Dia Bahagia

Dia Bahagia
Bab 11


__ADS_3

"A-aku ..." ucap Qila.


"Dret ... dret ... dret ...."


"Bentar Rey," ucap Qila.


Qila pun menjawab telponnya.


"Hallo ... Mah?" ucap Qila.


"Astaga ... kenapa terus ada gangguan sih dari tadi," gumam Rey.


Rey pun menunggu Qila selesai menelpon. Beberapa menit kemudian Qila pun telah selesai. Lalu Qila pun mematikan telponnya dan kembali duduk di hadapan Rey.


"Jadi gimana?" ucap Rey kembali menatap Qila.


"Iya, aku mau," ucap Qila sambil tersenyum.


"Serius?" ucap Rey.


Qila pun mengangguk sambil tersenyum.


"Yesss! Akhirnya ..." ucap Rey tersenyum.


"Aku bahagia banget lihat Rey tersenyum seperti itu," gumam Qila.


Mereka pun kembali memakan makanannya.


"Karena sekarang Qila pacar aku. Aku suapin Qila ya?" ucap Rey.


"Boleh," ucap Qila tersenyum.


"Sini aaaa ..." ucap Rey sambil menyuapkan makanan pada Qila.


"Emm ... wow enak banget makanannya Rey," ucap Qila.


"Sini Rey juga dong aaa ..." ucap Qila sambil menyuapkan makanan pada Rey.


"Emm ... hehe," Rey pun mencubit gemas pipi Qila. Membuat Qila tersenyum malu.


Beberapa menit kemudian. Qila dan Rey pun telah selesai makan. Mereka pun memutuskan untuk segera pulang.


Saat di perjalanan.


"Dingin banget ihh malam ini ..." ucap Rey.


Karena Qila tau apa yang di maksud Rey, Qila pun langsung memeluk Rey dari belakang.


Rey pun tersenyum sambil mengelus tangan Qila. Malam itu menjadi malam yang paling bahagia bagi Qila dan Rey. Sebelumnya belum pernah Qila merasakan hal manis ini dengan Fery.


"Inikan yang kamu mau. Bilang aja napa gak usah pake kode," ucap Qila sambil mencubit perut Rey.


"Akhh! Sakit Qila hahaha ..." ucap Rey


"Nyebelin tau ... hahaha," ucap Qila sambil mencubit kembali.


"Hahaha ... iya maaf udah ah sakit loh. Emang Qila mau kalo Rey sakit gara-gara Qila terus cubit?" ucap Rey.


"Engga mau dong," ucap Qila cemberut sambil memeluk Rey semakin erat.


"Nah makanya Rey harus disayang, ya," ucap Rey tersenyum.


"Kaya gini?" ucap Qila sambil menggelitik pinggang Rey.


"Ehh ... bukan Qila geli tau hahaha," ucap Rey.


Mereka pun saling bercanda. Sambil menikmati dinginnya malam.


"Sial!!! Baru kali ini gue diputusin sama cewe," ucap Fery melemparkan ponselnya.


"Gue nyesel juga putusin Qila. Apa gue ajak balikan aja ya, pasti Qila mau," ucap Fery.


"Besok gue coba temui Qila di sekolah," ucap Fery


******


"Di sini?" ucap Rey.


Qila dan Rey pun tiba di lokasi yang diberikan papah.


"Ya, mungkin." Qila pun turun dari motor. Sambil melihat ke sekeliling.


"Rey temenin aku dong takutnya salah rumah," ucap Qila.


"Ya, pasti Rey temenin, ayo," ucap Rey sambil menggenggam tangan Qila.


"Tok ... tok ... tok ...."


"Permisi ..." ucap Qila dan Rey.


"Iya, sebentar," ucap mamah.


"Sayang ... akhirnya Qila sampai juga. Mamah khawatir loh. Ayo masuk sayang," ucap mamah.


"Iya, Mah. Aku bingung cari alamatnya takut salah," ucap Qila.


"Oh iya Mah, kenalin ini Rey," ucap Qila sambil menunjukkan Rey.


"Tante." Mencium tangan.


"Rey ayo masuk dulu ke dalam," ucap mamah sambil mempersilahkan Rey masuk.


"Kapan-kapan aja tante. Aku mau pulang takutnya mamah khawatir di rumah," ucap Rey tersenyum.


"Oh, ya sudah nanti kapan-kapan main ke sini ya," ucap mamah tersenyum.


"Iya tante," ucap Rey tersenyum.


"Makasih ya, Rey udah mau anterin Qila," ucap mamah.


"Iya, Rey makasih ya," ucap Qila tersenyum.


"Iya sama-sama tante, Qila. Kalo gitu aku permisi pulang tante," ucap Rey.


"Iya hati-hati ya," ucap mamah.


"Bayyy Rey," ucap Qila.


Rey pun tersenyum. Lalu segera pulang.


"Brrrmm ... brrmm ... brrmm ...."


Qila dan mamah pun segera masuk ke dalam rumah. Saat Qila masuk ke dalam rumah barunya Qila pun memperhatikan ke sekeliling ruangan. Rumah yang sangat sederhana beda sekali dengan rumah yang dulu, tetapi Qila tetap tersenyum.


"Mah, Papah kemana?" ucap Qila.


"Lagi ada urusan di kantor," ucap mamah sambil duduk di kursi.


"Oh, ya udah aku ke kamar ya. Kamar Qila di mana Mah," ucap Qila.


Mamah pun mengantarkan Qila ke kamar.


"Di sini ya sayang ... sekarang gak ada atas lagi," ucap mamah tersenyum.


"Gak apa-apa kok, Mah," ucap Qila tersenyum.


Setelah mengantar Qila mamah pun kembali duduk di kursi.


"Kriettt ...."


"Beda banget kamarnya. Dulu luas banget kamar aku, tapi sekarang lumayan sempit, tapi gak apa-apa deh yang penting ada jendela biar aku bisa lihat bintang," gumam Qila.


Qila pun segera membersihkan diri. Setelah selesai Qila kembali ke kamar lalu berjalan menghampiri jendela.

__ADS_1


"Zrashhhh ...."


"Yaahh ... hujan," ucap Qila dengan raut wajah sedih.


"Gak bisa lihat bintang dong. Kalo di bawah gini kurang kelihatan dengan jelas bintangnya," ucap Qila.


"Ahh ... ya sudahlah," ucap Qila.


Lalu Qila pun merebahkan tubuhnya pada tempat tidur. Sambil memainkan ponselnya.


"Rey lagi apa ya? Aku jadi canggung padahal sekarang Rey pacar aku," ucap Qila.


"Tapi ..." ucap Qila sambil menatap langit-langit.


"Sebenarnya rasa ini belum sepenuhnya aku mencintai Rey. Jika tadi aku tolak, tapi aku tidak ingin menambah luka Rey hati ini bingung sekali. Dan aku pun gak mau Rey pergi," gumam Qila.


"Arghhh! Pusing banget sih," ucap Qila sambil menutup wajahnya oleh bantal.


"Semoga aja hari demi hari. Aku bisa mencintai Rey sepenuhnya bahkan lebih ..." ucap Qila.


******


"Zrashhh ...."


Hujan malam yang lebat disertai angin yang begitu kencang. Jalanan pun sepi tanpa ada satu orang pun keluar dari rumahnya, tetapi ....


"Zrashhh ...."


"Gue harus cepat sampai rumah mulai gak beres nih ..." ucap Angelina berlari dengan jantung yang berdebar sangat kencang.


"Huh ... cape banget, tapi gue harus terus lari. Siapa sih orang itu? Kenapa terus ngikutin gue," ucap Angelina sambil mengatur nafasnya.


Angelina pun diam sejenak di dekat pohon sambil memegang lututnya. Entah siapa orang yang terus mengikuti Angelina. Sampai membuat Angelina ketakutan.


"Udah pergi kali ya, aduhh ... gue cape banget mana hujan lagi gak ada satu orang pun yang keluar. Cuma gue huhhh ..." ucap Angelina.


"Grep!"


Angelina pun terkejut. Lalu melihat ke arah orang yang memegang kuat tangannya.


******


"Krukk ...."


"Aduh ... laper banget. Hujan kaya gini enak deh kalo makan mie," ucap Qila.


Qila pun beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke dapur.


"Kriett ...."


Biasanya selalu tersedia bahan makanan di dalam lemari, tapi kali ini tidak ada bahan makanan.


"Yah ... kok gak ada mienya," ucap Qila.


Mamah pun melihat Qila yang sedang membuka lemari.


"Kamu cari apa?" ucap mamah menghampiri Qila.


"Pengen mie Mah. Gak ada ya?" ucap Qila.


"Habis sayang. Mamah belum beli," ucap mamah.


"Ya udah aku mau beli aja di toko yang di depan," ucap Qila.


"Hujan loh ... papah juga kok belum pulang ya," ucap mamah.


"Tokonya juga dekat Mah. Emang papah ada urusan apalagi?" ucap Qila.


"Ya sudah hati-hati ya, Papah, kan harus cari kerja lagi sayang," ucap mamah.


"Ohh ... ya sudah aku pergi dulu ya," ucap Qila.


Mamah pun mengangguk.


Qila terus berjalan sambil melihat ke sekeliling arah. Sambil mengusap-usap tangannya agar tidak kedinginan. Qila pun terkejut mendengar teriakan seseorang.


Semakin kuat orang itu memegang tangan Angelina. Sehingga Angelina meringis kesakitan.


"Lepasinnnnn! Sakitt" ucap Angelina sambil mencoba melepaskan tangannya.


"Ikut gue!" bentak orang tersebut.


"Gak! Apaansih lo siapa hah? Lepasinnnn sakit!" ucap Angelina.


"Tolongggg!" ucap Angelina.


Qila pun mendengar suara meminta tolong. Entah dari mana Qila terus mencari sumber suara tersebut.


"Siapa sih?" ucap Qila melihat ke sekeliling jalan.


"Tapi kok gak ada orangnya. Jangan-jangan ... ihh serem banget sih," ucap Qila.


Akhirnya Qila pun berlari cepat ke arah toko tersebut.


"Lepas!" ucap Angelina.


Dengan sekuat tenaga Angelina. Akhirnya tangannya lepas dari genggaman orang tersebut. Dengan cepat Angelina berlari menjauh dari orang tersebut.


"Mau kemana lo! Gak akan bisa lepas dari gue!" ucap orang tersebut sambil kembali mengejar Angelina.


Setelah selesai dari toko membeli mie. Qila pun segera berjalan menuju rumah.


"Brughhh!"


Angelina tidak sengaja menubruk Qila.


"Akhh! Aduhhh ..." ucap Qila.


"Sorry-sorry," ucap Angelina dengan wajah yang cemas.


Qila pun menatap Angelina.


"Loh, inikan pacarnya Fery," gumam Qila.


"Qila ya?" ucap Angelina menatap Qila.


"Iya, kamu kenapa lari-lari kaya gitu?" ucap Qila.


"Tolongin gue Qila ada orang yang ngikutin gue gak tau siapa. Dia narik gue secara paksa gue takuttt," ucap Angelina sambil menangis.


"Kamu tenang dulu. Di sini banyak orang kok gak usah khawatir," ucap Qila.


Qila dan Angelina pun duduk di dekat toko. Lalu Qila memberikan air pada Angelina. Terlihat Angelina sangat haus. Jantungnya pun berdetak kencang.


"Takut banget sumpah. Rumah aku masih jauh lagi. Sepertinya itu orang mau celakai gue Qila," ucap Angelina.


"Kamu pulang sama aku aja. Bentar aku coba telpon papah dulu. Jadi, kita bisa pulang cepat," ucap Qila.


"Tut ...tut ... tut ...."


"Qila nelpon kenapa ya," ucap papah.


"Hallo ... Qila," ucap papah.


"Pah, lagi dimana?" ucap Qila.


"Lagi di jalan bentar lagi pulang kok. Kenapa?" ucap papah.


"Jemput aku Pah, di dekat toko," ucap Qila.


"Kamu ngapain malam-malam keluar rumah?" ucap papah.


"Aduh ... nanti aku kasih taunya. Pokoknya cepetan jemput aku," ucap Qila.

__ADS_1


"Iya-Iya," ucap papah.


Lalu papah pun segera menuju toko tersebut. Untung saja papah tidak jauh dari lokasinya.


"Angelina kita tunggu di dekat pohon itu ya, bentar lagi papah sampai kok," ucap Qila.


Angelina pun mengangguk. Lalu mereka menunggu di dekat pohon tersebut.


"Kamu kok malam-malam gini pulang sendiri?" ucap Qila.


"Tadi aku habis ..." ucap Angelina terhenti.


"Grep!"


Qila pun terkejut jantungnya pun berdebar kencang. Lalu Qila melihat ke arah orang yang memegang tangannya.


"Qila ..." ucap Rey.


"Astaga Rey. Kaget tau," ucap Qila.


"Maaf, kamu ngapain malam-malam keluar rumah?" ucap Rey.


"Habis beli mie. Rey ngapain di sini? Pake baju serba hitam segala," ucap Qila.


"I-ini Rey lagi ... lagi ... habis cari makanan," ucap Rey tersenyum.


"Orang ini seperti orang yang tadi kejar aku. Ahh, tapi aku jangan berburuk sangka dulu," gumam Angelina.


"Oh, Rey bisa antar temen aku gak? Kasihan nih tadi ada yang ngikutin dia gak tau siapa. Kayanya orang jahat. Antar ya, pliss kasihan," ucap Qila.


Rey pun menatap ke arah Angelina.


"Inikan ... pacarnya Fery," gumam Rey.


"Gak usah Qila. Aku gak enak ah. Kalo harus pulang sama pacar kamu," ucap Angelina.


"Gak apa-apa kok tenang aja. Biar kamu selamat sampai rumah." ucap Qila.


"Terus kamu pulang sama siapa?" ucap Rey.


"Bentar lagi papah jemput kok. Rey gak usah khawatir," ucap Qila.


"Ya udah deh. Qila hati-hati ya, Qila tunggu di toko aja biar banyak orang," ucap Rey.


"Iya Rey," ucap Qila.


"Gak apa-apa ini Qila?" ucap Angelina.


"Gak apa-apa santai aja. Yang penting kamu cepat sampai rumah," ucap Qila.


Qila mempunyai hati yang sangat baik terhadap orang lain. Lalu Rey pun segera mengantarkan Angelina ke rumahnya.


Tak lama papah pun datang setelah Rey pergi mengantarkan Angelina. Qila pun segera pulang bersama papah.


"Berhenti," ucap Angelina.


"Di sini rumahnya?" ucap Rey.


"Iya, makasih ya, Rey tadi aku lupa gak bilang makasih ke Qila. Tolong sampaikan ya," ucap Angelina.


"Ya sama-sama. Kalo gitu gue pulang ya," ucap Rey.


Angelina pun mengangguk. Rey pun segera pulang.


"Loh, kok arahnya ke sana Rey pulangnya? Perasaan ke sana gak ada jalan lagi deh," ucap Angelina heran.


Angelina pun segera masuk ke rumah, tetapi saat Angelina masuk ke rumah tidak ada satu orang pun yang ada di rumah.


"Mamih sama papih kemana?" ucap Angelina melihat ke sekeliling rumah.


Karena merasa lelah angelina pun duduk di kursi sofa. sambil memainkan ponselnya.


"Dret ... dret ... dret ...."


"Nomor siapa ini?" ucap Angelina menatap layar ponselnya.


Angelina pun segera menjawab telponnya.


"Hallo ..." ucap Angelina.


"Kemana pun kamu pergi aku selalu tau. Sekarang aku ada di depan rumah," ucap seseorang yang ada di telpon itu.


"Lo siapa sih?!" bentak Angelina.


"Tut ...."


Tetapi telponnya dimatikan oleh orang itu. Angelina pun terkejut dia langsung melemparkan ponselnya. Lalu segera berlari mengunci pintu dan berlari ke dalam kamar.


"Tok ... tok ... tok ...."


"Astaga siapa sih itu? Mamih, iya, aku harus telpon mamih," ucap Angelina.


Angelina pun meraih ponselnya. Berusaha untuk menghubungi mamih.


"Tut ... tut ... tut ...."


"Ayo dong mamih jawab ... gue takuttt," gumam Angelina.


"Tok ... tok ... tok ...."


"Prangggg ...."


Angelina terkejut mendengar suara kaca jendela yang dipecahkan. Membuat Angelina semakin ketakutan. Jantung Angelina pun berdetak semakin kencang.


"Hallo ..." ucap mamih.


"Mamih! Mamih di mana? Mamih pulang cepat aku takut Mihh ..." ucap Angelina menangis dengan suara pelan.


"Kamu kenapa? Ini mamih masih di jalan ada apa sih?," ucap mamih.


"Cepetannnn Mihh. Aku takuttt ..." ucap Angelina sambil menangis.


"Brakkk!"


Orang itu pun mendobrak pintu kamar Angelina. Karena terkejut Angelina pun teriak.


"Aaaaa!" Angelina pun berteriak.


"Astaga! Angelina kenapa, Nak kenapa?" ucap mamih.


"Mami ..." Teriak Angelina.


Orang tersebut menusukkan pisau ke tubuh Angelina.


"Jleb!" Pisau pun menusuk tubuh Angelina.


Darah pun berceceran di dalam kamar Angelina.


"Sayang? Sayang ada apa Angelina?" ucap mamih.


"Angelina?" ucap papih.


"Pihh, cepetan pulang Pih. Sepertinya ada yang engga beres ini di rumah ayoo!" ucap mamih.


"Sabar Mih, tenang dulu. Mamih minum dulu biar tenang," ucap papih.


Darah pun bercucuran di lantai. Kini Angelina sudah tidak bernyawa lagi.


"Puas gue udah habisin lo! Hahaha ..." ucap seseorang yang telah membunuh Angelina.


Mamih dan papih pun tiba di rumah.


"Angelina ..." teriak mamih belari dari luar rumah.

__ADS_1


"Gawat! Gue harus keluar dari rumah ini," ucap seseorang.


"Angeli ..." ucap papih.


__ADS_2