Di Gadai Ibu Tiri

Di Gadai Ibu Tiri
Obat Dewasa


__ADS_3

Setengah gugup Inka memasuki kamar itu, suasana yang berbeda dari biasa ia rasakan. Jika biasa ia hanya takut ketahuan, saat ini ia sangat takut jika mendapat amukan dari pria di depannya. Di depan sana Inka melihat Rifyal yang masih memejamkan mata dengan selimut menutup tubuhnya sebatas dada.


Pelan sekali Inka menutup pintu kamar dan terdengar Gia yang sudah melajukan mobil keluar gerbang.


“Ada untungnya juga jika dia di beri obat tidur. Setidaknya aku bisa tenang menunggu Nyonya Gia datang.” ujar Inka dalam hatinya.


Ia pun merasa bosan jika duduk saja, Inka merebahkan tubuh di samping Rifyal. Memainkan ponsel dan melihat kontak Beril sang kekasih. Beberapa pesan pria itu kirim padanya.


“Inka, kamu dimana? Aku bertemu ayah dan katanya kamu sudah bekerja?” Satu pesan pertama Inka baca.


“Inka, aku datang untuk membicarakan hal serius. Aku ingin melamar kamu. Kapan kamu pulang?” Pesan kedua yang membuat Inka melongo tak percaya.


“Besok aku harus ke luar negeri lagi untuk kerjaan. Segera hubungi aku dan berikan jawaban padaku. Setelah pulang dari luar negeri aku akan datang lagi pada ayahmu.” Itulah pesan ketiga yang sukses membuat Inka menjatuhkan air matanya.


Mantan gadis itu tertunduk sedih. Mengapa Beril datang membawa keseriusan di saat seperti ini?


“Dia mau menikahimu? Itu tidak akan pernah terjadi Inka. Kau adalah milikku!” Seketika tubuh Inka terlonjak kaget mendengar suara yang tiba-tiba menggema di atas pundaknya.


“Tuan?” Inka menoleh hampir saja mendaratkan wajahnya pada wajah tampan Rifyal

__ADS_1


Entah sejak kapan pria itu bangun dan ikut membaca isi pesan Inka yang berasal dari Beril. Yang jelas pria itu menolak keras permintaan Beril pada Inka.


Tidak. Inka salah. Bukankah Rifyal tak bisa melihat? Lalu bagaimana pria itu bisa membaca apa yang ia baca barusan? Inka melambaikan tangan kembali di depan mata pria itu. Benar, Rifyal tak menunjukkan reaksi apa pun pada matanya.


“Apa pun yang masuk ke ponselmu aku akan mengetahuinya.” sahut Rifyal membuat Inka syok.


“Anda…anda tidak tidur?” Terbata Inka bertanya.


Sebab setahunya Rifyal di beri obat tidur oleh Gia. Namun, pria itu justru menggelengkan kepala.


“Tuan, apakah itu artinya anda bisa melihat?” tanya Inka berusaha memastikan keadaan.


“Aku tidak bisa melihat dengan mataku. Bukan berarti aku tidak bisa tahu apa yang terjadi di sekelilingku, Inka. Siapa pun yang menghubungimu aku akan tahu dengan mudah. Apa yang Gia lakukan di luar sana aku akan tahu dengan mudah.”


Rifyal yang menunjuk obat di genggamannya membuat Inka kaget.


Kini Inka tahu jika rencana Gia ternyata sudah tercium oleh sang suami.


“Aku menukar dengan obat penambah tenaga.” Glek. Inka susah payah meneguk salivahnya mendengar kata penambah tenaga.

__ADS_1


Apa itu artinya sama dengan dugaan Inka. Apa Rifyal meminum obat dewasa? Pelan Inka menggeleng.


“Tu-tuan…” hilang sudah suara itu dalam sekejap bersamaan dengan tubuh kekar Rifyal yang mengungkung tubuhnya.


Rifyal membuat Inka kembali berolah raga panas malam ini. Entah mengapa sakit yang pria itu rasakan saat mengetahui Gia berkhianat justru membuat Rifyal menjadi penikmat suasana ini. Ia sangat suka dengan waktu yang ia dapatkan dengan Inka.


Bahkan tanpa sadar pria itu terus menunggu waktu untuk melihat Inka masuk ke kamar menemuinya.


“I miss you…” lirih Rifyal berucap.


Inka hanya bisa bersuara dengan lenguhan manja merasakan sensasi yang luar biasa. Keduanya larut dalam hubungan terlarang namun di izinkan oleh sang istri. Entah apa yang terjadi pada hubungan Rifyal dan Gia.


Hanya perkara keturunan, Gia lalai menjaga keutuhan pernikahannya. Ia benar-benar haus akan ambisi menjadi Nyonya Mahen. Tak perduli kemana hati sang suami saat ini berlabuh. Sebab ia sendiri juga turut menikmati permainan ini.


“Wah gila…makin maju aja jadwal seneng-seneng lu, Gia. Dimana suami? Di kurung?” Salah satu teman wanita Gia terkekeh melihat Gia yang sudah datang ke restauran dengan penampilan abg nya. Jika biasa ia selalu berpakaian formal demi menjaga martabat keluarga sang suami, tidak kali ini.


Sebuah blouse terbuka dengan tali spageti ia kenakan serta rok span yang minim begitu menampakkan sisi indah tubuh tingginya. Gia memang seorang wanita yang cantik, namun sayang kecantikan itu berbanding terbalik dengan sikapnya saat ini.


“Di rumah lah. Laki gue masih dalam pemulihan untuk persiapan operasi. Kan gue lagi ngidam.” ujar Gia berbohong.

__ADS_1


Bagaimana pun ia tidak ingin satu orang pun tahu rahasia besarnya.


__ADS_2