Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Mata-mata Rifyal


__ADS_3

Perjalanan yang panjang Gia nikmati malam itu dari satu tempat ke tempat lainnya. Dirinya sangat senang berkumpul kembali dengan teman-teman masa sekolah yang dulunya tidak begitu akrab namun saat ini mereka mendadak menjadi satu geng. Gia tak perduli bagaimana sang suami yang bermesraan dengan wanita lain di rumahnya selama itu tak mengusik statusnya sebagai Nyonya Mahen. Tanpa di sadari dari sudut lain beberapa pria tampak mengabadikan kejadian tersebut. Dimana Gia berjoget dengan beberapa teman wanita mau pun pria. Tubuhnya tak segan bergerak meliuk bak seekor ular di depan pria-pria hidung belang.


Kejadian ini terus berjalan hingga tiba saatnya Inka mendapatkan kembali pesan dari Beril. Yah, pria itu kini sudah kembali ke Indonesia dengan wajah murungnya. Kecewa tentu saja ia begitu kecewa saat pesan beberapa waktu lalu sudah di balas Inka. Wanita itu benar-benar memutuskan hubungannya dengan Beril. Bukan karena tidak ingin bersama atau berniat mempermainkan pria tampan itu.


Namun, dengan semua yang sudah Inka lewati bahkan wanita itu sudah berjanji akan melupakan Beril saat pertama kali menyerahkan tubuhnya pada pria buta itu. Inka sadar dirinya tak pantas untuk pria mapan yang pernah menjadi bosnya di kantor. Inka tidak ingin memberi harapan pada Beril.


"Hubungan kita cukup sampai di sini, Pak. Saya minta maaf. Dan jangan cari saya dimana. Sebab saya tidak akan bisa anda temukan." Itulah pesan balasan dari Inka beberapa waktu lalu yang masih terngiang di pikiran Beril sampai saat ini.


"Apa karena aku yang jarang memberimu kabar sampai kau memutuskan hubungan kita, Inka? Aku yakin kau adalah wanita yang dewasa dan itu tidak mungkin hanya karena waktu kita yang sangat kurang. Bahkan semua ini aku lakukan demi mempersiapkan pernikahan kita." Beril tampak berbicara sendiri.


Sepanjang penerbangan ke Indonesia, pria itu terus saja berpikir apa yang membuat Inka berubah dan memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Selama ini mereka berhubungan baik-baik saja dan tentu saja gaya pacaran keduanya berbeda dari orang yang cenderung romantis. Beril adalah sosok pria yang kaku dan serius.


Sesampainya di bandara, bukannya pria itu bergegas menuju ke rumah. Ia justru meminta sang supir untuk segera menuju ke kediaman Ferow. Dimana ia akan memastikan kembali keberadaan Inka dan meminta penjelasan pada sang kekasih yang baru saja memutuskannya.


Sepanjang jalan Beril begitu gelisah. Ia benar-benar berharap hubungannya dengan Inka akan segera berlanjut ke jenjang yang lebih serius.


"Aku harus bisa mempertahankan hubungan kita, Inka. Aku benar-benar tidak ingin hubungan kita berakhir begitu saja. Aku sangat mencintaimu..." ujarnya lirih.


Entah bagaimana respon pria ini jika kelak tahu keadaan Inka yang justru sudah berbadan dua. Apakah ia masih bisa mengatakan cinta pada wanita yang sudah tega meninggalkannya tanpa jejak itu.


"Ayah, itu bukanya mobil pacarnya Inka yah?" Kasih yang tengah berjalan mendorong kursi roda sang suami nampak mengerutkan kening dalam.

__ADS_1


Melihat itu Ferow pun mengiyakan ucapan sang istri. Dimana mobil hitam mewah milik Beril sudah memasuki halaman rumahnya yang tidak begitu luas.


Saat turun dari mobil Beril langsung memberikan salam penghormatan pada Ferow yang masih duduk di kursi roda. Pria tua itu kini tak lagi mampu berjalan. Tubuhnya yang kembali menurun jelas membuat Beril sangat iba.


"Tuan, bagaimana kabar anda?" tanya Beril sekedar berbasa basi.


"Yah seperti ini saja. Kadang baik-baik kadang kembali drop. Mungkin terlalu rindu dengan Inka..." mengatakan itu Ferow terkekeh sedih.


Jelas Beril melihat ada genangan air mata di kelopak mata pria tua itu. Dan kini artinya Inka belum juga pulang. Penasaran, kembali Beril bertanya.


"Apa Inka belum pulang juga sejak hari itu, Tuan?" tanyanya dan Ferow hanya mengangguk lirih. Saat itu juga air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.


"Aku tidak bisa tinggal diam. Inka, apa terjadi sesuatu denganmu sampai meninggalkan ayahmu selama ini? Iya aku yakin terjadi sesuatu denganmu." gumam Beril yang berpikir hal terburuk tengah terjadi pada Inka.


Terlebih saat ini Kasih tampak menatapnya dengan tatapan sinis, seolah pria di depannya ini adalah sebuah mala petaka yang siap kapan saja menghancurkan rencananya.


"Tuan, saya bawa oleh-oleh. Dan saya harus segera kembali ke rumah. Di lain waktu saya akan datang lagi." pamitnya dan Ferow pun mengiyakan tanpa bisa menahannya.


Kasih membawa kembali masuk sang suami dan membawanya ke tempat tidur. Sedangkan Beril bukannya pulang ke rumah sesuai dengan ucapannya barusan pada Ferow. Justru pria itu berhenti di pinggir jalan dan menghubungi seseorang.


"Segera periksa dan temukan keberadaan orang ini. Ini nomor ponselnya." pintah Beril pada orang suruhannya.

__ADS_1


Panggilan pun saat itu juga segera di matikan. Beril baru bergegas menuju ke perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Sedangkan di rumah, kini Inka yang tengah berada di kamar baru bersiap menuju ke apartemen. Siang ini Gia akan berada di rumah sepanjang hari untuk mengistirahatkan tubuh lantaran kelelahan semalam.


"Gia, kenapa tidak ke kantor?" tanya Rifyal menyadari sang istri yang masih belum beranjak dari tempat tidurnya.


"Apa sih, Rif? aku lelah tau." ujarnya malas.


Rifyal yang masih bisa mencium aroma alkohol dari sang istri memilih menghentikan pertanyaannya. Wajahnya mendadak lemas mengetahui sang istri tidak pergi hari ini. Itu artinya ia tidak bisa menahan Inka sebentar di rumah menemaninya.


Segera ia bergegas membersihkan diri dengan tongkat yang terus membantunya berjalan hingga akhirnya muncul tiba-tiba pikiran Rifyal.


"Aku harus bergerak cepat. Yah, aku tidak boleh lambat." ia buru-buru membersihkan tubuh di kamar mandi dan memilih keluar kamar.


Salah satu pelayan yang datang menghampirinya, yah pelayan yang memiliki usia cukup tua dan orang kepercayaan Rifyal sejak kecil.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu dengan cepatnya setengah berbisik di depan Rifyal.


"Bi Santi, tolong segera carikan diam-diam untuk mendonorkan mata saya. Biayanya katakan pada saya. Berapa pun yang di minta akan saya berikan." patuh pelayan itu segera mengangguk dan pergi.


Mereka tak boleh terlalu lama berbicara sebab tak boleh ada yang curiga. Rifyal sendiri tidak tahu siapa pelayan yang bisa dia percaya di rumah ini. Ia pun dengan tenang menunggu waktu yang ia rencanakan akan tiba. Saat ini Rifyal yakin Gia telah merencakan semuanya dengan sebaik mungkin dan ia juga yakin jika sangat sulit mendapatkan donor mata karena ada campur tangan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2