Dia Bahagia

Dia Bahagia
Bab 28


__ADS_3

"Lepasinn!" teriak Qila menangis.


Qila pun diikat di sebuah kursi.


"Papahhhh! Mamahhh! Tolongin Qila ..." gumam Qila.


"Prakkk!"


Gelas yang dipegang papah pun terjatuh lalu pecah.


"Aduh, panas ..." ucap papah.


"Kenapa, Pah?" ucap mamah menghampiri papah.


"Kok perasaan Papah gak enak gini ya, atau jangan-jangan Qila dalam masalah, Mah?" ucap papah.


"Apa kata Mamah juga Pah, ayo cari Qila ..." ucap mamah menangis.


"Tenang dulu, Mah," ucap papah.


"Hitam! Tolongin akuuuuu ..." gumam Qila.


"Hitam! Hitam ..." gumam Qila.


"Deg!"


"Qila panggil Hitam? Kok gak pake lonceng ya, sepertinya Qila dalam bahaya," ucap Hitam.


"Kamu diam di sini ya, cantik," ucap bapak tersebut sambil membelai wajah Qila.


"Lepasinnnn!" teriak Qila.


Bapak itu pun entah sedang mencari apa. Qila pun terus meronta-ronta melepaskan talinya. Akhirnya tali itu pun terlepas Qila pun dengan cepat berlari keluar dari ruangan tersebut.


"Tring ...."


Hitam pun tiba di ruangan tersebut.


"Loh, Qila di mana seharusnya Qila berada di sini," ucap Hitam.


"Cantik sini ikut ..." ucap bapak tersebut berhenti.


"Loh kemana dia pergi! Hei!" teriak bapa tersebut sambil berlari keluar.


"Bapak ini jahat! Hitam harus temui Qila ..." ucap Hitam.


Qila pun terus berlari menjauh dari tempat tersebut. Bapak tersebut kehilangan jejak Qila hingga akhirnya kembali ke tempat tadi.


"Sial! Malah kabur," ucap bapak tersebut.


"Itu yang di selokan apa ya?" ucap bapak tersebut sambil menghampiri.


"Loncengnya!" ucap Hitam.


"Lonceng apaan ini? Kok ada di sini?" ucap bapak tersebut.


"Hitam harus mengambilnya," ucap Hitam.


"Tring!"


Lonceng yang sedang dipegang oleh bapak itu pun hilang seketika.


"Loh, kemana loncengnya?" ucap bapak tersebut terkejut.


"Atau jangan-jangan itu lonceng ... ihhh," ucap bapak tersebut sambil cepat berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Harus kemana lagi aku berlari. Aku benar-benar tidak tau jalan ini sama sekali," ucap Qila.


"Itu Qila," ucap Hitam.


Hitam pun memberhentikan langkah Qila dengan kekuatannnya.


"Tring!"


"Akhh! Kaki aku kok susah digerakin ... aduh ini kenapa sih?" gumam Qila.


"Tolongggg!" Qila pun menangis sambil memegang kakinya.


"Hitam jahilin seru kayanya ..." ucap Hitam.


Hitam pun berubah menjadi bapak jahat tadi yang seolah-olah terus mengejar Qila.


"Heh! Mau kemana kamu gak akan bisa lari kamu ya, haha ... ayo ikut saya!" ucap Hitam yang menyamar menjadi bapak-bapak.


"Aaaaaaa!" teriak Qila sambil berusaha menggerakkan kakinya.


"Aku gak bisa apa-apa lagi. Aku harus gimana ini," gumam Qila menangis.


"Ikut saya!" ucap Hitam yang menyamar menjadi bapak-bapak.


"Aku mohon Pak ... aku ingin pulang ..." ucap Qila menangis.


Akhirnya Qila pun berhasil menggerakkan kakinya kembali. Karena kekuatan Hitam hanya bertahan beberapa menit saja. Qila pun berlari menjauhi dari bapak-bapak tersebut padahal itu Hitam kucing yang sangat menyebalkan. Karena Qila takut Qila pun berlari sambil terus melihat ke belakang. Tanpa disadari dihadapan Qila ada sebuah mobil.


"Tiiiitt ...."


"Brakkk!"


"Qila!" teriak Hitam dari kejauhan.


Qila pun tertabrak oleh mobil tersebut sehingga Qila mengalami luka dibagian kepalanya, tetapi pengendara mobil tersebut malah lari. Untung saja ada orang yang melihat Qila tertabrak akhirnya Qila pun dilarikan ke rumah sakit.


"Astaga Qila ... ini salah Hitam kalo saja Hitam tidak melakukan hal tadi. Qila tidak akan tertabrak. Pasti Hitam dimarahi aduh ..." ucap Hitam.


******

__ADS_1


Karena rasa cemasnya sebagai orang tua. Mamah dan papah pun pergi mencari Qila.


"Pah, cepat dong," ucap mamah.


"Sabar dong Mah, ini Papah udah cepat," ucap papah.


"Ponsel Qila gak aktif lagi kemana sih Qila ...." ucap mamah menangis.


Qila pun telah mendapatkan perawatan di rumah sakit.


"Alhamdulillah, gadis ini masih bernyawa semoga tidak ada apa-apa. Saya harus menelpon keluarganya," ucap seseorang yang menolong Qila.


"Ini kayanya nomor orang tuanya," ucap bapak tersebut.


"Dret ... dret ... dret ...."


"Alhamdulillah Pah, ini Qila telpon," ucap mamah tersenyum.


"Alhamdulillah ..." ucap papah.


"Hallo sayang Qila, kamu di mana, Nak?" ucap mamah.


"Mamah khawatir," ucap mamah.


"Maaf Bu, Ibu orang tua pemilik ponsel ini?" ucap bapak tersebut.


"I-iya benar ada apa Pak? Kok ponsel anak saya ada di bapak?" ucap mamah.


"Anak Ibu ada di rumah sakit tadi mengalami tabrakan," ucap bapak tersebut.


"Astaga!" ucap mamah terkejut.


"Kenapa Mah?" ucap papah.


"Lokasi rumah sakitnya di mana Pak?" ucap mamah.


Bapak tersebut memberi taukan lokasi rumah sakitnya. Mamah dan papah pun segera menuju rumah sakit. Untung saja jaraknya tidak jauh.


"Kenapa gue kepikiran Qila terus sih?" gumam Rey.


"Gelisah banget gue. Atau jangan-jangan Qila kenapa-kenapa lagi," gumam Rey.


Rey pun meraih ponselnya untuk menelpon Qila karena rasa gelisahnya, tetapi Hanna menelpon Rey.


"Ya udah deh gue telpon Qila aja cuma pastiin dia baik-baik aja atau engga," ucap Rey.


"Dret ... dret ... dret ...."


"Hanna?" ucap Rey.


Rey pun menjawab telpon dari Hanna.


"Hallo Han, ada apa?" ucap Rey.


"Pak ..." ucap mamah.


"Bu, itu anaknya ada di dalam silahkan masuk aja," ucap bapak tersebut.


"Tadi yang menabraknya kabur Bu, ini ponselnya," ucap bapak tersebut.


"Terima kasih ya Pak, sudah menolong anak saya," ucap papah.


"Iya Pak, kalo gitu saya permisi pulang," ucap bapak tersebut.


"Iya, silahkan," ucap mamah dan papah.


Mamah pun segera masuk ke dalam ruangan lalu memeluk Qila.


"Qila ... astaga sayang kamu kenapa?" ucap mamah memeluk Qila yang belum tersadar.


"Bangun Qila ini Papah," ucap papah.


"Permisi Bu, Pak," ucap dokter.


"Apakah Ibu dan Bapak keluarga dari pasien," ucap dokter.


"Iya," ucap mamah dan papah.


"Anak Ibu dan Bapak alhamdulillah tidak mengalami cedera yang berat. Hanya saja luka di bagian kepalanya sedikit," ucap dokter.


"Alhamdulillah,terima kasih dok," ucap mamah.


"Silahkan segera mengurus administrasinya ya," ucap perawat.


"Baik ..." ucap papah sambil berjalan menuju administrasi.


Mamah pun menunggu di ruangan tersebut, tetapi Qila masih saja belum sadarkan diri.


"Sayang bangun ..." ucap mamah menangis sambil mengusap kepala Qila.


"Rey ..." ucap Qila memanggil nama Rey dengan keadaan belum sadar.


"Rey ..." ucap Qila kembali.


Mamah pun segera mengusap kepala Qila.


"Qila ini mamah ... ayo bangun sayang," ucap mamah.


Qila pun membuka matanya lalu melihat ke arah mamah. Qila pun terus melihat ke sekeliling ruangan.


"Alhamdulillah ..." ucap mamah.


"M-mah Qila di mana?" ucap Qila dengan suara yang lemas.


"Kamu di rumah sakit sayang," ucap mamah.

__ADS_1


Qila pun mencoba untuk duduk, tetapi Qila merasakan sakit di bagian kepalanya.


"Akh!"


"Qila kamu jangan dulu duduk sayang," ucap mamah.


Qila pun akhirnya merebahkan tubuhnya kembali.


"Mah, papah kemana?" ucap Qila.


"Papah lagi urus biaya rumah sakit sayang," ucap mamah.


"Keuangan keluarga aku lagi gak baik. Kasian papah pasti kebingungan untuk bayar biaya rumah sakit ini," gumam Qila.


"Mah, Qila rawat di rumah aja ya," ucap Qila.


"Loh, kenapa?" ucap mamah.


"Kalo aku jawab kasihan sama papah karena biayanya pasti mamah tetap suruh aku di sini," gumam Qila.


"Qila gak betah Mah, pliss ... pulang ya," ucap Qila.


"Ya sudah besok aja ya," ucap mamah.


"Tapi emang benar sih Qila lebih baik di rumah aja. Karena papah pasti gak punya biaya banyak. Kalo Qila rawat inap di sini," gumam mamah.


"Rey lagi apa? Ganggu engga?" ucap Hanna di telpon.


"E-engga kok," ucap Rey.


"Aduh gimana ya? Aku mau telpon Qila, tapi ahh ... Hanna lebih penting daripada Qila," gumam Rey.


"Qila udah bangun?" ucap papah.


"Udah, Pah," ucap Qila tersenyum.


"Pah, maafin ucapan Qila kemarin ya Qila kepancing emosi," ucap Qila.


Papah pun mengusap kepala Qila sambil tersenyum.


"Sudah jangan dipikirkan sayang yang penting Qila cepat sembuh ya," ucap mamah.


Qila pun mengangguk tersenyum. Qila mulai terpikirkan soal Rey, Qila benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan Rey. Setiap harinya Qila selalu merasakan rindu yang tak bisa Qila hilangkan. Sampai akhirnya air mata Qila pun kembali menetes.


"Qila kamu kenapa? Apa yang sakit sayang?" ucap mamah terkejut ketika melihat Qila menangis.


Qila pun segera menghapus air matanya lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Engga Mah, aku boleh minta sesuatu engga Mah?" ucap Qila.


"Apa yang Qila mau pasti kita belikan," ucap papah.


"Iya, Qila mau apa?" ucap mamah.


"Qila pengen buku catatan, Mah," ucap Qila.


Mamah pun mengerutkan dahinya karena tak biasanya Qila menginginkan buku catatan.


"Ya, sudah besok Mamah belikan," ucap mamah.


******


"Tadi gue kenapa gak ketemu Qila ya," ucap Fery.


"Ahh, gue telpon aja deh," ucap Fery.


Fery pun menelpon Qila.


"Dret ... dret ... dret ...."


"Rey?" gumam Qila tersenyum.


Saat Qila menatap layar ponsel ternyata itu Fery bukan Rey.


"Apa?" ucap Qila singkat.


"Tadi Fery gak lihat Qila pulang sekolah ya, Qila kemana?" ucap Fery.


"Maaf ya Fery maaf banget mulai sekarang tolong jauhin aku ya, aku lagi berusaha buat dapetin Rey kembali. Lagian aku udah gak cinta sama Fery. Aku mohon jauhin aku dan gak usah temui aku lagi walaupun Fery tetap temui aku, aku yang bakalan ngehindar dari Fery," ucap Qila.


"Qila kenapa sih selalu aja bela ..." ucap Fery terhenti


Qila pun mematikan telponnya.


"Akan aku tunjukan pada Rey kalo sekarang aku bisa jauhin Fery. Semoga Rey bisa kembali mencintaiku," gumam Qila.


"Awas aja lo!" ucap Fery dengan wajah memerah yang penuh amarah.


"Kakak! Kakak sini deh," ucap mamah.


Rey pun segera berjalan menghampiri mamah.


"Iya Mah, ada apa?" ucap Rey.


"Tadi Mamah lupa tas Mamah ada di mobil tolong ambilkan ya," ucap mamah.


Rey pun mengangguk sambil berjalan keluar rumah. Saat Rey keluar rumah perasaan Rey sudah tidak enak. Dan Rey rasa seperti ada orang yang sedang memperhatikan Rey dari belakang saat mengambil tas di mobil.


"Buagghhh!"


"Akhhh!"


Benar saja dari tadi ada yang memperhatikan Rey dan berniat untuk mencelakai Rey. Akhirnya Rey pun tergeletak dan tidak sadarkan diri.


"Gue habisin sekarang aja gitu ya, kelihatannya sepi ini rumah," ucap seseorang yang memukul Rey dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2