
"Qila," ucap seseorang.
Qila pun terkejut. Qila pikir itu mamah atau papah ternyata Hitam.
"Aduhhh ..." ucap Qila sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
"Kenapa sih ngagetin mulu," ucap Qila.
"Qila mau kabur yaaaaaa, tapi bingung mau tidur di mana jadi, balik lagi," ucap Hitam.
"So tau! Dasar gendut. Udah sana tidur jangan ganggu aku," ucap Qila.
Qila pun segera membersihkan diri. Setelah itu Qila pun berbaring di tempat tidur sambil menatap foto Rey.
"Aku sayang sama Rey kenapa akhirnya jadi kaya gini sih. Aku ngerasa bersalah banget tadi bilang gitu," gumam Qila.
"Ting-Tong."
Qila pun membuka pesan dari Belia ternyata Belia mengirimkan sebuah foto Rey. Yang sedang bersama Hanna. Membuat hati Qila tambah berantakan.
"Sebenarnya ada apa sih? Kenapa akhir-akhir ini tuh Hanna aneh banget," ucap Qila.
Tak lama Qila pun tertidur. Mungkin hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Qila.
******
Pagi telah tiba.
Setibanya di sekolah Qila pun duduk di kursi sambil melamun. Qila terus memikirkan Rey yang belum datang juga. Padahal Qila ingin bicara dengan Rey.
"Hanna tunggu!" ucap Rey.
Hanna pun melihat ke arah Rey dengan heran.
"Kenapa?" ucap Hanna.
"Bareng dong ke kelasnya," ucap Rey.
Hanna pun terdiam heran karena Hanna tidak ingin Qila kecewa seperti kemarin. Hanna pun menolak ajakan Rey padahal Hanna ingin sekali menerima ajakan Rey, tetapi Rey terus memaksa pada Hanna.
"Gak usah Rey gue duluan ya," ucap Hanna.
"Gak apa-apa, ayo!" ucap Rey sambil menggenggam tangan Hanna.
"Rey pegang tangan gue? Astaga gue bahagia banget ini bukan mimpikan," gumam Hanna.
"Astaga Hanna! Nanti Qila lihat gimana?" gumam Hanna.
Hanna pun melepaskan genggaman tangan Rey.
"Kenapa?" ucap Rey.
"Gak enak sama Qila. Gimana sih lo," ucap Hanna sambil berjalan.
"Tenang aja gue udah putus sama Qila," ucap Rey.
Hanna pun menghentikan langkahnya. Lalu menatap Rey dengan serius.
"Serius lo? Ohh lo berani ya, nyakitin Qila wah ... lo benar-benar. Ikut gue ke lapang berantem sama gue sekarang juga! Gue gak terima ya, sahabat gue disakitin!" ucap Hanna sambil menarik tangan Rey.
"Bukan gitu malahan gue yang sakit hati sama Qila gue heran sama sahabat lo. Udah tau Fery nyakitin mulu, tapi kenapa dia masih mau didekati. Gak pernah ngerti sama perasaan gue dia lupa apa kalo dia udah punya gue," ucap Rey.
"Sebenarnya seneng sih dengarnya Qila sama Rey putus, tapi gak mungkin gue sama Rey. Gue gak mau persahabatan gue berakhir sama Qila," gumam Hanna.
"Lo salah Rey ... lo salah mantan bukan berarti musuh kita. Qila ngehargain Fery karena seengganya Fery pernah bahagiain Qila dia tau dia udah punya lo, tapi gak mungkinkan Fery nyamperin tiba-tiba Qila pergi gitu aja. Apalagi Qila itu orang yang baik yang peduli sama siapapun. Lo aja yang gak ngertiin Qila," ucap Hanna.
"Benar juga sih apa kata Hanna. Gue yang gak ngerti gue harus minta maaf sama Qila," gumam Rey.
Rey pun segera pergi menuju kelas.
__ADS_1
"Baguss ya, tadi ngajak bareng udah gitu pergi duluan heran," ucap Hanna.
Hanna pun pergi menuju kelas.
Hati Qila pun sangat gelisah menunggu Rey. Sehingga Qila terus menangis.
"Rey mana sih?" gumam Qila.
Akhirnya Rey pun datang. Tanpa aba-aba Qila menghampiri Rey.
"Rey ..." ucap Qila.
"Jangan di sini," ucap Rey.
Rey dan Qila pun pergi menuju taman. Hanna pun mengikutinya tanpa diketahui mereka. Qila pun menatap Rey air matanya pun mengalir membasahi pipinya.
"Jangan nangis," ucap Rey sambil menghapus air mata Qila.
"Maafin Rey ya, Rey salah Rey yang gak pernah ngertiin Qila. Padahal Qila selalu ngertiin Rey," ucap Rey sambil memeluk Qila.
"Aku yang harusnya minta maaf Rey. Maafin kata-kata aku kemarin," ucap Qila.
Rey pun mengelus kepala Qila dengan lembut. Qila pun merasakan ketenangan kini hati Qila telah kembali bersinar.
Tetapi di balik kebahagiaan Qila. Ada orang yang harus terus menyembunyikan rasa sakitnya.
Hanna pun menangis di balik pepohonan melihat orang yang dia cintai milik sahabatnya. Di dalam hatinya bertanya-tanya harus bagaimana menghilangkan rasa ini. Harus sampai kapan bertahan di atas duri yang tajam. Hanna tidak bisa mengungkapkan perasaannya kepada siapa pun Hanna hanya bisa menangis ketika melihat Rey dan Qila.
"Kenapa ini semua bisa terjadi di kisah cinta gue! Kenapa gue harus cinta sama cowo milik sahabat gueeeeeee! Gue gak sanggup lagi bertahan seperti ini gue ingin bicaraaaa kepada semua orang. Kalo gue cinta Reyyyyyyy!" gumam Hanna menangis.
Qila dan Rey pun kembali ke kelas karena bel telah berbunyi, tetapi Qila mencari-cari Hanna. Karena tidak biasanya Hanna menghilang.
"Hanna kemana sih?" gumam Qila.
Hanna pun masuk ke dalam kelas. Qila pun heran melihat raut wajah Hanna.
"Kamu nangis?" ucap Qila menatap Hanna.
"Habis dari mana? Tumben ilang pas udah bel," ucap Qila.
"Cari kamu sayang," ucap Hanna.
Qila pun tersenyum lalu pandangannya teralihkan ke arah Rey. Yang sedang memperhatikan Qila dari tadi Membuat Qila tersenyum pada Rey.
"Apa harus gue jujur sama Rey. Kalo gue suka sama dia," gumam Hanna.
"Gue udah gak tahan sama semua ini oke gue bakalan bilang kalo gue suka sama Rey. Gue bakalan berusaha biar Qila gak tau gue suka Rey," gumam Hanna.
Jam pelajaran pun dimulai. Semua murid mengikutinya dengan baik hingga jam pulang.
******
"Kali ini gue bakalan bikin Rey celaka! Awas aja lo sebelum gue puas gue gak akan berhenti," ucap Fery tersenyum.
"Hanna, bareng yuk? Sampai gerbang," ucap Qila.
"Maaf ya, gue buru-buru bayy," ucap Hanna sambil menatap ke arah Qila lalu ke arah Rey.
"Aneh banget tuh bocah. Banyak diamnya sekarang," ucap Bimo.
Qila pun merasa heran pada sikap Hanna. Sekarang Hanna menjadi sedikit cuek.
"Ayo, Qila!" ucap Rey.
Qila pun mengangguk. Lalu berjalan mengikuti Rey dan Bimo.
Saat di perjalanan. Qila ingin membeli minum.
"Rey tunggu di sini ya, Qila beli dulu minum," ucap Qila.
__ADS_1
"Iya, jangan lama ya," ucap Rey.
Qila pun segera menuju toko untuk membeli minum.
Saat Rey menunggu Qila. Pandangan Rey tertuju pada seseorang. Yang tergeletak di pinggir jalan yang tertutup oleh jaket membuat Rey bingung.
"Itu orang kenapa ya?" gumam Rey.
Karena rasa penasarannya Rey menghampiri seseorang tersebut. Saat Rey membuka jaketnya tiba-tiba orang tersebut melemparkan bubuk cabai pada mata Rey. Membuat Rey kesakitan.
Ternyata orang tersebut adalah Fery.
"Arrhhh!" teriak Rey.
"Syukurin lo! Hahaha ..." ucap Fery.
Fery pun segera berjalan ke arah Qila.
"Loh, Rey kemana? Ihh nyebelinnn banget sih anak itu udah bilang tungguin malah ngilang" ucap Qila.
"Hai Qila ..." ucap Fery.
"Aku gak mau Rey kecewa lagi lihat aku sama Fery," gumam Qila.
Qila pun hanya tersenyum. Lalu Qila pun berjalan mencari Rey.
"Mau kemana?" ucap Fery menarik tangan Qila.
"Maaf ya Fery mulai sekarang gak usah ganggu aku lagi," ucap Qila sambil melepaskan tangan Fery.
"Loh, kenapa?" ucap Fery.
"Aku gak mau kalo Rey kecewa lagi udah ya, aku mau cari Rey," ucap Qila.
Qila pun berjalan meninggalkan Fery.
"Argghhh! Kesal banget gue kenapa sih Qila sayang banget sama Rey. Udah bagus kemarin mereka putus malah balikan lagi, tapi gue gak akan nyerah gitu aja lihat aja lo Rey," ucap Fery.
"Rey ..." teriak Qila.
"Kemana sih?" ucap Qila melihat ke sekeliling jalan.
"Arrhhhh!" teriak Rey.
Qila pun berlari menghampiri Rey.
"Rey ..." ucap Qila berlari.
"Astaga Rey kenapa?" ucap Qila.
"Mata Rey perih Qila ..." ucap Rey.
Untung saja Qila membeli air mineral. Qila pun segera menyiramkan air pada wajah Rey.
"Arhhhh!" teriak Rey.
"Perihhhh ..." ucap Rey.
"I-ini terus pakai air Rey," ucap Qila.
Akhirnya mata Rey pun sedikit mereda. Walaupun masih terasa perih.
"Ke rumah sakit ya, ayo Rey!" ucap Qila.
"Tapi Qila, Rey pakai motornya susah mata Rey masih perih," ucap Rey.
"Udah Qila yang bawa," ucap Qila.
Qila pun membawa motor Rey. Lalu segera menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1
******
"Maafin gue Qila kalo gue harus bilang jujur sama Rey kalo gue suka sama Rey. Maafin gue juga kalo nanti akhirnya Rey suka sama gue," ucap Hanna sambil menatap foto bersama Qila.