
Di kediaman Rifyal lagi-lagi Gia dan sang suami kedatangan keluarga besar. Banyak yang datang ke rumah mereka dengan membawakan banyak oleh-oleh yang tentunya semua adalah keperluan sang bayi. Dari kebahagiaan di wajah mereka Gia bisa membayangkan bagaimana ketika ia di tahu tak bisa memiliki anak tentu saja semua akan sangat mencampakkan dirinya dan kata-kata hinaan pasti selalu mereka lontarkan untuk Gia. Bersyukur saat ia menemukan jalan dengan bertemu Inka. Setidaknya mereka bisa ia bungkam mulutnya dengan kehamilan itu.
"Jangan di pegang, Bu. Saya langsung mual rasanya." ujar Gia yang gugup kala melihat sang mertua hendak mendaratkan tangan pada perutnya yang masih rata.
"Kamu ini ada-ada saja, Gia. Apa perutmu rata karena faktor tubuh kamu yang tinggi?" Kini giliran Risna, nenek dari sang suami yang bersuara pada Gia.
Gia yang gugup hanya bisa tersenyum. "Mungkin saja begitu, Oma. Sebab saya pun juga baru merasakan hamil sekarang ini jadi saya tidak tahu begitu banyak seputar kehamilan." ujarnya membela diri.
Semua pun tampak berbincang tentang masa hamil tanpa perduli dengan tubuh Gia. Sesekali Gia pamit untuk ke belakang seolah tengah memuntah. Padahal ia hanya ingin lebih meyakinkan keluarga suami saja. Mereka heboh dengan sosok janin yang akan segera launcing beberapa bulan lagi. Semua begitu penasaran dengan jenis kelaminnya.
Sementara Gia di kamar tampak merasa was-was. Inilah yang paling ia takutkan jika keluarga datang berkunjung. Apa pun yang terjadi Gia tak akan membiarkan mereka mengetahui ini semua. Dan Rifyal yang mendengar bagaimana para keluarga antusias dengan sang calon anak ia juga turut senang. Selama ini hal inilah yang selalu di pertanyakan dengan keluarganya.
__ADS_1
Bahkan Rifyal pun juga merasa takut jika ternyata dirinya lah yang memiliki penyakit mandul. Setidaknya dengan kehamilan sang istri, Rifyal bisa tenang dan dirinya ternyata tak memiliki masalah apa pun dengan tubuhnya.
Beda halnya dengan di apartemen, di sini Inka berada. Ia sedari pagi sudah pamit pada sang ayah untuk bekerja. Meski sebenarnya ia telah mempersiapkan diri tinggal bersama Gia dan Rifyal. Meski sebenarnya ada perasaan aneh, namun Inka terpaksa tinggal di sana.
Perjanjian yang ia pikir hanya akan berlaku sebentar ternyata justru berkepanjangan hingga ia harus melahirkan janin di rahimnya. Lama Inka berbaring di apartemen sembari menunggu panggilan dari Gia. Ia tahu jika Gia sedang kedatangan tamu dari keluarga suaminya. Itulah sebabnya Inka menunda datang ke rumah itu.
"Sebentar lagi akuĀ akan puasa berbicara." ujar Inka mengingat satu suara pun tak boleh ia keluarkan selama di rumah Gia.
"Rif, kami pulang dulu yah? Jagain istri kamu itu. Dia pasti teler sekali kasihan Gia. Banyak di bawa istirahat yah?" ujar sang nenek yang memperingati sang cucu.
Sepulang mereka semua, Rifyal pun berjalan dengan tongkat yang menuntunnya menuju kamar.
__ADS_1
"Gia," panggilnya.
"Eh iya, Rif. Maaf kepalaku pusing sekali jika banyak orang." ujarnya beralasan dan demi mengamankan dirinya.
Rifyal pun tersenyum ia mendekati sosok Gia dan ikut berbaring di samping sang istri. Di peluknya tubuh Gia.
"Sayang, kenapa tubuh kamu kadang terasa kurusan kadang terasa berisi lagi yah?" Kini Rifyal pun akhirnya buka suara setelah lama ia hanya acuh saja.
Sontak Gia pun meneguk kasar salivahnya mendengar ucapan sang suami. "Hanya perasaan kamu saja, Rif. Aku kan tetap seperti ini menjaga pola makan aku." jawabnya tak terima jika tubuhnya di nilai berisi.
"Maaf, Sayang. Iya kamu benar mungkin itu hanya perasaanku saja." ujar Rifyal yang memilih mengalah.
__ADS_1