Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Kehancuran Inka


__ADS_3

Di rumah Ferow kini nampak mencemaskan sang anak yang tak kunjung pulang. Waktu sudah menunjuk pada angka setengah sepuluh malam. Kepulangan Inka memang sedikit lama sebab jalanan tengah begitu macet. Di ruang tamu pria itu duduk bersama dengan Kasih yang menikmati sinetron. Tak ada perbincangan sama sekali di antara mereka. Sementara Anggun jangan di tanya. Setelah selesai makan malam gadis itu sudah menuju kamar untuk istirahat.  Ia sangat suka bersantai di kamarnya. Seolah semua bebannya telah hilang berkat jasa Inka yang rela memberikan tubuhnya pada suami orang.


"Haha berjuang saja untuk perusahaan yang akan segera menjadi milikku." ujarnya terkekeh.


Di luar akhirnya Inka pun tiba dengan sebuah taksi yang mengantarkannya sampai di rumah. Tubuhnya begitu lemas namun Inka berusaha kuat agar tidak membuat curiga sang ayah. Jelas ia tahu jika ayahnya saat ini pasti menunggu kepulangannya.


"Ayah," sapanya dengan wajah yang di buat tersenyum meski ada sakit di tubuhnya yang saat ini berusaha ia tahan sekuat mungkin.


"Inka? Kamu dari mana saja? ayah begitu mencemaskanmu, Nak?" Seolah ingin jatuh saja air mata Inka mendengar perhatian sang ayah yang sangat ia rindukan ini.


Mengapa harus ada orang baru di hidup mereka? Inka sangat ingin hidup berdua saja dengan sang ayah tanpa adanya perselisihan yang di sebabkan Anggun dan sang ibu. Buru-buru Inka mengalihkan perhatiannya. Ia mendekati sang ayah dan mencium punggung tangannya.


"Inka ada tawaran kerja, Ayah. Karena Ayah sudah mulai membaik maka Inka akan memikirkan kembali tawaran Pak Beril." ujarnya dengan wajah tersenyum hangat.

__ADS_1


Mendengar sang anak hendak bekerja kembali entah mengapa ada rasa senang dan sedih yang ia rasakan bersamaan. Di satu sisi Ferow sangat senang jika sang anak meneruskan karirnya lagi. Namun, di sisi lain ia justru sedih sebab akan sulit bertemu sang anak kembali. Inka pasti akan jarang mengurusnya karena sibuk bekerja.


"Ayah tidak usah khawatir. Ibu akan merawat Ayah dengan baik." Kasih justru kini mendekati sang suami. Ia tidak ingin pria tua ini justru menghalangi aktifitas Inka untuk memberikan anak pada Gia.


Mendengar itu Ferow hanya bisa mengangguk senang. Kemudian Inka mengantar sang ayah masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Kasih.


Inka memijat kaki sang ayah, memberikan obat lalu ia menunggu sang ayah tidur kemudian meninggalkan kamar menuju kamarnya. Di sinilah baru ia melampiaskan kesedihannya. Inka menangis menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tak ada yang tahu di malam yang dingin ini Inka begitu sakit membayangkan hidupnya sudah hancur. Namun, ketika ketakutan itu menguasai dirinya Inka mengingat bagaimana wajah sang ayah yang tersenyum hangat padanya saat ini. Jujur ia tak akan sanggup jika harus kehilangan senyum itu untuk selama-lamanya. Semua yang ia lakukan demi menjaga kesehatan sang ayah.


Berbeda halnya dengan keadaan di kediaman Gia dan Rifyal. Sepasang suami istri yang berbaring di atas kasur tampak memiliki perasaan yang berbeda juga. Gia yang gelisah sekali sementara Rifyal tengah mendengkur halus dalam tidurnya. Ia benar-benar merasa lelah usai berperang panas dengan Inka.


"Wajahmu yang begitu puas menikmati tubuh itu benar-benar membuat hatiku hancur, Rif. Betapa kamu tidak tahu jika aku sangat mencintaimu. Apa tidak bisa kamu merasakan jika itu bukanlah aku? Aku benar-benar sakit." Gia bangkit dari tidurnya namun saat hendak melangkah tangannya di pegang  oleh Rifyal seketika.


"Gia," ujarnya memanggil.

__ADS_1


Entah bagaimana bisa tangan pria buta itu bisa tepat menggenggam tangan sang istri. "Em Rif, kamu belum tidur?" tanya Gia dengan wajah kaget.


Bukannya menjawab, Rifyal justru menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan. Ia mengeratkan pelukan di tubuh Gia dengan memejamkan mata kembali.


"Aku pasti tidak akan bisa tidur kalau kamu jauh dari aku. Mengapa ini ada basah? Kamu menangis?" tangan Rifyal tak sengaja mengusap wajah cantik Gia hingga ia terkejut mendapati bawah mata sang istri ternyata basah dan sudah bisa di pastikan itu adalah air mata.


Gia hanya bisa menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya menangis karena takut kau tinggalkan. Kita belum bisa memiliki anak sampai saat ini, Rif." ujarnya seolah berusaha meluapkan isi hatinya selama ini yang ia pendam seorang diri.


Rifyal menggeleng juga mendengar penuturan sang istri.


"Jangan bicara seperti itu, Sayang. Apa pun yang terjadi tidak akan ada kata meninggalkan untuk kita. Kita akan tetap bersama sampai kapan pun. Sekarang tidurlah besok kau akan kerja lagi. Semangat yah tulang punggungku selama aku buta." Gia terkekeh mendengar ejekan sang suami.


"Aku bukan tulang punggungmu. Kan itu perusahaan milikmu. Aku hanya sebatas membantu mengelola saja." jawab Gia benar adanya.

__ADS_1


Malam itu mereka pun tidur saling berpelukan. Sedangkan di sini Inka justru sepanjang malam tak bisa tidur. Meski pun tubuhnya ia baringkan di atas kasur, tetap saja kedua matanya tak bisa terpejam. Bayangan adegan demi adegan terus saja berputar di kepalanya. Bahkan wajah tampan Rifyal yang menikmati tubuhnya dan air mata Gia yang berjatuhan seolah membuat kepala Inka ingin pecah saat itu juga.


"Tidak. Aku sudah sangat berdosa. Ibu maafkan Inka, Bu. Ini semua demi ayah. Inka tak ada niat melakukan hal buruk ini, Bu." ujarnya memohon ampun pada sang ibu.


__ADS_2