Dia Bahagia

Dia Bahagia
Bab 7


__ADS_3

Tak disangka Fery pun melayangkan tangannya tepat pada pipi Qila. Lalu menampar pipi Qila.


"Plakkk!!!"


Qila pun terkejut dengan sikap Fery seperti itu padahal dulu Fery tidak sekasar itu. Begitu pun Rey yang sama terkejut.


"Akh!" ucap Qila sambil memegang pipinya.


"Apa-apaan lo hah?! Berani-beraninya kasar sama cewe. Rendah banget harga diri lo!" ucap Rey sambil menarik baju Fery.


"Santai dong bro," ucap Fery tersenyum pada Rey.


"Apa maksudnya Fery?!" ucap Qila menatap tajam pada Fery.


"Oh ... jadi gini ya, jauh dari aku terus kamu malah deket sama cowo lain," ucap Fery.


Qila pun mengangkat satu alisnya. Qila terdiam heran menatap Fery.


"Kitakan udah putus. Kenapa kamu bilang gitu?" ucap Qila.


"Aku udah bilang sayang. Kalo aku gak mau putus dari kamu," ucap Fery tersenyum licik.


"Sejak kapan hah?! Kamu yang putusin aku bukan aku yang putusin kamu!" ucap Qila.


Rey pun terdiam menatap Qila dengan kecewa. Tak di sangka Rey malah percaya dengan sandiwara Fery.


"Qila aku senang kamu hadir di saat aku sedih, tapi aku gak suka kamu berbohong seperti ini di depan aku. Kamu memperlihatkan kalo kamu sedang mengalami hal yang sama seperti aku, tapi nyatanya engga tuh," ucap Rey menatap Qila.


"A-aku serius Rey. Aku emang udah putus sama Fery dan dia yang pu ..." ucap Qila.


Tetapi Rey tidak ingin mendengarkan basa-basi Qila. Rey pun memotong pembicaraan Qila.


"Stop Qila! Gak usah dijelasin lagi makasih ya, walaupun sekejap kamu hadir tapi aku seneng kok," ucap Rey sambil berjalan meninggalkan Qila dengan raut wajah penuh kekecewaan


"Rey ..." ucap Qila.


Tetapi Rey mengabaikannya. Rey pun tetap berjalan meninggalkan Qila.


"Hahaha aku gak suka ya, lihat kamu bisa bahagia," ucap Fery sambil berjalan meninggalkan Qila.


"Tega banget Fery! Salah aku sama kamu apa hah?!" ucap Qila.


Air mata Qila pun menetes membasahi pipi. Qila tidak menyangka orang yang dulu Qila sayang. Sekarang dia tidak menyukai Qila bahagia.


"Dahhh ... hati-hati pulangnya sayang nanti aku kembali kalo kamu bahagia ya, hahaha," ucap Fery tertawa.


Qila hanya bisa terdiam sambil menangis. Meratapi sakit pada hatinya sekaligus pada pipi yang ditampar oleh Fery. Sekarang Qila bingung bagaimana caranya menyakinkan kembali Rey


******


Rey pun terus berjalan dengan wajah yang penuh kecewa. Wajah yang memerah penuh amarah.


"Qila padahal hari ini aku mau bilang kalo aku suka kamu, tapi kenapa sepertinya orang-orang senang membuatku kecewa," gumam Rey.


"Tiitt ...."


Rey pun berhenti berjalan. Lalu melihat ke arah sumber suara tersebut.


"Bimo?" ucap Rey.


Bimo Gemaya adalah sahabat satu-satunya Rey yang sangat mengerti perasaan Rey. Terkadang Bimo selalu membuat Rey kesal karena sikapnya yang kadang menyebalkan.


"Bro, lo ngapain jalan sendiri? Qila mana?" ucap Bimo.


Tanpa menjawab Rey pun menaiki motornya bersama Bimo. Dan Bimo pun segera menjalankan motornya.


"Ehh ..." ucap Bimo.


"Buruan jalan," ucap Rey dengan raut wajah kesal.


******


Qila pun berjalan dengan langkah penuh lelah. Air mata Qila terus mengalir membasahi pipinya. Memikirkan Rey yang sedang marah padanya.


"Setega itu Fery padahal dulu aku sayang banget sama dia, tapi dia gak mau lihat aku bahagia," gumam Qila.


Sepanjang jalan Rey gelisah memikirkan Qila. Walaupun Rey kesal, tetapi yang ada dipikirannya hanya Qila.


"Gue gak seharusnya tadi ninggalin Qila, tapi gue kesal banget," gumam Rey.


"Aduh, Rey! Bodoh! Bodoh! Gimana kalo Fery macam-macam sama Qila. Gue harus ketemu Qila lagi," gumam Rey.


"Bim, rumah lo gak jauh dari sini kan?" ucap Rey.


"Iya, kenapa emang?" ucap Bimo.


"Maaf banget Bim lo turun di sini ya, gue ada urusan penting gak apa-apakan?" ucap Rey.


"Santai aja bro, mau di mana juga gue turunnya gak apa-apa kok. Karena lo udah baik sama gue," ucap Bimo.


"Tau gitu pas tadi lo bunyiin klakson. Gue langsung ambil motornya sendiri," ucap Rey.


"Ya gak gitu juga jauh bangetlah. Lo tega emang?" ucap Bimo sambil turun dari motor.


"Bercanda Bim udah ya, gue duluan," ucap Rey.


"Yoi," ucap Bimo.


Rey pun segera menjalankan motornya lalu mencari Qila.


******


"Duhh, Hitam kemana ya? Itukan kucing ajaib bisa jadi dia punya pintu kemana saja kali ya, kaya doraemon. Biar aku bisa cepat pulang aduhh ... cape banget mau dibutuhin malah gak ada," ucap Qila sambil memegang lututnya.


Qila pun melihat ke sekeliling jalan, tetapi entah kemana Hitam itu pergi akhirnya Qila pun duduk di dekat pohon. Lalu Qila memainkan ponselnya untuk menunggu Hitam.


"Qila kemana ya?" gumam Rey sambil terus melihat ke sekeliling jalan dengan rasa gelisahnya.


"Itu Qila deh kayanya?" ucap Rey.

__ADS_1


Rey pun menghampiri Qila yang sedang duduk memainkan ponselnya.


"Qila," ucap Rey dengan sikap yang cuek.


Qila pun terkejut. Lalu menatap Rey dengan heran.


"Kenapa Rey balik lagi? Bukannya dia marah," gumam Qila.


"Ayo pulang. Ngapain duduk di situ sih?" ucap Rey.


Qila pun berdiri lalu menghampiri Rey. Qila terus menatap Rey, tetapi Rey selalu memalingkan wajahnya.


"Rey kenapa balik lagi?" ucap Qila.


"Bukannya Rey marah?" ucap Qila kembali.


"Ayo naik cepetan!" ucap Rey dengan nada tinggi.


Qila pun segera menaiki motornya. Sepanjang jalan Qila terus bertanya pada Rey, tetapi Rey diam dan tidak menjawab pertanyaan Qila. Lalu Qila pun mencoba untuk bertanya lagi.


"Rey ..." ucap Qila.


"Apa?" ucap Rey.


Akhirnya Rey pun menjawab namun dengan jawaban yang singkat. Saat Qila akan bertanya pada Rey, Rey langsung menjawabnya sehingga Qila tidak jadi untuk bertanya.


"Jangan nanya kenapa aku balik lagi Qila. Jelas aku khawatir takutnya kamu di apa-apain sama Fery makanya aku balik lagi, tapi jangan harap aku gak marah sama kamu," ucap Rey dengan nada yang tinggi.


Qila pun terdiam sekejap.


"Ma-makasih ya Rey. Kamu udah peduli sama aku," ucap Qila.


"Ya jelas aku peduli sama kamu. Karena aku sayang sama kamu Qila," ucap Rey.


"Galak banget jawabnya. Kaget deh setiap Rey jawab pasti rasanya jantung mau copot aja nih," gumam Qila.


"Ta-tapi aku gak salah dengerkan. Rey bilang sayang sama aku? Ahh pura-pura gk denger deh," gumam Qila.


Rey pun tersadar apa yang dia ucapkan.


"Aduh! Rey kenapa malah bilang sayang sih," gumam Rey.


Sepanjang jalan mereka hanya saling terdiam. Suasana pun sangat hening. Qila yang bingung harus berkata apa, sedangkan Rey yang bingung harus gimana dengan perasaan Rey sekarang.


"Hhmm ... laper banget. Mana masih jauh lagi," gumam Qila.


Qila pun tersadar akan hal sesuatu.


"Ehh, bentar-bentar kok Rey gak nanyain rumah aku ya, emang dia tau rumah aku di mana?" gumam Qila.


"Rey?" ucap Qila.


"Apa lagi sih?! Rey-Rey mulu dah," ucap Rey.


"Serem banget sih Rey," gumam Qila.


"Ya taulah makanya gak nanya juga!" ucap Rey.


Qila pun merasa heran. Lalu Qila kembali terdiam dan memainkan ponselnya.


"Ehh ... gue baru pertama kali pulang bareng Qila. Dan gue baru pertama kali deket sama Qila. Kenapa gue bilang gue tau rumah dia ya, jelas gue gak taulah. Ihh bodoh banget sih gue," gumam Rey.


"Qila?" ucap Rey.


"Iya?" ucap Qila.


"Rumahnya di mana?" ucap Rey dengan suara yang sangat pelan.


Qila pun membulatkan matanya sambil menatap Rey dari belakang.


"Pfftt ... hahaha" Qila pun tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul pundak Rey.


"Kenapa ketawa? Aku cuma nanya Qila," ucap Rey.


"Hahaha ... aduhhh ... ngakak banget Rey tadi kamu bilang tau rumah aku ngomongnya juga pake nada tinggi lagi. Hahahaa tau-taunya pffttt ... hahahaha," ucap Qila tertawa.


"Lagi gak fokus maaf. Udah dong ketawanya enak banget sih," ucap Rey.


"Hahahaha ..." Qila pun terus tertawa.


"Krukkk ...." Lagi-lagi perut Qila kembali berbunyi di depan Rey.


Rey pun melihat ke arah Qila sambil mengerutkan dahinya.


"Pfftt ... hahahaha ... hahaha." Sekarang giliran Rey yang tertawa terbahak-bahak.


Qila pun terdiam karena merasa malu.


"Hahaha ... makanya jangan ketawa terus tuh, perutnya jadi bunyikan hahaha," ucap Rey sambil tertawa.


"Ihh ... apasihh udah ah malu tau. Aku cuma laper," ucap Qila.


"Aduhh, Qila ... Qila," ucap Rey.


"Aku bahagia banget Rey kalo kamu ketawa. Apalagi tadi kamu bisa ketawa lepas kaya gitu. Malu sih iya, tapi kalo berhasil bikin kamu ketawa gak masalah," gumam Qila.


"Aku seneng banget liat kamu ketawa kaya gitu Qila. Tenang banget kalo kamu ketawa," gumam Rey.


"Qila laper ya? Makan dulu yuk tadikan gak jadi" ucap Rey.


"Iya, cari tempat nasi goreng aja yuk?" ucap Qila.


"Siap baby ..." ucap Rey tersenyum.


******


"Qila kemana sih? Udah jam segini belum pulang bikin khawatir aja," ucap mamah.


"Kriettt ...."

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap papah.


"Waalaikumsalam Pah," ucap mamah.


"Mamah ngapain diam di dekat pintu gitu?" ucap papah.


"Ini Pah, Mamah nungguin Qila belum pulang udah sore gini," ucap mamah.


"Belom pulang?" ucap papah.


"Iya, makanya Mamah khawatir," ucap mamah.


"Telpon aja coba Mah," ucap papah.


Mamah pun segera mengambil ponsel, lalu segera menelpon Qila.


"Tut ... tut ... tut ...."


Ponsel Qila terus berbunyi, tetapi Qila menyadarinya.


Sesampainya di tempat nasi goreng.


"Akhirnya sampai juga. Qila duduk aja nanti Rey pesenin," ucap Rey.


Qila pun duduk di salah satu kursi. Setelah menunggu beberapa menit Rey pun membawa dua porsi nasi goreng.


"Nihh! Nasi gorengnya," ucap Rey.


"Kok, Rey yang bawa?" ucap Qila.


"Rey yang masaknya buat Qila, hahaha," ucap Rey tertawa.


"Halahh ..." ucap Qila tersenyum.


Rey pun tersenyum menatap Qila. Karena Qila malu Qila pun mengambil ponselnya di saku rok.


"Mamah?" ucap Qila menatap ponsel lalu menatap ke arah Rey.


"Kenapa?" ucap Rey.


"Aduh! Aku lupa gak ngasih tau mamah dari tadi mamah nelpon loh. Pasti khawatir banget," ucap Qila.


Qila pun segera menelpon mamah.


"Gak diangkat Pah. Gimana nih?" Ucap mamah.


"Bikin khawatir aja. Kemana sih?" Ucap papah.


"Dret ... dret ... dret ...."


"Akhirnya Qila telpon balik Pah," ucap mamah.


"Hallo Mah ..." ucap Qila.


"Aduh, sayang kamu kenapa belum pulang sih! Lagi di mana?" ucap mamah.


"Maaf Mah, aku lupa gak kasih tau Mamah. Nanti kalo aku udah di rumah aku jelasin. Ini aku lagi makan nasi goreng dulu," ucap Qila.


"Aduh, ya sudah cepat pulang ya," ucap mamah.


"Iya, Mah," ucap Qila.


"Tut ...."


"Lagi ada di mana Mah?" ucap papah.


"Lagi di tempat nasi goreng, tapi gak tau di mana dan gak tau sama siapa," ucap mamah.


"Mamah gimana sih bukannya tanyain!" ucap papah dengan nada tinggi.


"Nanti kalo Qila pulang kasih tau Papah. Papah mau bicara sama dia," ucap papah.


Sepertinya papah sedang ada masalah. Karena tidak seperti biasanya papah marah seperti itu.


"Rey, aku harus pulang cepet-cepet nih," ucap Qila.


"Oh, ya udah itu nasinya makan dulu," ucap Rey.


Qila dan Rey pun segera memakan nasi gorengnya. Setelah selesai. Mereka pun segera pulang.


Saat di perjalanan.


"Rey makasih ya," ucap Qila.


"Iya sama-sama," ucap Rey.


"Nanti Qila mau telponan gak?" ucap Rey.


"Gimana nanti aja ya, soalnya aku cape banget takutnya aku langsung tidur," ucap Qila.


"Oke, alamat rumahnya di mana Qila?" ucap Rey.


"Oh iya," ucap Qila.


Qila pun memberi tau alamatnya pada Rey. Tak lama mereka pun sampai lalu Qila segera turun dari motor.


"Rey makasih ya, hati-hati di jalannya aku duluan masuk ya dahhh ..." ucap Qila.


"Oke sama-sama dahhh ..." ucap Rey.


Qila pun segera membuka gerbang dan membuka pintu rumah.


"Kriettt ...."


"Mah ... Pah," teriak Qila


Papah segera menghampiri Qila lalu berdiam menatap Qila tajam. Tidak seperti biasanya papah marah pada Qila seperti itu.


"Papah ..." ucap Qila.

__ADS_1


__ADS_2