
Rey pun menerima uluran tangan Qila. Akhirnya Rey pun bisa berdiri, tetapi Rey langsung melepas tangan Qila dan segera berjalan meninggalkan Qila.
"Sabar Qila ..." gumam Qila.
"Walaupun Rey seperti ini aku akan erus menyanyangi Rey," gumam Qila.
Qila pun berjalan menuju kelas sambil berlari. Qila berlari tanpa melihat bahwa di depan ada Rey.
"Aduh ... pelajaran pak Andy lagi," gumam Rey di depan pintu kelas.
Rey pun berhenti berjalan, sedangkan Qila terus berlari hingga akhirnya menubruk Rey.
"Brughh!"
Qila dan Rey pun terjatuh bersamaan.
"Aduhh!" ucap Rey.
"Awww!" ucap Qila.
Seluruh murid yang ada di kelas termasuk pak Andy pun terkejut melihat Qila dan Rey. Rey pun menatap ke arah Qila dengan tatapan kesal.
"Lo! Bisa lihat gak sih?!" bentak Rey.
Qila pun terkejut menatap Rey. Baru kali ini Qila dibentak oleh Rey.
"Ma-maaf ... Rey kenapa diam? Jadi, Qila gak tau," ucap Qila.
"Hei ... hei kalian udah terlambat malah ribut cepat masuk!" ucap pak Andy dengan tegas.
Qila pun berdiri lalu mengulurkan tangan pada Rey, tetapi Rey malah mengabaikannya dan mencoba berdiri sendiri. Karena kaki Rey sakit Rey pun akhirnya terjatuh kembali.
"Brughhh!" Rey pun kembali terjatuh.
"Akh!" ucap Rey.
"Rey!" teriak Qila dan Hanna.
Hanna pun dengan cepat menghampiri Rey dan membantu Rey berdiri. Qila pun hanya terdiam melihat Hanna.
"Aduh ... Rey kenapa sih? Sini gue bantu," ucap Hanna sambil merangkulkan tangan Rey pada pundak Hanna.
"Kok malah Hanna sih yang bantu Rey. Sakit banget lihatnya. Sabar Qila tahan ayo! Kamu pasti bisa," gumam Qila.
Hanna pun segera membantu Rey duduk di kursinya. Bimo pun melihat ke arah Hanna dengan heran, sedangkan Qila masih terdiam di depan pintu kelas.
"Ayo, Qila masuk," ucap pak Andy.
Qila pun mengangguk. Lalu berjalan menuju kursi.
"Heh! Itu ada Qila kenapa lo yang bantuin Rey sih?" ucap Bimo pada Hanna.
Hanna pun hanya terdiam tanpa menjawab apapun.
"Lo lagi Rey ... kenapa tadi bentak Qila?" ucap Bimo pada Rey.
"Berisik! Bawel banget sih jadi orang," ucap Rey.
"Ya udah sih maaf," ucap Bimo menatap Rey.
"Rasanya sakit banget dibentak sama Rey. Kemarin sama papah sekarang sama Rey," gumam Qila.
Hanna pun kembali duduk di kursi bersama Qila.
__ADS_1
"Qila bisa tolongin bapak? Coba kamu tulis catatan ini di papan tulis. Bapak mau ke ruang guru dulu," ucap pak Andy.
Tetapi Qila terus melamun dan tidak mendengarkan pak Andy.
"Rey benar-benar benci sama aku. Aku harus apa biar Rey gak marah dan benci kaya gini," gumam Qila.
"Qila ..." ucap pak Andy.
Terus saja Qila melamun.
"Hei! Qila," ucap pak Andy.
Rey pun melihat ke arah Qila yang terus melamun. Akhirnya Hanna pun menepuk pundak Qila.
"Hah?" ucap Qila.
"Astaga Qila kamu kenapa? Mulai gak konsen ya, bapak gak suka ada murid yang gak bisa konsentrasi di saat jam pelajaran!" ucap pak Andy tegas.
"Ma-maaf Pak," ucap Qila tertunduk.
"Sekarang juga kamu berdiri di depan!" bentak pak Andy.
Deg!
"Pak, kok, di suruh berdiri ke depan sih?" ucap Qila.
"Cepat berdiri di sini atau bapak suruh kamu berdiri di lapang?!" ucap pak Andy.
"Pak maaf tadi aku ..." ucap Qila.
"Cepat!" bentak pak Andy.
Qila pun tertunduk lalu berjalan dengan berat ke depan. Lalu berdiri di samping papan tulis.
10 menit Qila berdiri di depan. Qila pun mulai merasakan pegal pada kakinya, tetapi Qila terus menahannya.
"Kasihan Qila ..." ucap Bimo.
"Pasti tadi dia ngelamunin gue deh," ucap Bimo tersenyum.
Rey pun hanya mendelikan mata pada Bimo. Lalu Rey pun beranjak dari kursinya berjalan menuju kursi Hanna.
"Han ..." ucap Rey duduk di samping Hanna.
Deg!
"Kok Rey berani gini sih di depan Qila malah deketin gue," gumam Hanna.
"Benar dugaanku Rey pasti lebih dekat dengan Hanna dibandingkan aku. Sakit banget rasanya. Mungkin ini yang Hanna rasakan dari dulu. Kini aku bisa merasakannya. Merasakan cemburu, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa," gumam Qila.
Qila pun menahan air matanya. Banyak genangan air mata pada kedua bola mata Qila.
Karena Hanna tidak ingin melihat Qila marah atau bersedih. Hanna pun sedikit menjauh dari Rey, tetapi Rey tetap menggeser mendekat Hanna.
"Kring ... kring ... kring ...."
Semua murid pun segera keluar kelas untuk beristirahat.
"Qila boleh duduk. Lain kali saat pelajaran bapak harus konsen gak boleh ngelamun. Untuk hari ini bapa kurangin nilainya," ucap pak Andy.
"Iya Pak," ucap Qila dengan nada yang pelan.
Qila pun berjalan menuju kursinya. Kaki Qila sangat pegal setelah berdiri beberapa menit di depan, tetapi kursi Qila diduduki oleh Rey.
__ADS_1
"Rey, permisi aku mau duduk," ucap Qila.
"Duduk di sana kek atau di mana masih banyak kursi yang kosong tuh!" bentak Rey.
Qila pun menahan air matanya. Padahal dari tadi Qila ingin menangis atas sikap Rey kepada Qila. Qila pun akhirnya pergi keluar kelas Qila pergi menuju taman lalu duduk di salah satu kursi.
Air mata Qila pun menetes membasahi pipinya. Mengetahui sikap Rey yang benar-benar membenci Qila. Tersedu-sedu Qila menangis sendirian di taman.
"Rey, jangan bentak Qila dong dia sahabat gue," ucap Hanna menatap Rey.
Rey pun hanya terdiam. Hanna pun beranjak dari kursi lalu berjalan mengikuti Qila.
"Qila nangis ya? Apa karena ada gue Rey jadi, sebenci itu kepada Qila jadi gak enak ke guenya," gumam Hanna.
"Qila ..." ucap Rizka menghampiri Qila.
Qila pun segera menghapus air matanya.
"Lo nangis? Kenapa?" ucap Rizka.
Qila pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Rizka udah sekolah lagi?" ucap Qila.
"Iya, gue udah beres diskorsingnya. Maafin gue ya Qila gue selalu jahat sama lo selalu jahilin lo. Yang terakhir gue jahilin lo itu gue disuruh sama Belia. Padahal gue pengen minta maaf waktu itu," ucap Rizka.
"Tenang aja udah aku maafin kok," ucap Qila tersenyum.
"Makasih ya Qila. Kalo gitu gue ke kelas dulu ya," ucap Rizka tersenyum.
Qila pun mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah Rizka sadar sekarang," gumam Qila.
"Apa gue terlalu banget ya, apa yang gue lakuin ke Qila tadi, tapi gue kesal banget sih sama dia, tapi ... ah bodo amat deh biarin aja biar Qila sadar kalo selama ini dia gak pernah ngerti perasaan gue," gumam Rey.
"Bagaimana pun sikap Rey terhadap aku, aku akan tetap sayang Rey, tetap mencintai Rey dalam diam," gumam Qila.
Hanna pun berjalan menghampiri Qila yang sedang menangis. Hanna pun duduk di samping Qila.
"Qila ..." ucap Hanna menatap Qila.
Qila pun segera menghapus air matanya.
"Apa Han ..." ucap Qila tersenyum menatap Hanna.
Qila selalu menutupi kesedihannya pada Hanna, Qila tidak ingin Hanna mengetahui bahwa dirinya sedang terluka olehnya.
Hanna pun memeluk Qila.
"Ehh, kenapa? Ada apa?" ucap Qila.
"Maafin gue Qila ... gue bukan sahabat yang baik buat lo, gue malah bikin lo nangis. Karena gue, Rey jadi benci sama lo, tapi gue gak bisa pergi dari Rey," gumam Hanna menangis.
"Aku tau Hanna mencintai Rey dan aku juga tau Hanna bingung dengan semua ini. Hanna pasti merasa bahwa dirinya jahat, tapi bagi aku ini bukan salah Hanna. Kalo saja semua ini tidak terjadi kita akan terus bersahabat ceria seperti biasanya," gumam Qila menangis.
Hanna pun melepaskan pelukannya. Lalu menatap Qila.
"Kenapa?" ucap Qila menatap Hanna.
Hanna pun menghembuskan napasnya dengan pelan.
"Huhh ...."
__ADS_1
"Qila hari ini ... hari terakhir di mana kita ..." ucap Hanna.