Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Penyesalan Tiada Akhir


__ADS_3

Gia geram sekali mendapati rumah yang hanya terisi pelayan di dalamnya. Kini ia mulai menebak jika Inka dan sang mantan suami tentu di rumah keluarga besar mahen. Jika benar disana, itu artinya Gia tak bisa berbuat apa-apa. Jelas mereka semua pasti akan melindungi Inka. Hingga akhirnya Gia memilih pergi melajukan mobil menuju kediaman keluarga Mahen. Sesampai di sana lama wanita itu terus memantau pergerakan dari luar gerbang yang sama sekali tidak terlihat.


Ketika ia mulai bosan, Gia akhirnya melihat jika ada mobil yang tentunya sangat ia tahu. Yah itu adalah mobil mantan ibu mertuanya. Nampaknya Ajeng baru pulang entah dari mana.


“Kemana mereka? Di dalam sana mobil Rifya pun tidak ada.” tanyanya dalam hati.


Pasalnya Gia pun tidak tahu apa-apa perilah kepergian ayah dari Inka. Sejak kesepakatan dengan Anggun saat itu usai, ia sama sekali tak pernah bertemu atau saling bertukar informasi. Bahkan Gia pun tidak tahu bagaimana nasib ibu dan anak itu saat ini. Gia tak memiliki waktu untuk mencampuri masalah orang lain. Yang ia utamakan adalah merebut kembali posisinya.


Setengah hari wanita itu habiskan berjaga di sekitar pagar rumah keluarga Mahen, Rifyal dan Inka sama sekali tak terlihat keluar dari rumah bahkan Gia yakin jika mereka mungkin tidak ada di rumah saat ini.

__ADS_1


“Ayo tidur siang, sore kita akan ajak anak kita bermain di taman ini.” tutur Rifyal yang segera di setujui oleh sang istri.


Keduanya berpelukan di atas kasur sementara sang anak sudah lelap di dalam box bayi yang ada di kamar itu. Terasa sangat menenangkan pelukan Rifyal untuk Inka.


Berbeda halnya di kediaman lain. Gia yang baru saja pulang menekuk wajahnya. Meski di usir berkali-kali dengan kedua orangtuanya. Wanita itu tak perduli. Ia tetap memasuki rumah dan acuh. Gia memasuki kamar tanpa mendengar sang ibu yang marah-marah padanya.


Jika di luar Gia akan sangat kuat terlihat. Siapa yang tahu jika di kamarnya kini ia sudah menangis memandangi foto pernikahannya dengan sang mantan suami. Di sana keduanya berpelukan saling tersenyum menghadap kamera. Sungguh Gia menyesali semua perbuatannya. Tapi, ini semua ia lakukan bukan tanpa alasan. Ketakutannya jika akan tergeser sudah terasa sejak awal. Dan sekarang ketakutan itu benar-benar menjadi nyata.


“Rif, ku mohon kembali padaku. Kita bisa memulai semua dari awal.” tutur Gia mengusap foto pria tampan di depannya.

__ADS_1


Sayang semua penyesalan tinggallah penyesalan. Tak ada yang bisa merubah keadaan.


“Gia, keluar kamu. Dari pada kamu sibuk ngurus hal yang tidak jelas. Sana pergi ke kantor. Bantuin papamu kerja.” ujar sang ibu yang sama sekali tak di hiraukan oleh Gia.


Wanita itu memilih berbaring menangisi nasib pernikahannya yang sudah hancur. Ingin rasanya berteriak namun Gia merasa sangat lemah saat ini.


Bayangannya hanya melintas sosok Inka dan Rifyal yang begitu bahagia saat ini.


Malam harinya di kediaman Ferow, satu persatu mobil keluarga Mahen mulai berdatangan. Mereka berniat menghibur Inka dan Rifyal sekali gus menjenguk sang baby penerus keluarga Mahen.

__ADS_1


__ADS_2