Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Adegan Menyakitkan


__ADS_3

Malam ini adalah malam dimana Inka akan menjadi wanita pengganti untuk sosok Rifyal. Tubuhnya menegang kala satu demi satu langkah kakinya bergerak mengikuti langkah Gia yang mengarahkan dimana kamarnya berada. Gia membuka pintu usai memberikan isyarat pada Inka untuk tak bersuara. Inka mengangguk patuh. Hingga langkah mereka terhenti saat suara Rifyal menyapa.


"Sayang?" ucapnya menoleh ke arah pintu meski tak bisa melihat apa pun yang ada di depannya.


Gia cepat-cepat melangkah dan memeluk sang suami. Berdebar hatinya mengingat malam ini ia akan menyaksikan hal yang tak pernah ada di dalam pikirannya. Gia tak bisa tenang sebelum semua itu terjadi.


"Sayang, aku ingin mandi dulu. Setelah itu aku ingin kau menyentuhku. Kebetulan beberapa hari ke depan adalah masa suburku." tuturnya tampak berbohong. Sementara Rifyal yang memang tidak tahu apa itu hanya bisa patuh. Yang jelas masa subur ia tahu bersangkutan dengan program hamil mereka.


Sepuluh menit Gia habiskan untuk mengatur Inka di kamar mandi. Dari mulai pakaian piyama, body lotion serta wewangian pun ia berikan pada Ink. "Jangan gugup seperti ini. Suamiku bisa akan curiga." tegurnya.


"Nyonya, saya tidak tahu harus berbuat apa." tutur Inka berbisik juga.


Gia memutar malas matanya. Memang inilah resiko jika dirinya mengambil wanita yang masih belum berpengalaman. "Sudah pasrah saja. Biarkan aku yang berbicara dengan suamiku di dekat kalian nanti."


Inka pun terus menggigil bukan karena kedinginan. Namun, ia gugup untuk berdekatan dengan pria yang bahkan nampak telah melepas pakiannya bagian atas menunggu kedatangan sang istri. Gia terus mendorong tubuh Inka untuk maju menuju kasur.


"Aw..." inka bersuara seketika Gia bersuara juga.


"Sayang...ayo." ajaknya membuat perhatian Rifyal teralihkan.


Lembut Inka mengusap dada bidang pria itu atas tuntunan dari Gia.


"Gia, ini bukan malam pertama kita. Tanganmu dingin sekali." ujar Rifyal tekekeh.

__ADS_1


"Aku hanya begitu merindukanmu, Rif." jawab Gia lagi di belakang headboard kasur.


Tanpa berkata apa pun lagi Rifyal pun melancarkan aksinya. Tangannya dengan leluasa bergerilya di tubuh padat Inka. Sungguh makanan yang sangat lezat bagi pria itu. Meski sedikit sama bentuk tubuh keduanya namun Inka memiliki size yang sedikit besar. Ia lebih padat dari Gia.


"Sehari tidak bertemu mengapa aku merasa tubuhmu lebih padat?" tanyanya lirih.


"Hanya perasaanmu saja." jawab Gia lagi yang sudah meneteskan air matanya.


Ia sakit melihat sang suami justru menikmati tubuh wanita lain di depan matanya sendiri. Inka sama sekali ketakutan namun Rifyal yang terlanjur menikmati tak lagi bisa memikirkan hal lain. Ia terus melancarkan aksinya hingga semua pakaian di tubuh Inka pun terjatuh begitu saja.


"Kuat, Gia. Kamu harus kuat." ujarnya membungkam bibirnya.


Melihat itu Inka menatap Gia dengan tatapan sedih. Ia kini mengerti di saat seperti ini bukan hanya dirinyalah yang tersakiti. Gia begitu terlihat sangat menderita dengan keputusannya ini. Dan Inka yakin Gia bukanlah wanita yang jahat dengan sesuka hatinya meminta rahim Inka untuk di buahi oleh suaminya sendiri.


Gia menangis terduduk di belakang ranjang. Ia tak sanggup lagi untuk melihat kenikmatan yang di rasakan sang suami. Sedang Inka entah apa yang terjadi, ia justru mulai bisa merasakan kenikmatan yang di berikan oleh Rifyal meski di awal begitu sakit. Hingga tanpa sadar keduanya sudah berpelukan saling memberikan kenikmatan. Rifyal yang buta tak hentinya menghujam kecupan di tubuh polos milik Inka.


Malam ini sungguh membuat Rifyal tegila-gila pada sang istri. Jika Gia dan Inka pikir akan segera berakhir ternyata salah besar. Justru pria buta itu dengan entengnya kembali meminta mengulang hal panas yang barusan berakhir. Gia syok mendengarnya antara ingin marah dan sedih mendengar ucapan sang suami.


"Sayang, boleh sekali lagi? Aku sangat suka rasanya malam ini." ujar Rifyal dengan memeluk erat tubuh Inka. Bibirnya mengecup pundak mulus Inka.


Tak bisa asal menjawab, Inka menoleh ke arah Gia. Namun di sana Gia tak ada hingga akhirnya Gia berdiri dengan kedua mata yang sembab. Inka tahu betapa sakit Gia saat ini meski pun itu pilihannya sendiri.


"Iya, Sayang. Kenapa tidak." jawab Gia mewakili Inka.

__ADS_1


Dan saat itu juga Rifyal pun menyerang Inka kembali. Saat ini Gia memilih untuk membelakangi keduanya. Satu hal yang tak ia sangka, jika ternyata Rifyal mampu melakukan hal itu dua kali dengan jarak yang berdekatan. Selama ini bahkan pria itu selalu meminta jeda untuk kembali membangkitkan gairahnya.


Dua puluh menit berakhir kini Inka di ijinkan untuk menuju kamar mandi membersihkan dirinya. Gia pun mengikuti Inka ke kamar mandi. Sementara Rifyal nampak terbaring kelelahan. Wajahnya jelas terlihat berbinar bahagia setelah peperangan panas malam ini.


"Ingat, segera kabari aku tentang hasilnya." ujar Gia. Inka pun pergi dari kamar itu dengan langkah mengendap-endap agar tak terdengar langkahnya. Sedangkan Gia meminta Rifyal untuk ikut keluar kamar menikmati makan malam.


Satu pelayan sudah ia perintahkan untuk mengganti sprei kamarnya yang terlihat ada bercak darah milik Inka tadi.


"Ya ampun apa yang Nyonya Gia lakukan tadi?" pelayan itu dengan lancangnya bertanya-tanya pada diri sendiri. Hanya bisa mengusap dadanya melihat tingkah sang majikan yang ia sendiri tidak tahu kebenarannya.


Di meja makan Rifyal begitu lahap dalam suapan sang istri. Gia sedih sekali, jika biasanya ia akan sangat senang dengan lahapnya sang suami makan namun tidak untuk saat ini.


"Sayang, mengapa sejak tadi banyak diam? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Rifyal merasa sang istri tak semanja biasanya.


"Tidak. Aku hanya lelah saja." jawab Gia berbohong.


"Maafkan aku yah? semoga segera aku bisa mendapatkan donor mata ini. Aku tidak akan merepotkanmu lagi." tutur Rifyal merasa bersalah.


Gia justru menggeleng. Ia tak ingin hal itu segera terjadi. Jika sang suami mendapatkan donor mata artinya ia akan kesulitan melanjutkan rencananya.


"Tidak. Tidak ada yang boleh mendonorkan mata saat ini. Biarkan aku mendapatkan anak dulu." ujar Gia dalam hatinya.


Setidaknya Gia bisa mendapatkan anak murni dari darah sang suami meski pun dari rahim wanita lain. Yah, itulahh yang ia harus lakukan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2