Dia Bahagia

Dia Bahagia
Bab 33


__ADS_3

Setibanya Qila di rumah. Mamah pun langsung memeluk Qila. Qila pun terdiam dengan heran karena tidak biasanya mamah memeluk Qila.


"Mah ..." ucap Qila dengan heran.


Mamah pun melepaskan pelukannya.


"Mah, Mamah kenapa? Tumben peluk Qila," ucap Qila.


"Kamu jangan pergi ya sayang. Mamah sayang banget sama Qila. Mamah gak mau Qila tinggalin Mamah," ucap mamah.


"Ihh ... ihh ... Mamah kenapa sih siapa yang mau pergi Mah, haha ... udah ah, aku cape mau mandi," ucap Qila tersenyum.


"Sudah beres mandi makan ya, sayang," ucap mamah.


Qila pun mengangguk lalu berjalan menuju kamar untuk menyimpan tas dan segera mandi.


"Gue ikat dulu deh," ucap Fery.


Rey pun diikat di kursi. Lalu Fery pun segera memfoto Rey untuk memberi bukti pada Qila. Bahwa hari ini Fery akan membunuh Rey.


"Gue telpon dulu deh Qilanya," ucap Fery.


"Tut ... tut ... tut ...."


"Qila kemana sih? Lama banget jawabnya," ucap Fery.


"Aduh ... segar banget udah mandi. Si gendut kemana sih tumben ngilang," ucap Qila sambil meraih ponselnya.


Qila pun menatap layar ponsel dengan raut wajah yang cemberut.


"Susah banget sih kasih tau Fery. Sekarang ngapain lagi telpon segala," ucap Qila.


"Dret ... dret ... dret ...."


"Ihhh! Mau apasih ini orang?!" bentak Qila.


Qila pun akhirnya menjawab telpon dari Fery.


"Apasih?!" ucap Qila dengan tegas.


"Fery mau kasih kejutan buat Qila. Sebentar ya Fery ubah ke video call dulu," ucap Fery.


Qila pun membulatkan matanya. Setelah melihat Rey yang tak sadarkan diri diikat oleh Fery. Qila pun kesal kepada sikap Fery.


"Fery! Kamu udah gila ya?! Mau apain Rey hah?!" bentak Qila.


"Seperti yang Fery katakan. Fery akan membunuh Rey jadi, Qila ucapkan selamat tinggal untuk Rey," ucap Fery tersenyum.


"Fery!" ucap Qila.


Fery pun mematikan telponnya. Qila pun langsung bersiap-siap menuju lokasi tersebut, tetapi Qila meminta bantuan Hitam.


"Aku harus minta bantuan Hitam," ucap Qila sambil meraih loncengnya.


"Kring ... kring ... kring ...."


"Qila ..." ucap Hitam.


"Hitam bantu Qila sekarang juga. Tunjukin lokasi Rey sekarang," ucap Qila.


"Ada apa? Rey kenapa?" ucap Hitam.


"Aduh ... cepetan ah!" ucap Qila.


"Tunggu Hitam cari dulu," ucap Hitam.


"Cepetannnnn!" bentak Qila.


"Tring ...."


Hitam pun menghilang untuk mencari keberadaan Rey. Tak lama Hitam pun menemukan Rey.


"Sepertinya Rey ada di tempat itu," ucap Hitam.


Hitam pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Ternyata benar Rey ada di dalam dengan keadaan yang belum tersadar.


"Benar Rey di sini," ucap Hitam.


"Lama banget sih ..." ucap Qila dengan cemas.


"Kriet ...."


Mamah pun masuk ke dalam kamar Qila. Lalu menghampiri Qila.


"Qila ..." ucap mamah.


"I-iya, Mah," ucap Qila.


"Kamu mau kemana udah mau gelap. Makan dulu ayo," ucap mamah.


"Nanti aja Mah pliss ... izinin aku keluar ya, Mah. Cuma sebentar kok," ucap Qila sambil memohon.


"Kamu mau kemana? Nanti papah tau pasti marah," ucap mamah.

__ADS_1


"Aduh Mah, plisss ... aku harus tolongin Rey. Kalo ada papah bilang aja aku ... aku ada kerja kelompok," ucap Qila.


"Qila ayo. Hitam tau tempatnya," ucap Hitam.


"Aku pergi dulu, Mah," ucap Qila sambil berlari keluar rumah.


"Qila ..." ucap mamah.


Tetapi Qila terus berlari keluar rumah. Sepanjang perjalanan Qila berlari sambil menangis. Qila merasa khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan Rey.


"Ya Tuhan ... semoga Rey baik-baik aja. Kenapa sih Fery sejahat ini," gumam Qila menangis.


"Aku harus cepat sampai ke tempat itu," gumam Qila.


"Qila fokus larinya jangan sambil nangis. Nanti malah Qila yang celaka," ucap Hitam.


"Bisa bawa aku cepat gak Hitam?" ucap Qila.


"Hitam belum punya kekuatan itu Qila. Hanya Hitam sendiri yang bisa menghilang seperti itu," ucap Hitam.


Qila pun terus berlari secepat mungkin. Fery pun telah menyiapkan pisau untuk membunuh Rey.


"Bagus juga ini anak belum sadar dari tadi. Gue jadi bisa langsung bunuh dia," ucap Fery.


Fery pun membuka ikatan Rey satu persatu. Lalu Fery pun berjalan mengambil pisau.


"Maafin gue Rey. Gue benci sama lo karena lo yang selalu menghalangi gue untuk dekat sama Qila," ucap Fery.


Fery pun telah memegang pisau, tetapi ....


"Brakk ...."


Qila pun membuka pintu dengan sangat keras.


"Stop Fery!" bentak Qila.


Untung saja Qila tepat waktu menuju lokasi tersebut. Fery pun menyimpan pisaunya kembali. Lalu Fery pun menarik tangan Qila untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Lepasinnnn!" bentak Qila.


"Qila kenapa tau lokasinya?" ucap Fery.


"Plakkk!"


Qila pun menampar Fery dengan kuat.


"Fery udah gila hah?! Bagi Fery ngebunuh orang itu gak dosa apa?!" ucap Qila dengan wajah memerah penuh amarah.


Tetapi langkah Qila terhenti karena Fery menarik tangan Qila.


"Eits ... gak bisa, jangan harap bisa lepasin Rey," ucap Fery menatap Qila.


"Minggir!" bentak Qila.


"Qila kenapa sih selalu berjuang demi Rey padahal Rey selalu nyakitin Qila. Di sini Fery yang selalu sayang sama Qila," ucap Fery.


"Fery sayang sama Qila? Gak salah denger? Terus dulu kenapa Fery malah sama Angelina hah?!" ucap Qila.


"Oke, kalo gitu Fery bakalan bunuh Rey sekarang juga!" bentak Fery sambil berlari ke ruangan tersebut.


Qila pun berlari berusaha mencegah Fery.


"Stop Fery! Stop!" bentak Qila.


"Kenapa? Gue udah terlanjur benci sama Rey Qila! Gue dendam sama dia! Gue udah muak lihat dia!" bentak Fery.


"Harus ngelakuin dengan cara ini hah?!" ucap Qila.


"Dengar ya, setiap orang yang udah buat gue marah! Gue kecewa! Bahkan orang yang udah buat masalah sama gue! Gue gak akan segan-segan buat bunuh orang itu termasuk Angelina yang udah gue bunuh!!!" ucap Fery dengan penuh amarah.


"Deg!"


Qila pun terkejut setelah mengetahui bahwa Angelina dibunuh oleh Fery sendiri. Qila pun meneteskan air matanya.


"Sejahat itu hati kamu Fery? Tega banget bunuh Angelina," ucap Qila menatap Fery.


"Karena dia udah ninggalin gue pas gue lagi sayang-sayangnya!" ucap Fery.


"Jadi, sekarang tinggal Rey yang harus gue bunuh! Minggir!" ucap Fery.


"Jangan Fery! Jangan ..." ucap Qila sambil menarik tangan Fery.


Tetapi Fery terus berjalan menuju ruangan tersebut.


"Feryyyyyy! Aku mohon jangan bunuh Rey Fery plisss ... jangan ..." ucap Qila menangis.


"Jangan bunuh Rey!!! Aku sayang sama Reyyyy ... plisss aku mohon Fery ..." ucap Qila menangis.


Tetapi Fery tidak mendengar ucapan Qila. Fery mengabaikan Qila yang menangis. Qila pun dengan sekuat tenaga menghentikan langkah Fery.


"Pliss ... aku mohon ..." ucap Qila menangis.


"Engga! Sekali gue benci sama orang gue harus bunuh dia!" ucap Fery.

__ADS_1


Qila pun terus menangis sambil memohon pada Fery. Qila pun sampai memegang lutut Fery agar Fery tidak membunuh Rey.


"Aku aja yang dibunuh Fery aku aja!!! Jangan Rey ..." ucap Qila menangis.


"Aku aja Fery. Bunuh aku sekarang pliss ..." ucap Qila berdiri menatap Fery.


"Jangan Qila! Jangan senekat itu," ucap Hitam.


"Sama aja bohong Qila! Gue cuma cinta sama lo! Kalo gue bunuh lo gue bahagia sama siapa?!" ucap Fery.


"Jadi, gue tetap bunuh Rey!" ucap Fery.


"Engga!!! Jangan Fery ... pliss bunuh aku aja jangan Rey aku mohon ..." ucap Qila menangis tersedu-sedu.


"Qila kamu bicara apa. Jangan Qila, jangan bicara seperti itu," ucap Hitam.


"Fery punya pilihan lain," ucap Fery menatap Qila.


"Apa?" ucap Qila menatap Fery.


"Qila harus mau bunuh diri bersama Fery karena Fery cinta mati sama Qila. Kalo Qila menolak, Fery tetap akan bunuh Rey!" ucap Fery.


"Deg!"


"Bunuh diri? Hal paling dosa jika dilakukan," gumam Qila.


"Qila jangan Qila ... ada mamah sama papah yang sayang sama Qila. Hitam mohon Qila tolak," ucap Hitam.


"Bagaimana dengan mamah dan papah jika aku pergi? Tetapi tidak ada pilihan lain selain aku menjawab 'Iya' aku gak mau kalo sampai Rey dibunuh Fery. Aku sayang sama Rey," gumam Qila.


"Qila gak maukan? Jadi, jangan halangi Fery untuk membunuh Rey," ucap Fery sambil berjalan.


"Tunggu!" ucap Qila.


"Jangan sampai Qila mau," gumam Hitam.


"Iya. aku mau asalkan Rey tidak kamu bunuh. Lalu lepaskan Rey sekarang, tapi beri aku waktu sebelum aku pergi dari dunia ini," ucap Qila dengan air mata mengalir membasahi pipinya.


"Oke, kalo gitu Fery akan memberi waktu 3 hari. Setelah itu temui Fery di tempat ini kalo sampai Qila tidak datang Fery akan bunuh Rey secara langsung!" ucap Fery.


"Qila! Kenapa senekat ini astaga," ucap Hitam.


"O-oke ... aku akan tepati janji ini," ucap Qila sambil menghapus air matanya.


Fery pun berjalan pergi meninggalkan Qila. Qila pun terdiam beberapa menit. Pikiran Qila sangat berantakan, tetapi Qila harus lakukan ini demi Rey.


"Qila! Qila kenapa sampai kaya gini sih?" ucap Hitam.


"Demi Rey, Qila akan lakukan apa aja," ucap Qila.


"Tapi ini salah besar Qila. Tidak seharusnya Qila melakukan ini demi orang yang Qila cinta! Qila harus cinta terlebih dahulu pada diri Qila sendiri. Jangan hanya memikirkan orang yang dicinta dan jangan hanya membahagiakan orang yang dicinta, tapi pikirkan dulu diri sendiri," ucap Hitam.


"Stop Hitam! Ini keputusan Qila," ucap Qila sambil berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Astaga! Hitam harus apa? Ayo berpikir jangan sampai Qila bunuh diri dengan Fery. Hhhmm ... Hitam harus cari tau tentang kekuatan untuk mengubah hati dan pikiran manusia. Iya Hitam harus cari semoga ada di buku kekuatan yang Hitam miliki," ucap Hitam.


Qila pun menghampiri Rey. Lalu menepuk pelan pipi Rey.


"Rey ..." ucap Qila.


Rey pun mulai tersadar. Rey membuka matanya lalu menatap ke arah Qila.


"Qila? Gue di mana ini?" ucap Rey sambil melihat ke sekeliling ruangan.


"Rey tadi diculik sama bapa-bapa. Untung aja Qila lihat," ucap Qila berbohong.


"Maaf mas. Ini tadi jatuh," Terlintas di pikiran Rey.


"Loh kok bisa jatuh sih," Terlintas di pikiran Rey.


"Orang tadi yang halangi gue jalan. Ternyata orang jahat," gumam Rey.


Qila pun merangkul Rey untuk berdiri.


"Ayo, Rey kita pulang," ucap Qila.


"Gak usah! Rey bisa sendiri," ucap Rey dengan tegas.


"Ya, udah," ucap Qila.


Rey pun berjalan sendiri. Qila pun hanya mengikuti Rey di belakang.


"Rey mau Qila antar ga ..." ucap Qila terhenti.


"Gak usah! Gue ini bukan bocah. Pulang aja sana," ucap Rey sambil menatap tajam Qila.


Rey sama sekali tidak mengucapkan terima kasih karena telah dibantu Qila, tetapi Rey malah marah-marah dan membentak Qila. Qila pun hanya bersabar dengan sikap Rey terhadapnya.


"Demi Rey, aku rela bunuh diri dengan Fery asalkan Rey bahagia dan Rey tidak dibunuh oleh Fery. Ini bukti kalo aku sayang sama Rey kalo aku cinta sama Rey, tapi aku gak tau bagaimana dengan mamah dan papah jika aku pergi," gumam Qila menangis.


"Tetapi aku tidak akan kuat jika harus menjalani hari-hari tanpa ada Rey di dunia ini," gumam Qila.


Qila pun berjalan untuk segera pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2