Inka bukan perkara mudah dengan menikah begitu saja. Ada restu dari sang ayah yang harus Inka dapatkan.


Rencana menikah hari itu pun terpaksa gagal. Orang kepercayaan Rifyal tak bisa memberikan solusi dari masalah ini. Dan Inka pun hanya bisa mengurung diri di kamar tamu saat melihat jam kerja yang akan habis, artinya Gia akan segera pulang ke rumah.

__ADS_1


“Sayang,” panggilan lembut itu pun terdengar ketika suara heels menyentuh lantai marmer rumah milik Rifyal.


“Gia,” sapanya dengan ekspresi datar.


Rifyal bahkan enggan saat ini untuk menyentuh tubh sang istri. Wanita yang ia cintai sepenuh hati justru sangat tega menyakitinya. Memberikan tubuhnya pada wanita lain demi sebuah ambisi.


“Rif, aku…ingin bicara sesuatu.” tuturnya manja.


Rifyal hanya diam mendengarkan apa yang wanita itu ingin katakan.

__ADS_1


“Usia kehamilanku yang ke tujuh bulan nanti kita keluar negeri saja yah? Aku ingin anak kita lahir di sana dan kita terapkan hidup yang mandiri sejak ia bayi.” Ragu-ragu Gia berucap dengan suara di buat semanja mungkin.


Tentu saja semua itu demi keamanan Inka dari para keluarga yang bisa saja akan bertindak di luar dugaan. Rifyal tentu saja sangat tahu rencana sang istri. Pria itu pun hanya bisa mengangguk patuh. Baginya tak masalah tentang keluarga. Setidaknya ia juga akan dengan mudah memecahkan masalah ini.


__ADS_2