
"Aaaaaaa!" teriak Qila.
Ternyata Fery yang menarik paksa Qila dan membawa Qila ke tempat sepi.
"Ihh ... lepasin! Mau kemana sih?" ucap Qila.
"Suuttttt ..." ucap Fery sambil menempelkan jari pada bibir Qila.
"Fery! Apaansih minggir aku mau pulang!" bentak Qila.
"Kamu gak akan bisa pulang Qila," ucap Fery sambil melepas jaketnya.
Jantung Qila pun berdetak kencang. Melihat Fery yang melepaskan jaketnya.
"Ka-kamu mau ngapain sih?!" bentak Qila.
"Suttt ... sayang jangan berisik nanti orang bisa tau kita ada di sini," ucap Fery tersenyum pada Qila sambil mengusap leher Qila.
"Plakkk!"
Qila pun memukul pipi Fery.
"Kenapa sayang? Masa aku gak boleh sih," ucap Fery tersenyum.
"Kamu siapa aku hah?! Awas minggir atau aku teriak," bentak Qila.
"Jangan dong sayang. Hari ini Fery akan menjadikan Qila milik aku seutuhnya," ucap Fery sambil memeluk Qila.
"Apaansih!" bentak Qila.
Qila pun mendorong tubuh Fery sekuat tenaganya. Lalu Qila berlari menjauh dari Fery. Tetap saja Fery mengejar Qila.
"Aku harus pergi dari sini. Fery emang udah gak waras!" ucap Qila sambil berlari.
"Heh Qila! Mau kemana?" ucap Fery berlari.
Rey pun dari tadi memperhatikan Qila saat Qila menunggu taksi.
"Loh, Qila kok cepat banget sih perginya," gumam Rey.
Rey pikir Qila sudah naik ke taksi. Lalu Rey pun kembali menemui mamah tetapi, saat Rey berjalan.
"Mas," ucap seseorang.
"Iya Pak, ada apa?" ucap Rey.
"Tadi ada yang pesan taksi online atas nama Qila dari tadi saya cari, tapi gak ada orangnya. Mungkin mas tau?" ucap sopir taksi tersebut.
"Gawat ... ada yang gak beres Qila kemana ya?" gumam Rey.
"Emm ... mas batalin aja ya ini saya bayar," ucap Rey sambil memberikan uang pada sopir taksi tersebut.
Rey pun segera berlari mencari Qila.
"Qila tungguuuuuu!" ucap Fery.
"Aduhh aku cape banget ... aku gak kuatt!" ucap Qila sambil berlari sesekali melihat ke arah belakang.
Qila berlari sambil menangis. Dia gak menyangka bahwa Fery akan sejahat ini pada Qila.
"Hati gue gak tenang gini. Pasti terjadi sesuatu sama Qila" gumam Rey berlari.
Akhirnya Rey pun melihat Qila yang sedang berlari diikuti oleh Fery di belakangnya.
"Arghh! Keterlaluan orang itu!" ucap Rey.
Rey pun mengambil jalan pintas untuk menemui Qila. Tanpa diketahui Fery karena Rey malas jika harus bertengkar dengan Fery. Rey pun segera menarik tangan Qila dari samping.
"Aaaaaaa!" teriak Qila.
Rey pun langsung menutup mulut Qila dengan tangannya dan memeluk Qila.
"Sutttt ..."
Fery pun telah berlari jauh dan kehilangan jejak Qila.
Rey pun melepaskan tangannya dari mulut Qila. Qila pun melihat ke arah Rey dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Rey ..." ucap Qila.
Qila pun lalu memeluk erat tubuh Rey sambil menangis tersedu-sedu. Mungkin Qila masih terkejut dengan kejadian tadi. Untung saja Rey mengetahuinya jika tidak entah bagaimana nasib Qila.
__ADS_1
"Rey di sini sayang Rey di sini. Rey akan terus jagain Qila udah jangan nangis Rey sayang sama Qila. Gak mau lihat Qila sedih dan Rey akan selalu lindungi Qila dari orang jahat," ucap Rey sambil menghapus air mata Qila.
"Maafin aku ... huuuu," ucap Qila sambil terus menangis.
Rey pun mengelus kepala Qila. Lalu mencium kepala Qila dan kembali memeluk Qila.
"Udah Qila jangan nangis ada Rey di sini Qila gak apa-apakan?" ucap Rey sambil menatap Qila.
Qila pun menggelengkan kepalanya sambil memeluk Rey kembali.
"Ini udah sore. Qila pulang sama Rey ya," ucap Rey.
Qila pun mengangguk. Rey pun menggenggam tangan Qila lalu menuntunnya untuk pulang bersama.
"Kakak? Dari mana Mamah nunggu dari tadi," ucap mamah.
"Maaf, Mah" ucap Rey.
"Ini Qila kenapa?" ucap mamah terkejut melihat wajah Qila pucat sekali.
"Qila kenapa?" ucap Hanna.
"Qila belum cerita Mah. Cuma tadi Rey lihat Qila lari dikejar sama Fery mantannya. Qila masih terkejut jadi, Rey gak berani tanya dulu," ucap Rey.
Hanna pun mengusap pundak Qila.
"Benar-benar ya si Fery. Berani-beraninya sama sahabat gue," ucap Hanna.
"Ya udah Qila ikut pulang kita aja. Kebetulan kita bawa mobil ke sini sekalian Hanna juga ya," ucap mamah tersenyum.
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil. Qila pun terlihat sangat lemas Rey pun memberikan pundaknya pada Qila. Sehingga Qila terus bersandar pada Rey sambil sesekali Rey mengusap kepala Qila.
"Walaupun gue sakit lihat Qila dan Rey, tapi gue harus kuat jangan sampai Qila tau gue punya rasa sama Rey. Dan gak mungkin gue rebut Rey dari Qila," gumam Hanna.
"Hanna rumah lo di mana?" ucap Rey.
"Walaupun hanya sebentar gue ngerasain bahagia dari Rey. Bagi gue itu bahagia yang luar biasa," gumam Hanna.
"Hanna!" ucap Rey.
Tetapi tetap saja Hanna melamun dan tidak mendengarkan pertanyaan Rey.
Qila pun melihat ke arah Hanna. Lalu menepuk pundak Hanna.
"Hanna kenapa?" ucap Qila.
"E-engga hehe ... aduh maaf aku gak fokus," ucap Hanna.
"Rumahnya sebelah mana?" ucap Rey.
Hanna pun memberi taukan alamat lokasinya. Lalu Hanna tiba di rumahnya.
******
"Sial! Gue kehilangan jejak Qila cepet banget larinya," ucap Fery.
"Awas aja nanti. Pokoknya Qila harus jadi milik gue lagi," ucap Fery.
Sesampainya Qila di rumah. Qila berjalan dengan sangat lemas. Akhirnya Rey menuntun Qila sampai ke dalam rumah.
"Om ... Tante permisi," ucap Rey.
"Iya? Astaga Qila kamu kenapa?" ucap papah.
"Ada apa Pah, kok teriak-teriak?" ucap mamah dari dalam rumah.
Mamah pun menghampiri papah lalu terkejut. Melihat Qila yang berjalan dengan lemas. Wajahnya pun pucat.
"Qila sayang kenapa? Rey Qila kenapa Rey?" ucap mamah.
"Qila belum cerita sama Rey tante. Cuma tadi Rey lihat Qila dikejar sama Fery entah apa sebabnya," ucap Rey.
"Astaga ya sudah makasih ya, Rey mau masuk dulu?" ucap mamah.
"Gak usah tante, om, makasih. Rey ke sini sama mamah jadi, Rey mau segera pulang," ucap Rey tersenyum
"Ya sudah salam sama mamah ya," ucap mamah.
Rey pun mengangguk. Lalu permisi untuk pulang. Qila pun diantarkan oleh mamah ke kamar.
Qila pun berbaring di tempat tidur dengan keadaan yang masih lemas.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" ucap mamah sambil memberikan minum.
Qila pun hanya terdiam tak menjawab.
"Ya sudah kamu istirahat ya, sayang," ucap mamah sambil mengusap pipi Qila.
"Loh, badan kamu panas Qila ... kamu demam ya, sebentar," ucap mamah.
Mamah pun segera mengambil obat untuk Qila. Qila pun meminum obatnya setelah itu Qila tak banyak bicara Qila hanya terdiam lalu tertidur.
******
Sesampainya Hanna di rumah.
Hanna pun berjalan dengan tubuh yang lemas ke arah meja di kamarnya. Hanna pun meraih foto Hanna dengan Qila lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Qila ... maafin gue kita bersahabat begitu lama, tetapi kenapa kita harus mencintai lelaki yang sama. Ini yang ditakuti gue selama ini Qila hal yang paling gue benci!" gumam Hanna.
Air mata Hanna pun menetes membasahi pigura foto tersebut.
"Hingga detik ini gue gak bisa hilangin rasa ini. Semakin hari yang gue rasain semakin sayang sama Rey gue harus gimanaaaaaa?!" ucap Hanna sambil menangis.
"Gue gak sanggup lagi. Kalo harus berpura-pura biasa aja di saat lihat Qila sama Rey gue pengen bilang. Kalo gue cemburuuu! Kalo hati gue sakitttt lihat ituuuu!" ucap Hanna sambil terus menangis.
Tak sengaja Hanna pun menjatuhkan pigura tersebut sehingga pecah.
"Prakkk!" Pigura tersebut pecah.
"Astaga!" ucap Hanna.
"Yah ... pecah kok bisa sih," ucap Hanna.
Hanna pun membereskan pigura yang pecah itu. Lalu menyimpan fotonya dan membuang piguranya karena sudah tidak di pakai lagi.
"Nanti gue ganti deh piguranya ..." ucap Hanna.
"Han?" ucap ayah menghampiri Hanna.
"Iya Ayah, ada apa?" ucap Hanna.
Ayah pun melihat pigura yang pecah tersebut.
"Kok bisa pecah itu piguranya?" ucap ayah.
"Aku juga gak tau. Gak sengaja, Yah," ucap Hanna.
"Kamu kenapa? Kayanya lagi ada masalah ya, berantem sama Qila?" ucap ayah.
Hanna pun langsung memeluk ayah sambil menangis. Ayah pun mengusap kepala Hanna, Hanna sejak dari kecil sampai sekarang dirawat oleh ayahnya. Setelah bundanya meninggal akibat kanker payudara.
"Kenapa? Coba cerita," ucap ayah.
"Aku benci sama diri aku sendiri, Yah," ucap Hanna sambil tertunduk.
"Benci kenapa?" ucap ayah menatap Qila.
"Aku salah, aku malah cinta sama cowo milik sahabat aku sendiri. Aku berusaha buat hilangin rasa ini, tapi sia-sia malah semakin bertambah rasa ini. Aku benci sama diri aku sendiri, Yah," ucap Hanna.
Ayah pun menggelengkan kepala lalu tersenyum. Ayah pun mengambil foto yang sedang bersama bunda.
"Dulu ayah juga sama seperti kamu mencintai bunda. Padahal bunda milik sahabat ayah sendiri," ucap ayah.
"Tapi Hanna ... yang salah bukan diri kamu cinta itu datang tanpa kita meminta. Cinta itu telah ditakdirkan jadi, kamu jangan benci sama diri kamu sendiri. Sebab cinta itu datang sendiri. Hanna cinta sama dia gak di sengaja, kan?" ucap ayah.
Hanna pun menatap ayah dengan raut wajah yang sedih.
"Kamu putri ayah satu-satunya. Ayah hanya punya kamu sekarang. Ayah gak mau kamu sedih karena masalah ini percaya sama ayah. Jika dia ditakdirkan untuk Hanna dia akan datang sendiri dan akan jadi milik Hanna," ucap ayah.
"Jadi, kamu gak usah sedih kamu harus selalu tersenyum. Yang terpenting kejar dulu cita-cita kamu sekarang," ucap ayah tersenyum.
Hati Hanna pun sedikit lega setelah mendengar nasehat dari ayah. Kini Hanna pun tersenyum memeluk ayah.
"Sekarang kamu tidur besok sekolah," ucap ayah sambil menarik selimut untuk Hanna.
Hanna pun berbaring. Lalu ayah pergi keluar dari kamar Hanna.
******
Rey pun merasa sangat kesal pada perbuatan Fery terhadap Qila.
"Gue harus temui Fery besok. Lihat aja gue kasih pelajaran buat dia! Gue gak terima atas apa yang dilakukan Fery pada Qila," gumam Rey.
__ADS_1