Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Mengulang Kembali Malam Panas


__ADS_3

Di sebuah restaurant, di sinilah Inka berjanji temu dengan Gia. Keduanya sepakat untuk bertemu membahas hal yang menyangkut kehamilan. Gia tampak penasaran setelah satu bulan lebih kejadian menyakitkan itu terjadi. Inka memberikan hasil tes yang baru saja ia lakukan pagi tadi.


"Ini hasilnya, Nyonya. Setahu saya itu masih negatif." Gia tampak lemas. Ia pelan membuka hasil tes milik Inka dan benar apa yang wanita itu katakan padanya jika hasil tes masih menunjukkan garis satu yang artinya kehamilan belum terjadi.


"Kau tidak sedang menunda kehamilan kan?" selidik Gia dengan mata tajamnya. Sontak Inka menggelengkan kepala cepat. Untuk apa yang menunda kehamilan tak ada gunanya sama sekali bagi Inka.


Gia pun menyandarkan kepala pusing. "Kapan masa haidmu?" tanyanya dengan raut wajah yang sudah kesal.


"Dua hari lalu, Nyonya." jawab Inka dengan wajah polosnya.


Mendengar hal itu Gia pun memutar malas bola matanya. "Kalau sudah tahu haid kenapa harus tes segala?" kesal ia melihat Inka yang terlalu polos menurutnya.

__ADS_1


Sementara Inka pun juga malas sebenarnya berbicara dengan wanita di depannya ini kalau bukan karena perusahaan sang ayah.


"Hanya untuk membuat anda percaya saja." ujar Inka dengan tenangnya.


Lama Gia terdiam, beberapa kali wanita itu menenggak kasar minuman di depannya. Pikirannya sedang kacau. Semua ini harus segera terjadi. Gia ingin sang suami bisa segera melihat. Namun, ia tidak mungkin membiarkan Rifyal membuka mata dan melihat jika mereka belum memiliki anak. Satu-satunya jalan yang bisa membuat Gia menjalankan misi hanya menunda proses operasi sang suami.


"Oke, kita akan ulangi di masa suburmu selama satu minggu. Ingat ke rumah setiap aku menghubungi mu jangan telat." ujar Gia memperingati Inka.


Dimana jika ia sampai berhasil hamil artinya selama sembilan bulan ia akan hidup dalam pengawasan Gia. Dan itu tidak akan bisa mengembalikan kehidupannya seperti semula lagi.


Di saat perjuangan Inka yang terus menahan diri dari rasa sakit, di saat itu pula sang ayah jatuh bangun dari sakitnya. Pria paruh baya itu berulang kali masuk rumah sakit dan itu membuat Inka semakin tertekan. Ia sering menangis saat melihat wajah sayu sang ayah yang terpejam di tengah malam.

__ADS_1


"Inka mohon jangan tinggalkan Inka secepat ini, Ayah. Inka belum siap hidup seorang diri." tangisnya dalam hati ingin sekali berteriak.


Ketakutan terus saja menghantui gadis itu sepanjang malam. Hingga akhirnya waktu yang sangat mendebarkan kembali datang. Dimana Inka sudah memasuki masa subur.


Wanita itu meninggalkan rumah sakit di ganti dengan sang ibu tiri yang sudah siap membawa pakaian ganti ke ruangan Ferow.


"Ayo masuk." Gia sudah memanggil Inka yang berdiri di depan pintu rumah utamanya pada pukul sebelas malam di mana rumah itu akan sangat sunyi. Gia sudah mengatur semuanya dengan sebaik mungkin. Ia tidak ingin membuang-buang waktu dan membuat Inka kembali lagi berhubungan dengan sang suami.


Inka melangkah gugup seperti pertama kalinya ia datang untuk menyerahkan kesuciannya. "Lakukan dengan baik jika tidak semua saham ku akan aku tarik kembali." ujar Gia dengan kejamnya.


Inka tersentak kaget mendengarnya bagaimana mungkin Gia semudah itu berbicara sedangkan kesuciannya sudah tak bisa di kembalikan lagi. Sungguh Gia benar-benar wanita haus akan ambisi hingga lupa memikirkan perasaan wanita lain. Jantung Inka begitu berdebar sangat kencang kala kedua matanya menatap sosok tampan yang sempat memberikannya kenikmatan yang tak pernah ia rasakan.

__ADS_1


Tak munafik, Inka mengakui jika pria di hadapannya memang sangatlah menawan dan mempesona. Sosok Rifyal yang memiliki tubuh sempurna dengan wajah tampan di tambah dengan keperkasaannya seolah mampu menghipnotis Inka.


__ADS_2