Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Butuh Rahim Perawan


__ADS_3

Tak terasa waktu pun berlalu begitu saja, tepat pada pukul setengah delapan malam Ferow kembali keluar kamar di antar oleh sang istri. Kasih tampak biasa seolah ia tak begitu mencintai sang suami. Entah apa yang terjadi pada wanita itu hanya dirinya sendirilah yang tahu. Keduanya duduk di meja makan dengan tenang.


"Loh Inka tidak jalan, Bu?" tanya Ferow pada istrinya.


"Di ruang tamu masih ada sepertinya tidak, Yah." jawab Kasih apa adanya.


"Panggil mereka berdua makan malam bersama kita." pintah Ferow dan sang istri pun mengikuti perintahnya.


Mereka pun menikmati makan malam dengan tenang. Hanya Anggun saja yang terlihat gelisah di sana. Gadis itu terus saja memperhatikan setiap gerakan tubuh dari Beril. Sedangkan Kasih yang mengetahui gelagat sang anak segera menginjak kaki sang anak. Ia tak ingin membuat semua orang memandang Anggun gadis labil.


"Aw ibu." tegurnya refleks.


"Ada apa, Anggun?" tanya Ferow yang mendapatkan gelengan kepala dari sang anak.


Malam itu menjadi malam pertama dan terakhir Beril datang menemui Inka. Kerjaan yang ia miliki membuat pria tampan itu sangat sulit meluangkan waktu untuk bertemu sang kekasih. Terlebih Inka tak ingin mengganggu waktunya bekerja. Mereka terasa semakin jauh saat Inka tak bekerja di perusahaan lagi.


Dan sejak hari itu pula Ferow sering menanyakan keberadaan pria itu sayangnya Inka terus mengatakan jika Beril sangatlah sibuk bahkan sangat jarang berada di negeri mereka. Pelan pelan Inka mulai merasakan kesehatan sang ayah yang semakin menurun. Tubuhnya yang semula masih kuat berdiri kini tak lagi mampu. Sekedar duduk lama pun ia tak sanggup lagi.


Dan hal yang tak terduga kini terjadi. Anggun pulang dengan wajah pucat dan juga panik. Gadis itu melempar tas kerja di sembarang arah dan menemui sang ibu yang tengah duduk di sisi tempat tidur memperhatikan Ferow tengah melamun.


"Bu," ujarnya tanpa permisi.


Anggun masuk ke dalam kamar. "Ada apa, Anggun? Kamu buat ayahmu terkejut." jawab Kasih kesal pada tingkah sang anak sebab ia sendiri pun juga kaget.

__ADS_1


"Dia bukan ayahku, Bu. Ada hal yang lebih penting dari dia." ujar Anggun begitu ketusnya tak seperti biasa.


Kening Kasih mengerut dalam, bahkan Ferow yang semula nampak hanya diam entah mengapa kini begitu tertarik untuk mendengarnya.


"Perusahaan sedang kritis, Bu. Aku sudah susah payah menahan mereka semua. Tapi, semua para investor di perusahaan tetap saja mencabut saham mereka, bu. Aku harus bagaimana sekarang?" ia begitu gusar menjelaskan semua permasalahan perusahaan dengan sang ibu.


Dan hal itu membuat Ferow mendelikkan mata tak percaya mendengar berita ini. Sebuah ancaman untuk perusahaannya jika tidak bisa mempertahankan para investor tentunya.


"Penjualan di perusahaan juga sudah sangat menurun. Kita mengalami kerugian dua minggu ini, Bu. Aku mau berhenti bekerja saja kepalaku pusing." Anggun dengan mudahnya berucap demikian tanpa sadar dengan semua pekerjaan yang ia sepelekan.


Ferow menggelengkan kepala. "Anggun, apa-apaan kamu bilang? Dimana tanggung jawab kamu, Anggun? Kemarin-kemarin ayah tanya bagaimana perusahaan? katamu semua aman dan sangat baik. Apa ini?" tekanan darah Ferow mendadak naik secara drastis.


Dan hal itu membuatnya sangat sulit mengontrol emosinya. "Diam saja tukang sakit! Aku ini lelah. Anakmu lihat hanya jadi pemalas di rumah saja seenaknya mau marahin aku." Bukannya merasa bersalah dengan tidak becus memegang kendali perusahaan, Anggun justr sangat marah.


Baginya di rumah ini hanya ia yang bekerja dengan susah payah. Sedangkan Inka hanya mengurus sang ayah dengan malas-malasan setiap hari.


"Ada apa ini, Ayah?" Inka yang mendengar keributan di kamar utama sontak datang dengan wajah segarnya. Ia baru saja meninggalkan sang ayah untuk pamit mandi.


Melihat sosok Inka, sontak saja Anggun semakin meradang. "Ini nih pemalas yang enak-enakan tinggal di rumah tanpa di marahi. Aku yang kerja setiap hari justru harus di marahi karena perusahaan yang terancam bangkrut." Anggun sangat tak terima.


Mendengar kata bangkrut Inka pun membulatkan matanya. Bagaimana ia tidak syok mendengar perusahaan sang ayah yang di bangun susah payah justru harus gulung tikar. Inka menggeleng tak percaya mendengarnya. Namun, kenyataannya memang benar. Malam itu rumah keadaannya tak lagi tenang seperti biasa. Anggun terus saja berbicara tanpa henti.


Meski pun sang ibu memintanya diam, gadis itu tetap saja acuh. Ia ingin meluapkan kekesalannya pada semua anggota keluarga. Hingga pada akhirnya Inka angkat suara.

__ADS_1


"Jika memang ini jalan yang terbaik, ikhlaskan saja. Ayah akan aku rawat dengan baik sesuai dengan kemampuanku." ujarnya dengan tenang.


Bagi Inka sebuah kebangkrutan bukanlah hal yang besar baginya selama tuhan masih memberikan manusia kesehatan dan kemampuan dalam berpikir. Ia akan mencari kerja apa pun itu yang akan mencukupi kebutuhan sang ayah.


"Inka, apa-apaan kamu? Perusahaan ayahmu itu sangat besar, dimana kita harus mencari biaya untuk menggaji semua karyawan? Kamu pikir semua sesimpel itu?" ketus Kasih tak terima dengan pemikiran sang anak tiri.


Sepanjang malam mereka tampak bersitegang hingga pagi harinya saat berada di meja makan, Ferow membuka suara.


"Bu, tolong temui alamat perusahaan ini. Ayah yakin mereka memiliki kekuasaan yang sangat besar dan ada kemungkinan kita mendapatkan bantuan mereka. Temui mereka, Bu." ujar Ferow memberikan kartu nama seseorang pada sang istri.


"Kita pergi bersama saja, Bu." ujar Anggun dengan cepat.


Kasih tak menolak, ia akan pergi bersama sang anak menemui seseorang. Sementara Inka akan tetap berada di rumah menjaga sang ayah.


Gedung yang sangat tinggi dan mewah. Bahkan di parkiran pun yang terlihat hanya mobil-mobil mewah keluaran terbaru. Anggun sulit mengedipkan mata saat ini.


"Perusahaan ini isinya semua orang-orang pilihan, Bu. Beda sekali dengan kantorku." akunya dengan tidak tahu malu mengatakan kantor sang ayah adalah miliknya.


"Iya, kamu benar. Mungkin kata ayahmu benar perusahaan ini bisa membantu perusahaan kita." tutur Kasih dengan semangatnya yang kembali lagi. Hilang sudah ketakutan akan jatuh miskin saat ini.


Keduanya memasuki ruangan teratas yang sudah di tunjukkan oleh seorang resepsionis. Tentu saja Anggun masuk dengan mudah sebab Ferow sudah mengirim pesan pada asisten dari pemilik perusahaan ternama ini.  Berbeda dari dugaan Anggun dan Kasih jika orang yang mereka temui saat ini adalah seorang pria. Ternyata ia adalah seorang wanita yang sangat cantik dan berkelas.


Susah payah Anggun meneguk salivahnya. Kecantikan yang ia miliki sama sekali tak ada tandingannya dengan wanita di depannya saat ini.

__ADS_1


Lama keduanya duduk, ruangan pun begitu hening dan terasa mencekam dengan pandangan tajam wanita cantik pemilik perusahaan raksasa itu.


"Aku butuh rahim seorang gadis yang perawan. Dengan begitu aku akan menjadi investor satu-satunya di perusahaan anda." satu permintaan yang begitu jauh dari dugaan Anggun mau pun Kasih. Keduanya saling pandang dengan wajah terperangah kaget.


__ADS_2