Dia Bahagia

Dia Bahagia
Bab 32


__ADS_3

"Sekarang gue harus berpikir lagi untuk mencelakai Rey. Rasanya gue udah muak lihat Rey. Oke, buat bukti ke Qila gue bakalan habisin Rey sekarang juga. Lihat aja lo Rey," gumam Fery tersenyum.


"Kring ... kring ... kring ...."


Seluruh murid pun keluar dari kelas untuk menuju kantin. Kini Qila sendiri menuju kantin yang biasanya selalu bersama Hanna, tetapi sekarang tidak. Saat Qila beranjak dari kursinya Qila pun melihat Hanna yang membereskan tasnya. Lalu berjalan menuju kursi belakang. Qila pun merasa heran.


"Hanna mau kemana?" ucap Qila.


Hanna pun berhenti berjalan lalu melihat ke arah Qila.


"Mau pindah tempat duduk," ucap Hanna dengan singkat.


Rey dan Bimo pun melihat ke arah Qila dan Hanna.


"Loh kenapa? Udah aja duduk di sini," ucap Qila.


"Gak usah," ucap Hanna.


"Bukannya mata kamu agak minus, kan? Masa duduk di belakang gak akan kelihatanlah," ucap Qila.


"Stop! Qila. Lo gak usah peduliin gue lagi dan gak perlu belain gue di depan teman-teman. Gak perlu! Lagian gue gak butuh!" ucap Hanna berjalan.


"Heh! Lo bukannya makasih atau apa ke Qila. Malah nyolot kek gitu," ucap Bimo.


"Diam lo, ikut campur mulu!" ucap Rey.


"Gue ngomong ke Hanna woi! Bukan ke lo! Lo juga sama ikut campur mulu," ucap Bimo.


Qila pun tidak ingin mendengarkan keributan lagi. Akhirnya Qila pun keluar kelas untuk menuju kantin.


Setibanya Qila di kantin Qila pun membeli jus dan sandwich. Qila duduk sambil melamun dan mengaduk-aduk jusnya.


"Mana? Dari tadi juga Rey gak ngerasa ada orang di belakang ngikutin. Udah deh Qila stop peduli sama Rey ngerti?!" Terlintas di pikiran Qila.


"Stop! Qila. Lo gak usah peduliin gue lagi dan gak perlu belain gue di depan teman-teman. Gak perlu! Lagian gue gak butuh!" Terlintas di pikiran Qila.


"Kenapa sih semua orang yang aku sayang menyuruh aku untuk tidak peduli sama mereka. Padahal aku sayang sama mereka dan aku gak mau melihat mereka bersedih ataupun terluka. Terutama Rey," gumam Qila.


Air mata Qila pun menetes membasahi pipinya. Anggun melihat Qila yang dari tadi hanya melamun sambil menangis. Anggun pun menghampiri Qila.


"Qila ..." ucap Anggun.


Qila pun terkejut lalu menghapus air matanya.


"Kenapa nangis? Qila lagi ada masalah ya?" ucap Anggun.


"Engga kok," ucap Qila tersenyum.


"Kalo ada masalah cerita aja sama aku. Biar sedikit lega," ucap Anggun tersenyum.


"Iya, Anggun makasih," ucap Qila.


"Oh iya, tadi aku disuruh bu Yati kata bu Yati udah beres makan Qila langsung ke ruang bu Yati," ucap Anggun.


"Iya, makasih Anggun," ucap Qila.


"Ya udah kalo gitu. Aku mau ke kelas dulu bayyy," ucap Anggun.


Qila pun melambaikan tangannya. Lalu setelah selesai makan Qila pun pergi menuju ruangan bu Yati.


"Tok ... tok ... tok ...."


"Kriet ...."


"Permisi Bu," ucap Qila.


"Silahkan masuk Qila," ucap bu Yati.


Qila pun berjalan masuk ke dalam ruangan. Lalu Qila duduk berhadapan dengan bu Yati.


"Maaf ada apa Bu?" ucap Qila.


"Pulang sekolah jangan lupa kamu ekskul ya Qila. Ibu tunggu di ruang musik jangan seperti kemarin Ibu udah bilang kumpul kamu malah pulang. Ibu panggil malah ngelamun dan gak ngejawab Ibu," ucap bu Yati.


"Ma-maaf Bu, iya sekarang aku kumpul kok," ucap Qila.


"Ya sudah sekalian Ibu mau nanya sama kamu nanti," ucap bu Yati.


"Baik Bu, kalo begitu saya permisi ke kelas," ucap Qila.


"Ya silahkan," ucap bu Yati.


Qila pun berjalan keluar dari ruangan bu Yati. Qila pun pergi menuju kelas lalu duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.


Beberapa menit kemudian bel masuk telah berbunyi. Seluruh murid pun segera mengikuti kembali pelajaran dengan fokus.


******


"Udah lama gak beliin Qila sesuatu. Kemarin buku catatan itu pun Qila yang minta," ucap mamah sambil melihat baju yang ada di toko.


"Beli baju aja deh buat Qila," ucap mamah tersenyum.


Mamah pun menghampiri toko baju tersebut. Lalu mamah memilih baju yang cocok untuk Qila. Pandangan mamah tertuju pada baju switter berwarna biru muda.


"Wahh, bagus banget. Pasti cocok kalo di pakai Qila," gumam mamah.


Akhirnya mamah pun membeli switter itu untuk Qila. Setelah itu mamah pulang ke rumah naik taksi online.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Qila sekarang ya, semoga aja kepala Qila gak sakit-sakit lagi," gumam mamah.


"Mah ... maafin aku ya, aku gak bisa gapai cita-cita aku dan aku gak bisa membahagiakan mamah dan papah. Karena aku harus pergi jauh dari mamah dan papah semoga kita bertemu kembali ya Mah,"


"Qila sayang kamu mau kemana? Jangan tinggalin mamah, mamah gak mau sendiri Qila ...."


"Maaf Mah ...."


"Bu ... sudah sampai," usap sopir taksi.


"Astaghfirullah ... i-iya pak ini uangnya," ucap mamah.


Mamah pun segera turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah.


"Astaga aku sampai tertidur di taksi. Kenapa aku bisa bermimpi Qila seperti itu ya, aneh sekali semoga saja itu hanya mimpi dan tidak ada tanda-tanda apapun untuk keluargaku," gumam mamah.


******


Bel pulang pun telah berbunyi. Seluruh murid pun segera pulang menuju rumahnya masing-masing. Kecuali Qila, Qila pun berjalan keluar kelas untuk menuju ruang musik.


"Hanna, ayo," ucap Rey.


"Kok Hanna ikut sih?" ucap Bimo.


"Kenapa? Gak boleh? Gue ketuanya lo diem!" ucap Rey menatap Bimo.


"Biasa aja ****! Lo ngegas mulu males gue ngomong sama lo," ucap Bimo.


Setibanya Qila di ruang musik.


"Loh kok sepi," gumam Qila sambil menaruh tas di kursi.


"Ada gitar nyanyi ah. Kebetulan aku aja yang di ruang musik," ucap Qila sambil berjalan menuju gitar tersebut.


Qila pun duduk sambil memegang gitarnya.


"Hhhmm ... nyanyi lagu yang lagi viral ah," ucap Qila.


"Pergi hilang dan lupakan-Remember of today." Judul lagu.


Qila pun mulai memetik gitarnya dan mengeluarkan suaranya.


"🎶🎶🎶 Dunia hari ini begitu tak berarti


Tak berjalan cepat seolah tak peduli


Lambat laun ku bertahan dengan hari ini


Hari yang takkan pernah berakhir ...."


"Oke ..." ucap Rey tersenyum sambil mengusap kepala Hanna.


"Yo ahh mulai ..." ucap Bimo.


"Ehh bentar bolanya masih di ruangan bro. Tunggu gue ambil dulu," ucap Rey sambil berlari.


Rey pun berjalan ke arah ruangan olahraga, tetapi langkah Rey berhenti setelah mendengar suara merdu Qila. Yang didampingi suara gitar. Rey pun mendengarkan di dekat pintu ruang musik.


"Tenang banget hati gue. Setiap dengar suara Qila nyanyi," gumam Rey.


"Waktu pun ingin ku ubah


Kembali tertawa


Aku hanya bisa menangis


Aku tak bisa ...."


"Maafkanlah diriku


Atas semua kesalahan yang ku perbuat


Selama ini kepada dirimu


Aku berjanji akan melepasmu


Dengan senyuman yang akan kau ingat


Dan kau kenang sampai mati


Selamanya ...."


"Andaikan Rey dengar lagu ini. Karena lagu ini sama seperti apa yang terjadi dalam kisah cintaku sekarang," gumam Qila.


"Apa lagu yang Qila nyanyi ini buat gue? Kenapa gue rasa lagu ini pas banget buat gue, gue emang udah jahat sih sama Qila, tapi Qila yang udah buat gue gini," gumam Rey.


"Lama banget tuh bocah. Nyari bola basket sampai ke London keknya," ucap Bimo.


"Samperin dia deh Vin," ucap Bimo.


"Mager ah gue," ucap Kevin.


"Han ... samperin Rey gih," ucap Bimo.


Hanna pun mengangguk lalu berjalan menuju ruang basket. Hanna pun melihat Rey yang sedang diam berada di depan pintu ruang musik. Hanna pun berhenti sejenak setelah mendengar suara Qila.


"Inikan suara Qila. Hhmm ... pantes aja Rey lama malah dengerin Qila nyanyi," gumam Hanna.

__ADS_1


"Lupakanlah semua kenangan ini


Hancurkanlah semua mimpi-mimpi


Jangan pernah kembali


Dan takkan pernah kembali


Dan janganlah kau pernah berikan aku satu harapan


Dan karenaku ingin


Pergi, hilang, dan lupakan .... 🎶🎶🎶"


"Wow ... suara aku jadi kembali merdu lagi nih. Tanpa bantuan kucing Hitam yang gendut itu. Aku bisa bernyanyi dengan merdu," gumam Qila sambil bertepuk tangan dan tersenyum.


"Rey ..." ucap Hanna sambil memegang pundak Rey.


"Ehh ... Han ada apa?" ucap Rey.


"Rey lagi ngapain? Itu anak-anak nungguin Rey loh dari tadi," ucap Hanna.


"Astaga lupa ... bentar Han," ucap Rey sambil berlari masuk ke dalam ruangan olahraga.


"Bu Yati lama banget ..." ucap Qila.


"Kok ruang musiknya sepi sih cuma ada Qila. Gue jahilin ah kebetulan gak ada orang," gumam Hanna.


Hanna pun mencoba menutup pintunya dan akan mengikatnya oleh tali. Agar Qila tidak bisa keluar dari ruang musik tersebut. Tetapi ....


"Hanna ..." ucap bu Yati.


"E-ehh Bu," ucap Hanna terkejut.


"Sedang apa kamu?" ucap bu Yati.


"I-ini Bu, lagi temenin Rey nyari bola basket," ucap Hanna.


"Oh, ya sudah," ucap bu Yati.


Bu Yati pun berjalan masuk ke dalam ruang musik.


"Qila ..." ucap bu Yati.


"Ehh ... iya Bu," ucap Qila tersenyum.


"Maaf tadi ada tamu. Sepertinya besok saja latihannya ya, sudah terlalu sore," ucap bu Yati.


"Baik Bu," ucap Qila.


Qila pun berjalan mengambil tas lalu pamit untuk pulang. Qila pun diam di depan gerbang sekolah untuk memesan taksi online, tetap saat Qila meraba sakunya untuk mengambil uang.


"Loh kok tinggal segini? Aduh ... jatoh deh kayanya," gumam Qila.


"Terpaksa jalan kaki deh. Ahh ya sudahlah," ucap Qila.


Qila pun memutuskan untuk berjalan kaki.


"Udah sore bro. Cukup segini aja latihannya," ucap Rey.


"Oke," ucap semua tim basket.


Rey, Hanna, dan Bimo pun berjalan menuju parkir motor.


"Gara-gara lo lama banget ngambil bola. Kaya yang ngambil ke London aja lo! Jadi sebentar latihannya," ucap Bimo


"Lo dari tadi nyalahin gue mulu! Kalo gak suka bilang!" bentak Rey.


"Iya, gue gak suka! Kenapa lo hah?!" ucap Bimo.


"Udah ihh ... ribut mulu dari tadi. Lo Bimo bawel banget sih kek cewe," ucap Hanna.


"Kesal banget sama Rey. Kenapa dia dengerin Qila nyanyi ya? Atau Rey masih suka sama Qila. Akhh ... sebel banget deh. Mending pulang duluan aja," gumam Hanna.


"Rey, Hanna pulang duluan ya, bayyy ..." ucap Hanna.


"Loh kenapa?" ucap Rey.


Tetapi Hanna terus berjalan dan mengabaikan Rey. Akhirnya Rey pun pulang sendiri saat di perjalanan menuju komplek Rey merasa ada yang mengikuti Rey dari belakang. Rey pun terus menaikan kecepatannya, tetapi orang itu mengambil jalan pintas orang tersebut tiba di hadapan Rey. Rey pun turun dari motornya.


"Ada apa ini? Ngapain halangin jalan gue?" ucap Rey.


"Maaf mas. Ini tadi jatuh," ucap seseorang tersebut sambil memberikan case handphone milik Rey.


"Loh kok bisa jatuh sih," gumam Rey.


Orang tersebut kembali mengendarai motornya, tetapi orang tersebut kembali berhenti di belakang Rey dia pun mengambil sebuah kayu. Lalu memukul punggung Rey sehingga Rey terjatuh dan tidak sadarkan diri.


"Gue bakalan bawa lo ke tempat yang lebih sepi," ucap Fery.


"Hahaha ... akhirnya gue bisa ngabisin lo dengan sepuasnya Rey!" ucap Fery tertawa sambil membuka topengnya.


Flashback:


"Case handphone Rey warnanya merah. Oke gue harus beli case handphone yang mirip dengan case handphone milik Rey," ucap Fery.


Sebenarnya case handphone Rey tidak terjatuh, tetapi Fery membeli case handphone yang sama. Agar Fery bisa berkata bahwa case handphone Rey terjatuh. Rey pun di bawa oleh Fery ke tempat yang sangat sepi.

__ADS_1


__ADS_2