Dia Bahagia

Dia Bahagia
Bab 29


__ADS_3

"Gue habisin sekarang aja gitu ya, kelihatannya sepi ini rumah," ucap seseorang yang memukul Rey dari belakang.


"Kebiasaan lama banget cuma ngambil tas juga," ucap mamah.


Mamah pun berjalan menuju keluar sambil teriak memanggil Rey.


"Kakak! Rey ... udah belum?" ucap mamah.


"Gawat! Gue harus kabur," ucap seseorang tersebut sambil berlari keluar gerbang.


"Kak ..." ucap mamah terhenti ketika melihat Rey yang tergeletak.


"Kakak! Astaga kamu kenapa?" ucap mamah berlari menghampiri Rey.


"Pah ... Stevan ..." teriak mamah.


Papah dan Stevan pun segera menghampiri mamah.


"Ada apa, Mah?" ucap papah.


"Kak Rey!" ucap Stevan.


"Pah, bantuin angkat Rey ke dalam rumah," ucap mamah.


Papah pun dengan cepat membawa Rey ke rumah lalu membaringkannya di kamar. Tak lama Rey pun kembali tersadar untung saja Rey tidak mengalami luka yang serius.


"Akh!"


"Rey kamu kenapa?" ucap mamah.


"Gak tau Mah, tadi ada yang pukul Rey dari belakang," ucap Rey.


"Berani-beraninya!" ucap papah.


Papah pun berjalan keluar dari kamar Rey.


"Kakak tidur aja ya," ucap mamah sambil mengusap kepala Rey.


******


Pagi telah tiba Qila pun terbangun dari tidurnya. Qila pun mencoba untuk duduk, tetapi kepalanya masih terasa sakit.


"Aduh ... sakit banget," gumam Qila memegang kepalanya.


"Kriett ...."


Mamah pun masuk ke dalam ruangan sambil membawa bubur. Terlihat Qila yang sedang duduk dengan tatapan kosongnya. Lalu mamah pun menghampiri Qila.


"Sayang ..." ucap mamah mengusap kepala Qila.


Qila pun terkejut lalu tersenyum.


"Mamah, kaget," ucap Qila tersenyum.


"Sarapan dulu ya," ucap mamah sambil menyuapkan bubur ke mulut Qila.


Qila pun memakan bubur tersebut dikit demi sedikit.


"Gimana? Masih sakit kepalanya sayang?" ucap mamah.


"U-udah engga kok, Mah," ucap Qila berbohong.


Padahal Qila merasa kepalanya masih sangat sakit. Karena Qila tidak ingin mamah dan papah khawatir jadi, Qila berbohong agar Qila bisa cepat pulang dari rumah sakit.


"Syukurlah ... oh iya, Mamah belum kasih tau Rey tentang kejadian ini. Bentar ya, Mamah coba telpon Rey," ucap mamah sambil mengambil ponsel di tasnya.


"Jangan Mah, gak usah kasih tau Rey," ucap Qila.


Mamah pun mengerutkan dahinya sambil menatap Qila heran.


"Loh, kok gak usah sih sayang nanti Rey khawatir loh," ucap mamah.


"Mana mungkin Rey khawatir," gumam Qila.


"Mah, buku catatan udah Mamah beli?" ucap Qila.


"Oh iya, ini sayang," ucap mamah.


Mamah pun memberi buku catatan pada Qila. Buku catatan tersebut berwarna pink dengan desain beruang.


"Lucu banget Mah, makasih," ucap Qila tersenyum.


"Sama-sama sayang," ucap mamah memeluk Qila.


Qila pun melanjutkan makan. Setelah selesai makan Qila pun bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Walaupun kepala Qila masih terasa sakit, tetapi Qila menahannya.


"Kring ... kring ... kring ...."


Seluruh siswa segera memasuki kelasnya masing-masing. Dan mengikuti pelajaran dengan Fokus.


"Kenapa Qila jadi jarang sekolah sekarang," gumam Hanna.


"Qila kok belum datang juga ya, tumben banget dia kesiangan," gumam Rey.

__ADS_1


"Selamat pagi anak-anak," ucap bu Yati.


"Selama pagi Bu," ucap seluruh siswa.


Bu Yati pun melihat ke arah kursi Qila yang kosong.


"Oh iya anak-anak ibu mau kasih tau kalian hari ini Qila tidak bisa masuk sekolah. Karena semalam Qila mengalami kecelakaan. Qila tertabrak oleh mobil sekarang Qila dirawat di rumah jadi, buat kalian yang mau jenguk Qila jenguk aja ke rumahnya," ucap bu Yati.


"Kasihan banget Qila. Kenapa ya, pasti Qila ngelamun deh jalannya jadi ketabrak," ucap salah satu murid.


"Iya, sekarang Qila jadi sering ngelamun ya, semenjak si Hanna itu tuh dekat sama Rey," ucap salah satu murid.


Hanna pun mendengar ucapan mereka. Lalu Hanna melihat ke arah mereka dengan tatapan tajam. Hanna pun hanya bisa menghembuskan napasnya dengan pelan, mencoba bersabar, dan menahan emosinya.


"Ups! Kedengeran gaess haha," ucap murid tersebut sambil tertawa.


Hanna pun hanya terdiam setelah mendengar ucapan mereka. Tak hanya itu Belia pun sama menyindir Hanna.


"Kasihan ya Qila, pasti Qila ngelamun deh jalannya. Sekarangkan Qila sering ngelamun tuh gara-gara Rey direbut sama Hanna. Jahat banget sih punya sahabat. Gak malu apa rebut cowo sahabatnya sendiri," ucap Belia menatap Hanna.


Hanna pun sangat kesal hingga Hanna beranjak dari kursinya. Lalu menghampiri Belia yang terus menyindirnya.


"Brakkk!"


Hanna pun memukul meja dengan sangat kencang.


"Apasih lo! Berisik tau gak?!" ucap Belia menatap Hanna.


"Mulut lo yang berisik! Ngapain sih lo ngurusin hidup orang mulu!" ucap Hanna.


"Suka-suka gue emang lo siapa?!" ucap Belia sambil mendorong Hanna hingga terjatuh.


"Brughh!"


"Aww!" Hanna pun terjatuh.


"Ada apa itu di belakang ribut-ribut," ucap bu Yati.


Lalu Hanna pun berdiri kembali sambil menarik rambut Belia.


"Sakit Hanna! Lepasinnnn ..." ucap Belia.


"Hanna ... Hanna udah," ucap Rey menghampiri Hanna.


Rey pun mencoba melerai keduanya. Lalu bu Yati pun menghampiri Belia dan Hanna.


"Masih pagi udah ribut! Ngeributin apa sih kalian?!" bentak bu Yati.


"Kalian berdua berdiri di depan!" ucap bu Yati.


"Lo yang duluan!" ucap Hanna.


"Heh! Lo tuh," ucap Belia.


"Sudah! Kalian berdua berdiri sekarang!" ucap bu Yati dengan wajah memerah penuh amarah.


Hanna pun mendelikan matanya pada Belia mereka pun berjalan ke depan. Lalu berdiri di samping papan tulis.


"Yang lainnya buka buku tulisnya," ucap bu Yati.


******


Sesampainya Qila di rumah. Qila duduk di tepi jendela sambil menatap ke arah luar dan memegang buku catatan. Qila pun membuka buku catatan tersebut jari Qila pun menulis di atas selembar kertas yang masih bersih dan kosong.


"Isi hatiku akan aku tulis ke dalam buku catatan ini dan juga hari-hariku. Rasanya hati ini sangat hampa ketika orang-orang yang aku sayang pergi. Aku tak tau harus cerita pada siapa tentang hati ini. Mungkin aku hanya bisa menulisnya ke dalam buku catatan ini," gumam Qila.


Qila pun melamun memikirkan Rey, Qila merasakan kerinduan pada Rey. Qila selalu berharap Rey datang menjenguknya. Ingin sekali Qila kembali memeluk Rey, tetapi itu tidak mungkin sekarang yang bisa Qila lakukan adalah menangis ketika merindukan Rey. Sebab mengucapkan rindu pada Rey pasti Rey tidak akan meresponnya.


"Rey aku rindu, rindu di mana kita selalu bersama. Aku ingin kembali mengulang waktu di saat aku masih menggenggam tanganmu. Aku berharap Rey datang menjengukku walaupun sebentar setidaknya aku bisa melihat wajahmu." Tulis Qila.


"Aku telah berhasil membuatmu lupa akan masa lalu yang menyakitkan itu. Dan aku berhasil telah membuatmu bahagia walaupun akhirnya aku terluka. Tidak masalah urusan lukaku biarkan aku obati sendiri asalkan kamu bahagia aku pun senang." Tulis Qila.


Air mata Qila pun menetes membasahi pipinya dan buku catatannya, tetapi bibir Qila terus tersenyum saat menulis isi hatinya.


"Meoww ...."


Qila pun melihat ke arah Hitam. Hitam pun berjalan menghampiri Qila yang sedang duduk di tepi jendela.


"Kring ...."


"Kenapa loncengnya ada di Hitam?" ucap Qila.


"Qila jangan marah ... sebenarnya kemarin Hitam lihat Qila lari. Terus Hitam jahilin Qila berubah jadi bapak-bapak yang jahat itu, tetapi Qila malah tertabrak sama mobil," ucap Hitam.


Qila pun hanya mendelikan matanya.


"Ya udah deh, Qila marah aja sama Hitam gak apa-apa," ucap Hitam.


"Gak akan aku kasih makan selama 3 hari!" bentak Qila.


"Qila jahat banget sih," ucap Hitam.


"Bodo amat!" ucap Qila.

__ADS_1


******


"Aduh pegel banget sih ..." ucap Belia.


"Lebay deh lo!" ucap Hanna.


"Emang beneran pegel tau! Cuma kaki lo aja kali dari besi," ucap Belia.


"Sembarangan lo!" ucap Hanna.


"Heh!" bentak bu Yati.


"Ma-maaf Bu," ucap Hanna dan Belia.


"Kasihan juga Qila ya, oke deh gue jenguk dia aja," gumam Rey.


"Rey gue heran sama lo kenapa sih lo malah jadi sama Hanna daripada Qila. Kasian gue lihatnya jadi sering ngelamun. Qila itu udah baik Rey sama lo buktinya Qila cuma bisa diam aja lihat lo sama Hanna. Padahal hatinya nangis tuh," ucap Bimo.


"Lo gak akan ngerti coba lo jadi gue? Pasti sama lo kaya gini. Udahlah gak usah ikut campur," ucap Rey.


Bimo pun hanya terdiam.


Tak lama bel pulang berbunyi semua siswa segera pulang ke rumahnya masing-masing.


"Rey ..." ucap Hanna menghampiri Rey.


"Hanna maaf ya, Rey ada urusan jadi, gak bisa bareng deh," ucap Rey.


Hanna pun mengangguk. Lalu Rey berjalan keluar kelas.


"Pasti Rey ke rumah Qila. Sebel deh ..." gumam Hanna.


Rey pun segera menjalankan motornya lalu pergi ke rumah Qila.


"Brrrmm ... Brmmm ...."


"Akhh! Kepala aku sakit lagi ..." ucap Qila sambil memegang kepalanya.


"Sini biar Hitam sembuhkan kepala Qila," ucap Hitam.


"Gak usah! Aku gak mau terus pakai kekuatan Hitam. Aku pengen berjuang sendiri," ucap Qila.


"Tapikan Qila ..." ucap Hitam terhenti.


"Aku tambahin nih hukumannya!" bentak Qila.


"Ehh, jangan dong," ucap Hitam.


"Kriett ...."


Qila tidak mendengar bahwa mamah membuka pintu kamarnya. Qila terus mengobrol dengan Hitam.


"Hitam aku pengen deh bisa ulang waktu lagi. Hitam bisa gak?" ucap Qila.


"Qila kenapa sih selalu berpikir kalo Hitam itu doraemon. Hitamkan hanya kucing lucu yang misterius," ucap Hitam.


"Cih ... lucu pantat lo! Nyebelin yang ada," ucap Qila.


"Qila ..." ucap mamah.


Qila pun terkejut menatap mamah yang dari tadi memperhatikan Qila, tetapi Qila tidak mengetahuinya


"Kamu bicara sama siapa Qila?" ucap mamah.


"E-engga Mah ... emm ... i-itu ..." ucap Qila


terbata-bata.


Sesampainya Rey di rumah Qila.


"Kaya gak ada orang sepi banget," gumam Rey.


"Tok ... tok ... tok ...."


"Permisi ... tante ... om ..." ucap Rey.


"Mah, itu siapa?" ucap Qila.


"Sebentar Mamah buka pintu dulu ya," ucap mamah.


Mamah pun keluar dari kamar. Lalu segera membuka pintu.


"Fiuhh ..." Qila pun menghembuskan napasnya dengan pelan.


Hitam pun berjalan ke arah kursi lalu duduk di kursi tersebut sambil menjilati tubuhnya. Qila pun kembali menulis tentang isi hatinya. Tak lama Qila pun merasakan sakit kembali pada kepalanya.


"Akh! Kenapa rasanya makin sakit. Sepertinya aku harus berbaring," ucap Qila sambil memegang kepalanya.


Qila pun menutup kembali buku catatan tersebut. Lalu Qila berusaha beranjak dari jendela untuk menuju tempat tidurnya, tetapi kepala Qila masih terasa sakit dan pusing sehingga Qila pun terjatuh.


"Aaaaa!" teriak Qila.


"Grep!"

__ADS_1


Qila pun membuka matanya. Lalu menatap ke arah seseorang yang menahan tubuhnya ketika terjatuh.


__ADS_2