
"Rey ..." gumam Qila.
Rey pun segera merangkul Qila. Lalu menuntun Qila berjalan ke arah tempat tidurnya.
"Makasih," ucap Qila tersenyum.
Rey pun duduk di samping Qila yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Akhirnya Rey datang juga. Walaupun Rey dingin seperti ini tidak masalah seengganya aku bisa melihat wajah Rey. Kini rinduku terbalaskan rasanya bahagia sekali," gumam Qila.
"Akhh!"
Kepala Qila pun kembali sakit, tetapi kali ini rasa sakitnya luar biasa. Sehingga Qila pun menangis sambil memegang kepalanya.
"Aww! Sakitttt ..." ucap Qila sambil memegang kepalanya.
Rey pun terkejut melihat Qila yang menangis kesakitan. Lalu Rey pun mengusap kepala Qila.
"Qila kenapa?" ucap Rey mengusap kepala Qila.
"Sakitttt Rey ... kepala aku sakit," ucap Qila menangis.
"Astaga ... tante ... sebentar Qila," ucap Rey berlari keluar kamar lalu segera mencari mamah.
"Tan ..." ucap Rey.
"Iya Rey, ada apa?" ucap mamah.
"Itu Qila kepalanya sakit," ucap Rey.
"Astaga ..." ucap mamah sambil berjalan menuju kamar Qila.
"Akhh! Sakittttt ..." ucap Qila sambil menangis.
"Sayang kamu kenapa?" ucap mamah menghampiri Qila sambil mengusap kepala Qila.
"Sakit Mah ... kepala aku sakitttt ..." ucap Qila.
Mamah pun mencoba menenangkan Qila. Sambil memeluk Qila dan mengusap kepalanya.
"Kita ke rumah sakit lagi ya sayang?" ucap mamah.
"Engga Mah, aku gak mau ..." ucap Qila.
"Tapi itu kepalanya sakitkan?" ucap mamah.
"Iya Qila ke rumah sakit aja nanti takutnya ada apa-apa loh," ucap Rey.
Tetapi Qila menggelengkan kepalanya sambil terus menangis. Mamah pun terus memeluk Qila.
"Kasian juga Qila gue sering bikin dia nangis. Lihat dia nangis kaya gini gak tega gue," gumam Rey.
"Mah, aku mau minum," ucap Qila.
"Sebentar ya, sayang," ucap mamah.
Mamah pun berjalan keluar kamar. Qila pun duduk sambil memegang kepalanya yang tidak berhenti rasa sakitnya. Rey pun duduk di samping Qila lalu memeluk Qila.
"Rey peluk aku? Akhirnya aku kembali merasakan pelukan hangat ini. Rasanya aku tidak ingin melepaskan pelukan ini," gumam Qila tersenyum.
Qila pun sedikit tenang dalam pelukan Rey. Mamah pun melihat Qila yang sedang dipeluk Rey.
"Mungkin hanya Rey yang bisa menenangkan Qila. Semoga saja Rey bisa menjaga Qila dengan baik dan membahagiakan Qila," gumam mamah tersenyum.
__ADS_1
Qila pun hingga tertidur dipelukan Rey. Lalu Rey pun membaringkan Qila dengan perlahan agar Qila tidak terbangun dari tidurnya. Perlahan Rey pun mengusap kepala Qila.
"Qila tidur ya, Rey?" ucap mamah menghampiri Rey.
"Ehh, iya Tan," ucap Rey tersenyum.
Mamah pun menarik selimut untuk Qila. Lalu mamah pun pergi keluar dari kamar Qila. Pandangan Rey pun tertuju pada buku catatan Qila yang terjatuh lalu Rey pun berjalan mengambilnya.
"Ini buku apa?" gumam Rey.
"Itu kayanya buku rahasia Qila deh wahh ... Rey gak boleh lihat," ucap Hitam.
"Tring ...."
Hitam pun mengubah buku catatan Qila menjadi kosong kembali. Rey pun membuka buku tersebut.
"Kirain ada tulisan apa kosong ternyata," ucap Rey.
Rey pun menyimpan buku Qila di atas meja. Rey pun kembali duduk di tepi tempat tidur Qila sambil menatap Qila yang sedang tertidur.
"Dret ... dret ... dret ...."
Rey pun mengangkat telpon dari mamah.
"Hallo Mah ..." ucap Rey.
"Rey kamu lagi di mana cepat pulang," ucap mamah.
"Iya Mah, bentar Rey lagi di rumah Qila jenguk Qila," ucap Rey.
"Qila kenapa Rey?" ucap mamah.
"Nanti Rey jelasin Mah, udah dulu ya, nanti Rey bentar lagi pulang," ucap Rey.
Qila pun terbangun mendengar Rey yang sedang berbicara.
"Rey ..." ucap Qila.
"Cepat sembuh ya, Rey gak bisa lama-lama mamah udah telpon jadi, Rey pulang dulu ya," ucap Rey sambil mengusap kepala Qila.
"Bentar Rey," ucap Qila sambil duduk.
Rey pun duduk kembali di samping Qila sambil menatap Qila.
"Ternyata Rey masih sayang dan cinta sama aku ya," ucap Qila tersenyum menatap Rey.
"Aku kira Rey udah gak sa ..." ucap Qila terhenti.
"Rey kaya gini cuma Rey kasihan aja lihat Qila sakit, tapi ingat ya, sekarang cinta sama kasih sayang Rey itu ke Hanna bukan ke Qila," ucap Rey.
"Deg!"
Hati Qila terasa sangat sakit setelah mendengar Rey berbicara seperti itu. Qila pikir Rey emang masih sayang sama Qila, tetapi Rey hanya kasihan melihat kondisi Qila yang sedang sakit.
"Udah ya, Rey mau pulang dan satu lagi Qila gak usah deh cinta sama Rey sampai kaya gini. Karena semuanya percuma Rey tetap cinta dan sayang sama Hanna bukan sama Qila. Apa susahnya sih lupain Rey," ucap Rey.
Air mata Qila pun menetes kembali membasahi pipinya. Tak menyangka dengan mudahnya Rey mengatakan seperti itu.
"Rey bilang apa susahnya? Coba Rey ada di posisi aku pasti Rey merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Melupakan seseorang itu emang mudah, tapi kenangannya yang susah dilupakan Rey," ucap Qila menatap Rey sambil menangis.
"Udah ya, stop Qila!" ucap Rey dengan tegas.
Rey pun keluar dari kamar Qila Lalu pamit pada mamah untuk pulang ke rumah, sedangkan Qila berjalan ke arah jendela dengan air mata yang membasahi pipinya. Qila pun terus melihat Rey yang sedang menaiki motornya, tetapi saat itu Qila melihat ada orang di belakang Rey yang akan mencelakai Rey.
__ADS_1
"Qila sepertinya itu orang mau celakai Rey deh," ucap Hitam.
"Iya, aku harus segera menolong Rey," ucap Qila sambil berlari keluar kamar.
"Qila jangan!" ucap Hitam.
Tetapi Qila tak mendengar. Qila pun segera berlari keluar rumah dan menghampiri Rey. Mamah pun terkejut saat melihat Qila berlari keluar rumah.
"Qila kamu mau kemana?" ucap mamah.
"Bentar, Mah," teriak Qila.
Qila pun berlari mengejar orang yang terus mengikuti Rey. Untung saja orang yang mengejar Rey tidak mengendarai motor. Sehingga Qila bisa mengejarnya.
"Gawat! Ada yang ikutin gue, gue harus sembunyi," ucap seseorang yang mengejar Rey.
Orang itu pun segera sembunyi di balik pohon. Qila pun kehilangan jejak orang tersebut. Sehingga Qila kebingungan kemana orang tersebut pergi.
"Rey!! Stop!" teriak Qila mengejar Rey.
"Rey ..." ucap Qila.
Rey pun mendengar teriakan Qila.
"Apalagi sih?!" gumam Rey.
Rey pun menghentikan motornya lalu melihat ke arah Qila, Qila pun menghampiri Rey. Terlihat raut wajah Rey yang sangat kesal pada Qila.
"Apalagi sih?!" bentak Rey.
Qila pun terdiam sambil mengatur napasnya sebelum menjelaskan pada Rey.
"Tadi ada orang yang mengikuti Rey dari belakang sepertinya itu orang jahat Rey. Aku khawatir jadi, aku mengejarnya, tapi orang itu gak tau kemana," ucap Qila.
"Mana? Dari tadi juga Rey gak ngerasa ada orang di belakang ngikutin. Udah deh Qila stop peduli sama Rey ngerti?!" ucap Rey dengan tegas.
"Aku cuma gak mau Rey kenapa-kenapa," ucap Qila.
Rey pun menatap tajam ke arah Qila. Setelah itu Rey pun kembali menjalankan motornya dan meninggalkan Qila.
"Brrmm ... brrmmm ... brrmmm ...."
"Masa sih cuma halusinasi aku aja, tapi tadikan emang benar ada yang ngikutin Rey," gumam Qila.
Karena rasa penasarannya Qila pun mencoba mencari orang tersebut di sekitar jalan itu.
"Aduh ... ngapain dicari sih bukannya pulang," gumam orang tersebut di balik pohon.
"Aku ngerasa orang itu ada di balik pohon ini deh," gumam Qila.
Qila pun berjalan mendekati pohon tersebut dengan langkah pelan. Akhirnya Qila pun menemukan orang tersebut lalu Qila menghampirinya.
"Lo siapa?!" ucap Qila.
Orang tersebut pun terkejut setelah Qila mengetahuinya.
"Buka topengnya!" bentak Qila.
"Apa maksudnya ngikutin Rey dari belakang? Kamu mau celakai dia, kan?! Buka topengnya cepat!" ucap Qila dengan penuh amarah.
"Engga! Gue gak akan buka topengnya dan lo gak usah tau gue siapa!" ucap seseorang itu.
"Ihh ... buka engga!" ucap Qila sambil mencoba membuka topengnya.
__ADS_1
Qila pun berhasil membuka topengnya, Qila pun terdiam, dan terkejut setelah mengetahui orang yang berniat mencelakai Rey.
"Kamu ..." ucap Qila menatap orang tersebut.