Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Kehilangan Yang Tergantikan


__ADS_3

“Ayah…ayah…” terdengar lirih suara tangisan yang membuat Rifyal sadar jika Inka telah terbangun dari pingsannya. Segera pria itu meletakkan sang bayi di ranjang khusus milik bayi lalu mendekati Inka.


“Hey…kamu sudah sadar? Syukurlah.” tutur Rifyal.


Pria itu bergerak mengusap kening Inka. Ia melihat tatapan mata sang istri yang nampak berkaca-kaca saat ini. Sedih tentu saja ia rasakan dengan jelas. Anak mana yang tidak sedih ketika sang ayah pergi meninggalkannya seorang diri.


Tak ada suara yang Inka keluarkan hanya air mata yang jatuh begitu saja. Rifyal memeluknya erat mencium kening sang istri.


“Menangislah. Aku di sini bersama mu.” tuturnya membuat Inka tak kuasa lagi menahan sesak di dadanya.


Rifyal menghela napas kasar. Air matanya turut menggenang ingin menangis merasakan sakit yang sang istri rasakan.

__ADS_1


***


Tiga hari berlalu, akhirnya Inka pun keluar dari rumah sakit. Ia duduk di rumah setelah kepulangannya hari ini bersama sang suami dan anaknya. Bukan pulang ke rumah sang suami, Rifyal yang paham keadaan istrinya memilih untuk membawa Inka pulang ke rumah sang ayah mertua. Dimana rumah itu nampak sunyi setelah kepergian Ferow dan juga Kasih bersama Anggun yang entah kemana.


“Ayo sarapan dulu, Sayang.” tutur Rifyal memberikan bubur yang sudah ia buatkan.


Inka patuh pada ucapan sang suami. Ia menikmati bubur yang Rifyal suapkan. Meski jelas melihat tatapan sang istri yang rapuh, sebisa mungkin Rifyal memberikan kasih sayang pada sang istri.


“Rif, boleh ibu gendong si baby?” Ajeng yang baru datang membawa makan ke dalam rumah kini keluar menghampiri Inka dan juga Rifyal. Ia tahu Rifyal ingin memberikan perhatian pada Inka, dan itu tidak mungkin jika ada sang bayi yang akan merengek sesekali meminta di perhatikan juga.


Ajeng pergi berkeliling ke taman sekitar rumah meninggalkan sepasang suami istri itu.

__ADS_1


“Rif, boleh aku meminta ke makam ayah setelah ini?” tanya Inka penuh harap.


Dan siang harinya kini Inka berada di makam bersama Rifyal. Ia tersenyum menatap nisan sang ayah. Tak ada lagi tangis histeris seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya. Ia hanya meletakkan buket bunga di atas pusara sang ayah. Inka menatap pria tampan di sampingnya yang kini juga menatapnya.


“Jangan tinggalin aku juga. Hanya kamu sati-satunya milikku.” Melihat sang suami mengangguk, Inka mengeratkan pelukannya.


Kepergian sang ayah yang sangat membuat Inka kehilangan di gantikan dengan hadirnya sang buah hati dan juga Rifyal yang akan menemaninya sampai tua nanti.


Tanpa mereka tahu, jika di kediaman milik Agung Mahen justru Gia datang dengan berteriak tak sopannya. Meski sadar dirinya salah, Gia tak mau jika posisinya di gantikan.


“Inka, keluar kamu! Inka keluar!” Suara wanita itu menggema di rumah yang ia pikir akan di huni oleh sang suami bersama istri barunya. Namun, saat mendengar suara teriakan Gia yang keluar justru hanya seorang pelayan yang sangat ia kenali.

__ADS_1


“Dimana wanita itu?” Ketus Gia bertanya dan melewati sang pelayan. Gia benar-benar ingin memberi pelajaran Inka.


Jika saat di luar negeri ia tidak bisa berbuat banyak, di sinilah waktunya. Gia akan membuat Inka memberikan miliknya kembali. Perceraian tidak berlaku di mata Gia. Baginya Rifyal tetaplah miliknya.


__ADS_2