Dia Bahagia

Dia Bahagia
Bab 10


__ADS_3

"Hah?! Itukan ..." Rey dan Bimo.


Rey dan Bimo pun saling menatap.


"Samperin Rey!" ucap Bimo menarik tangan Rey.


"Ayo!" ucap Rey.


Saat Rey dan Bimo akan menghampiri Rizka, tetapi langkah mereka pun terhenti.


"Rey, Bimo ..." ucap pak Andy.


Rey pun berhenti berjalan. Lalu melihat ke arah pak Andy yang memanggilnya.


"Iya, Pak?" ucap Rey.


"Kalian berdua bisa ikut Bapak sebentar?" ucap pak Andy.


"Bisa Pak" ucap Rey.


"Gak bisa Pak" ucap Bimo.


Rey pun melihat ke arah Bimo.


"Ayo dong ikut gue" ucap Rey menatap Bimo.


"Heh ... lo gimana sih kitakan mau samperin Rizka," bisik Bimo.


"Gampang itu ... ayo ah, ikut gue!" ucap Rey.


"Bisa?" ucap pak Andy.


Rey dan Bimo pun mengangguk. Lalu berjalan mengikuti pak Andy.


"Permisi Bu," ucap Qila.


"Masuk Qila," ucap bu Yati.


Qila pun duduk di salah satu kursi yang menghadap ke arah bu Yati duduk.


"Sebentar ya, Ibu keluar dulu," ucap bu Yati.


"Iya Bu," ucap Qila.


Qila pun menunggu sambil memainkan ponselnya.


"Ehh ada Qila tuh ..." ucap Bimo.


"Sutttt ..." ucap Rey pada Bimo.


"Sebentar ya," ucap pa Andy.


Pak Andy pun berjalan keluar ruangan.


"Iya Pak," ucap Rey dan Bimo.


Rey pun menghampiri Qila dari belakang dengan berjalan sangat pelan. Lalu Rey pun menutup kedua mata Qila dari belakang. Sehingga Qila pun terkejut.


"Eh ... siapa ini?" ucap Qila sambil meraba tangan yang menutup matanya.


"Siapa sih? Gak usak jahil deh," ucap Qila.


"Tunggu ... wanginya kok kenal ya, wangi siapa sih?" gumam Qila.


"Ohh ... ini wangi Rey," gumam Rey tersenyum.


"Rey lepasin atau aku teriak nih. Biar guru pada nyamperin," ucap Qila.


Rey pun melepaskan tangannya. Terlihat raut wajah Rey yang kecewa.


"Kenapa Qila tau sih?" ucap Rey.


"Hahaha kenapa itu mulutnya cemberut kek gitu?" ucap Qila sambil tertawa menatap Rey.


"Aku tau Rey kalo itu kamu. Dari wanginya aja aku hafal," ucap Qila sambil tersenyum.


"Kalian sedang apa di sini?" ucap bu Yati.


Rey dan Bimo pun terkejut.


"Ini Bu, temenin Rey sama Qila" ucap Bimo.


"Husshh ... apaansih lo!" bisik Rey.


"Ini Bu disuruh pak Andy" ucap Rey.


"Ya kalo begitu meja pak Andy. Ada di sebelah sana," ucap bu Yati.


"Baik Bu," ucap Rey dan Bimo.


Rey dan Bimo pun berjalan ke meja pak Andy.


"Qila apakah kamu siap untuk bernyanyi nanti?" ucap bu Yati.


"I-iya Bu saya siap," ucap Qila.


"Oke, kalo kamu siap. Ibu tidak mau kalo kamu terpaksa karena pilihan teman-teman yang lainnya. Jadi, kalo kamu mau ibu gak akan mencari yang lain ibu minta sama kamu. Berlatih sungguh-sungguh dan jangan mengecewakan sekolah ya Qila," ucap bu Yati.


"Baik Bu," ucap Qila.


"Kalo begitu silahkan kembali ke kelas. Jangan lupa pulang sekolah langsung ke ruang musik ya," ucap bu Yati.


"Iya, Bu terima kasih. Saya permisi ke kelas," ucap Qila.


******


"Akhirnya Pah, selesai juga," ucap mamah.


"Iya Mah, Papah kira akan selesai besok," ucap papah.


"Lokasinya kirim ke Qila Pah, biar Qila tau pulangnya," ucap mamah.


Papah pun mengangguk.


"Rumah ini terlihat sederhana. Beda dengan rumah yang dulu, tapi aku akan tetap bersyukur. Semoga Qila pun mengerti" gumam mamah.


"Rey, Bimo tolong bagikan surat undangan orang tua ini. Kepada semua teman sekelas kamu ya," ucap pak Andy.


"Baik Pak, kalo begitu saya permisi ke kelas," ucap Rey dan Bimo.


Qila pun berjalan menuju taman dengan rasa yang bingung.


"Kenapa tadi aku begitu yakin kalo aku bisa bernyanyi nanti. Jelas-jelas suara aku dibantu oleh Hitam bukan karena suara aku yang asli. Kalo nanti di saat aku bernyanyi Hitam gak ada bisa kacau semuanya. Aduh aku bingung ..." gumam Qila.

__ADS_1


Lalu Qila pun duduk di kursi sambil melamun. Memikirkan soal bernyanyi.


"Qila ..." ucap Rey.


"Hei ... kok ngelamun sendirian?" ucap Rey.


Rey pun menepuk pelan pipi Qila.


"Ehh ... Rey," ucap Qila.


"Kamu kenapa Qila?" ucap Rey.


Qila pun menatap Rey dengan wajah cemberut, tetapi Qila bingung bagaimana cerita pada Reynya.


"Ayo, sini cerita kenapa?" ucap Rey.


"Oh ya, ini surat dari sekolah," ucap Rey sambil memberikan surat pada Qila.


Qila pun menerima suratnya. Lalu menyimpannya di saku.


"Aku bingung Rey. Apa aku bisa membanggakan sekolah ini dengan suara aku nanti?" ucap Qila.


"Qila dengerin ya, kalo Qila bersungguh-sungguh berlatih demi sekolah ini aku rasa pasti Qila bisa. Jangan mengucapkan tidak bisa sebelum dicoba Rey yakin karena suara Qila sangat merdu," ucap Rey sambil tersenyum.


"Gimana aku bilangnya ya? Pasti Rey tidak percaya kalo suara merdu saat itu. Bukan dari suara aku sendiri," gumam Qila.


Rey pun memegang kedua pipi Qila. Lalu Qila pun menatap Rey.


"Rey yakin Qila bisa dan Qila harus yakin Qila bisa. Dengan belajar, dengan berusaha pasti hasilnya luar biasa. Ayo semangat!" ucap Rey tersenyum.


Qila pun mengangguk lalu tersenyum.


"Nah gitu ... cantiknya kelihatan kalo senyum," ucap Rey.


"Semoga hadirnya Rey tidak sementara. Karena sampai sekarang aku bisa merasakan hadirnya Rey sangat berarti. Mampu membuatku kembali bersemangat," gumam Qila


"Kring ... kring ... kring ...."


"Qila ayo ke kelas," ucap Rey.


"Sebentar Rey ..." ucap Qila.


"Kring ...."


"Yahh, loncengnya jatuh," ucap Qila.


Qila pun langsung mengambil lonceng tersebut.


"Itu lonceng apaan?" ucap Rey.


"I-ini cuma hiasan kok. Nenek aku yang kasih jadi, aku gak mau kalo lonceng ini hilang," ucap Qila.


Rey pun tersenyum sambil mengelus kepala Qila. Mereka pun kembali ke kelas.


******


"Ada apasih sayang?" ucap Fery.


"Aku lagi belajar loh cepetan," ucap Fery.


"Santai aja kali. Aku minta putus!" ucap Angelina.


"Apa? Putus?" ucap Fery.


"Akukan belum kerja sayang," ucap Fery.


"Ngapain manggil sayang. Udah ya, kita putus!" ucap Angelina.


"Jangan dong aku gak mau. Aku sayang sama kamu tega banget sih," ucap Fery.


Fery pun menarik tangan Angelina.


"Lepasin!!! Udah ya, aku gak mau sama kamu lagi," ucap Angelina sambil berjalan.


Angelina pun pergi meninggalkan Fery. Fery pun terdiam dengan wajah yang kesal terhadap Agelina.


"Arghhhhhh!!!!!" ucap Fery.


"Dasar cewe matre!" ucap Fery.


"Lihat aja nanti," ucap Fery.


******


"Seneng banget rasanya kalo Rey udah usap kepala aku. Aaaaaaa! Baper banget andaikan aja aku bisa lebih dari teman sama Rey. Aku sayang banget," gumam Qila tersenyum.


"Qila, paham gak sih? Aku pusing gimana ini?" ucap Hanna.


Hanna pun terus fokus mengerjakan soal. Berusaha menemukan jawabannya.


"Qila, ini gimana?" ucap Hanna.


"Qila!" ucap Hanna.


Hanna pun melihat ke arah Qila. Ternyata Qila sedang melamun dan tersenyum sendiri.


"Hhmm ... pantesan ditanya gak jawab," ucap Hanna.


"Plakk!"


Hanna pun menampar pelan pipi Qila.


"Akhh! Sakit Hanna," ucap Qila menatap tajam ke arah Hanna.


"Gak akan sadar kalo cuma dipanggil," ucap Hanna.


"Loh? Udah dikasih soal?" ucap Qila sambil menatap Hanna.


"Ya tuhan sadarkanlah sahabat hamba. Hamba sangat menyayanginya jangan kutuk dia jadi gila," ucap Hanna sambil mengangkat kedua tangannya.


"Apaansih?" ucap Qila.


"Qila lo sadar gak? Semenjak dekat sama Rey jadi gila sumpah," ucap Hanna.


"Udah ah ... aku mau jawab soalnya," ucap Qila.


Hanna pun hanya menggelengkan kepalanya.


"Kring ... kring ... kring ...."


Seluruh murid pun keluar dari kelas lalu pulang. Setelah membereskan alat tulis Qila pun berjalan menghampiri Rey.


"Rey," ucap Qila sambil menghampiri ke meja Rey.

__ADS_1


"Iya Qila?" ucap Rey menatap Qila.


"Rey benar mau nungguin aku?" ucap Qila.


"Iya, lagian Rey juga ekskul kok, lokasinya udah ada?" ucap Rey.


"Udah Rey baru dikirim sama papah. Aku juga udah bilang kalo aku pulang sama Rey," ucap Qila.


"Qila pulang sama Rey?" ucap Hanna.


Qila pun mengangguk.


"Ya udah aku pulang duluan ya, hati-hati Qila daahh ..." ucap Hanna.


"Rey jagain Qila gue ya, jangan sampai kenapa-kenapa sedikit pun. Apalagi kalo lo yang nyakitinnya. Gue putusin kepala lo ... bayy semua," ucap Hanna sambil berjalan keluar kelas.


"Psikopat emang tuh anak. Gak takut lo Qila?" ucap Bimo.


"Ya, enggalah Bimo ..." ucap Qila.


"Ya udah ayo. Telat nanti ..." ucap Rey.


Qila pun berjalan menuju ruang musik, sedangkan Rey dan Bimo berjalan menuju lapangan basket.


"Aku panggil dulu Hitam," ucap Qila.


Qila pun mengeluarkan loncengnya lalu menggerakannya.


"Kring ... kring ... kring ...."


"Qila panggil aku?" ucap si Hitam.


"Wah, senang banget. Oke tunggu Qila," ucap Hitam.


"Tring ...."


"Meoww ...."


"Nah ayo, bantuin Qila ikut Qila ke ruang musik," ucap Qila sambil berjalan.


Hitam pun berjalan di sebelah kanan kaki Qila. Setelah beberapa menit Qila sampai di ruangan musik.


"Hai Qila!" ucap Anggun sambil melambaikan tangannya.


"Hai ..." ucap Qila tersenyum.


Lalu Qila pun duduk di salah satu kursi.


"Sudah kumpul semua?" ucap bu Yati.


"Sudah, Bu" ucap semua murid.


"Khusus Qila berlatih dengan ibu. Yang lainnya berlatih paduan suara dipimpin oleh Anggun ya," ucap bu Yati.


Ekskul hari ini berjalan dengan lancar suara Qila pun keluar dengan sangat merdu, tetapi tetap saja Qila merasa tidak enak. Sebab merdunya suara Qila karena dibantu oleh Hitam.


Beberapa menit pun ekskul hari ini telah selesai. Qila dan Rey pun pulang bersama.


Qila menemui Rey di depan gerbang. Terlihat Rey yang sedang berdiri menunggu Qila. Qila pun segera menghampiri.


"Dorrrr!" Menepuk pundak Rey.


"Astaga! Gak kaget ..." ucap Rey tersenyum.


"Ihh ... Rey kok gitu sih," ucap Qila cemberut.


Rey pun mengusap kepala Qila.


"Qila coba lihat lokasinya," ucap Rey.


Qila pun menberikan ponselnya. Lalu Rey menatap ponselnya.


"Dekat sama rumah aku Qila lokasinya," ucap Rey tersenyum.


"Wihh ... bagus tuh bisa main sama Rey hehe," ucap Qila tersenyum.


"Ya udah ayo naik," ucap Rey.


Qila pun segera menaiki motor dan mereka pun segera menuju ke lokasi. Tetapi Rey tiba-tiba berhenti.


"Udah sampai?" ucap Qila.


"Kita makan dulu ya, pasti Qila laperkan? Apalagi tadi Qila gak istirahat," ucap Rey.


"Engga ah Rey uang aku habis. Tadi ke sekolah aku cuma bawa uang sisa kemarin," ucap Qila.


"Udah Rey yang bayar ayo turun," ucap Rey


Qila pun turun lalu mengikuti Rey. Mereka pun duduk di salah satu kursi.


"Qila mau apa?" ucap Rey.


"Gimana Rey aja. Samain juga gak apa-apa kok," ucap Qila.


Rey pun segera memesan makanannya. Setelah memesan makanannya Rey pun duduk kembali sambil menatap Qila.


"Qila," ucap Rey.


"Iya?" Qila pun menatap Rey.


Rey pun menggenggam tangan Qila sambil menatapanya.


"Qila, Rey suka sama Qila semenjak Qila hadir ke dalam kehidupan Rey. Hari ini Rey mau bilang Rey sayang sama Qila. Qila maukan jadi pacar Rey?" ucap Rey.


Qila pun tersenyum dengan pipi memerah. Qila tak menyangka Rey akan mengatakan cintanya hari ini. Qila merasakan sangat bahagia, bahagia yang tak pernah Qila rasakan sebelumnya.


"*Deg-deg-deg."


Jantung Qila pun berdetak kencang*.


"R-Rey, a-aku ma ..." ucap Qila.


"Permisi, ini makanannya," ucap pelayan.


"Iya, makasih mba," ucap Qila dan Rey.


"Ganggu mulu deh," gumam Rey.


Qila pun tersenyum.


"Jadi gimana?" ucap Rey kembali menatap Qila.


"A-aku ..." ucap Qila.

__ADS_1


__ADS_2