Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Kepulangan Gia


__ADS_3

Kemarahan Gia saat itu juga meledak. Ia berdiri dan ingin menyerang sosok Inka. Wanita yang saat ini justru duduk di samping sang suami. Gia mengusap kasar air matanya dan melepaskan tangannya yang memegang pipinya sendiri. Ia melayangkan tangan menuju ke arah Inka namun saat itu juga ia melihat tangan kekar sang suami menahannya.


"Jangan pernah sentuh, Inka. Pergi kau dari sini, Gia! Pergi!!" teriak Rifyal murka.


Semua bisa melihat bagaimana wajah Gia syok melihat sang suami menatapnya dengan tatapan tajam. Itu artinya Rifyal sudah bisa melihat.


"Rif, kau tidak buta? Kau bisa melihat?" tanya Gia lirih sebab ia tidak tahu apa yang terjadi pada sang suami.


Apakah itu artinya Rifyal hanya pura-pura buta selama ini? Atau kah Rifyal mengalami sesuatu yang ia tidak tahu. Gia terbengong saat tangannya masih di udara di tahan oleh Rifyal sembari Gia menggelengkan kepala tak percaya dengan semua ini.


"Pergi dari sini, Gia! Aku tidak mau lagi melihatmu. Aku memang sudah tidak buta. Apa kau pikir aku akan diam saja dan membiarkanmu menahan semua orang yang ingin mendonorkan mata padaku?" teriak Rifyal menggema kala mengetahui apa yang sang istri lakukan selama ini di belakangnya.

__ADS_1


Gia menangis. "Tidak, Rif. Aku tidak ada maksud seperti itu. Sungguh..." belum lagi Gia selesai berkata, tiba-tiba sang tante Rifyal sudah menarik paksa peru Gia dan memutar lalu mencubitnya dengan sangat keras hingga wanita itu mengaduh kesakitan sebab perutnya yang di dalam juga ikut tercubit dengan busa yang menutupi perut ratanya.


"Kamu bahkan sudah menipu kami semua dengan perut palsu ini, Gia. Rifyal sudah sepantasnya menceraikan istri macam kamu." Semua di ruangan itu menodong Gia hingga akhirnya beberapa keluarga Rifyal menarik paksa Gia untuk keluar dari sana. Ia di usir dengan sangat tidak beradab. Memang Gia sangat pantas mendapatkan semua itu.


Kedudukan yang menjadi prioritas di dalam pikirannya sama sekali tak ia dapatkan saat ini. Justru ia harus kembali pada keluarganya untuk meminta perlindungan. Gia bukanlah siapa-siapa lagi saat ini tanpa ada nama keluarga Mahen di belakang namanya.


"Rif, sebaiknya bawa Inka masuk ke kamarnya. Suruh dia istirahat. Kita besok akan segera pulang." mendengar kata pulang senyum Inka pun terlihat. Ia sungguh ingin bertemu dengan sang ayah demi melepaskan kerinduan.


Di kamar Rifyal menemani Inka berbaring. Pria itu duduk dengan membuka pintu kamar agar sang nenek tidak memerahinya satu kamar dengan wanita yang bukan muhrimnya. Sekali pun hubungannya dengan Inka sudah jauh dari batasan yang semestinya.


Siap tidak siap ia harus segera menemui sang ayah dan menjelaskan semuanya. Inka tidak ingin sang ayah tahu dari orang lain dan membuat sang ayah justru salah paham lalu membenci dirinya. Inka tidak ingin sang ayah semakin parah dari sakitnya.

__ADS_1


Malam ini waktu yang Rifyal lewati begitu sulit, untuk pertama kalinya dari sekian lama bersama Inka ia harus tidur seorang diri. Sedankan wanita yang sudah ia ceraikan kini tampak menangis sepanjang perjalanan ke negeri asalnya. Gia pulang dengan di kawal anak buah keluarga Mahen.


Dan setelah menempuh perjalanan panjang, wanita itu pun tiba di rumahnya. Gia datang tanpa membawa barang apa pun. Ia masuk ke dalam rumah dan melihat kedua orangtuanya sudah menatapnya dengan tajam. Terutama saya ayah yang sudah duduk dengan wajah menakutkannya.


"Ayah..." Gia bersuara lirih hendak mengadukan keluhannya sembari menangis. Sayangnya pria paruh baya itu justru berdiri dengan menarik napasnya dalam.


"Masih berani kamu datang ke rumah ini setelah apa yang kamu perbuat, Gia?" pertanyaan yang penuh nada amarah terdengar bergetar saat itu.


Gia urung mengadukan niatannya, kini ia tahu jika kedua orangtuanya pasti sudah mendengar apa yang terjadi padanya dari keluarga sang suami.


"Bukan seperti itu sebenarya, Ayah. Ibu, tolong aku." Gia beralih meminta belas kasih pada ibunya.

__ADS_1


Wanita yang selama ini begitu mencintai anaknya dengan tulus tampak menggeleng tak percaya melihat Gia mereka menjad wanita yang sangat menyedihkan seperti ini. Ia tak percaya jika anak yang ia sanjung selama ini bisa melakukan hal di luar dugaannya.


"Ibu tidak percaya kamu anakku Gia. Kalian adalah dua orang yang sangat berbeda. Dimana Gia ku yang lembut? Dimana?!" Sang ibu bahkan juga berteriak membuat Gia memejamkan matanya menangis.


__ADS_2