
Setelah selesai Qila mengantarkan Rey. Qila dan Rey pun pulang ke rumah masing-masing.
"Mah, arrhhh!" ucap Rey.
"Kamu kenapa Rey?" ucap mamah.
Mamah pun terkejut melihat mata kanan Rey ditutup oleh perban.
"Mata Rey perih Mah, tadi di jalan Rey lihat ada orang yang tergeletak Rey samperin karena Rey penasaran orang itu kenapa. Saat Rey samperin dia lempar bubuk cabai ke mata Rey. Entah siapa itu orangnya Mah, kayanya mau jailin Rey." ucap Rey.
"Astaga, kamu harus hati-hati Rey terus itu udah ke dokter?" ucap mamah.
"Udah Mah, tadi diantar Qila," ucap Rey.
"Ting-Tong."
Rey pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
"Rey aku mau jujur." Isi sebuah pesan tersebut.
"Aku cinta sama kamu. Sebenarnya dari dulu sih cuma aku malu kalo aku bilang aku cinta kamu, tapi sekarang aku mencoba berani semoga kamu juga punya rasa yang sama," isi sebuah pesan tersebut.
Rey pun mengerutkan dahinya karena penglihatan Rey kurang jelas. Akibat bubuk cabai yang mengenai mata kanannya jadi, Rey sedikit tidak jelas.
"Qila kok bilang kaya gini. Emang dulu Qila gak cinta sama gue," gumam Rey.
"Kenapa Kak?" ucap mamah.
"Engga Mah, Rey ke kamar dulu ya," ucap Rey.
"Iya itu jangan digosok-gosok matanya ya," ucap mamah.
"Kriettt ...."
Rey pun masuk ke dalam kamar. Lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan pikiran yang bingung. Rey bertanya-tanya kenapa Qila mengirimkan pesan seperti itu.
"Qila kenapa sih haha ... kecapean kali dia sampai ngirim pesan kaya gitu," ucap Rey.
Tak lama Rey pun terlelap tidur.
******
"Pagi, Mah, Pah," ucap Qila.
"Pagi, sayang," ucap mamah dan papah.
Qila pun melihat ke arah meja makan. Yang biasanya banyak makanan kini hanya ada nasi goreng dan air putih.
"Maaf ya, sayang sarapannya cuma ini kita harus menghemat sekarang," ucap mamah tersenyum.
Qila pun tersenyum. Sambil mengambil nasi gorengnya.
"Gak apa-apa kok, Mah, segini juga kita bersyukur masih bisa makan," ucap Qila.
Mamah dan papah pun tersenyum. Mereka pun melanjutkan sarapannya bersama.
"Aku pengen bantuin mamah sama papah. Aku gak tega lihat papah yang terus berjuang, tapi aku bingung harus kerja apa," gumam Qila.
Sesampainya Rey di sekolah.
"Bro ..." ucap Bimo.
"Bareng dong ke kelasnya," ucap Bimo.
Rey pun mengangguk. Bimo pun tersadar melihat mata kanan Rey yang ditutupi oleh kapas.
"Itu mata lo kenapa?" ucap Bimo.
"Kemarin ada orang yang mau celakai gue entah siapa," ucap Rey.
Bimo pun menggelengkan kepalanya.
"Tapi gak apa-a ..." ucap Bimo terhenti.
"Pagi Rey ..." ucap Qila.
"Pagi Rey ..." ucap Hanna.
Qila pun melihat ke arah Hanna dengan heran.
"Kok Hanna ngucapin pagi ke Rey sih," gumam Qila menatap Rey.
Rey pun terdiam menatap Qila dan Hanna.
"Pagi Qila, Hanna, Bimo," ucap Rey.
"Perasaan gue gak ngucapin pagi," ucap Bimo.
Rey pun menatap Bimo.
"Mata lo kenapa Rey?" ucap Hanna.
__ADS_1
"Biasa ada yang mau celakai gue gak tau siapa," ucap Rey.
Rey pun ingat dengan pesan yang di kirimkan Qila semalam.
"Oh iya, Qila kemarin kamu kenapa? Hahaha ..." ucap Rey tertawa.
"Aku? Kenapa emangnya?" ucap Qila heran.
"Rey udah baca pesan dari gue semalam, tapi kok gak dibalas ya, atau Rey mau bahasnya nanti di taman," gumam Hanna.
"Ini kayanya Qila kecapean semalam jadi, gak sadarkan kirim pesannya hahaha ... gemesin banget sih," ucap Rey sambil mencubit pipi Qila.
Qila pun mengerutkan dahinya, bertanya-tanya apa maksud dari perkataan Rey tadi.
"Aku engga kirim pesan ke Rey semalam," ucap Qila.
"Hahaha, udah-udah gak usah dibahas. Udah lupain aja," ucap Rey mengusap rambut Qila sambil tertawa.
Qila pun semakin kebingungan.
Karena bel sebentar lagi berbunyi. Mereka pun segera masuk ke kelas.
Saat mereka berada di pintu kelas. Tiba-tiba Belia menghampiri.
"Qila lo kasian banget ya, punya sahabat yang udah deket banget sama lo udah kaya adik kakak gitu ehh ... ternyata malah suka sama cowo lo sendiri," ucap Belia sambil menyilangkan tangannya.
"Sahabat macam apa itu haha ... udahlah Qila gak usah sama Hanna lagi. Yang ada Rey makin direbut tuh sama Hanna. Gue ngasih tau aja kashian sama lo," ucap Belia.
"Apaansih lo Belia?!" ucap Hanna.
"Apa bener ya, Hanna suka sama Rey, tapi gak mungkin deh," gumam Qila.
"Apaansih Belia kok gitu ke Hanna. Udah deh ya, jangan ngurusin hidup orang," ucap Qila.
"Ayo Hanna," ucap Qila sambil menarik tangan Hanna masuk ke kelas.
Pelajaran telah di mulai. Seluruh murid pun belajar dengan fokus, tetapi Hanna tidak ada rasa bersalah karna dia mencintai Rey, tetapi Hanna bingung dia harus apa dengan perasaan ini perasaan yang terlanjur cinta susah untuk di hilangkan.
"Hanna," ucap Qila sambil menatap Hanna.
Tetapi Hanna masih saja melamun.
"Hanna kenapa sih? Ada masalah apa biasanya kamu ceria, tapi akhir-akhir ini selalu bengong," ucap Qila.
"Gue bingung sama perasaan gue Qila," ucap Hanna.
"Perasaan apa? Ke siapa?" ucap Qila.
"Aduh Qila bentar ya, a-aku ke toilet dulu," ucap Hanna.
Hanna pun meminta izin pada guru untuk ke toilet.
Qila pun hanya terdiam melihat Hanna.
"Ada yang disembunyikan dari Hanna kayanya. Aku harus cari tau," gumam Qila.
Hanna pun berlari ke arah toilet. Di dalam toilet Hanna menangis tersedu-sedu.
"Qila lo kasian banget ya, punya sahabat yang udah deket banget sama lo udah kaya adik kakak gitu ehh ... ternyata malah suka sama cowo lo sendiri." Terlintas di pikiran Hanna tentang ucapan Belia.
Hanna pun semakin menangis Hanna merasa bahwa dia telah menyakiti perasaan sahabatnya sendiri, tetapi di sisi lain Hanna pun tersakiti oleh perasaan ini.
"Gue harus apa? Gue harus apaaaaa! Gue benci hal ini gue benciiiiiiii! Gue benci diri gue sendiri," ucap Hanna sambil menangis.
Ternyata dari tadi Qila menunggu Hanna keluar dari toilet.
"Hanna lama banget sih," gumam Qila.
"Kriettt ...."
Hanna pun keluar dari toilet. Qila pun langsung menarik tangan Hanna.
"Kamu kenapa sih? Ada apa sebenarnya kenapa sekarang-sekarang kamu jadi kaya gini banyak ngelamun. Gak ceria lagi ada masalah apa coba cerita?" ucap Qila.
"Gue gak bisa cerita Qila. Kalo gue cerita yang ada lo benci sama gue," gumam Hanna.
"Aku tau kamu nangiskan? Aku bisa rasakan di saat kamu sedih di saat kamu ceria. Aku bisa rasakan Hanna. Coba cerita kamu kenapa?" ucap Qila.
"Gue bingung Qila! Gue bingung harus cerita apa karena lo gak akan ngerti apa yang gue rasain. Sekarang itu sakit banget Qila! Sakit!" ucap Hanna dengan nada yang tinggi.
"Jadi, gue mohon sama lo. Lo gak usah nanya-nanya gue kenapa! Lo diam gak usah peduli sama gue, ngerti?!" bentak Hanna.
Hanna pun berjalan meninggalkan Qila yang terdiam.
"Baru kali ini Hanna bicara seperti itu," gumam Qila
Qila pun segera kembali ke kelas, tetapi di kelas tidak ada Hanna membuat Qila bingung. Entah kemana Hanna pergi.
"Hanna kemana ya?" gumam Qila
Rey pun menghampiri Qila. Lalu duduk di sebelah Qila, tetapi Qila terus melamun memikirkan tentang Hanna. Rey pun memanggil Qila, tetapi Qila terus melamun.
__ADS_1
"Qila, nomor dua udah dijawab belum? Kok Rey bingung ya, kaya gak ada isinya loh," ucap Rey sambil membuka lembaran-lembaran buku.
Rey pun heran tidak ada jawaban dari Qila. Rey pun menatap ke arah Qila.
"Qila ..." ucap Rey.
"Hhhmm ... kebiasaan," ucap Rey.
Rey pun mencium pipi Qila. Sehingga Qila terkejut.
"Hahh! Rey ..." ucap Qila menatap Rey.
"Ihh Rey gimana sih itu ada guru kenapa cium aku. Gimana kalo ngelihatin kita berdua," ucap Qila menatap tajam ke arah Rey.
"Lagian Qilanya ngelamun terus dari tadi Rey nanya kenapa sih? Fery lagi ya?" ucap Rey.
"Bukan udah ahh aku mau kerjain dulu tugasnya," ucap Qila.
Qila pun kembali menulis lalu menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru. Rey hanya terdiam memperhatikan Qila sambil berkata di dalam hatinya.
"Gue tau Qila masih sayang sama Fery. Mungkin Qila hanya jadiin gue pelampiasan. Soalnya kemarin aja Qila kirim pesan gitu," gumam Rey.
Hanna pun kembali ke kelas.
"Rey permisi gue mau duduk," ucap Hanna.
"Ohh iya, sorry Qila aku sama Bimo lagi ya," ucap Rey.
Qila pun mengangguk menatap Rey.
"Kenapa Rey belum bahas soal pesan semalem sih atau Rey gak peduli ya, tentang perasaan gue." gumam Hanna.
"Oh iya, Hanna ..." ucap Rey terhenti
"Kenapa?" ucap Hanna menatap Rey.
"Ehh, nanti deh pas istirahat," ucap Rey.
Rey pun kembali duduk di kursinya.
"Hhhmm ... pasti Rey mau bahas yang semalam deh. Gak sabar jadinya Rey mau jawab apa ya," gumam Hanna.
"Rey mau ngomong apasih ke Hanna. Kok sembunyi gitu dari aku sebel deh," gumam Qila.
Hanna pun melihat ke arah Qila yang sedikit cemberut. Hanna menyadari bahwa dirinya telah berkhianat soal persahabatan ini, tapi bagaimana lagi.
"Maafin gue Qila," gumam Hanna.
******
Bel istirahat pun berbunyi Hanna pun keluar kelas tanpa mengajak Qila. Membuat Qila terdiam menatap Hanna yang tak biasanya seperti itu.
"Loh, kok ninggalin sih," ucap Qila.
Di tambah Rey yang tergesa-gesa berjalan keluar kelas.
Akhirnya Qila pun mengikuti Rey tanpa diketahui Rey. Ternyata Rey menuju ke arah taman. Qila pun melihat di taman tersebut ada Hanna yang sedang duduk.
Rey pun menghampiri Hanna.
"Rey mau bahas apa?" ucap Hanna tersenyum menatap Rey.
Qila pun berdiri di dekat pohon Qila ingin menghampiri. Mereka, tetapi jika menghampiri Qila tidak akan mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
"Oke, tenang Qila kita lihat apa yang terjadi sebenarnya," gumam Qila.
"Gue mau nanya ini. Qila semalem kirim pesan ke gue, tapi kok gini ya, heran gue. Maksudnya apaan coba?" ucap Rey sambil memberikan ponselnya pada Hanna.
Hanna pun melihat layar ponsel Rey. Yang ternyata itu adalah pesan yang dikirimkan Hanna untuk Rey bukan dari Qila.
Hanna pun menatap ke arah Rey.
"Gak paham, kan lo juga? Nah, apalagi gue" ucap Rey.
"Bukan gak paham," ucap Hanna.
"Terus?" ucap Rey.
"Ini gue Rey. Gue yang kirim bukan Qila," ucap Hanna.
Rey pun menatap dengan serius ke arah Hanna. Mengambil ponselnya dari Hanna lalu menatap ponselnya. Ternyata benar pesan itu dari Hanna bukan Qila. Mungkin karena penglihatan Rey yang kurang jelas akibat bubuk cabai kemarin.
Rey pun terdiam setelah mengetahui pesan tersebut. Lalu Rey melihat ke arah Hanna menatap kedua bola mata Hanna. Yang penuh genangan air mata di dalamnya.
"Pesan apa sih yang di maksud Rey?" gumam Qila.
"Se-sekarang lo tau, kan Rey?" ucap Hanna menatap Rey.
Rey pun terdiam menatap Hanna.
"Dari dulu gue pendam rasa ini sendirian. Gue cinta sama lo Rey dari dulu gue sayang!" ucap Hanna sambil menangis.
__ADS_1
"Apa?!" ucap Qila.