Dia Bahagia

Dia Bahagia
Bab 27


__ADS_3

"Qila hari ini ... hari terakhir di mana kita ..." ucap Hanna.


Qila pun mengerutkan dahinya sambil menatap Hanna.


"Loh, maksudnya apa?" ucap Qila.


"Hari ini hari terakhir di mana kita bersahabat. Mulai besok Qila bukan sahabat aku lagi ..." ucap Hanna.


Deg!


Qila pun masih belum mengerti apa yang di maksud Hanna berbicara seperti itu.


"Ke-kenapa? Hanna mau kemana?" ucap Qila.


"Gue gak akan kemana-mana, tapi gue pengen udahin persahabatan ini karena gue cinta sama Rey. Mulai besok gue bakalan berusaha berjuang untuk miliki Rey karena gue pengen jadi milik Rey. Gue gak akan peduli mau lo nangis, mau lo sedih gue gak akan peduli! Karena lo bukan sahabat gue lagi!" ucap Hanna.


Air mata Qila pun menetes membasahi pipinya. Tak menyangka Hanna yang selama ini Qila sayangi. Hanna yang selama ini selalu ada buat Qila, tetapi hari ini dia tega memutuskan persahabatannya hanya karena cinta.


"Kenapa? Kenapa dengan mudahnya kamu putusin persahabatan ini kamu lupa? Kita udah lama bersahabat, tapi karena cinta kamu tega Han ... tega putusin persahabatan kita!" ucap Qila.


"Karena lo gak tau Qila! Lo gak tau perasaan gue selama ini gue cape! Gue sakit hadapi semua ini di mana gue harus berpura-pura tersenyum melihat lo dan Rey! Kalo lo jadi gue ... lo gak akan kuat Qila ..." ucap Hanna menangis.


"Dari awal aku tau Han ... aku tau kamu cinta sama Rey, tapi aku terus berpikir gimana caranya agar aku bisa mempertahankan kamu dan mempertahankan Rey. Aku gak pernah ada niat buat putusin persahabatan ini!" ucap Qila.


"Aku berpura-pura untuk tidak mengetahui ini soal kamu cinta sama Rey. Agar orang-orang yang aku sayang tetap berada di samping aku! Tetapi kamu ingin persahabatan kita berakhir?" ucap Qila menangis.


"Iya! Gue ingin persahabatan kita berakhir agar gue bisa rebut Rey dari lo! Mulai sekarang lo bukan sahabat gue lagi dan gue bakalan berusaha buat dapetin Rey!" bentak Hanna.


Hanna pun berjalan meninggalkan Qila di taman itu. Qila pun menangis tersedu-sedu hati dan pikiran Qila pun tambah kacau. Orang-orang yang Qila sayangi perlahan mereka pergi. Kini Qila merasa tidak bersemangat karena tidak ada penyemangat dalam hidup Qila.


"Semua orang yang dulu selalu membuatku ceria kini mereka membenciku. Hanna lebih memilih cinta daripada sahabat," gumam Qila.


Hanna pun berlari sambil menangis lalu Hanna berhenti di dekat pohon.


"Sebenarnya gue gak mau nyakitin Qila seperti itu, tetapi gue pengen rasain gimana rasanya dicintai oleh seseorang," gumam Hanna.


******


"Kring ... kring ... kring ...."


Seluruh murid pun segera membereskan alat tulisnya dan segera pulang. Begitu pun Qila dia sedang memasukkan alat tulis ke dalam tasnya. Rey pun berjalan ke arah kursi Qila dan Hanna. Qila pun menatap ke arah Rey.


"Han, ayo pulang," ucap Rey.


"Sebentar ..." ucap Hanna.


"Rey kok Qila dicuekin sih? Biasanya pulang sama Qila kenapa jadi Hanna," ucap Bimo heran.


Rey pun hanya diam tanpa menjawab. Qila pun menghembuskan napasnya dengan pelan. Lalu Qila berjalan untuk keluar kelas.


"Qila ..." ucap Bimo sambil menarik tangan Qila.


Qila pun menatap ke arah Bimo.


"Bareng aja ke gerbangnya sama kita," ucap Bimo.


"Gak usah aku bisa sendiri kok, Bim," ucap Qila tersenyum.


"Aku duluan ya," ucap Qila tersenyum sambil berjalan keluar kelas.


"Itu Qila kasihan setannnn!" bentak Bimo pada Rey.


"Kalo lo kasihan samperin sana! Ngomong mulu berisik!" ucap Rey mendelikan matanya pada Bimo.


Lalu Rey, Bimo, dan Hanna pun segera pulang.


Sepanjang jalan Qila berjalan dengan tatapan kosong. Hingga Qila tidak mendengar bu Yati yang dari tadi memanggil. Lalu Qila pun tidak mendengar Pak Hery yang menyapanya. Qila hanya terus berjalan dengan tatapan kosong memikirkan bahwa dirinya sekarang sangat terluka.


"Rasanya tidak ada penyemangat dalam hidupku. Semua orang yang aku sayangi kini membenciku bagaimana bisa aku melalui hari-hariku dengan keadaan seperti ini. Dimana pikiranku ingin pergi dari semua ini, tetapi hatiku tidak bisa pergi dari semua ini," gumam Qila.


"Aku sayang sama kamu Rey, tetapi kamu begitu benci padaku sampai kamu tega membentakku. Kalo saja kamu tau yang aku rasakan. Kini sangatlah sakit sepertinya aku akan terus menangis mungkin aku tidak bisa tertawa lagi," gumam Qila.

__ADS_1


Tanpa sadar Qila pun berjalan tak tentu arah. Qila berjalan bukan ke arah rumahnya melainkan entah kemana. Sepanjang jalan dia hanya memikirkan masalahnya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


"Tujuanku hadir dalam kehidupan Rey hanya untuk membuat Rey bahagia, tapi aku takut jika Hanna malah menyakiti Rey. Aku harus terus memperhatikan Rey dari jauh. Aku akan terus menyayangi Rey walaupun Rey sudah tidak mencintaiku lagi," gumam Qila.


Qila pun baru tersadar bahwa dirinya berjalan tak tentu arah setelah Qila menginjak batu lalu Qila terjatuh.


"Brughh!" Qila pun terjatuh.


"Akhh! Aww! Sakit banget. Astaga lutut aku berdarah," ucap Qila.


"Udah sore aku harus segera pulang," ucap Qila sambil berdiri kembali.


Qila pun berdiri lalu Qila melihat sekeliling jalan Qila mulai tersadar lalu terkejut.


"I-ini di mana? Kok aku bisa di sini aduh, ini di mana ya?" ucap Qila sambil berputar melihat sekeliling jalan.


Qila pun terkejut lalu menangis karena Qila tidak tau Qila sedang di mana.


"Aku tiba-tiba ada di sini sih? Aku harus telpon mamah," ucap Qila.


Qila pun mengeluarkan ponselnya dari tas, tetapi malangnya ponsel Qila tiba-tiba mati dan tidak bisa digunakan.


"Yaahh ... ponselnya kenapa sih? Aduh gimana ini," ucap Qila sambil menangis.


Qila pun terus berjalan berharap Qila bisa kembali ke jalan yang Qila tau, tetapi Qila malah makin nyasar entah di mana Qila berada. Dan tidak ada satupun orang yang melewat karena hari telah gelap.


"Mamah ... papah ... aku di mana ini," ucap Qila menangis.


"Aku malah makin nyasar ... aku takut mamah!" ucap Qila sambil terus berjalan.


******


Mamah pun dengan cemas menunggu Qila di depan rumah.


"Aduh ... udah gelap gini kok, Qila belum pulang juga ya," ucap mamah.


"Pah ..." ucap mamah menghampiri papah yang sedang duduk di kursi.


"Qila kemana ya Pah, Mamah khawatir banget ini udah gelap, tapi Qila masih belum pulang. Ponselnya pun tidak aktif Pah," ucap mamah.


Papah pun terdiam mengabaikan mamah.


"Ihh Papah gimana sih! Mamah lagi cemas kaya gini malah tenang aja. Ini Qila kemana Pah?" ucap mamah.


"Biarin aja Papah kecewa sama Qila. Tuh buktinya akhir-akhir ini Qila pulang malam terus. Pasti main tuh anak! Jadi bandel dia sekarang sudahlah gak perlu dicari nanti juga pulang," ucap papah sambil beranjak dari kursi lalu berjalan menuju kamar.


"Udah dong Pah, maafin Qila gimana sih Papah. Mending sekarang kita cari Qila aja yuk, Pah," ucap mamah.


"Mamah aja sendiri Papah mau tidur," ucap papah.


Akhirnya mamah pun kembali berjalan menuju keluar rumah untuk menunggu Qila.


"Papah ... mamah ... Reyyy tolongin aku, aku di mana ini takut ..." ucap Qila menangis.


"Awassss!"


"Tiiitt ...."


"Aaaaa! Reyyyyy!" teriak Qila.


"Brughhh!"


"Hahh!" Rey pun terbangun dari mimpi buruknya.


Rey pun terdiam dengan napas yang terengah-engah. Bercucuran keringat dari tubuh Rey, Rey terkejut dengan kejadian mimpi tadi.


"Kok gue bisa mimpi Qila kaya gitu ya," gumam Rey.


"Ahh, sudahlah hanya mimpi lagian ngapain gue peduliin Qila. Emang Qila siapa gue," ucap Rey kembali membaringkan tubuhnya.


"Qila masih belum pulang juga. Kemana sih bikin khawatir aja," gumam papah sambil melihat mamah yang sedang menunggu Qila dengan cemas.

__ADS_1


"Telpon Rey aja siapa tau Qila lagi sama Rey," ucap papah.


Papah pun mencoba menelpon Rey.


"Dret ... dret ... dret ...."


Rey pun menatap layar ponselnya.


"Om Wijayanto," gumam Rey.


Rey pun mengangkat telpon dari papah.


"Hallo ... Om ada apa?" ucap Rey.


"Hallo Rey. Hhmm ... Qila lagi sama kamu engga ya?" ucap papah.


"Aduh gue harus jawab apa? Sekarangkan gue udah gak jagain Qila lagi," gumam Rey.


"Rey ... Hallo?" ucap papah.


"Iya, hallo Om," ucap Rey.


"Qila sama kamu engga? Soalnya Qila belum pulang dari tadi," ucap papah kembali.


"Maaf, Om tadi Rey gak pulang sama Qila. Hhmm ... soalnya tadi Rey ada urusan sama guru jadi, Qila pulang duluan," ucap Rey.


"Astaga ... ya sudah terima kasih Rey," ucap papah.


"Iya, Om," ucap Rey.


Papah pun mematikan telponnya.


Qila pun terus berjalan menyusuri jalan yang gelap sendirian. Qila pun tidak hentinya terus menangis sepanjang jalan itu. Qila pun melihat bapak-bapak yang sedang berkumpul.


"Akhirnya ada orang juga jadi, aku bisa tanya," ucap Qila tersenyum.


Qila pun berjalan menghampiri bapak-bapak tersebut.


"Permisi Pak, saya mau tanya ini jalan apa ya Pak namanya?" ucap Qila.


"Ada cewe nyasar nih cantik lagi," bisik bapak tersebut.


Qila pikir bapak-bapak tersebut akan membantu Qila, tetapi nyatanya bapak itu mempunyai niat jahat pada Qila.


"Cantik banget sih kamu," ucap bapak tersebut sambil menghampiri Qila.


Qila pun terkejut dengan sikap bapak tersebut yang mencurigakan.


"Mau kemana? Mending main sama kita aja," ucap bapak tersebut sambil tersenyum.


Perlahan Qila pun mundur dan mencoba menjauh dari bapak itu, tetapi saat Qila akan berlari menjauh tangan Qila dipegang kuat oleh bapak itu.


"Aaaa! Lepasinnn!" teriak Qila.


"Mau kemana cantik. Ayo main sama kita haha ..." ucap bapak tersebut sambil memegang lengan Qila.


"Aku harus gimana ini?" gumam Qila ketakutan.


Qila pun mencoba melepaskan genggaman tangan bapak itu dengan sekuat tenaganya.


"Lepasinnn!" ucap Qila.


"Kring!"


Lonceng untuk memanggil Hitam pun terjatuh lalu masuk ke dalam selokan yang kering.


"Astaga! Loncengnya terjatuh ... aku harus minta bantuan Hitam, tapi gimana," gumam Qila.


"Ayo, sayang ikut kita aja ayo," ucap bapak itu sambil menarik Qila untuk masuk ke dalam ruangan.


"Engga! Lepasinnnnn!" teriak Qila sambil berusaha melepaskan genggaman tangan bapak yang berniat jahat itu.

__ADS_1


Tetapi Qila pun tidak bisa melepaskan genggaman itu. Sehingga Qila pun dibawa masuk oleh bapak jahat itu ke dalam suatu ruangan.


__ADS_2