Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Kehidupan Selanjutnya


__ADS_3

Risna yang usianya begitu tua tampak berjalan berpegangan tangan dengan sang menantu. Satu persatu keluarga dari Rifyal pun datang di mana kedatangan mereka semua di sambut hangat oleh Rifyal dan Inka. Jujur saja rasanya Inka enggan keluar dari kamar dalam beberapa waktu ini. Namun, rasanya tidak sopan jika ia harus mengabaikan kedatangan keluarga dari sang suami yang begitu baik meluangkan waktu untuk dirinya. Inka duduk di apit oleh sang nenek mertua serta ibu mertuanya. Sementara sang baby kini nampak terbangun di pangkuan sang nenek.


"Inka, bagaimana kalau kakek yang memberi nama cicit kakek ini?" tanya Baron yang membuka suara. Sebab terlalu larut dalam kesedihan, Rifyal dan Inka sama-sama tidak memikirkan nama sang anak. Mereka takut jika memaksa pikiran akan menyesal kemudian dengan nama yang mereka sematkan pada sang anak.


Ina yang semula nampak melamun akhirnya mengangguk setuju. Ia tersenyum pada sang kakek.


"Tentu saja boleh, kek. Silahkan jika Mas Rifyal juga setuju." tuturnya membuat Rifyal mengangguk dan tersenyum. Senang rasanya sang istri yang begitu sopan pada keluarganya dan sangat patuh.


Hal yang menghancurkan pernikahan namun membuat pria itu bersyukur. Jahat memang terdengar, tapi Rifyal tak munafik. Ia jauh bersyukur memiliki istri seperti Inka yang rela berkorban demi keluarga. Bisa di pastikan demi keluarga kecilnya pun Inka tak akan main-main dalam mencintai.


"Seperti yang Inka katakan, kek. Kakek boleh mmeberikan nama untuk anak kami." Agung nampak mengangguk dan senang.

__ADS_1


Mata pria itu menatap dalam sosok bayi tampan di depannya saat ini.


"Mibras Aji Mahen, itu nama untuk cicitku. Kalian harus benar-benar menjaganya. Jangan sampai hidupnya kelak kesulitan. Sebab semua yang sudah aku berikan itu untuk kebahagiaan anak, cucu, dan cicitku. Seluruh keluarga Mahen tak ada yang boleh merasakan sakitnya kehidupan. Dan tetaplah rendah hati. Kalian semua harus menegaskan untuk selalu menolong orang-orang yang membutuhkan." tutur Agung mengusap kepala sang cicit.


Inka tersenyum lebar bersyukur ia mendapatkan keluarga yang begitu baik. Mereka tak hanya kaya harta tetapi juga kaya akan kebaikan.


"Terimakasih, Kakek, Ibu, Ayah, dan Nenek. Terimakasih juga untuk semuanya. Kalian begitu baik menerima kehadiran saya dan juga Mibras padahal kami bukanlah siapa-siapa. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian semua dan Tuhan panjangkan umur kalian semua." ucap Inka yang membuat semuanya terlihat begitu tersenyum bahagia.


***


Rifyal pun yang keluar kamar lebih dulu melihat di ruang tamu sudah ada beberapa gadis cantik duduk di sofa. Segera pria itu menoleh pada sang istri dan mengerutkan kening lalu mengedikkan bahu.

__ADS_1


"Mas juga nggak kenal, Sayang." sahut Rifyal membuat Inka semakin penasaran.


Sore ini ketika suasana di luar sana begitu sejuk justru membuat keadaan rumah mereka nampak sangat riuh. Beberapa gadis yang menggunakan pakaian kekinian memperlihatkan jika usia mereka masih sangat muda.


"Halo Om, Tante..." begitu semua melihat kedatangan Rifyal bersama Inka segera mereka beranjak dari duduknya dan mencium punggung tangan Inka, tidak dengan Rifyal yang langsung di bawa ke belakang tubuh Inka.


Sumpah demi apa pun Inka tak akan mau jika suami tampannya itu harus di sentuh dengan gadis cabe rawit seperti mereka saat ini.


Jujur Inka akui mereka semua gadis-gadis yang menarik dan cantik-cantik. Semua tampak ceria tak ada wajah-wajah licik seperti jamannya dulu, mungkin karena mereka semua masih terlalu polos saat ini.


"Kalian ini siapa?" tanya Inka yang penasaran, namun belum sempat mereka menjawab dari arah pintu suara pelayan terdengar menggema.

__ADS_1


"Selamat sore, Tuan Mibras..."


Saat itu pula Inka dan Rifyal di buat membulatkan mata melihat bagaimana Mibras langsung di serbu banyak gadis yang sedari tadi membuat ramai rumah mereka.


__ADS_2