
"Kriett ...."
Qila pun berjalan dengan perlahan karena Qila takut jika papah mengetahuinya. Qila tidak menyadari bahwa dari tadi papah berdiri melihat Qila.
"Qila ..." ucap papah.
"Hah! Pa-Pah ..." ucap Qila sambil tertunduk.
"Maafin aku Pah ... maafin tadi a-aku tolongin Rey bukan main kok," ucap Qila sambil memohon-mohon.
"Hhhmm ... ya sudah makan dulu sana," ucap papah.
"I-iya Pah, aku ganti dulu pakaian," ucap Qila.
"Huhh ... untung aja papah gak marah," gumam Qila.
Qila pun masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar tersebut ada Hitam yang sedang duduk di dekat jendela. Qila pun menghampiri Hitam.
"Hitam ... kenapa makanannya masih penuh? Makan aja gih. Hukumannya udah aku cabut," ucap Qila.
"Gak mau Qila jahat! Qila gak sayang sama Hitam, mamah, dan papah. Qila malah mau pergi," ucap Hitam.
Qila pun tersenyum sambil mengusap kepala Hitam.
"Ini udah keputusan aku. Hhhmm ... aku boleh minta tolongkan? Nanti kalo aku udah pergi dari dunia ini tolong jagain mamah, papah, Rey, dan Hanna ya," ucap Qila tersenyum sambil mengusap kepala Hitam.
"Hitam iya-in aja. Lagian nanti juga Hitam bisa mencegah Qila untuk bunuh diri," gumam Hitam.
"Iya, pasti Hitam jagain," ucap Hitam.
"Makacihhhh genduttt ..." ucap Qila tersenyum.
Qila pun duduk di tepi jendela melihat ke arah langit yang sangat cerah. Terdapat bulan dan bintang Qila pun tersenyum.
"Tinggal menghitung hari aku pergi dari dunia ini. Aku gak akan bisa menatap indahnya langit dan bintang. Aku pun tidak akan bisa melihat senyuman indah dari bibir Rey, tetapi semua ini aku lakukan demi Rey karena aku tidak ingin melihat Rey terluka. Lebih baik aku saja yang terluka," gumam Qila tersenyum.
Qila pun berjalan ke arah tempat tidur membaringkan tubuhnya. Tak lama Qila pun memejamkan mata lalu terlelap tidur.
"Kriett ...."
"Qila, makan dulu ayo," ucap mamah menghampiri Qila.
Tetapi Qila tertidur mamah pun tidak tega jika membangunkan Qila. Akhirnya mamah pun menarik selimut untuk Qila sambil mengusap kepala Qila.
"Tidur yang nyenyak sayang. Mamah sayang sama kamu hanya kamulah yang Mamah banggakan sekarang. Semoga kamu bisa mencapai cita-cita kamu dan kamu bisa membahagiakan Mamah dan papah. Mamah selalu berkhayal tentang kesuksesan kamu di masa depan. Kebahagiaan kamu saat memiliki keluarga baru. Semoga khayalan mamah terwujudkan di masa depan kamu nanti sayang," ucap mamah.
Mamah pun mencium kening Qila lalu membiarkan Qila tertidur. Mamah pun mematikan lampu dan berjalan keluar kamar Qila. Ternyata Qila belum benar-benar tertidur Qila mendengar ucapan mamah. Air mata Qila pun menetes membasahi bantal. Tersedu-sedu Qila menangis mendengar ucapan mamah.
"Maaf mah ... aku gak bisa mewujudkan khayalan mamah. Karena aku harus pergi dari dunia ini demi orang yang aku sayang. Walaupun sebenarnya aku ingin bahagia dengan mamah dan papah di masa depan nanti, tapi aku sudah mengambil keputusan ini untuk pergi bersama Fery agar Rey bahagia," gumam Qila menangis.
Tak lama Qila pun tertidur dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
"Gue heran kenapa sih setiap gue celaka atau gue kenapa-kenapa di jalan. Pas gue buka mata tuh pasti Qila yang tolongin gak pernah Hanna atau warga yang lainnya," ucap Rey.
******
"Bu Yati ..." ucap pak Andy.
"Iya Pak, ada apa?" ucap bu Yati menghampiri pak Andy.
"Kita akan mengadakan acara bazar ya bu, tolong dibantu. Selain bazar acara apa lagi ya yang bikin seru," ucap pak Andy.
"Hhhmm ... begini saja Pak selain bazar kita adakan acara band saja. Karena saya lihat anak-anak di sini lebih menyukai musik. Soal vocal saya sudah tentukan Qila yang akan bernyanyi," ucap bu Yati.
"Baiklah kalo begitu saya yang mengatur acara bazar. Dan Ibu yang mengatur acara bandnya," ucap pak Andy.
"Baik pa," ucap bu Yati.
Qila berangkat sekolah seperti biasanya diantar oleh papah. Beberapa menit kemudian Qila sampai di sekolah Qila pun turun dari mobil.
"Dahh Papah ... hati-hati ya," ucap Qila melambaikan tangan pada papah.
__ADS_1
Papah pun segera pergi ke kantor. Qila pun berjalan masuk ke dalam gerbang. Entah kenapa wajah Qila terlihat sangat ceria. Padahal tak lama Qila akan pergi dari dunia ini.
"Hari ini aku harus terlihat bahagia di depan semua orang. Walaupun hati ini sedang menangis, tapi aku harus menjalani sisa-sisa hidupku. Dengan penuh kebahagiaan dan penuh keceriaan." gumam Qila tersenyum sambil berjalan.
"Qila ..." ucap bu Yati.
"Iya Bu," ucap Qila.
"Pulang sekolah kumpul ekskul ya, karena dua hari lagi kita akan mengadakan acara bazar dan band. Ibu sudah tentukan vocalnya kamu ya Qila," ucap bu Yati.
"Ngedadak banget Bu? Berarti aku cuma punya waktu hari ini dan besok untuk berlatih," ucap Qila.
"Iya Qila, Ibu yakin kamu pasti bisa walaupun berlatih dua hari," ucap bu Yati.
"Baik Bu, kalo begitu aku permisi untuk masuk ke kelas ya," ucap Qila tersenyum.
Bu Yati pun mengangguk. Qila pun segera berjalan menuju kelas. Karena tinggal beberapa menit lagi pelajaran akan dimulai.
"Qila anak yang baik selain baik dia mempunyai kecerdasan dan bakat yang luar biasa dalam bernyanyi. Saya akan mewujudkan cita-cita dia. Untuk menjadi seorang penyanyi terkenal. Saya akan ajak Qila ke studio untuk rekaman suara," gumam bu Yati.
Sesampainya Qila di kelas. Tak sengaja Qila menubruk Rey yang sedang memegang minuman cokelat. Minuman cokelatnya pun sedikit tumpah karena tersenggol Qila.
"Brukk!"
"Aduh ... ma-maaf Rey gak sengaja," ucap Qila.
"Lo, bisa gak sih kalo jalan tuh lihat-lihat?!" bentak Rey.
"I-iya ... kan aku udah bilang maaf gak sengaja Rey. Ya udah ini aku ganti aja minumannya," ucap Qila sambil menyodorkan uang pada Rey.
"Gak usah!" bentak Rey sambil melemparkan minumannya pada Qila.
"Brushh!"
"Aaaa!" Baju dan wajah Qila pun basah. Karena minuman cokelat yang Rey lemparkan pada Qila.
Qila pun menatap ke arah Rey. Kini Rey semakin benci pada Qila. Semua murid yang ada di kelas pun melihat ke arah Qila. Qila pun berjalan menyimpan tasnya lalu mengambil tisu dan berlari menuju toilet. Qila pun membersihkan baju dan wajahnya menggunakan air dan tisu.
Qila pun menatap dirinya pada cermin. Qila pun mencoba tersenyum walaupun mata Qila berkaca-kaca.
"Kring ... kring ... kring ...."
Qila pun segera keluar dari toilet dan mengikuti pelajaran dengan fokus.
"Anak-anak ada pengumuman sedikit dengarkan ya," ucap pak Hery.
"Besok libur Pak? Alhamdulillah," ucap Bimo.
"Heh! Kata siapa libur Bimo?!" bentak pak Hery.
"Kan, biasanya kalo ada pengumuman pasti libur," ucap Bimo.
"Dengerin dulu! Kamu itu so tau banget," ucap pak Hery.
"Maaf Pak ..." ucap Bimo.
"Jadi, dua hari lagi sekolah kita akan mengadakan bazar dan band ya," ucap pak Hery.
"Wahhh ... seru banget tuh pastinya," ucap murid-murid.
"Iya, tuh seru banget," ucap murid-murid.
"Sudah-sudah dengarkan dulu. Untuk bazar pak Andy yang mengatur jadi, untuk setiap satu kelas harus mempersiapkan bazarnya mengerti?" ucap pak Hery.
"Mengerti Pak," ucap seluruh murid.
"Untuk vocal bandnya. Bu Yati telah memilih Qila untuk bernyanyi," ucap pak Hery.
Qila pun mengangguk sambil tersenyum.
******
__ADS_1
"Kring ... kring ... kring ...."
Qila pun beranjak dari tempat duduknya. Lalu berjalan menuju kantin sendirian. Qila pun memesan es krim vanila karena Qila sangat suka dengan es krim rasa vanila.
"Pelajarannya pusing banget. Kalo makan es krim pasti sejuk nih otak," gumam Qila.
"Dret ... dret ... dret ...."
Qila pun menatap layar ponsel. Ternyata ada telpon dari Fery. Qila pun menjawab telponnya.
"Hallo ..." ucap Qila.
"Qila lagi apa? Makan di luar aja yuk," ucap Fery.
"Lagi makan di kantin. Engga ah kamu pikir aku lagi di rumah apa?" ucap Qila.
"Ya udah sih kalo gak mau," ucap Fery.
"Udah ya, aku laper," ucap Qila.
Qila pun mematikan telponnya. Qila pun kembali memakan es krimnya, tetapi terlintas di pikiran Qila.
"Kenapa Fery ingin bunuh diri sama aku sih. Dia bilang karena dia cinta mati sama aku, tapikan belum tentu saat aku sama Fery bunuh diri terus ketemu lagi di sana," gumam Qila.
Qila pun mengeluarkan buku catatan. Jari Qila pun mulai menulis di atas kertas buku tersebut. Menumpahkan semua kesedihan dan isi hati Qila.
"Buku ini akan aku kasih pada Rey saat aku pergi nanti. Sekalian aku tulis surat sekarang buat Rey, mamah, papah, dan Hanna," gumam Qila.
"Rey ... Qila pamit pergi ya, mulai sekarang gak ada lagi yang ganggu Rey. Maafin Qila kalo selama ini Qila selalu nyakitin perasaan Rey, selalu buat Rey marah, dan kecewa, tetapi Rey tau? Qila sayang banget sama Rey dan cinta sama Rey, Qila rela melakukan apapun demi Rey bahagia. Qila harap Rey tidak sedih atas kepergian Qila. Percayalah kepergian Qila bukan karena keinginan Qila, tetapi karena Qila gak mau Rey dibunuh oleh Fery jadi, Qila memohon sama Fery untuk tidak bunuh Rey lalu Fery pun meminta agar Qila dan Fery bunuh diri bersama." Isi dalam surat.
"Sekali lagi maafin Qila, maafin Fery juga. Qila yakin Hanna bisa membahagiakan Rey. Jangan lupa Rey harus tersenyum dan bahagia setiap harinya kalo Rey sedih Qila pun ikut menangis." Isi dalam surat.
"Rey mau beli apa?" ucap Hanna.
Tetapi Rey terus melihat ke arah Qila yang sedang fokus menulis. Hanna pun menatap Rey.
"Qila lagi nulis apasih? Kaya penting banget sampai serius gitu," gumam Rey.
"Rey ..." ucap Hanna sambil menepuk pundak Rey.
"Hah?!" ucap Rey menatap Hanna.
"Mau makan apa?" ucap Hanna.
"Terserah Hanna aja deh samain aja," ucap Rey.
Hanna pun mengangguk lalu berjalan memesan makanan, sedangkan Rey berjalan menuju kursi kosong.
"Udah deh segini aja suratnya. Sekalian boneka bear dari Rey aku masukin ke kotak juga," gumam Qila.
"Sebenarnya aku sedih melakukan ini semua. Karena yang paling utama aku belum membahagiakan mamah dan papah, tapi apa yang harus aku lakukan jika aku menolak permintaan Fery ini Rey akan dibunuh oleh Fery," gumam Qila.
"Engga! Rey jangan sampai dibunuh oleh Fery. Pokoknya aku harus tetap lakukan permintaan Fery. Demi Rey bahagia lebih baik aku yang terluka," gumam Qila.
Entah mengapa Qila sampai senekat itu. Padahal masih banyak jalan lain untuk menyelesaikan masalah ini. Hitam pun terus berusaha membantu Qila. Agar bisa selesai dari masalah ini dan Qila tidak jadi bunuh diri bersama Fery. Hitam pun mulai mencari cara tentang kekuatan mengubah hati dan pikiran manusia.
Tak lama bel masuk pun berbunyi.
"Yah ... udah bel lagi baru juga nulis satu surat. Lanjut di rumah aja deh," gumam Qila.
Qila membereskan buku catatannya. Lalu kembali berjalan menuju kelas dan mengikuti pelajaran dengan fokus.
"Aduh, bagaimana sih? Dari tadi Hitam gagal terus. Pokoknya Hitam harus berusaha," ucap Hitam.
******
"Kring ... kring ... kring ...."
Seluruh murid pun keluar kelas untuk segera pulang menuju rumahnya masing-masing. Qila pun berjalan menuju ruang musik. Sudah banyak anak band yang kumpul di ruangan tersebut. Qila pun duduk di salah satu kursi.
Tak lama bu Yati pun datang ke kelas. Qila pun mulai melatih suaranya dengan tenang. Semuanya berjalan lancar sampai akhirnya pulang.
__ADS_1