Dia Bahagia

Dia Bahagia
Bab 15


__ADS_3

"Qila ... bangunnn," ucap Hanna sambil menarik-narik tangan Qila.


Cahaya matahari menembus kaca jendela menerangi ruangan kamar, tetapi Qila masih saja berada di alam mimpi.


"Qila bangun ihh katanya mau main jam segini masih tidur. Qila ayo dongggg kebluk banget sih ini anak," ucap Hanna.


Qila pun membuka matanya, tetapi Qila berpura-pura masih tertidur. Qila pikir Hanna tidak mengetahuinya.


"Oh pura-pura tidur nih gak ada akhlak emang. Pagi-pagi gue ngebelain kesini gue kerjain seru kayanya," gumam Hanna.


Hanna pun mengambil ponsel Qila yang berada di atas meja.


"Hallo Rey?" ucap Hanna berpura-pura menelpon.


Qila pun membuka matanya.


"Qilanya masih tidur dari tadi gu ..." ucap Hanna terhenti.


Tanpa aba-aba Qila pun melompat dari tempat tidur. Lalu berlari ke arah Hanna dan merebut ponselnya.


"Hallo Rey?" ucap Qila.


"Rey?" ucap Qila


Hanna pun tertawa melihat Qila yang tertipu olehnya.


"Pffttt ... hahahaha Qila hahaha," Hanna pun tertawa terbahak-bahak.


Qila pun menatap ke arah Hanna. Lalu melihat layar ponselnya yang ternyata tidak ada telpon dari Rey.


"Hannaaaaaaaaa!" teriak Qila.


"Apa sayang? Hahahaha makanya kamu jangan coba-coba mainin aku ya," ucap Hanna.


Hanna pun melihat ke arah boneka bear berwarna pink.


"Kok aku baru lihat sih ada boneka ini. Dari siapa?" ucap Hanna menatap Qila.


"Dari Rey," ucap Qila tersenyum.


Qila pun berjalan ke kamar mandi dan mengabaikan Hanna.


Hanna pun memegang boneka bear itu sambil menatapnya.


"Jujur gue suka sama lo Rey, tapi ternyata lo suka sama sahabat gue. Sekarang gue harus gimana? Gue udah gak sanggup menahan semua rasa ini," gumam Hanna.


"Gue juga pengen dicintai sama lo Rey," gumam Hanna.


"Kriettt ...."


"Hanna ..." ucap mamah.


Hanna pun melihat ke arah mamah.


"Iya tante?" ucap Hanna.


"Qilanya kemana?" ucap mamah.


"Lagi mandi tan ..." ucap Hanna tersenyum.


"Hanna bisa masak? Bantuin tante yuk. Daripada nungguin Qila kalo mandi anak itu suka lama" ucap mamah.


Hanna pun mengangguk dan menaruh kembali boneka bearnya.


******


"Kak?" ucap mamah.


"Rey?" ucap mamah.


Rey pun terus melamun sambil menatap keluar. Hanya Qila yang ada di pikirannya.


"Banyak orang yang tidak menyukai hubungan gue sama Qila, tapi gue yakin semua ini bisa selesai," gumam Rey.


Setelah selesai mandi Qila pun duduk di depan cermin. Menatap dirinya.


"Apa tuhan tidak mengizinkan hubungan ini? Sehingga banyak sekali cobaan di saat aku bersama Rey," gumam Qila.


"Kakak?" ucap mamah sambil menepuk pundak Rey.


"Ehh Mah, ada apa?" ucap Rey.


"Loh, loh kenapa kamu kak? Ada masalah ya?" ucap mamah.


"Engga kok, Mah," ucap Rey tersenyum.


"Temenin mamah yuk? Ke mall daripada bengong terus," ucap mamah.


"Kenapa gak sama Stevan aja?" ucap Rey.


"Lagi main dia. Udah kamu aja ya," ucap mamah.


"Ya udah ayo, Mah," ucap Rey.


"Qila? Udah beres belum ayo!" ucap Hanna masuk ke dalam kamar Qila.


Tetapi Qila pun terus melamun.


"Hei!" ucap Hanna sambil menepuk pundak Qila.


"Ehh ... ayo! Udah kok," ucap Qila.


"Kenapa sih? Ada masalah?" ucap Hanna.


Qila pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Qila dan Hanna pun pergi ke tempat tujuan.


Saat Qila dan Hanna memesan taksi online. Ternyata Belia diam-diam memperhatikan Qila dan mengikuti Qila dan Hanna pergi.


"Gue harus ikutin mereka. Sekalian gue cari tau siapa orang yang bisa gue ajak kerja sama. Buat pisahin Qila dan Rey," gumam Belia.


Sesampainya Qila dan Hanna di tempat tujuan. Qila dan Hanna pun berjalan sesekali berfoto.


"Qila fotoin dong. Bagus banget tempatnya," ucap Hanna.

__ADS_1


"Gantian ya," ucap Qila.


"Oke," ucap Hanna.


"Cekrekk!"


"Hanna aku dong," ucap Qila sambil menyerahkan kameranya pada Hanna.


"Oke, sebelah sana Qila. Nah, sip bagus satu ... dua ... tiga ... " ucap Hanna.


"Qila ..." ucap seseorang.


Qila pun melihat ke arah seseorang yang memanggilnya.


"Fery? Ngapain kamu di sini?" ucap Qila.


"Lagi main aja. Ikut aku yuk?" ucap Fery.


"Heh! Yang ngajak Qila ke sini gue. Ngapain lo datang-datang mau bawa Qila aja," ucap Hanna sambil menatap tajam Fery.


"Lo kalo udah sakitin Qila gak usah balik lagi. Gak punya harga diri banget lo jadi cowo!" ucap Hanna sambil menarik tangan Qila pergi dari tempat itu.


Qila dan Hanna pun mencari tempat lain.Ternyata dari tadi Belia terus melihat Qila dan Hanna.


"Cowo itu siapa ya? Gue samperin ah sepertinya ada kaitannya sama Qila," ucap Belia.


Belia pun berjalan menghampiri Fery yang tak jauh dari jarak Belia berdiri.


"Galak banget Hanna dari dulu. Jadi gue gagal lagi ahh!" ucap Fery.


"Hai ..." ucap Belia.


"Hai juga siapa ya?" ucap Fery.


"Kenalin aku Belia. Kamu siapa?" ucap Belia.


"Aku Fery," ucap Fery.


"Kamu ada hubungan apa sama Qila?" ucap Belia.


"Aku mantannya Qila, tapi aku pengen balikan sama Qila ya, cuma dia udah punya pacar sih," ucap Fery.


"Nah, bagus gue bisa ajak Fery buat kerja sama," gumam Belia.


"Duduk di sana yuk? Aku mau bicara," ucap Belia.


Fery pun mengangguk lalu mengikuti Belia.


"Mah, emang mau beli apa?" ucap Rey.


"Makan dulu aja deh. Ayo di sana," ucap mamah.


Rey pun mengikuti mamah sambil memainkan ponselnya. Mata Rey terus tertuju pada layar ponselnya. Hingga Rey menubruk seseorang.


"Dukkk!"


"Ahh!" ucap Qila.


Qila pun menatap ke arah orang yang menubruknya.


"Qila?" ucap Rey.


"Aku Hanna. Hahaha ..." ucap Hanna tertawa.


"Ganggu suasana mulu gak di mana-mana," ucap Rey menatap Hanna.


Hanna pun tersenyum pada Rey.


"Siapa kak?" ucap mamah.


"Oh ini mah, kenalin. Qila sama Hanna," ucap Rey.


"Hai tante ..." ucap Qila dan Hanna tersenyum.


Mamah pun tersenyum pada Qila dan Hanna.


"Hai ..." ucap mamah.


"Ayo Rey makan dulu," ucap mamah.


"Qila, Hanna, aku kesana duluan ya," ucap Rey.


"Kenapa gak sekalian aja bareng sama kita," ucap mamah.


"Gak usah tante ..." ucap Qila tersenyum.


"Ya sudah ayo Rey," ucap mamah.


Rey pun berbisik pada telinga Hanna.


"Jagain Qilanya jangan sampai kenapa-kenapa. Kalo ada apa-apa kasih tau gue ..." bisik Rey.


Jantung Hanna pun berdetak kencang saat Rey berbisik di dekat telinganya. Tanpa sadar Hanna pun tersenyum. Walaupun Rey berbisik tentang Qila, tetapi Hanna tersenyum dan bahagia.


"Siap tenang aja ..." ucap Hanna tersenyum pada Rey.


Rey pun tersenyum lalu segera berjalan.


"Baru kali ini gue bisa lihat Rey senyum sama gue. Andaikan aja gue bisa miliki Rey. Pasti gue bahagia setiap harinya," gumam Hanna.


"Hanna duduk di sana yuk?" ucap Qila.


Tetapi sekarang Hanna yang terus melamun. Bukan Qila lagi.


"Hanna?" ucap Qila sambil melambaikan tangannya di dekat mata Hanna.


"Hei!" Qila pun menepuk pundak Hanna.


"Hah? Apa?" ucap Hanna.


"Kok tumben ngelamun kenapa?" ucap Qila.


Hanna pun menarik Qila untuk duduk di salah satu kursi.

__ADS_1


******


"Kamu mau gak kerja sama bareng aku?" ucap Belia.


"Hhhhmmm ... kayanya lebih enak ngomongnya lo gue aja deh," ucap Fery.


"Oh oke-oke. Lo mau gak kerja sama bareng gue?" ucap Belia.


"Kerja sama apaan?" ucap Fery.


"Gue tau lo pengen balikan sama Qila, tapi ada Rey, kan? Gue juga sama pengen balikan sama Rey, tapi ada Qila jadi, di sini kita kerja sama bikin Qila dan Rey saling jauh," ucap Belia.


"Gimana?" ucap Fery.


Belia pun menjelaskan pada Fery.


"Kalo gue gak nanya sama Qila. Nanti gue bakalan selalu berharap," gumam Hanna.


"Kamu pacaran sama Rey?" ucap Hanna.


Qila pun terdiam sejenak menatap Hanna.


"Ya udah deh aku jujur. Iya, aku jadian sama Rey waktu aku baru pindah dan pulang bareng sama Rey," ucap Qila tersenyum.


Hati Hanna pun terasa sakit mendengarnya.


"Gue harus kuat dan gue gak boleh rebut Rey dari sahabat gue sendiri. Padahal gue udah berharap banget kalo Rey suka sama gue, tapi itu gak mungkin terjadi," gumam Hanna.


"Hanna kenapa sih dari tadi ngelamun terus. Sepertinya ada masalah deh," gumam Qila. Sambil menatap Hanna.


"Kalo ada masalah coba cerita sama aku Hanna. Gak biasanya ngelamun kaya gini," ucap Qila menatap Hanna.


"E-engga kok serius ... bentar ya, pengen ke toilet dulu," ucap Hanna.


Qila pun mengangguk. Hanna pun berjalan menuju toilet.


"Itukan Rey?" ucap Hanna.


Hanna pun melihat Fery yang akan melemparkan sebuah batu pada Rey. Hanna pun terkejut setelah melihat batu yang hampir mengenai badan Rey.


"Rey! Awasssss!" teriak Hanna berlari.


Hanna pun mendorong Rey, tetapi bukannya Rey terjatuh mereka malah berpelukan. Batunya pun tepat mengenai punggung Hanna.


"Dukkk!"


"Awww!" ucap Hanna.


"Hanna?" ucap Rey.


Mereka pun saling menatap dengan jarak yang dekat. Karena Hanna lama Qila pun mencari Hanna ke toilet.


"Aduh ... Hanna lama banget. Aku ke sana aja deh," ucap Qila beranjak dari kursi.


Saat Qila menyusul Hanna ke toilet, tetapi langkah Qila terhenti setelah melihat Hanna dan Rey berpelukan dan saling menatap.


"Deg!"


"Hanna sama Rey ..." gumam Qila.


"Maaf," ucap Hanna melepaskan pelukan Rey.


"Mana yang sakit mana? Kurang ajar itu orang yang lempar batu. Siapa sih?!" ucap Rey.


"Fery," ucap Hanna.


Terlihat raut wajah Rey memerah dan penuh amarah ketika mengetahui bahwa itu Fery.


"Akhh!" Hanna pun memegang punggungnya.


"Ini sakit ya?" ucap Rey sambil mengusap punggung Hanna.


Rey pun merangkul Hanna untuk duduk di salah satu kursi.


"Kok hati aku sakit banget lihat kejadian tadi, tapikan Hanna sahabat aku gak mungkin dia tega rebut Rey dari aku," gumam Qila.


Rey pun segera membeli minum untuk Hanna. Hanna pun duduk sambil memainkan ponselnya.


"Rey baik banget," gumam Hanna tersenyum.


Qila pun menghampiri Hanna yang sedang duduk. Berpura-pura tidak mengetahui kejadian tadi.


"Hanna kamu lagi ngapain? Katanya ke toilet. Kok malah duduk," ucap Qila menatap Hanna.


"Aduhh ... semoga aja Qila gak lihat tadi gue sama Rey," gumam Hanna.


"Hanna ini minumnya," ucap Rey sambil menghampiri Hanna.


Rey pun langsung menatap ke arah Qila yang sedang berdiri menatapnya. Rey takut kalo Qila marah lagi padanya.


"Hanna, tadi aku di telpon mamah suruh pulang cepat jadi, aku langsung pulang ya," ucap Qila menatap Rey dan Hanna.


"Ayo bareng aja Qila, tapi bentar ini a ..." ucap Hanna terhenti.


"Gak usah. Aku bisa pulang sendiri bayyy ..." ucap Qila menatap Hanna lalu Rey.


Qila pun berjalan meninggalkan Rey dan Hanna. Dengan langkah kecewa, tetapi Qila sedikit menahan rasa kecewa dan cemburunya.


"Kayanya Qila marah deh gara-gara aku kasih minum ke Hanna. Dia pasti mikir yang engga-engga aduh ..." gumam Rey.


"Bentar ya, i-ini minumnya ..." ucap Rey memberikan pada Hanna.


Rey pun berlari mengejar Qila.


"Qila ... tunggu!" ucap Rey.


Qila pun berhenti lalu melihat ke arah Rey. Dengan tatapan yang kecewa.


"Ada apa Rey?" ucap Qila dengan nada pelan.


"Qila jangan marah ya, tadi tuh Rey cuma ..." ucap Rey terhenti.


"Siapa yang marah? Aduh ini Qila buru-buru udah ya, bayyy ..." ucap Qila.

__ADS_1


Qila pun kembali berjalan meninggalkan Rey. Saat Qila sedang menunggu taksi online. Qila terkejut ada yang menarik Qila dengan paksa.


"Aaaaaaa!" teriak Qila.


__ADS_2