Dia Bahagia

Dia Bahagia
Bab 36


__ADS_3

"Dret ... dret ... dret ...."


Qila pun menatap layar ponsel. Ternyata ada telpon dari Fery. Qila pun langsung menjawab telpon tersebut.


"Hallo ..." ucap Qila.


"Qila pulang sekolah. Langsung ikut Fery, ya," ucap Fery.


"Ma-maaf Fery, hhmmm ... Qila pengen pulang dulu ke rumah, ya," ucap Qila.


"Untuk apa?" ucap Fery.


"Qila pengen lihat mamah untuk terakhir kalinya. Boleh ya, plisss," ucap Qila.


"Ya udah, pokoknya jam 7 malam aja Qila ke sininya," ucap Fery.


"Loh, kok malam banget," ucap Qila heran.


"Biar sepi aja. Udah ya, bayy," ucap Fery.


Fery pun mematikan telponnya. Air mata Qila menetes kembali Qila pun menangis sambil menundukkan kepalanya. Sebenarnya Qila tidak ingin melakukan hal ini, tetapi Qila pun tidak ingin jika Rey dibunuh oleh Fery. Bu Yati pun masuk ke dalam ruangan musik melihat Qila yang sedang menangis sambil tertunduk.


"Qila ..." ucap bu Yati.


Qila pun segera mengangkat wajahnya menatap bu Yati. Qila pun terkejut dan segera menghapus air matanya.


"Kamu nangis? Kenapa?" ucap bu Yati duduk di samping Qila.


Qila pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Bu Yati pun mengusap kepala Qila agar Qila merasakan tenang.


"Qila, Ibu punya kabar gembira buat kamu," ucap bu Yati tersenyum.


"Apa, Bu?" ucap Qila.


"Ibu sudah daftarkan kamu untuk rekaman suara. Jadi, besok kamu dispen ya, belajarnya. Kamu ikut Ibu untuk rekaman suara," ucap bu Yati tersenyum.


"Deg!"


"Bu, maaf aku gak bisa," ucap Qila.


"Loh, kenapa? Udah ah, pokoknya Qila harus rekaman suara biar jadi, penyanyi terkenal," ucap bu Yati.


"Tapi, Bu, aku gak ..." ucap Qila terhenti.


"Sebentar ya, Ibu mau keluar dulu," ucap bu Yati sambil berjalan keluar ruangan.


"Ya Tuhan ... aku harus gimana? Kenapa bu Yati daftarkan aku untuk rekaman suara. Besokkan aku gak akan ada di dunia ini lagi, makin berat rasanya untuk pergi," gumam Qila menangis.


Qila pun berjalan keluar ruangan. Dari kejauhan Qila memperhatikan Rey yang sedang tertawa bersama Hanna. Bibir Qila pun ikut tersenyum melihat Rey dan Hanna.


"Hati ini rasanya lega ketika melihat senyuman dari bibir Rey. Ada Hanna yang bisa membuat Rey bahagia. Setidaknya nanti jika aku pergi aku tidak khawatir tentang Rey lagi," gumam Qila tersenyum.


******


Waktu pun sudah menunjukkan pukul 15.00 acara pun telah berjalan dengan lancar. Kini seluruh siswa berhamburan untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


"Qila, mau pulang bareng?" ucap Bimo.


Langkah Qila pun terhenti, lalu melihat ke arah Bimo.


"Ehh, Bim, engga usah aku pulang sendiri aja," ucap Qila tersenyum.


"Gak apa-apa Qila sama gue aja. Gak usah sama si Rey yang bisanya nyakitin cewe!" ucap Bimo menatap tajam ke arah Rey.


"Apasih lo! Ngajak ribut mulu," ucap Rey dengan tegas.


"Aku pulang duluan ya, Bimo, Rey, Hanna," ucap Qila tersenyum.


"Iya, hati-hati Qila," ucap Bimo.


Rey dan Hanna hanya melihat ke arah Qila saja. Tanpa menjawab apapun. Qila pun segera memesan taksi online untuk pulang ke rumah.


"Berhasil! Hitam berhasil sekarang Hitam tunggu Qila pulang. Setelah itu Hitam akan ubah hati dan pikiran Fery. Selesai deh," ucap Hitam.


"Qila lama banget. Hitam tidur aja dulu ah," ucap Hitam.


Sesampainya Qila di rumah.


"Kriett ...."


Qila pun masuk ke dalam kamar. Lalu segera mandi.


"Qila ... makan dulu," teriak mamah.


Qila pun berjalan menghampiri mamah.


"Mamah ..." ucap Qila sambil memeluk mamah.


"Ehh, kenapa sayang?" ucap mamah.


Qila pun tersenyum menatap mamah. Mamah pun mengusap kepala Qila.


"Makan yuk," ucap mamah.


"Iya, Mah," ucap Qila tersenyum.


"Aduh, aku keluar rumahnya gimana ya, aku harus bilang apa sama mamah," gumam Qila.


"Qila besok malam kita makan di luar ya, sama papah," ucap mamah.


"Uhukkk ... uhukk ...."


"Astaga, pelan-pelan makannya sayang. Nih minum dulu," ucap mamah.


"I-iya Mah, besok kita makan malam bersama. Udah lama gak makan malam di luar ya, Mah," ucap Qila tersenyum.


"Maaf Mah, aku gak bisa ikut kalian untuk makan malam. Padahal rasanya ingin sekali," gumam Qila.


Setelah selesai makan. Qila pun pergi ke kamar. Qila bersiap-siap untuk bertemu Fery, dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Qila pun merapikan kotak surat yang telah Qila buat dengan menyimpan selembar kertas di atasnya.


"Permintaan aku untuk terakhir kalinya, tolong berikan kotak surat ini. Kotak berwarna biru untuk Rey, kotak berwarna pink untuk Hanna, dan Kotak berwarna kuning untuk mamah dan papah." Tulisan di kertas tersebut.


"Hitam tidurnya nyenyak banget," ucap Qila menghampiri Hitam lalu mengusap kepala Hitam.


"Maafin aku Hitam, kadang aku suka marah-marah sama kamu. Makasih udah selalu bantuin aku di saat aku mendapatkan masalah. Tolong jaga mamah dan papah ya, Hitam," ucap Qila sambil mengusap kepala Hitam.

__ADS_1


"Udah mau jam 7 aku harus cepat-cepat temui Fery," ucap Qila.


Qila pun berjalan dengan perlahan agar tidak terdengar langkah kakinya oleh mamah. Untung saja papah belum pulang dari kantornya.


"Semoga di luar papah belum datang," ucap Qila.


Qila pun segera berjalan dengan cepat meninggalkan rumah.


"Mana sih Qila? Awas aja kalo gak sampai kesini," ucap Fery.


Qila pun berlari dengan cepat menuju lokasi tersebut, tetapi ada yang memperhatikan Qila saat menuju lokasi tersebut.


"Qila?" ucap Rizka.


"Loh, itu Qila mau kemana sih? Perasaan jalan komplek itu belum ada orang yang tinggal. Di sana hanya rumah kosong," ucap Rizka.


"Ada yang gak beres nih. Gue harus ikutin Qila," ucap Rizka.


Sesampainya Qila di lokasi tersebut. Qila pun membuka pintu. Di dalam ruangan tersebut sudah ada Fery.


"Bagus, kamu udah datang Qila," ucap Fery.


"Kan udah janji. Masa aku gak tepati sih," ucap Qila.


Qila pun melihat ke sekeliling ruangan tersebut. Sudah terdapat dua kursi yang diletakan sejajar dengan dua tali yang menggantung di atas, tetapi Qila heran melihat paku-paku berukuran lumayan besar yang berserakan di lantai dekat kursi.


"Itu paku untuk apa?" ucap Qila.


"Tadi bekas pasang tali," ucap Fery.


"Ayo," ucap Fery menatap Qila.


Qila pun mengangguk lalu berjalan mengikuti Fery.


"Sebentar," ucap Qila.


"Apa lagi?" ucap Fery.


"Aku pengen lihat dulu bintang, boleh, ya?" ucap Qila.


Fery pun mengangguk. Qila pun melihat bintang. Air mata Qila pun menetes membasahi pipinya.


"Hari terakhir aku melihat bintang yang indah ini," gumam Qila.


Qila pun menatap Fery lalu mengangguk. Qila pun berjalan menghampiri Fery. Qila sudah siap mengakhiri hidupnya malam ini. Sesampainya Rizka di tempat Qila dan Fery. Rizka pun mendengar percakapan Qila dan Fery.


"Kamu sudah siap Qila untuk bunuh diri bersama Fery?" ucap Fery.


"Apa? Qila mau bunuh diri," ucap Rizka terkejut.


Rizka pun melihat sedikit di dekat jendela.


"Itu bukan Rey, engga! Qila gak boleh lakuin ini," ucap Rizka berjalan menghampiri pintu.


"Iya, aku siap Fery," ucap Qila sambil naik ke atas kursi.


"Genggam tangan aku," ucap Fery.


Qila pun menggenggam tangan Fery dengan air mata yang tidak berhenti mengalir membasahi pipinya.


Rizka pun mendobrak pintu tersebut. Fery dan Qila pun terkejut melihat ke arah Rizka.


"Rizka?" ucap Qila.


"Turun Qila! Turun ..." ucap Rizka dengan tegas.


"Lo mau ngapain Qila? Kenapa lo nekat lakuin ini? Lo ada masalah apa sih?!" bentak Rizka.


Hitam pun terbangun dari tidurnya.


"Qila belum pulang juga," ucap Hitam.


"Kok udah gelap sih jam berapa ini?" ucap Hitam.


"Astaga! Hitam ketiduran. Qila mana? Qila mana? Aduh ... gawat Qila udah pergi," ucap Hitam terkejut.


Qila pun menangis menatap Rizka.


"Pliss ... Qila turun Qila. Ayo, turun masih ada jalan keluar lainnya," ucap Rizka menangis.


"Engga Rizka. Aku harus lakuin ini," ucap Qila menangis.


"Engga! Lo jangan kaya gini Qila, pliss ... turun Qila gue mohon," ucap Rizka.


"Udah Qila jangan dengerin teman kamu itu," bisik Fery.


Qila pun terdiam sejenak sambil menangis. Rizka pun memohon untuk Qila turun dari kursi tersebut, tetapi Fery terus menahan Qila agar Qila tidak mendengarkan apa kata Rizka.


"Turun Qila! Ini bukan jalan keluar dari masalah lo Qila. Gue mohon turun! Lo gak kasihan apa sama orang tua lo yang sayang sama lo Qila," ucap Rizka.


"Aku tau Rizka, tapi ini udah keputusan aku karena aku gak mau Rey ..." ucap Qila terhenti.


Tubuh Qila pun hilang keseimbangan. Karena kaki kursinya patah sehingga Qila tidak bisa menahan tubuhnya.


"Aaaaaaa!" teriak Qila.


"Qila!!!" teriak Rizka.


"Brughhh!"


Akhirnya Qila pun terjatuh dari kursi tersebut, dan menimpa paku-paku yang berserakan di bawah lantai.


"Haaaa! Ahhhh ..." Darah pun keluar banyak dari mulut Qila.


Qila pun menangis sambil memegang perutnya yang penuh darah oleh paku-paku tersebut. Rizka pun berlari menghampiri Qila.


"Qila!!!" teriak Rizka histeris.


"Lo gak boleh pergi! Lo gak boleh pergi Qila!" ucap Rizka menangis sambil memeluk Qila.


"Ma-maafin ... a-aku ... Riz, haa' ..." ucap Qila terhenti.


Qila pun menghembuskan napas terakhirnya. Rizka pun menjerit histeris sambil memeluk Qila yang penuh dengan darah. Rizka masih belum menyangka bahwa Qila sudah tidak bernapas.


"Qilaaaa!!! Lo pasti masih hidup Qila! Lo masih hiduppp ..." teriak Rizka.

__ADS_1


Fery pun terdiam melihat kejadian ini, sedangkan Rizka terus mengecek nadi Qila, berharap Qila masih bernapas.


"Innalilahi ... Qilaaaaaaa!" teriak Rizka menangis sambil memeluk Qila dengan erat.


"Kenapa lo pergi ..." ucap Rizka menangis.


Rizka pun melihat ke arah Fery dengan tatapan tajam.


"Lo! Lo yang udah ajak Qila untuk bunuh diri! Lo gak ngotak banget sihh!!!!" bentak Rizka.


"Gawat! Gue harus kabur dari sini. Karena sebenarnya gue bukan ajak Qila bunuh diri, tetapi gue ingin bunuh Qila," gumam Fery.


Flashback:


"Dengar ya, setiap orang yang udah buat gue marah! Gue kecewa! Bahkan orang yang udah buat masalah sama gue! Gue gak akan segan-segan buat bunuh orang itu. Termasuk Angelina yang udah gue bunuh!!!" ucap Fery dengan penuh amarah.


"Bodoh banget si Qila dia gak ngerti gue ngomong kaya gitu. Dia juga sama harus gue bunuh karena dia berapa kali udah bikin gue kecewa, dan nolak gue buat ajak balikan. Ya, berarti dia juga harus gue bunuh dong," ucap Fery.


"Sebenarnya gue bukan ajak dia bunuh diri, tetapi gue ingin bunuh dia. Masa iya, gue harus ikutan mati ya, enggalah gue masih pengen hidup," ucap Fery.


"Gue harus potong sedikit kaki kursi ini dan gue harus simpan paku-paku ini di lantai. Jadi, saat gue dan Qila akan pasang tali di leher. Gue langsung dorong Qila hingga Qila jatuh menimpa paku-paku itu. Pinter bangetkan gue? Hahahaha," ucap Fery.


"Setelah itu, Qila mati dan saatnya gue bunuh Rey juga," ucap Fery tersenyum.


"Lo harus ikut gue ke kantor polisi sekarang juga!" bentak Rizka.


"Qila ..." ucap Hitam.


"Qila ... udah pergi ... Hitam terlambat. Hitam gagal buat bantuin Qila," ucap Hitam.


"Engga! Gue gak mau ke kantor polisi," ucap Fery.


Rizka pun menghampiri Fery.


"Lo! Harus ikut gue," ucap Rizka sambil menarik tangan Fery.


Tetapi Fery mendorong Rizka dan berusaha lari. Untung saja Hitam pun dengan cepat menahan langkah Fery. Sehingga Fery tidak bisa bergerak.


"Kaki gue ... kok gak bisa digerakin," ucap Fery.


"Diam lo! Gue telpon polisi sekarang juga. Karena lo udah ajak Qila untuk bunuh diri!" ucap Rizka.


Rizka pun menelpon polisi sambil menahan tangan Fery agar tidak kabur lagi. Hitam pun berjalan ke arah Qila yang sudah tidak bernyawa lagi.


"Qila, maafin Hitam. Hitam terlambat untuk menolong Qila. Maafin Hitam selama ini Hitam selalu merepotkan Qila. Semoga Qila tenang di sana ya," ucap Hitam.


Polisi pun datang ke lokasi tersebut untuk menangkap Fery. Rizka pun segera menelpon mamah dan papah Qila.


"Hallo ..." ucap Rizka.


"Ini siapa ya?" ucap mamah.


"Ini Rizka Tante, teman Qila," ucap Rizka.


"Ohh, ada perlu apa Rizka?" ucap mamah.


"Tante, ini Qila ... ada sama Rizka, Tante tolong ke sini ya, nanti Rizka kirim lokasinya," ucap Rizka.


"Qila kenapa? Kok Qila bisa ada di luar?" ucap mamah.


"Tante ke sini aja ya," ucap Rizka.


Rizka pun segera mengirim lokasinya, tetapi mamah tidak percaya bahwa Qila ada di luar rumah. Mamah pun segera mengecek kamar Qila. Benar saja Qila tidak ada di kamar mamah pun segera berlari menghampiri papah.


"Pah, Qila ada di luar rumah loh. Mamah kira ada di kamar," ucap mamah.


"Astaga, anak itu!" bentak papah.


"Udah Pah, Jangan marah dulu lebih baik kita temui Qila. Tadi temannya telpon ayo, Pah," ucap mamah.


"Ya, sudah," ucap papah.


Mamah dan papah pun segera pergi ke lokasi yang di kirim oleh Rizka. Mamah dan papah belum mengetahui bahwa Qila sudah tidak bernyawa. Sesampainya mamah dan papah di lokasi.


"Kok, banyak polisi ya, Pah," ucap mamah.


"Ada apa ini?" ucap papah.


"Selamat malam Bu, Pak," ucap polisi.


"Selamat malam Pak," ucap mamah dan papah.


"Fery?" ucap mamah menatap Fery.


"Bu, Pak, anak ini telah mengajak anak bapak dan ibu untuk melakukan bunuh diri. Maka dari itu kami akan memberikan hukum sesusai undang-undang," ucap polisi.


"Apa?! Lalu anak saya di mana Pak?" ucap mamah terkejut.


"Tante, Om sini," ucap Rizka.


Mamah pun segera berlari menghampiri Rizka.


"Qila mana?" ucap mamah.


Rizka pun mengajak masuk mamah dan papah ke dalam ruangan tersebut. Mamah pun terkejut melihat Qila yang tergeletak penuh dengan darah. Mamah pun teriak histeris hingga pingsan.


"Qilaaaaaaa! Kamu kenapa sayang ... Qila bangun jangan tinggalin mamah sayang. Mamah gak mau Qila pergi. Bangun sayang bangun ..." ucap mamah menangis sambil memeluk Qila.


"Astaga! Qilaaa ..." ucap papah menangis.


"Qila Pah ... Qila ..." ucap mamah terhenti.


Mamah pun pingsan.


"Tante," ucap Rizka.


"Mamah," ucap papah.


Papah pun mencoba menyadarkan mamah. Tak lama mamah pun tersadar kembali. Lalu kembali menangis melihat Qila.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" ucap papah menatap Rizka.


Rizka pun mencoba menjelaskan pada papah dan mamah Qila. Mereka tak menyangka bahwa Qila akan seperti ini. Apalagi Qila anak satu-satunya yang dibanggakan. Kini Qila pergi meninggalkan semuanya. Qila pun segera dikuburkan dengan layak.


Setelah selesai proses pemakaman Qila. Semuanya pun kembali pulang ke rumah. Mamah pun dengan lemas berjalan meninggalkan tempat pemakaman Qila.

__ADS_1


Sesampainya di rumah. Mamah dan papah pun masuk ke dalam kamar Qila. Mamah kembali menangis tak menyangka putri kesayangannya telah pergi. Papah pun mencoba menenangkan mamah yang terus menangis.


__ADS_2