
"Brughhh!"
Qila pun terjatuh ke tepi jalan.
Untung saja Hitam berhasil mendorong Qila ke tepi jalan dengan kekuatannya. Qila pun terdiam beberapa menit hanya ada sedikit luka di bagian lengannya.
"Fiuhhh ... untung aja Hitam dengan cepat. Kalo engga Qila udah mati tuh," ucap Hitam.
"Kenapa Hitam tolongin aku sih!" ucap Qila menatap tajam ke arah Hitam.
"Loh, bukannya makasih Hitam bantuin kok malah ngamuk," ucap Hitam.
Qila pun menangis tersedu-sedu. Sambil berlari meninggalkan Hitam. Dengan rasa sesak di dadanya, tetapi Qila mencoba menahannya. Hati dan pikiran Qila sangat berantakan.
******
Sesampainya Rey di rumah.
Berjalan dengan menahan rasa sakit di bagian kakinya menuju pintu rumah. Dengan wajah yang penuh kesal dan kekecewaan. Tak disangka Rey bisa sebenci itu terhadap Qila.
"Mulai sekarang Qila bukan siapa-siapa gue lagi. Dan gue gak akan pernah peduliin dia lagi! Mau dia sampai nangis-nangis di depan gue. Gue gak peduli!" gumam Rey.
"Kriett ...."
"Kak?" ucap mamah.
Rey pun terkejut dengan mamah yang tiba-tiba ada di hadapannya. Lalu Rey menatap ke arah mamah.
"Mah ... maaf tadi basonya tumpah soalnya Rey jatuh dari motor," ucap Rey sambil memegang lututnya.
"Astaga! Kamu itu gimana sih pake motornya gak hati-hati banget, tapi kamu gak apa-apa kan, Kak?" ucap mamah.
"Rey gak apa-apa kok. Rey aneh Mah, belakangan ini. Sering banget ada orang yang tiba-tiba ada di hadapan Rey dengan sengaja menancap gas dengan kecepatan tinggi. Sepertinya orang itu sengaja mau celakai Rey, tapi Rey gak tau itu siapa," ucap Rey.
"Kamu harus hati-hati aja. Kalo di jalan jangan mikir apa-apa fokus lihat ke depan" ucap mamah.
"Iya Mah, kalo gitu Rey ke kamar ya," ucap Rey.
"Iya, kamu istirahat sana. Besok Mamah cari tukang pijat," ucap mamah.
Rey pun mengangguk lalu berjalan ke kamar. Di dalam kamar Rey duduk di tepi tempat tidur. Rey memikirkan siapa orang yang selalu membuat Rey hampir celaka, tetapi di dalam hati Rey selalu menyebut bahwa itu Fery.
"Gue heran siapa sih itu orang," ucap Rey.
"Atau jangan-jangan Fery ya, awas aja! Kalo sampai dia," ucap Rey.
Rey pun membaringkan tubuhnya pada tempat tidurnya. Sejenak Rey memejamkan matanya dengan tenang. Karena hari ini Rey merasakan kelelahan.
"Tok ... tok ... tok ...."
Yang ada di ruangan tamu hanyalah mamah. Mamah pun heran mendengar ada orang yang mengetuk pintu malam-malam. Akhirnya mamah pun beranjak dari sofa dan segera membuka pintunya.
"Iya, sebentar," teriak mamah di dalam rumah
"Kriett ...."
"Siapa sih malam-malam gini?" ucap mamah sambil membuka pintu.
Setelah mamah membuka pintunya, tetapi di luar tidak ada siapa pun. Hanya ada sebuah kotak yang tergeletak di depan pintu. Mamah pun mengambil kotak tersebut.
"Loh, ini apa?" Ucap mamah.
Mamah pun membawa masuk kotak tersebut ke dalam rumah. Setelah itu mamah lalu membuka kotak tersebut. Kotak tersebut berisikan sebuah surat dan foto Rey. Karena rasa penasarannya mamah pun membaca suratnya.
"Sebelum dendam gue terbalaskan. Gue gak akan segan-segan bakalan terus cari cara untuk bikin lo celaka Rey! Sebelum lo jauhin Qila!" Isi di dalam surat tersebut.
Mamah pun terkejut setelah membaca surat tersebut. Mengetahui bahwa anaknya dalam bahaya. Lalu mamah teriak memanggil papah dan Rey.
"Astaga ... Pahhh! Reyy!" teriak mamah sambil menangis.
Rey pun membuka matanya.
"Hah?! Mamah kenapa ya?" gumam Rey sambil beranjak dari tempat tidurnya dan segera menghampiri mamah.
Rey dan papah pun segera menghampiri mamah.
"Ada apa Mah?" ucap Rey.
"Kenapa Mah? Tenang dulu kenapa?" ucap papah.
"Kamu ada masalah apa sih Rey sebenernya? Jawab jujur kamu kenapa?" ucap mamah sambil menangis.
"Rey gak ada masalah apa-apa, Mah, emangnya apa?" ucap Rey.
"Jangan bohong kamu!" bentak mamah.
Mamah pun memberikan kotak tersebut pada Rey. Dengan heran Rey membuka kotak tersebut dan membaca isi suratnya.
"Ada foto gue segala lagi," gumam Rey.
__ADS_1
Rey pun membaca suratnya.
"Sebelum dendam gue terbalaskan. Gue gak akan segan-segan bakalan terus cari cara untuk bikin lo celaka Rey! Sebelum lo jauhin Qila!" Isi di dalam surat tersebut.
"Arrgghh! Keterlaluan Fery! Berarti selama ini dia yang ingin buat gue celaka. Awas aja lo!" gumam Rey.
Rey pun menatap ke arah mamah dan papah.
"Ahh ini cuma iseng, Mah. Paling teman Rey yang ngeprank soalnya tadikan Rey ngeprank teman-teman. Terus mereka bilang mau balas pranknya," ucap Rey berbohong agar mamah tidak mengkhawatirkannya.
"Udah Mah, gak usah dipikirin Rey gak ada masalah sama siapa pun," ucap Rey.
"Bener kamu ya, gak ada masalah? Kalo ada masalah bilang sama Papah," ucap papah.
"Iya Pah, lagian Papah sibuk terus selalu keluar negri jarang di rumah. Gimana Rey mau ceritanya," ucap Rey.
"Ya, kan ada Mamah. Seengganya cerita aja," ucap mamah.
Rey pun mengangguk lalu mengusap pundak mamah agar mamah tidak kepikiran soal itu.
******
"Loh, itukan Qila bukannya ada di kamar? Benar-benar sekarang Qila mulai nakal," ucap papah yang sedang duduk di halaman rumah.
Saat Qila masuk menuju rumah. Tiba-tiba papah pun berdiri di depan pintu sambil menatap Qila dengan tajam. Qila pun terkejut Qila pikir papah sudah tertidur.
"Pah ..." ucap Qila tertunduk.
"Dari mana kamu? Mulai ya, mulai bandel dan mulai nakal," ucap papah sambil menyilangkan tangannya.
"Ma-maaf Pah ... tadi aku bosan di rumah jadi, a-aku ke rumah Hanna," ucap Qila berbohong sambil tertunduk.
"Kamu udah dewasa, kan? Tau ini malam? Apa malam itu baik buat cewe seperti kamu keluar rumah?" ucap papah dengan nada tinggi.
"Engga Pah, aku minta maaf," ucap Qila.
"Jawab jujur kamu udah dari mana?" ucap papah.
Qila pun bingung harus jawab apa. Jika Qila menjawab membantu Rey terjatuh dari motor. Nanti papah heran kenapa Qila bisa tau bahwa Rey terjatuh. Pastinya papah akan menyuruh Qila untuk menjauh dari Rey.
"A-aku habis dari rumah Hanna Pah. Serius," ucap Qila sambil menatap papah untuk meyakinkan hati papah.
"Astaga Qila! Ini malam Qila, malam! Bukan siang seperti gak ada waktu besok lagi buat ketemu Hanna," ucap papah.
Mamah yang sedang di dalam pun mendengar keributan di luar rumah.
"Ada apa sih papah?" gumam mamah.
"Ada apa Pah? Kok ribut di luar sih. Nanti tetangga ke ganggu loh," ucap mamah.
Mamah pun melihat ke arah Qila dengan heran.
"Loh, kamu ngapain di luar sayang?" ucap mamah.
"Dari tadi dia emang keluar Mah. Papah pikir juga dia udah tertidur ehh tau-taunya ... main sama Hanna," ucap papah dengan wajah kesal.
Mamah pun terkejut setelah mengetahui sikap Qila.
"Astaga Qilaaaa ... ngapain malam-malam gini sih? Besokkan kalian ketemu di sekolah," ucap mamah sambil menggelengkan kepalanya.
Mungkin hati Qila sedang kesal. Pikiran Qila pun sedang kacau berantakan. Qila sedang pusing memikirkan Rey, sedangkan di rumah Qila malah dimarahi membuat Qila bertambah pusing. Tanpa sadar Qila pun membentak orang tuanya.
"Kenapa sih?! Aku gak boleh keluar malam. Kenapa aku harus dilarang-larang! Aku ini udah dewasa Mah, Pah. Aku bukan anak kecil lagi dan aku bisa jaga diri aku sendiri! Aku pengen bebas seperti orang lain. Yang bebas kemana pun tanpa dimarahi orang tuanya!" bentak Qila.
Karena papah kesal dengan sikap Qila yang mulai tidak sopan. Papah pun tidak bisa menahan emosinya. Lalu papah menampar pipi Qila.
"Plakkk!"
"Papah ..." teriak mamah.
Mamah terkejut melihat papah yang baru pertama kali menampar putri kesayangannya. Qila pun terkejut tak menyangka papah akan melakukan hal seperti itu kepada Qila. Qila pun terdiam sambil memegang pipinya.
"Berani sekarang kamu ya, gini nih kalo kamu salah pergaulan!" bentak papah.
"Kamu bilang pengen bebas?! Lihat di sana banyak anak broken home yang kurang perhatian dari orang tuanya! Mereka ingin dapat perhatian dari orang tuanya aja gak pernah! Papah, mamah kaya gini karena kita sayang sama kamu! Bukannya bersyukur!" bentak papah dengan wajah memerah penuh amarah kepada Qila.
Qila pun menangis sambil memegang pipinya. Baru kali ini Qila menangis karena papah dan baru kali ini papah semarah ini kepada Qila. Kecuali mamah sekesal apapun ibu kepada anaknya tetap saja di dalam hati ibu akan tetap sayang. Mamah pun menghampiri Qila lalu memeluk Qila sambil mengusap kepala Qila.
"Sudah Pah, sudah," ucap mamah sambil menatap papah.
"Ayo, sayang masuk ya," ucap mamah.
Qila dan mamah pun masuk ke dalam kamar. Qila pun terdiam duduk di atas tempat tidur sambil menangis tersedu-sedu. Mamah pun mengusap kepala Qila sambil memberikan minum pada Qila.
Qila pun sedikit tenang setelah diberikan minum oleh mamah.
"Tangan kamu kenapa ini?" ucap mamah.
Mamah pun melihat luka yang ada di tangan Qila.
__ADS_1
"Ta-tadi ... Qila jatuh, Mah," ucap Qila.
Mamah pun segera mengambil kotak obat. Lalu membersihkan luka Qila agar tidak infeksi.
"Sekarang Rey bukan milik aku lagi, tapi aku akan berusaha bertahan mencintai Rey dengan caraku sendiri. Sepertinya Rey akan lebih dekat dengan Hanna dibandingkan aku besok, tapi cinta tak selamanya harus memiliki," gumam Qila.
Mamah pun memperhatikan Qila yang sedang melamun.
"Lepaskan orang yang sudah tidak mencintai kamu sayang. Jangan paksa dia untuk terus bersama kamu. Karena yang dipaksakan tidak akan baik," ucap mamah tersenyum.
Qila pun menatap ke arah mamah sambil tersenyum. Ternyata mamah bisa mengetahui tanpa Qila berkata ya, itulah hati seorang ibu dan anak akan saling terhubung. Ibu akan mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh anaknya sendiri.
Qila pun memeluk mamah sambil tersenyum. Lalu mamah pun mencium kepala Qila.
"Maafin aku Mah, aku gak bisa lupain Rey. Aku akan bertahan dan berjuang sendiri untuk mendapatkan hati Rey kembali. Karena aku sangat menyayanginya," gumam Qila.
******
Keesokan harinya.
Matahari telah terbit menunjukkan bahwa hari telah pagi, tetapi Qila masih terlelap dalam tidurnya. Mamah pun segera masuk ke dalam kamar Qila untuk membangunkan Qila.
"Kriett ...."
"Astaga masih tidur. Qila cepet mandi ayo, itu udah mau jam 7 loh nanti kamu kesiangan," ucap mamah sambil menepuk-nepuk pipi Qila.
Qila pun membuka matanya. Lalu matanya tertuju pada jam yang menunjukkan pukul 06.45 Qila pun terkejut. Segera beranjak dari tempat tidurnya lalu mandi.
Setelah beres mandi dengan cepat Qila turun ke bawah. Lalu Qila pun pamit pada mamah.
"Mah, Papahnya mana?" ucap Qila.
"Hhmm ... Qila naik taksi online aja ya, kayanya papah masih marah sama kamu sayang," ucap mamah.
"Oh iya, papah marah sama aku karena perkataan aku semalam," gumam Qila.
"Ya udah Mah, Qila pergi ya ..." ucap Qila sambil mencium tangan mamah.
"Iya sayang hati-hati," ucap mamah.
Qila pun segera memesan taksi online dan menunggu di depan rumah.
Tidak hanya Qila yang terbangun siang. Rey pun sama Rey baru terbangun dari tidurnya.
Rey membuka matanya. Dengan otomatis mata Rey tertuju melihat jam yang menunjukkan pukul 06.55 Rey pun membuka selimutnya.
"Aduh ... kenapa mamah gak bangunin gue sih. Jadi terlambat gini," ucap Rey dengan cepat beranjak dari tempat tidurnya.
Rey lupa bahwa kakinya sedang sakit. Akhirnya Rey pun terjatuh saat mencoba berdiri dari tempat tidurnya.
"Brughh!" Rey pun terjatuh.
"Akhh!" Rey pun meringis kesakitan sambil memegang kakinya.
Mamah pun terkejut mendengar Rey terjatuh. Mamah pun segera masuk ke dalam kamar Rey. Memastikan bahwa Rey baik-baik aja.
"Kakak!" teriak mamah sambil menghampiri Rey.
"Mamah kenapa gak bangunin Rey?" ucap Rey.
"Kirain gak akan sekolah ..." ucap mamah.
Rey pun segera berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
******
Beberapa menit kemudian Qila tiba di sekolah.
Qila pun berlari masuk ke dalam gerbang. Untung saja belum ada guru yang menjaga di gerbang.
Setelah selesai memarkirkan motornya Rey memaksakan berlari untuk masuk ke dalam sekolah. Walaupun kakinya dengan keadaan sakit.
Saat mereka sama-sama berlari mereka pun bertemu sehingga bertubrukan.
"Brughh!"
"Aduhh ..." ucap Qila.
"Akhh!" ucap Rey.
Mereka pun terjatuh dengan posisi duduk. Rey pun melihat ke arah Qila dengan lama begitu pun Qila yang terus menatap Rey. Akhirnya Rey pun tersadar lalu mendelikan matanya pada Qila. Qila pun berusaha berdiri sambil mengulurkan tangan pada Rey, tetapi Rey menolak uluran tangan Qila.
"Bisa sendiri gue juga!" ucap Rey sambil berusaha berdiri.
Tetapi karena kaki Rey sedang sakit akhirnya Rey terjatuh kembali.
"Brughh!"
"Aduhh! Sakit banget," ucap Rey.
__ADS_1
"Rey! Tuhkan kaki Rey masih sakit sini aku bantu," ucap Qila sambil mengulurkan tangannya.
Rey pun menerima uluran tangan Qila. Akhirnya Rey pun bisa berdiri, tetapi Rey langsung melepas tangan Qila dan segera berjalan meninggalkan Qila.