
Dari pagi hingga siang tamu yang tak di undang nampaknya masih betah berada di apartemen milik Inka. Bukan bermaksud ingin mengusir, hanya saja Inka takut jika Beril kembali datang ke apartemennya. Kini ia berdiri menatap Rifyal yang duduk bersandar di sofa tanpa melakukan apa pun, pria itu hanya diam menggenggam kepala tongkatnya.
“Em…Tuan, apa anda tidak pulang ke rumah?” Ragu namun Inka berusaha berani untuk bertanya.
“Apakah selama di rumah aku pernah mengusirmu?” Bukan menjawab, Rifyal justru bertanya balik.
Inka terdiam tanpa bisa bersuara lagi. Bibirnya bawah ia gigit kecil. Saat itu juga Rifyal sudah berdiri dan Inka mendekat untuk membantunya bergerak berpikir pria ini akan pulang. Inka menghela napas lega.
“Aku ingin tidur di kamarmu. Bawa aku masuk.”
Kedua mata Inka membulat sempurna mendengar penuturan Rifyal. Ia tak bisa menolak selain mengikuti perintah pria itu untuk menuju ke kamarnya.
Inka mendudukkan tubuh Rifyal di atas kasur sedangkan dirinya hanya berdiri menatap pria buta itu.
Tanpa aba-aba suara teriakan Inka menggema di kamar itu.
“Aaaa,” seketika suara itu pun hilang tanpa jejak.
Yah, Rifyal menarik cepat tubuhnya hingga Inka yang memegang tangan pria itu rebah di atas tubuh Rifyal. Inka menindih tubuh suami orang.
Dinginnya ruangan itu nyatanya membuat gairah Rifyal memuncak kembali. Segera ia mengeratkan pelukan dan mendaratkan bibirnya pada bibir Inka. Keduanya saling memagut tanp kenal lelah. Hingga pertempuran panas kembali terjadi.
Rifyal tak perduli dengan keadaan sang istri yang saat ini tengah kerepotan dengan para keluarga sang suami yang ingin sekali memegang perut buncit buatan itu.
“Gia, coba kami rasa perut buncitmu itu. Pasti menggemaskan sekali.” sang ibu mertua nampak antusias.
__ADS_1
“Bu, tolong jangan di pegang. Saya mual.” sahut Gia beralasan.
Saat mendengar ucapan Gia, wanita paruh baya itu menatap dalam.
“Ini sudah bukan usia muda lagi, Gia. Apa kau masih mual? Seperti hamil bohongan saja.” Gia mendelik syok mendengar ucapan sang mertua yang ia rasa seperti kata sesungguhnya.
Sekuat mungkin Gia berusaha tenang meski dalam hatinya sungguh gelisah saat ini.
“Haduh tahu begini benar kata Rifyal. Seharusnya aku tidak pergi saja. Mereka benar-benar menjengkelkan. Huh…kalau di sana aku hanya bekerja dan bersenang-senang malam harinya. Bukan sibuk menghadapi mereka seperti ini.” gumam Gia yang menyesali menolak perintah sang suami.
Kini ia akan di buat repot hingga beberapa hari ke depan. Dan jangan harap Gia akan tidur dengan nyaman.
Selama perjalanan mereka tak hentinya mengganggu Gia. Hingga akhirnya perjalanan pun berakhir dengan sangat melelahkan. Semua berjalan menuju sebuah rumah yang asing menurut Gia.
“Ada apa, Gia? Ayo masuk.” ajak sang mertua yang melihat menantunya berdiri mematung di halaman depan.
“Ayah, Ibu, ini rumah siapa? Kita tidak tinggal di sinikan?” tanya Gia yang melihat rumah berukuran tidak begitu besar sedangkan mereka datang dengan bangak anggota keluarga.
Ini adalah momen langka bagi keluarga Mahen. Jika biasanya hanya keluarga inti saja pergi perjalanan bisnis, tidak kali ini. Sangat banyak hanya Rifyal saja yang tidak ada.
“Kamu wanita yang cerdas bukan? Tentu saja kita akan tinggal di sini. Lihat, danau di sana akan sangat cocok untuk kita berlibur bersama keluarga besar.” Mendengar itu Gia meneguk kasar salivahnya.
Entah ada berapa kamar di rumah itu. Dan Gia sudah ingin menangis meminta pulang. Penyesalan tinggallah penyesalan.
Semua pun masuk ke dalam rumah begitu pula dengan Gia. Ia memasuki rumah dan mencari kamar.
__ADS_1
“Gia, ayo itu kamar kita yah? Tante sudah pilihkan kamar untuk kita habisnya kamu lambat masuk. Itu kamar yang paling lengkap seperti kamar utama. Biar ponakan tante betah di sini.”
“A-pa? Kamar kita?” Gia tergagap mendengarnya. Matanya membulat besar. Itu artinya ia akan tidur berdua? Tuhan…Gia ingin berteriak sekencang mungkin saat ini. Hatinya menjerit ingin menangis.
Bagaimana dengan tidurnya? Bagaimana dengan kenyamanannya? Bagaimana dengan perut Gia ketika mandi? Semua memenuhi isi kepala Gia.
Di sini ia di buat syok berkali-kali. Berbeda halnya dengan keadaan di apartemen. Inka terlelap dengan nyaman di pelukan suami orang. Hubungan keduanya yang terlalu jauh tak lagi bisa di hentikan.
Rifyal sudah nyaman dengan hubungan ini hingga ia memutuskan untuk menikahi Inka setelah bayi mereka lahir dan ia bisa menyelesaikan masalah dengan sang istri.
Rifyal yang terlelap hingga malam hari, membuat Inka tak bisa bergerak saat ini. Keduanya menempel bak prangko.
Satu malam terlewatkan dengan senang bagi Inka dan Rifyal. Di pagi hari mereka menghabiskan waktu untuk mandi bersama. Inka membersihkan tubuh suami orang dengan teliti.
“Apa setelah kita menikah, kau akan tetap melayaniku seperti ini?” tiba-tiba saja Rifyal bertanya hal itu.
Inka menghilangkan senyum di wajahnya seketika. Menikah? Apakah itu hal yang nyata baginya? Inka tak ingin berandai terlalu tinggi.
“Tuan, jangan memberikan harapan yang tak mungkin bisa saya gapai.” ujar Inka bukannya menjawab pertanyaan Rifyal.
“Aku akan menikahimu. Itu janjiku, Inka. Kita akan hidup bahagia bersama anak kita,” tutur Rifyal.
Pelan tangan pria itu pun mengusap tubuh polos Inka dengan sabun. Ia ikut membersihkan tubuh Inka dengan tangannya.
Lembut Rifyal mengusap perut yang kini sudah membuncit. Rasanya bahagia menanti detik-detik menjadi seorang ayah.
__ADS_1