Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Penyesalan


__ADS_3

Hari ini akhirnya keadaan Ferow sudah semakin membaik dan dokter sudah menyarankan untuk rawat jalan. Inka setuju ketika melihat sang ayah yang sangat senang untuk keluar dari sana. Merekapun akhirnya pulang ke rumah hari ini juga. Ferow senang dengan kehadiran sang anak di rumahnya saat ini. Anggun yang tak suka dengan kehadiran Inka segera bergegas menuju kamar meninggalkan mereka.


"Anggun, mau kemana kamu?" tanya Inka ketika melihat saudara tirinya justru melangkah menuju kamarnya. Anggun berhenti sejenak, ia menoleh menatap Inka.


"Ke kamar, ada apa? Mau nitip sesuatu?" tanya Anggun seolah tengah mengejek Inka. Mendengar hal itu Inka tampak mengernyitkan kening heran.


Kini di ruangan tengah itu hanya ada Inka, Kasih dan juga Anggun. Sementara Ferow sudah Inka bawa masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Kasih melihat bagaimana kedua anak gadis itu saling bertatapan hanya acuh. Itu hanyalah perkara anak gadis saja pikirnya.


Merasa ada yang tidak beres dengan ucapan Anggun, buru-buru Inka segera masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka pintu kamar dengan wajah marahnya, di belakang Anggun melenggang santai melihat reaksi Inka yang kaget.


"Siapa yang melakukan ini?" Inka membalik tubuh menghadap Anggun.


Dengan santainya Anggun melangkah melewati dirinya dan masuk ke dalam kamar. "Ini kamarku saat ini dan selamanya. Kau bukankah sudah memutuskan untuk pergi dari sini?  yang artinya akulah pemilik semuanya."


"Tidak, ini adalah kamarku. Dan di mana semua barang-barangku? Foto ibuku?" Inka marah sekali ia menggeledah setiap kamar itu mencari barangnya yang satu pun tidak terlihat di sana.

__ADS_1


Tak mendapati apa pun di kamar itu, Inka berlari keluar kamar. Ia memasuki setiap kamar yang berada di rumah itu sayang tak ada juga terlihat barang yang ia cari. Satu foto yang terpajang di ruang tamu dengan wajahnya dan sang ibu juga sudak tak ada.


"Bu, dimana foto-foto di rumah ini? Mengapa kalian menurunkan foto kami? Ini rumah kami." Inka kini justru menghadap pada Kasih yang tengah asih menonton televisi.


Bukannya menjawab pertanyaan Inka, Kasih justru memanggil pelayan. "Bibi!" teriaknya.


Inka kembali di buat kaget melihat wanita yang bekerja sebagai pelayan di rumahnya adalah orang yang berbeda. Sungguh semua di luar dugaan.


"Mari Non, saya tunjukkan tempatnya." Pelayan itu mengajak Inka pergi dari sana tanpa di beri tahu oleh Kasih ia sudah tahu tugasnya untuk menunjukkan pada Inka dimana barang miliknya.


"Maafkan Inka, Bu. Maafkan Inka. Inka tidak bermaksud membuang foto-foto ibu." ia terisak hingga kembali melihat foto besar sang ibu dan ayah yang biasa di letakkan di dalam kamar utama sang ayah. Foto pernikahan yang menurut Inka begitu bahagia ketika memandang senyum kedua orangtuanya yang saling berpelukan penuh cinta.


"Kemana Bi ayu?" tanya Inka baru bertanya pada sang pelayan  ketika mereka berada di gudang berdua.


Pelayan itu hanya menggeleng menundukkan kepala. "Maaf, Non. Saya baru datang dan kerja di sini. Saya tidak tahu siapa itu." jawabnya jujur.

__ADS_1


Inka tak habis pikir dengan semua perubahan di rumah ini setelah kepergiannya. Bahkan pelayan yang sudah mengabdi dengan keluarganya begitu lama pun ikut menjadi korban dari sang ibu tiri.


"Bi, tolong ini simpuni semua dan saya akan bawa ke apartemen. Letakkan di depan rumah saja." pintah Inka yang langsung di sanggupi oleh pelayan itu.


Selepas mengemasi barang bersama pelayan Inka menuju kamar tamu. Ia tak ingin berdebat dengan Anggun. Biarlah kamar yang penuh kenangan itu di pakai oleh Anggun. Inka memilih untuk tidak mementingkan barang. Saat ini yang terpenting adalah kesembuhan ayah.


Setiap hari Inka terus mengurus sang ayah, di pagi hari ia akan menyeka tubuh ayahnya dan memberikan makan serta obat dari dokter.


Tak ada rasa keberatan sedikit pun bagi Inka, ia benar-benar berharap sang ayah akan segera sembuh. Melihat ketulusan sang anak, Ferow sangat sedih. Ia memegang pipi sang anak dan mengusapnya lembut.


"Maafkan Ayah, Inka. Maafkan Ayah yang jahat padamu." tuturnya dengan suara bergetar. Inka menggeleng pelan menolak ucapan sang ayah.


"Ayah tidak salah apa pun. Inka yang keras kepala tidak mendengar ucapan ayah." ujarnya lagi.


Ferow semakin merasa bersalah dengan sang anak terlebih pada mendiang istrinya. Selama sakit ia terus merutuki kesalahannya yang justru memilih dengan Kasih. Saat sakit bahkan Anggun tak pernah sekali pun datang ke kamar untuk menjenguk dirinya. Kini Ferow sadar jika seorang anaklah yang akan selalu ada untuk ayahnya ketika sedang terjatuh seperti ini. Bagaimana bisa ia lebih mendengarkan ucapan sang istri siri untuk membiarkan Inka berada di luar rumah dalam waktu yang lama.

__ADS_1


__ADS_2