Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Kepergian Sang Ayah


__ADS_3

Suasana begitu mengharu biru ketika suara bayi merah terdengar menggema di ruang bersalin. Hari ini tepat pada pukul tujuh pagi Inka meneteskan air matanya melihat sang anak lahir kedunia setelah perjuangan panjangnya menahan sakit sejak pukul dua belas malam. Di sampingnya nampak Ajeng yang tersenyum dan menggenggam tangannya erat. Inka merasa bahagia kehadiran Ajeng seperti sang ibu yang tengah mendampinginya saat ini. Di peluknya erat Inka sembari Ajeng mengusap lembut kening wanita itu yang berkeringat.


"Selamat yah, Nak. Kamu sudah menjadi seorang ibu saat ini. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri juga." Inka tersenyum lebar melihat sang calon mertua yang begitu baik. Sungguh sangat beruntung dari nasib memilukan yang harus menjadikannya wanita pengganti di atas ranjang justru membawa Inka pada nasib yang begitu baik. Mendapat keluarga yang sangat baik dan juga calon suami yang begitu mencintainya.


"Terimakasih, Bu." jawab Inka canggung.


Sayang sekali rasanya Gia menyia-nyiakan keluarga seperti mereka demi mempertahankan kedudukannya yang bahkan rasanya tak menjadi masalah bagi mereka. Hanya karena ketakutan akan ambisi yang gagal membuat Gia gelap mata dan pikiran.


Pernikahan yang begitu bahagia harus rela ia tinggalkan begitu saja karena sebuah hukuman dari keluarga Mahen. Kini Inka lah yang menjadi pendatang dan penguasa segalanya. Namun, siapa sangka jika di waktu pagi itu pula Inka harus di kejutkan dengan kabar yang sangat tak ingin ia alami.


"Em Nyonya Inka, maaf." sang perawat datang memasuki ruangan ketika Inka menikmati makan sembari di suap oleh Ajeng.


Tenaganya belum benar-benar pulih dari masa bersalin. Oleh sebab itu Ajeng yang membantunya untuk makan. Sedangkan bayinya masih di bersihkan oleh bidan. Mendengar namanya di panggil, Inka menoleh ke arah pintu.


"Maaf, Nyonya Inka. Ayah anda sedang mendapat perawatan sebab kondisinya tiba-tiba lemah." Tak perduli bagaimana lemas tubuhnya saat ini, Inka memaksa untuk bangun dan membawa tiang infus di tangannya.

__ADS_1


"Inka, mau kemana?" tanya Ajeng berusaha mencegah Inka berdiri.


"Ayah ku, Bu. Aku harus melihat keadaan ayah." Inka bergegas keluar ruangan tak perduli sakit di bagian intinya dan pusing di kepalanya. Ia harus sampai di ruang sang ayah saat ini.


Di sana sudah tampak dokter memerika keadaan Ferow, Rifyal juga berada di dalam. Sementara keluarga lainnya baru akan tiba di rumah sakit setelah mendengar kabar Inka telah melahirkan.


"Ayah? dokter apa yang terjadi dengan ayah saya? Ayah, sadar ayah harus sembuh." Inka sudah menggenggam tangan sang ayah yang menutup mata. Sesekali Ferow membuka matanya yang menjatuhkan air mata. Lemas itulah keadaan pria paruh baya itu saat ini.


Inka memeluk tubuh Ferow erat menumpahkan tangis di sana. Hingga akhirnya Ajeng ikut masuk meminta Inka untuk duduk di kursi roda setidaknya jangan sampai mengalami pendarahan. Patuh, Inka duduk sembari menangis melihat sang ayah yang begitu lemas saat ini.


"Iya, Ayah. Apa yang sakit? Katakan ayah mau apa?" tanya Inka lagi.


Pria itu pelan menutup matanya lagi dan membukanya susah payah. "Menikah lah se-karang juga. A-yah ingin lihat." Rifyal menatap Inka mendengar ucapan sang calon mertua.


Inka pun membalas tatapan Rifyal dengan canggung. Bagaimana mungkin mereka menikah saat ini? Rasanya sangat tidak mungkin. Hingga akhirnya Baron, ayah dari Rifyal terdengar masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


"Tenang, Tuan Ferow. Bertahanlah. Penghulu sedang perjalanan. Saya sudah meminta anak buah saya membawanya sekarang juga." Tak ada yang bisa berkata apa-apa lagi saat ini.


Inka kembali fokus memeluk sang ayah dalam posisi duduk di kursi roda. "Sus, tolong bawa anak saya kemari. Saya mohon segera." ujar Inka meminta setidaknya sang ayah bisa melihat cucunya sebelum pergi.


Rasa tidak terima tentu Inka rasakan jika sang ayah akan mendekati ajal. Namun, segala kemungkinan terburuk berusaha ia terima dan melakukan yang terbaik di detik terakhir sang ayah. Dengan tangan gemetar Inka mendekatkan sang anak pada ayahnya. Pelan susah payah Ferow menoleh menatap bayi mungil di sampingnya yang tampak merah sedang menggeliat dalam selimutnya. Air mata pria itu menetes sedih. Ia memejamkan mata mengeluarkan sebanyak mungkin air mata kesedihan. Tangannya yang rapuh tak bisa menimang sang cucu saat ini. Penyesalan yang begitu besar ia rasakan ketika tak bisa berumur panjang.


Semua meneteskan air mata melihat pertemuan cucu dan sang kakek di depan sana. Inka terisak pilu memegang tubuh sang anak.


"Ayah, sembuh demi kami. Ayah sembuh yah buat Inka dan cucu ayah? Inka mohon, Ayah." tak tega rasanya Ferow meninggalkan sang anak. Namun, sakit di tubuhnya jauh lebih membuatnya ingin menyerah. Hingga akhirnya pria itu hanya bisa mengangguk kepalanya dengan lemah.


Dua puluh menit berikutnya akhirnya penghulu tiba di rumah sakit. Segera Baron meminta persiapan untuk akad dan pernikahan pun berlangsung. Sepanjang prosesi pernikahan, Inka terus menangis terisak sembari menatap sang ayah yang beberapa kali menutup dan membuka matanya berusaha bertahan.


Hingga pada akhirnya ketika doa selesai dan berakhir kata amin, saat itu pula Inka berteriak histeris melihat sang ayah menghembuskan napas terakhir.


"Ayah!!!" teriaknya menghambur memeluk tubuh Ferow.

__ADS_1


__ADS_2