
"Kriett ...."
"Loh, Qila masih tertidur," ucap mamah.
Mamah pun menghampiri Qila lalu mengusap kepala Qila dengan lembut. Qila pun terbangun.
"Emm ..." ucap Qila membuka mata.
"Sayang kamu jangan sekolah dulu ya," ucap mamah.
"Engga Mah. Aku mau sekolah aja," ucap Qila.
"Jangan sayang badan kamu panas gini. Jangan dipaksain nanti belajarnya gak akan fokus loh," ucap mamah.
Karena Qila tetap ingin sekolah. Qila pun memaksakan untuk berdiri beranjak dari tempat tidur.
"Aku gak apa-apa kok, Mah," ucap Qila sambil berdiri.
Tetapi Qila pun merasakan pusing di kepalanya.
"Akhh!" Qila pun memegang kepalanya.
"Qila!" ucap mamah sambil menahan tubuh Qila yang hampir terjatuh.
"Tuhkan udah ya, Qila istirahat dulu aja," ucap mamah.
Qila pun akhirnya mengangguk. Lalu kembali berbaring di tempat tidur mamah pun mengusap kepala Qila.
"Sebenarnya kemarin kenapa Qila? Sampai kamu drop kaya gini," ucap mamah.
"Fery memaksa aku buat balikan sama dia Mah. Dengan cara mau merusak aku Mah, untung aja ada Rey kalo gak ada. Mungkin aku ..." ucap Qila terhenti mengingat kejadian kemarin.
"Astaga! Keterlaluan Fery berani-beraninya," ucap mamah menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah Qila sarapan dulu ya," ucap mamah.
Qila pun mengangguk.
******
"Mah, Rey berangkat dulu ya." Mencium tangan mamah.
"Hati-hati Rey," ucap mamah.
"Dahh ... Stevan," ucap Rey sambil mengacak-acak rambut Stevan.
"Ihh! Kakak!" ucap Stevan.
"Ehh ... kamu ya Kak, jail deh," ucap mamah.
"Mungkin hari ini gue bisa kuat melihat Rey sama Qila. Ayo Hanna lo bisa!" gumam Hanna tersenyum.
"Biasanya Fery ada di sekitar sini tumben gak ada. Lihat aja pulangnya gue cari sampai ketemu," ucap Rey.
Rey pun kembali menancapkan gasnya.
"Semoga Qila baik-baik aja," gumam Rey.
Sesampainya Rey di sekolah. Rey pun memarkirkan motornya lalu segera masuk menuju kelas.
"Dukkk!"
"Aduhh!" ucap Rey.
"Ahh!" ucap Hanna.
Rey dan Hanna pun saling menatap begitu lama. Ternyata Belia memperhatikan dari jauh.
"Ihh! Kenapa jadi dua begini sih. Kemarin gue harus jauhin Rey dari Qila sekarang nambahin Hanna. Ehh, tapi bisa juga nihh jadi lebih gampang kayanya," gumam Belia tersenyum.
"Maaf Hanna, maafin gueee dong gue gak sengaja beneran. Gue gak sengaja gak lihat ada lo maafin gueeeeee," ucap Rey sambil memohon-mohon pada Hanna.
Hanna pun hanya mengerutkan dahinya sambil tersenyum.
"Hahaha ... kenapa lo? Sampai mohon-mohon gitu ke gue berasa ratu jadinya gue," ucap Hanna tertawa.
"Biasanya lo langsung ngamuk. Takut gue kalo lo ngamuk," ucap Rey.
Hanna pun tersenyum menatap Rey.
"Gaklah. Tenang aja gue baik kok kalo orangnya baik," ucap Hanna tersenyum.
Rey pun tersenyum.
"Gue masuk duluan ya," ucap Rey.
Hanna pun mengangguk. Lalu Hanna duduk di salah satu kursi yang berada di taman.
"Hanya melihat senyum Rey. Gue bahagianya bukan main apalagi kalo gue bisa miliki lo Rey. Gue gak akan pernah ngeluarin air mata lagi, tapi itu gak mungkin," gumam Hanna.
Hanna pun beranjak dari kursi. Lalu segera berjalan menuju kelas.
Sesampainya Rey di kelas. Rey pun melihat ke sekeliling ruang kelas mencari Qila.
"Qila kok belum datang sih? Tumben," gumam Rey.
Setelah Rey menaruh tasnya di kursi. Rey pun keluar kelas untuk menanyakan Qila pada Hanna, tetapi saat Rey keluar kelas.
"Dukkk!"
"Aduh!" ucap Rey.
Lagi-lagi Rey bertubrukan dengan Hanna.
"Ihh, Hanna kenapa sih?" ucap Rey.
"Kok nyalahin gue. Sorry gue mau masuk," ucap Hanna sambil berjalan masuk ke kelas.
Hanna pun membulatkan matanya. Saat menatap ke arah meja.
__ADS_1
"Loh-loh, ini sahabat gue satu-satunya yang lucu kemana? Tumben belum datang," ucap Hanna sambil menatap Rey.
"Gue culik tadi," ucap Bimo.
Rey pun menarik rambut Bimo. Membuat Bimo kesakitan dan mencoba melepaskan tangan Rey.
"Akhh! Sakit ... sakit," ucap Bimo.
"Galak banget deh masnya," ucap Bimo menatap Rey.
Rey hanya mendelikan matanya pada Bimo.
"Duh, kemana sih Qila?" ucap Hanna.
"Selamat pagi semuanya," ucap bu Yati.
Selain pembina ekskul musik. Bu Yati pun guru pelajaran kesenian.
"Selamat pagi Bu," ucap semua murid.
Seluruh murid pun segera duduk dengan tertib dan mengikuti pelajaran dengan baik.
******
Setelah selesai menjelaskan materinya. Bu Yati pun memberikan beberapa soal untuk di kerjakan oleh murid.
"Untuk yang mengurus absensi. Tolong catat Qila sakit ya," ucap bu Yati.
"Qila sakit bu?" ucap Hanna.
"Sampai sakit gini Qila. Awas ya lo Fery!" gumam Rey.
"Pusing pala gue bambangggggg," ucap Bimo menatap soal.
"Percuma lo terus bilang pusing-pusing. Gak akan beres tuh soalnya," ucap Rey.
"Ahh gue santuy aja bro. Nunggu lo beres aja ya? Nanti gue lihat," ucap Bimo sambil memainkan ponselnya.
"Enak banget lo ngomong," ucap Rey sambil beranjak dari kursi.
"Ehh, lo mau kemana? Gue lihat Rey," ucap Bimo.
"Rey!" teriak Bimo.
"Berisik!" ucap seluruh murid.
Bimo pun terdiam. Lalu memainkan ponselnya. Rey pun berjalan menuju kursi Hanna lalu Rey pun duduk di samping Hanna.
"Deg!" Jantung Hanna pun berdetak kencang.
"Rey duduk di sini? Gak mimpikan gue," gumam Hanna sambil melihat ke arah Rey.
Rey pun melihat ke arah Hanna dengan heran. Karena Hanna terus melihat ke arah Rey.
"Kenapa?" ucap Rey.
"E-engga lo ngapain di sini?" ucap Hanna.
"E-ehh bukan gitu," ucap Hanna sambil menarik tangan Rey.
Hanna dan Rey pun saling menatap.
"Maaf," ucap Hanna sambil melepaskan tangannya.
"Hahaha ... santai aja," ucap Rey sambil kembali duduk.
Bimo pun melihat ke arah Rey yang sedang berdiskusi dengan Hanna. Membuat Bimo kesal karena Bimo mengerjakan sendiri Bimo pun mengeluarkan ponselnya. Lalu merekam suasana di kelas lalu di posting ke Instagram.
"Halo gaiss, gue ditakdirkan menjadi sadboy sejati kalian bisa lihat mereka semua berdua hanya gue yang sendiri," ucap Bimo.
"Sahabat gue malah ninggalin gue. Lihat gaiss," ucap Bimo sambil mengarahkan ponselnya ke arah Rey dan Hanna.
Setelah itu Rey pun mempostingnya di Instagram.
"Bimo? Kamu gak ngerjain," ucap bu Yati.
"Ma-mau Bu ... hehe baru beres tulis soalnya," ucap Bimo.
Bu Yati pun menggelengkan kepalanya. Bimo pun berjalan ke arah Rey dan Hanna.
"Jadi, ini gimana Rey? Gue gak paham," ucap Hanna.
"Jadi, gini ..." ucap Rey sambil menjelaskan pada Hanna.
"Brakkkk!"
Rey dan Hanna pun terkejut. Bukan mereka saja seluruh murid di kelas termasuk bu Yati terkejut.
Bu Yati pun menghampiri Bimo. Lalu menarik telinga Bimo.
"Gue li ..." ucap Bimo terhenti.
"Akhh! Sakit!" Telinganya pun di tarik bu Yati.
Bimo pun melihat ke arah bu Yati.
"A-ampun Bu ... sakit!" ucap Bimo.
"Bukannya ngerjain! Udah pinter ya, kamu malah bikin orang kaget aja!" bentak bu Yati.
"Pffttt ... hahaha," seluruh murid pun tertawa.
"Kerjakan!" ucap bu Yati.
Bimo pun segera duduk di samping Rey. Sambil mengusap-usap telinganya.
"Sempit ihh Bimo!" ucap Hanna.
"Tau lo!" ucap Rey.
__ADS_1
******
Qila pun berbaring lemas di atas tempat tidur. Lalu meraih ponselnya.
"Gak sekolah bosen banget. Rey lagi apa ya?" gumam Qila.
Qila pun membuka story instagram. Saat melihat story Bimo Qila pun membulatkan matanya. Menatap layar ponsel dengan serius.
"Rey ...." ucap Qila terlihat air mata Qila yang hampir menetes.
"Engga-engga. Kamu jangan salah sangka Qila gak mungkin Hanna rebut Rey. Mungkin mereka lagi diperintah untuk berdiskusi," gumam Qila.
"Tapi kok rasanya aneh banget ya, belakangan ini. Apalagi kejadian kemarin Hanna sama Rey saling bertatap seperti itu," ucap Qila.
Qila pun beranjak dari tempat tidur. Membuka jendela lalu duduk di tepi jendela hembusan angin terasa pada wajah Qila.
"Meoww ...."
Qila pun mengelus kepala si Hitam.
"Emmm ... Qila sekarang sayang ya sama Hitam," ucap Hitam sambil berguling-guling di lantai.
"Apaansih!" ucap Qila sambil mencabut kumis Hitam.
"Sakit!" teriak Hitam.
Qila pun tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha ... kucing-kucing yang di jalan tuh kalo kesakitan pasti bilang 'meowwwww!' lah kucing satu ini bilang 'sakit!' hahaha ..." ucap Qila.
"Hitam, kan istimewaaaaaa," ucap si Hitam.
Qila pun memegang dahi dan lehernya dengan heran.
"Kok demam Qila tiba-tiba turun?" ucap Qila.
"Qila lupa ya, Hitam ini kucing langka yang pastinya manusia lain ingin memiliki Hitam," ucap si Hitam.
"Jadi? Hitam yang udah bikin Qila sembuh?" ucap Qila.
"Heem," ucap Hitam sambil berjalan menuju mangkuk yang berisi makanan kucing.
"Aaaaaaaa!" teriak Qila..
"Kenapa? Qila senang ya?" ucap Hitam.
"Bukannya dari semalam gendut! Jadi, Qila bisa sekolah hari ini," ucap Qila.
"Terus aja apalagi hah? Udah Hitam, Gendut," ucap Hitam.
"Dengar ya, Qila gak ada yang instan mie aja direbus tuh," ucap si Hitam.
"Berisik! Gak ada yang instan gimana? Ini buktinya Qila langsung sembuh," ucap Qila.
"Karena Hitam maunya Qila berusaha dulu," ucap Hitam.
Qila pun cemberut lalu kembali melihat ke arah luar.
"Padahalkan kalo aku sekolah. Rey gak akan sama Hanna," gumam Qila.
******
"Ihh sana! Sempit Bimooooo!" ucap Hanna.
"Ikut gabung. Jahat banget sih kalian sama gue," ucap Bimo.
Rey pun beranjak dari kursi.
"Nah gitu Rey. Makasih sayang," ucap Bimo tersenyum.
Rey pun mendelikan matanya sambil menarik kursi kosong.
"Gara-gara Bimo jadi, gue gak bisa dekat Rey lagi," gumam Hanna.
Tak lama bel pulang pun berbunyi. Seluruh siswa segera pulang.
"Gue harus cari tuh ... Fery sampe ketemu," gumam Rey.
Rey pun segera menyalakan motornya dan segera mencari Fery.
Tak lama Rey pun melihat Fery yang sedang memarkirkan motonya. Lalu Rey segera memarkirkan motornya dan menghampiri Fery sambil menarik baju belakang Fery.
"Buaghhh!"
Fery pun menatap ke arah Rey.
"Lo! Mau cari masalah apa lagi hah?" ucap Fery.
"Lo kemarin mau apain Qila hah?!" ucap Rey.
"Suka-suka gue. Kenapa lo gak suka?" ucap Fery.
"Dengan enaknya lo bilang kaya gitu! Sekarang Qila sakit gara-gara lo!" ucap Rey.
"Qila sakit? Gue gak seharusnya bikin dia sampai kaya gitu. Gue harus ke rumahnya," gumam Fery sambil berjalan menuju motornya.
Tetapi langkah Fery terhenti. Karena Rey menarik Fery kembali.
"Mau kemana lo! Urusannya belum selesai lo mau apa hah? Sampe ngejar-ngejar Qila!" ucap Rey.
"Gue ngasih peringatan sama lo! Jangan deketin Qila kalo lo! Deketin lagi gue bakalan lakuin lebih dari yang kemarin ke Qila!" ucap Fery.
"Buaghhh!"
"Gue takut sama ancaman lo? Hei bro gue gak takut sama sekali. Gue bakalan lindungi Qila terus dan lo! Gak bisa apa-apain Qila lagi!" ucap Rey.
"Lo itu cinta sama Qila, Lo itu pengen balikan kenapa lo malah mau sakitin Qila. Sekaligus celakai Qila? Otak lo di mana sih heran gue!" ucap Rey.
"Gue cuma kasih peringatan! Mulai besok gue bakalan celakai lo!" ucap Fery sambil mendorong tubuh Rey.
__ADS_1
"Haha ... gak takut gue," ucap Rey.
"Benar-benar ya lo!" ucap Fery sambil melayangkan pukulan ke arah Rey.